Rattleheart

Rattleheart
Petani yang Meminta Bantuan


__ADS_3

"Bagaimana sudah paham?"


Alz berdiri dengan tegak, dadanya sedikit meninggi, kedua tangannya saling bersila sambil menatapku dengan angkuh. Aku mengerti mungkin ini adalah sebuah kebiasaan yang akan sangat familiar jika melihat berbagai macam kelakuannya tadi. Namun tak kusangka level optimismenya bisa bergerak tinggi dalam waktu dekat seperti ini.


Perlu aku akui, caranya mengajarkan sesuatu sangatlah efektif, jadi aku tidak bisa terlalu komplain atas itu. Banyak sebenarnya dari materinya yang sudah aku paham dan lebih tahu dulu sebelum bertemu dengannya, terutama pengendalian chi. Tetapi, disisi lain aku jadi mulai memahami konsep pergerakan energi milik penyihir lainnya selain wizard, tak banyak waktu yang aku dapatkan di medan tempur untuk belajar akan itu, dan sangatlah jarang juga aku bertemu dengan penyihir selain wizard. Ada, namun hanya terhitung jari, jika dipikir populasi Sorcerer, Witch, dan Warlock di dunia ini memang selangka itu.


Alz mematikan pandangannya, ia menatap lurus jauh ke pegunungan di belakangku. Sambil berkata sebuah hal penting yang sepertinya ia ingin aku ketahui.


"Dunia ini akan berubah"


Matanya dingin, pertanda ia sangat serius dengan ucapannya. Ekspresinya yang berubah seperti ini membuatku penasaran dan ingin bertanya padanya.


"Berubah bagaimana?" tanyaku.


Tanpa mengalihkan pandangan Alz kemudian melanjutkan kalimatnya.


"Banyak Sorcerer baru telah bangkit, aku bisa merasakannya ketika pertama kali datang ke dataran ini".


Selama ini aku selalu menganggap Sorcerer sebagai penyihir yang unik, namun tidak terlalu menganggap mereka sebagai sebuah masalah. Namun setelah mendengar pernyataan Alz dalam materi pertamanya tadi, aku mulai mengertj alasan mengapa ia berkata seperti itu.


Seperti yang diketahui, Sorcerer adalah penyihir yang memiliki sihir khusus sebagai basis tekniknya. Tidak ada yang tahu sihir apa yang akan mereka gunakan, dan tidak ada yang tahu juga cara menghadapi langsung mereka karena gaya bertarungnya yang tidak biasa. Kehadiran Sorcerer selalu dipersekusi oleh masyarakat, tandanya akan banyak penolakan terhadap eksistensi mereka. Sorcerer umumnya memiliki sihir yang tidak biasa, namun dalam beberapa kasus tertentu sihir mereka bisa sangat berbahaya bagi masyarakat.


Sihir penjaga milik Sorcerer dari Kerajaan Astrafar contohnya, sihir itu dapat dikategorikan sebagai bencana bagi orang yang meremehkan Sorcerer. Seperti namanya, sihir penjaga merupakan mekanisme pertahanan diri, jika dipikirkan secara singkat mungkin itu hanyalah sebuah sihir biasa yang tidak mengancam siapapun. Namun sihir itu benar-benar menjadi sebuah momok menakutkan bagi musuh-musuhnya.


Karena adanya sihir penjaga milik Sorcerer, orang-orang yang berusaha menyerangnya tidak bisa melukainya, mereka bahkan diserang oleh sesosok penjaga berupa rantai besi yang datang entah darimana.


Hal ini terus terjadi, sampai-sampai membangkitkan keangkuhan Sorcerer dari barat itu. Puncaknya dimulai ketika ia berhasil menghancurkan pasukan kerajaan. Setelah memberi banyak kerusakan di berbagai tempat, barulah Sorcerer itu bisa dibunuh dengan bantuan koalisi akademi sihir di Clayrien Barat.


