Rattleheart

Rattleheart
Penyihir Muda


__ADS_3

Ibu...


Mataku terbuka lagi, nampaknya lamunan di siang hari telah memerangkapku. Tapi meski begitu, aku tidak bisa berbohong atas indahnya kenangan di desa ini. Membawa peralatanku, aku mulai kembali berjalan, pelan namun pasti. Berat rasanya, harus meninggalkan ini lagi. Pergi dari sini, melupakan dan membiarkan semuanya kembali hilang ditelan bumi. Air mata tak bisa mengalir, semua itu telah habis, 10 tahun aku telah menahannya. Namun, tak ada satupun orang yang peduli. Tak ada satu pun orang yang tahu keberadaan desa kami.


Tak apa


Mungkin memang seharusnya begini...


Bertemu meski sebentar saja sudah cukup bagiku.


Aku harus berpisah, aku harus kembali bertahan sendiri


Karena, aku telah berjanji...


Akan terus hidup, meski apapun yang terjadi.


Saat berjalan keluar desa, ada sesuatu yang terus menggangguku. Bangunan putih itu, tak pernah berubah, sampai sekarang masih terus bersanding diantara reruntuhan desa. Bangunan itu megah, terdiri dari berbagai pilar-pilar yang besar. Namun kini hanya reruntuhan yang tersisa darinya.


Jumlahnya banyak, berbentuk persegi, berbentuk seperti lengkungan busur, maupun seperti tiang-tiang tinggi silinder yang memanjang keatas. Sejak kecil aku selalu bertanya, sebenarnya siapa yang membuat bangunan-bangunan seperti itu di masa lalu, dan kenapa itu bisa berada dimana-mana di seluruh benua ini? Orang bilang bangunan itu dibangun oleh raksasa, sebuah raksasa yang sangat besar.


Tinggi mereka bisa mencapai 10-15 meter katanya. Tak pernah terbayangkan olehku pernah ada mahluk seperti itu di muka bumi. Namun semakin dewasa aku mulai semakin tahu, tidak mungkin seorang raksasa membuat bangunan-bangunan seperti itu. Reruntuhan itu memang tinggi, namun tidaklah cukup untuk memuat raksasa yang tingginya mencapai 15 meter.


Daripada seperti rumah raksasa, bangunan ini lebih tampak seperti sebuah rumah mewah, atau mungkin bisa juga seperti aula-aula besar. Penasaran, langkah kaki mulai ditujukan di antara ruangan-ruangan dari reruntuhan putih itu.


Jika kuingat, dahulu aku pernah bertemu dengan seorang penyair. Katanya, pernah ada sebuah Kekaisaran besar yang pernah menguasai benua Clayrien dan sekitarnya. Kekaisaran itu sangat megah, maju dan juga selalu diceritakan sebagai sumber kemakmuran.


Saat menyelesaikan misi seringkali aku selalu terdiam dan merenung ketika duduk di kota seberang. Membawa sebuah pedang yang selalu tersarung di saku. Mendengar kisah-kisah dari penyair yang selalu bersahut-sahutan di kota, banyak sekali syair dari para pujangga yang kudengar. Entah itu tentang, romansa, drama sedih, dan juga kisah heroik tokoh-tokoh pahlawan. Tetapi telinga tidak bisa henti-hentinya mendengar sebuah lantunan syair dari peradaban di masa lalu, ketika sebuah Kekaisaran besar itu masih menguasai dunia.


Penyair itu berdiri tegak dengan bangga, menggunakan pakaian aneh yang tidak pernah dilihat oleh berbagai orang sebelumnya. Kedua tangannya diangkat keatas, kemudian ia berteriak dengan ego tinggi seakan menceritakan sebuah kisah besar kepada kami.


“Oh Matahari – Cahayamu menyinari kota-kota besar di Kekaisaran kami. Keabadian dan kejayaan, terus menerpa bangunan-bangunan megah kami. Putih bersinar, dihiasi oleh marmer-marmer indah. Sungai-sungainya mengalir dengan jernih. Air-air mengalir dari rongga-rongga bumi tepat menuju jantung kota kami. Betapa beruntungnya kami!”


