Rahasia Lelaki Kaktus

Rahasia Lelaki Kaktus
22| Pilihan Takdir


__ADS_3

Hellena menepati janjinya. Sebuah pesan membawa Philip datang ke sebuah bangunan tua yang terbengkalai, mirip proyek yang mangkrak di tengah pembangunan.


Philip memandangi jalanan di depannya, lalu lalang orang tidak bisa mengusir kekosongan di hatinya, terlebih Flores mendesak dipulangkan ke rumah orang tuanya agar Philip bisa tinggal di rumah mereka.


“Flores akhirnya menceraikan dirimu, Philip?” Hellena tertawa, jelas sekali dia sedang menghina. “Sudah aku duga.”


Philip melirik Hellena yang asik memainkan permen karet di dalam mulutnya.


“Kau memintaku datang kemari hanya untuk menghina diriku, Lena?” Philip mendesah kasar, dia memutar pandangan mata tertuju pada Hellena. “Aku tidak punya waktu untuk itu.”


Philip beranjak, hendak pergi meninggalkan Hellena. Lebih baik dia menggunakan waktunya untuk meratapi nasib di pojok ruangan sembari memohon pada Flores untuk mengurungkan niatnya.


“Keluarga Harlow akan hancur.” Hellena berhasil  membuat Philip terpancing.


Philip menatap Hellena dan berjalan mendekatinya. Dia mengerutkan sudut mata, menerka isi pikiran perempuan ini. “Katakan yang jelas.”


Hellena mengeluarkan sebuah map berukuran sedang, berwarna coklat dengan tali yang mengaitkan kedua ujungnya. Dia menyerahkannya pada Philip, tersenyum licik sembari memberi kode pada lelaki itu untuk membukanya.


“Jangan mencoba menipuku,” gumam Philip. “Kau tidak akan bisa mendapatkan apapun hanya dalam satu malam, Lena.”


Hellena melepaskan tawa. Philip terlalu realistis untuk menjadi bagian dari Black Joe.


“Buka saja. Nanti kau akan tahu sehebat apa warisan ayahmu untuk dirimu, Philip,” ujar Hellena sembari memukul dada Philip menggunakan map itu.


Philip menerimanya. Dengan ragu, dia membuka map itu. Sesekali, Philip melirik Hellena. Dia masih menaruh curiga pada wanita itu.


Philip terkejut setelah mendapati beberapa informasi yang didapatkan oleh Hellena. Black Joe memang luar biasa.


“Harlow mengalami kerugian yang besar,” ucap Hellena menerangkan. Dia menunjuk salah satu informasi di dalam kertas itu. “Perusahaan itu dituntut atas beberapa kasus besar termasuk pendirian perusahaan cangkang.”


Philip tidak terlalu mengerti, tetapi dia yakin itu adalah hal yang buruk.


“Lottie Harlow akan segera berpindah tangan jika Flores tidak mengambil tindakan.” Hellena menjelaskan lagi. “Jika dia kehilangan Lottie Harlow maka dia juga akan kehilangan keluarganya.”


Philip menatap Hellena. Sepertinya perempuan ini jauh lebih tahu ketimbang dirinya, suami sah dari Flores.


“Intinya, perceraian yang akan terjadi pada rumah tangga kalian adalah keputusan terakhir untuk menyelematkan kalian.” Hellena menunjuk dada bidang Philip. “Kau, Flores, dan Elisa.”


Philip mendesah kasar. Dia memalingkan wajahnya. “Aku bahkan tidak bisa berbuat apapun sekarang.”

__ADS_1


“Kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan pada mereka, Philip,” ujar Hellena. Dia tersenyum mantap pada Philip.


Philip menggelengkan kepalanya. “Aku tidak akan mengambil harta gono gini dari pernikahanku dan Flores, aku tidak punya hak.”


“Aku akan menjadi miskin dan tidak punya siapa-siapa lagi,” ujar Philip merendahkan dirinya sendiri. “Aku akan jadi tukang bengkel yang tidak punya rumah untuk kembali pulang.”


Hellena maju satu langkah lebih dekat dengan Philip. Perempuan itu menarik kedua sisi jaket kulit yang Philip kenakan, lalu berpura-pura merapikannya.


“Kau adalah Philip Sherburne.” Hellena menyeringai tajam. Dipandanginya wajah Philip dengan cermat. “Wajahmu itu adalah masa depan untuk Black Joe, Philip.”


Hellena menarik dagu Philip untuk mendekatinya, kemudian dia berbisik, “Kau adalah Si Badai dari Timur.” Perempuan itu tersenyum simpul. “Kembalilah ke tahtamu, maka dunia ada dalam genggamanmu, Philip.”


“Kalian adalah kelompok mafia yang kejam,” jawab Philip sembari menjauhi Hellena. “Aku tidak cocok dengan pekerjaan itu.”


