
aku menatap sinis, karena Liam telah mengerjai ku.
"Cepat makan makanan mu Reyna, jangan terus melihatku"
Aku memakan makanan yang ada di atas meja makan. Selama makan aku dan Liam hanya tenang menikmati makan malam. setelah selesai makan, aku membiarkan peralatan makanku di atas meja.
"Kau mencuci piring yang kau gunakan Reyna? " tanya Liam
"Kau saja yang mencucinya, anggap saja itu sebagai hukuman untukmu karena telah membuat aku kesal" aku meninggalkan Liam menuju kamar.
Sesampainya di dalam kamar, aku kembali memandangi bunga yang Dion berikan padaku. Setelah lama memandangi bunga, aku menuju balkon untuk mendapatkan udara segar. Aku menutup mataku untuk merasakan angin malam yang menyegarkan tubuh. Ketika membuka mata, tidak sengaja aku melihat Liam sedang menelpon.
"Kenapa Liam menelpon di luar rumah " batinku
Aku terus memperhatikan gerak gerik Liam. Liam menendang pot bunga yang berada dekat di kakinya. Sepertinya Liam sedang marah kepada orang diseberang telpon. Liam yang sadar sedang aku perhatikan, kemudian mematikan ponselnya dan segera masuk ke dalam rumah.
tok, tok, tok
Liam mengetuk pintu kamar ku dengar tidak sabaran. Aku yang malas membuka pintu, membiarkan Liam terus mengetuk pintu. Semakin lama, Liam mengetuk pintu dengan keras. Aku yang risih dengan ketukan Liam, segera membukakan pintu untuk nya.
__ADS_1
"Ada apa Liam, mengapa kau mengetuk pintu kamarku" Liam hanya diam membisu tidak menjawab pertanyaan ku.
"Apa kau mabuk Liam, kau bau alkohol, dari mana kau mendapatkan minuman keras"
Liam mendorong ku masuk ke dalam kamar. Ia menjatuhkan ku di atas ranjang. Sungguh, saat ini Liam bukanlah orang yang aku kenal selama ini. Aku sangat takut pada Liam.
Liam menimpa tubuhku dan memaksa untuk menciumku. Aku berteriak untuk menyadarkan Liam. Tenaga Liam sangat kuat, sehingga tidak bisa melawan Liam.
"Liam aku mohon sadar Liam" Aku memohon pada Liam.
"Aku sangat takut Liam" Aku menangis karena takut.
Saat Liam sedang lengah, aku membenturkan kepalaku di hidung Liam. Akhirnya aku bisa melepaskan diri. Aku mengambil ponselku dan segera menghubungi Dion untuk membantuku.
Belum sempat aku menelpon Dion, Liam merebut dan mematikan ponselku. Tangan ku bergetar karena takut pada Liam. Aku segera menunduk untuk memohon pada Liam.
Liam menggenggam tangan ku, ia memeluk ku dan menepuk punggung ku agar menjadi lebih tenang.
"Maafkan aku Reyna, aku sangat meminta maaf padamu" Akhirnya Liam yang aku kenal kembali.
__ADS_1
"Aku sangat takut Liam, aku harap kau tidak mengulangi nya lagi"
Cukup lama Liam memelukku tanpa mengatakan apa pun. Setelah beberapa lama, Liam akhirnya melepaskan pelukan. Ia menuntunku menuju ranjang dan membiarkan aku tidur.
"Sekali lagi aku minta maaf Reyna, aku salah melakukan ini padamu" Aku hanya diam tidak merespon apa yang dikatakan Liam. Aku menarik selimut dan menutup seluruh tubuhku. Akhirnya aku tertidur dengan seluruh tubuh tertutup selimut.
Dion sudah datang untuk menjemput ku, aku yang sudah siap segera menuju keluar. Aku melihat pintu kamar Liam sebentar dan mengingat kejadian tadi malam. Aku segera berlari, karena takut jika Liam tiba-tiba keluar dari kamarnya.
"Apa kau siap untuk hari ini Reyna" Tanya Dion semangat padaku.
"Tentu, aku sangat menantikannya Dion" Senyumku menyembunyikan apa yang terjadi tadi malam pada Dion.
"Panti asuhan? " Tanyaku pada Dion, karena memarkirkan mobil di panti asuhan.
"Aku mengajak anak-anak untuk pergi ke tan hiburan bersama-sama, apa kau tidak keberatan" Tanya Dion padaku.
"Tentu aku tidak keberatan Dion, justru semakin ramai makan semakin menyenangkan. Aku marah padamu, kenapa kau tidak memberitahukan padaku semalam, laku tidak membawa apa-apa"
"Maaf Reyna, jika aku memberitahu, bukan kejutan namanya. Tenang saja aku sudah membawa beberapa barang untuk diberikan pada anak-anak, kau bisa membantuku untuk membawa barang masuk ke dalam "
__ADS_1
aku dan Dion masuk ke dalam panti asuhan. Anak-anak langsung menghampiri untuk menyambut kedatangan kami.