Kalimat itu menjadi pembuka, menjelaskan seberapa megah dan makmurnya dunia di masa lalu. Menjadi sebuah penggugah bagi orang-orang yang penasaran atas peradaban masa lalu seperti diriku. Syairnya terus berlanjut lagi, sang penyair kini mulai menatap para penonton dengan tegas saat ia mulai melantunkan lagi syairnya.


“Tak ada kekuatan yang dapat menandingi kekuasaan kami, tidak ada kekuasaan yang lebih besar dari kami. Masyarakat kami makmur, menikmati hidupnya dengan baik, kota-kota kami besar, bahkan lebih besar daripada daripada seluruh kota-kota lain di muka bumi. Semua orang bisa pergi kemana-mana, semua orang bisa menjadi siapa saja. Seorang budak bisa menjadi raja, seorang raja bisa menjadi budak. Tidak ada yang tahu apa yang menimpa dirimu di masa depan. Oh Tuhan kami, teruslah berkahi kekaisaran kami!”.


Tak lama setelah mengucapkan itu penyair itu secara perlahan mulai menurunkan kedua tangannya dan merenung, ekspresinya kini dipenuhi oleh kesedihan. Matanya tak kuasa menangis, seakan ia benar-benar mengalami kejadian itu di masa lalu. Dalam tangisannya ia kembali mengucapkan syair.


“Tapi suatu hari, keberkahan itu telah hilang dari tanah kami. Bangunan-bangunan indah dah megah itu kini hancur berantakan, terbakar habis tanpa sisa oleh manusia-manusia tak beradab. Harta-harta kami dijarah, orang-orang kami saling bertarung satu sama lain. Mereka lupa atas perjuangan yang telah ditumpahkan leluhur-leluhurnya. Mereka lupa atas keringat dan tenaga yang telah ditumpahkan leluhurnya untuk membangun negara kami!


Dunia kini tidak lagi indah, hancur, dipenuhi oleh orang-orang yang tak mengerti keindahan peradaban kami. Dihancurkan oleh mereka yang tak mengerti bagaimana menjadi masyarakat seperti kami. Zaman kini telah berganti, tanah dan kekaisaran yang aku cinta telah hilang. Luput tak tersisa, hanya reruntuhan demi reruntuhan yang memenuhi bumi. Aku menangis, tapi inilah akhir dari ketamakan kami.


Oh Tuhan kami, maafkanlah kesombongan dan kerakusan leluhur kami... “


Penyair itu kemudian berhenti, menurunkan tangannya dan mulai menundukkan kepala kepada para penonton. Isak tangis haru terdengar dari mereka yang mengerti, deru tepuk tangan tak berhenti, menemani penyair itu seiring ia turun dari podium.


Sampai sekarang kalimatnya masih terngiang di kepalaku. Katanya kekaisaran itu masih ada, namun tak sebesar dulu lagi, berada jauh disana, di timur, dimana negara-negara dilimpahi dengan kemakmuran tanpa batas. Kisah-kisah mereka yang pernah datang ke sana bagai fantasi, sebuah negeri dongeng yang dihuni oleh para peri.

__ADS_1


Kekaisaran itu disebut sebagai Avarice atau, yang juga lebih dikenal oleh orang-orang disini sebagai Kekaisaran Timur. Pusat dunia, dimana orang-orang berdatangan untuk belajar maupun berdagang. Namun sayang, letaknya terlalu jauh, bahkan tak terpikirkan biaya dan rintangan yang harus kutemui untuk kesana. Mungkin, jika tuhan mengizinkan aku bisa datang dan melihat sendiri sisa-sisa peninggalan dari kemegahan di masa lalu suatu saat nanti.


Angin tiba-tiba berhembus kencang, menerpa dan membuat seluruh pakaianku seakan terangkat keatas. Tak wajar, bentuknya seperti pusaran, memutar dan mulai mendekat kepadaku. Sihir? Aku tidak tahu, yang jelas aku harus memastikannya. Kepala memutar, menengok dan mulai menganalisa apa yang terjadi.


Dari atas tampak seseorang yang terbang menggunakan sihir mulai menghampiri. Pakaiannya berwarna biru keunguan, memakai topi besar, dan jubah tipis yang cukup panjang. Sepertinya ia adalah seorang wizard tingkat tinggi yang bisa menggunakan sihir terbang.