Philip berpaling. Dia memunggungi Hellena. “Aku akan mencari cara agar ....”


“Tidak ada yang bisa melawan perusahaan induk Lottie Holding.” Hellena menginterupsi. Dia mendekati Philip lagi dan meraih bahunya. “Selain Black Joe.”


Philip menoleh. Keduanya bertukar pandangan mata.


“Aku yakin kau pasti ingin membantu Flores dan mengembalikan rumah tangga kalian, bukan?” tanya Hellena terus membujuk. “Percayalah, Philip. Black Joe bisa melakukannya.”


Ini adalah kencan pertama Flores dan Marc setelah berpisah bertahun-tahun yang lalu. Suasana yang aneh, Flores sama sekali tidak merasa bahagia. Perceraiannya dengan Philip belum sah, mereka masih berstatus sebagai suami dan istri, tetapi Flores telah berani mengkhianati Philip dengan kencan buta sialan ini.


“Makanlah, Flores.” Marc mendorong sepiring daging panggang untuk Flores. “Kau terlihat sedikit lesu.”


Flores tidak perlu menjelaskan apapun, Marc adalah dalang perceraiannya dengan Philip. Dia menggunakan uang dan kekuasaan untuk mendapatkan keinginannya, yaitu Flores dan Elisa.


“Mau aku suapi?” Marc bergurau, begitulah caranya menghibur Flores.


Tak ada jawaban dari Flores, perempuan itu hanya memandang Marc dengan tatapan kosong.


Marc tidak akan menyerah, butuh perjuangan hingga akhirnya dia bisa membuat Flores duduk di depannya sebagai calon istrinya. Lelaki itu memotong daging, menusuknya dengan ujung garpu lalu menyodorkannya pada Flores.


“Suapan pertama akan selalu nikmat.” Marc tersenyum simpul.


Flores memalingkan wajahnya, membuang muka. Dia menghela napas panjang kemudian. “Marc, aku hanya ....”


“Baiklah. Akan aku makan sendiri.” Marc tertawa. Dia memakan daging yang seharusnya untuk Flores.

__ADS_1


“Flores. Aku tahu kau pasti memikirkan suamimu yang tidak berguna itu.” Marc berbicara sembari mengunyah daging di dalam mulutnya. “Aku tahu pasti kau akan sangat sedih, tetapi itu adalah keputusan yang tepat.”


Flores menatap Marc.


“Pikirkan tentang Elisa,” ujar Marc lagi. “Dia butuh masa depan yang pasti.”


Flores menghela napasnya. Dia tertunduk lesu. Bukan tentang perselingkuhan yang Philip lakukan, sebab Flores mempercayai suaminya sampai detik ini. Namun, ini tentang perjalanan hidup Flores dan Philip yang membuatnya begitu muak.


“Aku tidak akan bisa mencintaimu lagi, Marc,” ucap Flores dengan lirih. Dia hampir saja meneteskan air matanya, tetapi jari jemari Flores sigap mengusapnya.


Flores menambahi. “Aku akan terus mencintai Philip sampai kapan pun.


Marc manggut-manggut. “Lalu?”


“Kau mau hidup dengan wanita yang tidak ada namamu di hatinya?” Flores menyahut dengan sedikit ketus. Akhirnya dia punya tenaga untuk meninggikan suaranya.


Marc terdiam sejenak. Dipandanginya Flores dengan saksama.


“Kau hidup sebagai suamiku dan ayah Elisa, tetapi kau tidak akan pernah dianggap ada oleh kami berdua.” Flores menegaskan. “Kau hanya akan terluka.”


Marc malah tertawa. Dia memukul-mukul dadanya sebab gelak tawa yang berlebihan. Sedangkan Flores hanya terdiam, terus memandangi Marc penuh tanya. Lelaki itu memang sudah tak waras.


“Hubungan seperti itu hanya ada dalam drama rumah tangga di film yang sering kita tonton saat kita berpacaran, Flo.” Marc nampak begitu santai. “Dunia bisnis dan orang-orang kaya tidak memperdulikan itu.”


Flores berdecak. “Kau dan ayahmu sama saja.”


Marc hanya beruntung soal harta. Tentang keluarga dan kasih sayang, Tuhan tidak memberi kesempatan Marc untuk merasakannya sampai detik ini.


Marc meraih tangan Flores dan mengusap punggung tangan perempuan itu. “Honey ....”


“Jangan memanggilku dengan sebutan itu.” Flores memaksa untuk melepaskan tangannya. “Hanya Philip yang boleh melakukannya!”


Marc tersenyum seringai. “Kenyataannya ... aku yang akan memanggilmu seperti itu mulai sekarang, Honey.”


Flores mulai menatapnya dengan sengit.


“Aku menang dan Philip kalah, Flores.” Marc menutup kalimatnya dengan tawa. “Dia hanya pecundang!”


Next.

__ADS_1


__ADS_2