Rahasia Lelaki Kaktus

Rahasia Lelaki Kaktus
21| Dokumen Perceraian


__ADS_3

“Katakan apa yang bisa Black Joe lakukan pada keluarga Harlow Smith?”


Hellena menyeringai tajam. “Kami bisa membunuhnya.” Dia mencondongkan tubuhnya pada Philip. “Bahkan tanpa jejak.”


Philip mendesah kasar. Bukan itu yang dia inginkan.


“Bagaimana?” Hellena meletakkan pistol dan belati di atas meja. Dia melirik Philip sembari menyeringai tajam. Wanita ini tidak dididik sebagai perempuan, tetapi sebagai seorang pembunuh kelas kakap.


“Mana yang harus aku gunakan untuk merobek mulut-mulut yang telah menghinamu dan memotong kaki juga tangan yang telah menginjak-injak harga dirimu, Philip?” tanya Hellena.


Philip menyingkirkan senjata tajam itu dari hadapannya. “Jangan lakukan itu.”


“Kau tidak ingin mereka mati?” Hellena mengerutkan keningnya.


Philip sebenarnya tidak cocok untuk memerintah Black Joe dengan tatapannya yang begitu hangat, seorang lelaki dengan cinta di hatinya, tetapi Hellena ingin memberi kesempatan pada Philip untuk mengubah hidupnya. Black Joe juga membutuhkan pewaris yang asli.


Philip menghela napas lagi. “Tolong cari informasi tentang penyelewengan dana, korupsi atau semacamnya.”


“Aku ingin mendapatkan itu secepatnya,” ucap Philip kemudian. Dia meninggalkan catatan kecil setelah menyelesaikan kalimatnya.


Hellena heran, Philip membuatnya bertanya-tanya.


“Apa ini?” tanya Hellena. “Kau punya selingkuhan?” Hellena tertawa menanggapi kalimatnya sendiri. “Itukah alasanmu mendatangiku alih-alih mempertahankan rumah tanggamu?”


Philip berdecak. “Namanya Delcy. Tolong cari informasi tentang dia.” Philip mengeluarkan catatan tambahan. Dia menumpuk catatan itu dia atas catatan sebelumnya. “Jangan hubungi ponselku lagi, hubungi nomor ini mulai sekarang.”


Hellena tertawa renyah. Dia membuat Philip semakin mencurigainya. Philip tidak akan menyerahkan kepercayaannya begitu saja pada Hellena atau Black Joe. Dia datang ke tempat ini bukan karena keinginannya, tetapi keterpaksaan oleh keadaan.


“Kau benar-benar mirip dengan ayahmu, Philip.” Hellena menuntaskan kalimatnya. “Kau benar-benar pewaris Black Joe.”


Persetanan tentang itu.


Philip tidak punya pilihan lain selain mendatangi neraka ini. Philip beranjak dari tempat duduknya. “Aku ingin semua informasi itu secepatnya. Jangan mengulur waktu.”

__ADS_1


“Tiga hari cukup untuk mendapat semua informasi ini bukan?” tanya Philip dengan tatapan intens. “Jangan coba-coba menipuku atau memanfaatkan kelemahanku.”


Hellena menganggukkan kepalanya. Dia bersikap begitu santai, cenderung meremehkan.


“Kita lihat sebaik apa Black Joe melayani bosnya.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Philip kembali ke rumahnya. Ketika dia melirik jam tangannya, jarum jam telah menunjukkan pukul satu dini hari. Philip melewatkan tidurnya kemarin.


Philip masuk ke dalam rumah. Dia menyalakan lampu untuk menerangi ruangan. Alangkah terkejutnya Philip ketika dia mendapati Flores duduk di depan televisi sembari menyantap makanan ringan.


“Honey?” Philip mendekati Flores dengan langkah hati-hati. Kewaspadaan dikedepankan saat ini, seolah takut yang dia lihat bukan sosok istrinya yang asli.


“Kenapa kau duduk di sana alih-alih tidur di kamarmu?” tanya Philip.


Flores menoleh tiba-tiba. Dia hampir membuat jantung Philip copot. “Astaga! Kau mengejutkan aku!”


Philip mendekati Flores. Dia duduk di samping sang istri. “Honey.”


“Aku minta maaf,” ucap Flores tiba-tiba. “Aku tidak bermaksud untuk ....”


Flores memotong kalimatnya sendiri. Dia mengusap wajahnya dengan frustasi. “Aku hanya ... aku hanya merasa aku sudah keterlaluan.”


Philip merengkuh tubuh Flores dan memeluknya dengan hangat. Dia mengecup puncak kepala Flores. “Kau tidak melakukan kesalahan apapun, Honey.”


“Aku yang salah.” Philip menghela napasnya panjang.


Flores membuat hati Philip terluka berkali-kali. Dia tidak tega melihat keadaan Flores yang begini.


Flores melepaskan pelukan mereka. Dia menatap wajah Philip dengan sendu, kemudian mengusap pipi pria itu.


“Maafkan aku, Philip,” gumam Flores. Sepasang mata Flores dipenuhi air mata yang membuat pandangannya kabur terhadap Philip.

__ADS_1


Philip hanya menganggukkan kepalanya. “Kita sama-sama bersalah, Flo.”


“Mari kita benahi semua kesalahan yang terjadi dan ....” Kalimat Philip terputus ketika dia melihat Flores mengambil sesuatu dari balik selimut di sampingnya.


Flores menyodorkan sebuah kertas pada Philip. “Mommy datang beberapa jam yang lalu,” ujar Flores. “Dia ingin menemui dirimu, tetapi aku bilang kalau kau pergi tanpa pamit.”


Philip memandangi raut wajah Flores tanpa henti, dia berusaha membaca situasi. Dari kesimpulannya, Philip menduga hal buruk telah terjadi.


“Aku tidak punya pilihan lain, Philip.”


Philip menerima kertas yang disodorkan padanya. Sesekali dia melirik Flores, kemudian kembali fokus pada kertas di depannya. Philip mengedarkan pandangan mata dari ujung kertas ke ujung yang lainnya, membaca setiap kalimat di atas kertas itu.


“Dokumen perceraian.” Philip menelan ludahnya dengan berat. “Kau ingin kita bercerai, Flores?”


Philip meneteskan air matanya. Hatinya terluka mendapati Flores menyerah untuk mempertahankan pernikahan  mereka.


“Honey, sudah aku katakan kalau aku tidak pernah berselingkuh dengan siapa pun!” Philip sedikit membentak. “Aku mencintaimu dan Elisa!”


Flores menunduk. Air matanya jatuh di atas kertas perceraian mereka. “Aku minta maaf, Philip.”


“Flores, aku mohon ....” Philip meraih pundak Flores. “Pikirkan ulang tentang ini.”


“Pikirkan bagaimana nasib Elisa dan ....” Philip gemetar. Dia telah lemah di depan Flores. "Aku bahkan tidak bisa menghadapi Elisa."


Rumah tangga yang dia pertahankan selama bertahun-tahun dengan membiarkan harga dirinya diinjak-injak sebagai seorang pria kini harus menemui titik paling pahit.


“Honey, aku tidak ingin berpisah denganmu,” imbuh Philip di tengah isak tangis mereka. “Aku tidak ingin berpisah dengan Elisa.”


Flores menyingkirkan tangan Philip dari atas pundaknya. Dia memandangi suaminya dengan sendu. “Maafkan aku, Philip. Aku harus menyelamatkan perusahaanku dan Elisa.”


“Aku mohon pengertian darimu, Philip.”


Next.

__ADS_1


__ADS_2