Sihir terbang sendiri merupakan sihir tingkat tinggi yang masih berakar dari elemen sihir angin. Penggunanya sangat jarang, jika ada kemungkinan besar mereka adalah orang-orang akademi tingkat tinggi dan jarang sekali menampakkan dirinya di tengah masyarakat.


Namun, ini juga merupakan pertama kalinya aku melihat orang yang menggunakan sihir terbang. Di dunia ini, sihir terbagi atas beberapa jenis, dan penggunaannya juga terbagi atas beberapa jenis pula. Sihir terbang sendiri merupakan bagian dari sihir murni , sihirnya para wizard.


Meski namanya sihir murni, bukan berarti sihir ini bisa dipelajari oleh siapa saja dan bersifat umum. Sebaliknya, ada beberapa tingkatan yang bisa dipelajari orang untuk mempelajari sihir murni. Sihir ini dinamakan sihir murni karena semua orang yang mempunyai mana di dalam tubuhnya bisa mempelajari sihir tersebut apabila dia benar-benar tekun dalam merapalkan mantranya.


Sihir murni sendiri terbagi menjadi 3 tingkatan, tingkat dasar, tingkat menengah dan tingkat tinggi. Sihir murni ini juga terdiri atas 7 elemen sihir, yaitu Api, Tanah, Air, Angin, Listrik, Cahaya, dan Kegelapan. Orang-orang yang menekuni dan mempelajari sihir murni ini dengan serius disebut sebagai Wizard. Seorang penyihir yang belajar dan mengasah keterampilannya di Akademi Sihir.


Sihir terbang adalah sihir yang umumnya menggunakan elemen angin sebagai pendorongnya, dan sihir ini telah berada di tingkatan paling tinggi dalam sihir murni, yaitu sihir tingkat tinggi. Melihat seseorang menggunakan sihir seperti itu di depan mataku merupakan sebuah hal yang sangat langka.


“Aneh, sangat-sangat aneh sebenarnya siapa dirimu?” penyihir yang sedari tadi terbang di belakangku kini telah mendarat dan menampakkan dirinya. Ternyata ia adalah seorang wanita, perangainya terlihat masih muda, matanya kebiruan, wajahnya putih namun tidak pucat. Tangannya kecil, dan tingginya sedang. Namun aku masih tak menyangka, orang dengan usia semuda ini bisa menguasai sihir tingkat tinggi seperti sihir terbang.


Setelah berjalan perlahan ia kemudian melihat kearahku dari segala penjuru, perilakunya itu cukup mengganggu, ia terus melihat kesana kemari seperti seorang pembeli yang melihat barang yang sangat menarik namun murah di etalase toko. Mata dan kepalanya tak henti-hentinya menatap kearahku, dari leher, badan, punggung, paha, dan kaki benar-benar tak terlewatkan satu pun tempat untuk tidak dilihat. Ia seakan-akan mencari sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu apa itu. Tak lama, ia kemudian berhenti dan mulai menanyakan sesuatu padaku.


“Aneh, apa kau benar-benar manusia? Padahal jelas-jelas staminamu sangat besar tetapi meski begitu kau juga memiliki mana dalam dirimu. Sebenarnya siapa dirimu? Apakah kau seseorang pendekar pedang yang juga bisa menggunakan sihir sekaligus? Aku benar-benar penasaran!”


Mana? Bagaimana bisa, padahal sudah jelas semuanya 10 tahun lalu. Aku tidak berbakat sebagai penyihir, aku tidak bisa memenuhi mimpiku sebagai seorang wizard. Bagaimana bisa ia bilang aku memiliki energi sihir di dalam tubuhku?


“Apa maksudmu? Mana? Aku tidak mempunyainya, bisakah kau tidak bermain-main dengan kalimat itu?”


“Bermain apa? Aku benar-benar mengatakannya dengan jelas, ‘bagaimana bisa ada mana di dalam tubuhmu?’ Padahal sudah jelas aku katakan seperti tadi namun kau juga tak kunjung percaya. Kau tahu, mataku ini tidak bisa ditipu oleh siapapun”


“Aneh, aku tidak mau menanggapimu lagi, sebaiknya kau pergi dari sini sebelum suasana hatiku makin berubah”.


Tubuh ini berjalan perlahan, berbalik dan mulai meninggalkan wizard itu, namun ia tidak menyerah ia kemudian berjalan di depan dan menghalangi langkahku.


“Baiklah-baiklah aku aneh tapi izinkan aku menganalisa dirimu sebentar, oke, biar kubuktikan ahh... ini.”


“Hentikan-!”


Tiba-tiba pusaran angin muncul dari kedua tangan, mendorong dan mementalkan wanita itu sampai hampir tersungkur.


Apa...


Apa yang sebenarnya terjadi?


Angin itu jelas bukan angin alami, angin tersebut merupakan efek dari manipulasi mana.


Tidak...


Tidak mungkin...

__ADS_1


Semua itu sudah jelas, semua yang kulihat di 10 tahun lalu itu sudah jelas, aku tidak memiliki mana sama sekali di dalam tubuhku.


Namun kenapa? Kenapa aku bisa tiba-tiba menggunakan sihir bahkan tanpa sebuah rapalan?


Dia yang terdorong oleh deru angin yang dihasilkan kedua tanganku kini mulai tersenyum lebar. Sebuah tatapan yang mengerikan muncul dari dalam dirinya. Sambil tersenyum ia kemudian mulai mengulurkan tangannya kepadaku.


“Namaku Alz, aku adalah seorang Archwizard termuda dari negeri utara. Percayalah padaku, aku sangat yakin bisa mengembangkan kemampuanmu. Jadi, senang bertemu denganmu”


Tidak...


Ini semua tipuan bukan, aku tidak akan jatuh terhadap tipuannya.


“Aku sangat menghargai dan mengagumi kecerdasan dari para Wizard terutama oleh mereka yang mengaku sebagai Archwizard sepertimu. Namun, jika kau bisa menggunakan itu untuk menipu, sungguh engkau telah salah memilih orang untuk menjadi korbanmu.”


“Menipu? Baiklah kalau begitu, coba tangkap ini.”


Sebuah bola dilemparkan oleh Alz kepadaku, familiar, tidak salah lagi. Bola ini adalah bola pendeteksi energi sihir. Namun untuk apa? Untuk apa harapan seperti itu harus dibangkitkan lagi?


“Untuk apa ini?”


“Hoo... Orang yang mengaku dirinya sama sekali tidak memiliki energi sihir mempertanyakan benda apa itu. Apa kau benar-benar yakin dengan ucapanmu sendiri? Benda itu adalah benda pendeteksi sihir yang tentunya akan langsung menyala ketika ia dipegang oleh orang yang memiliki mana”.


Sebuah cahaya bersinar dengan terang dari bola kristal itu. Terang, benar-benar terang, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan bisa terlihat di mataku. Sesuatu yang selama ini hanya mimpi sekarang benar-benar kurasakan sendiri.


“Tidak.... Tidak mungkin, ini tipuan bukan”.


“Ini semua adalah kenyataan, terimalah, dan jadilah murid dariku”.


“Apa yang sebenarnya kau inginkan?”


“Sudah jelas bukan? Aku penasaran, bagaimana bisa ada seseorang yang memiliki chi sekaligus mana sepertimu. Karena aku tertarik tentu mengajarimu sihir akan menjadi keinginan terbesarku”.


Aku benar-benar tidak mengerti, namun melihat wajahnya yang tampak serius itu, aku tidak bisa memilih apa-apa lagi. Lautan pertanyaan atas alasan aku hidup masih terus mengalir di kepalaku, namun hari ini. Aku telah melihatnya.


Ibu...


Aku akan menjadi seorang penyihir yang bisa dibanggakan oleh semua orang.


“Baiklah, aku menerima tawaranmu. Namun aku akan segera membunuhmu jika kau hanya menipu. Jangan kau pikir aku akan menahan diri kepada wanita”.


Alz kembali tersenyum dan kemudian menegaskan sebuah kalimat kepadaku.


“Kau bisa mempercayai segala kalimatku, namun kau tahu tentu mengajar sihir itu sangat sulit dan ini semua tidak gratis”.


“Lalu apa yang kau mau sebagai bayaran?”


“Beri aku Makna Hidup”

__ADS_1


__ADS_2