Jika itu yang ia khawatirkan, aku tidak terpikirkan lagi apa yang akan terjadi selanjutnya. Apapun itu, seharusnya tidak akan terlalu mengganggu kehidupanku sebagai seorang pengelana.

__ADS_1


Alz melanjutkan kalimatnya, masih dengan pandangan yang sama ia berkata lagi, penuh kekhawatiran namun tampak sedikit tenang meski terlihat pikirannya penuh beban.


"Aku dan guru sudah memprediksi semua ini di negeri utara dulu. Akan terjadi peperangan yang masif di Benua Clayrien, oleh karena itu aku diutus oleh guru untuk belajar di Kekaisaran Timur dalam rangka memperkuat pengendalian atas sihir-sihirku. Namun sebenarnya aku memiliki alasan lain untuk merantau dari negeri sendiri kesini"


"Alasan apa itu?" tanyaku lagi.


"Kau akan segera mengetahuinya"


Alz menghadapkan badannya ke arahku, ia tersenyum dengan kuat, seringai? Aku tidak tahu, senyumannya berbeda dengan senyuman lainnya. Bagai purnama, Alz tampak seperti sangat puas. Terpampang jelas, namun disisi lain aku merasa seperti ada pesan tersembunyi di balik senyumannya.


"Baiklah setelah mengenal jenis-jenis penyihir kita akan-"


"Hey kalian yang disana!"


Alz tampak cemberut, karena kalimatnya terpotong oleh teriakan orang yang berlarian dari jauh itu. Tampak dirinya seperti seseorang yang berpakaian lusuh, dan membawa cangkul di tangannya. Ia berlari, menuju ke arah kami yang tak lagi saling berhadapan. Memfokuskan pandangan ke arahnya, melihat dan kebingungan atas perilaku orang itu. Dia terus berlari, sambil berteriak kepada kami berkali-kali. Saking intensnya, ia bahkan menjatuhkan cangkul yang sedari tadi ia bawa itu.


Dengan sedikit terengah-engah ia tiba di depan kami, terdiam sejenak untuk istirahat dan kemudian berkata sesuatu.


Ah, seorang tentara bayaran memiliki logo khusus di punggungnya. Logo itu berwarna merah, seperti naga yang melingkar, dan ditemani oleh logo kecil di sampingnya. Memang tidak ada peraturan jelas yang mengikat para tentara bayaran, namun 15 tahun yang lalu para petinggi dari tentara bayaran saling berkumpul dan sepakat untuk memasang logo tentara bayaran di belakang punggungnya sebagai kewajiban.


Logo ini dapat berupa emblem, tato atau corak besar di belakang baju. Dalam beberapa kelompok tertentu terdapat logo lain di pojok bawahnya yang menandakan dari kelompok tentara bayaran mana seseorang itu berasal.


Orang itu menjelaskan situasinya secara perlahan, mengatakan bahwa ada masalah yang sangat besar di desa dekat sini. Ia menjelaskan bahwa ada seseorang yang sangat misterius berjalan mengelilingi kerajaan dan menghancurkan desa-desa. Orang itu berperawakan tinggi, dengan jubah serta tudung hitam di kepalanya. Terdapat tanduk yang mencuat di atas kepalanya.


Tidak ada yang tahu siapa orang itu, manusia? iblis? roh jahat? Siapapun yang berusaha mendekat padanya untuk mencari tahu, akan mati atau berubah menjadi pengikutnya. Ia menyebut dirinya sebagai The Preacher atau Sang Pengkotbah.


Alz yang sedari tadi memperhatikan penjelasan orang itu terus menerus menatap mataku sembunyi-sembunyi. Aku menyadarinya, dan mulai menaruh pandangan padanya, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu namun merasa tidak enak dengan orang yang sedang berbicara padaku.


Jika dilihat dari penampilannya, orang ini sepertinya adalah petani dari desa dekat sini. Tubuhnya tampak lusuh, seakan telah dikejar oleh hewan buas. Badannya tak bisa berhenti menggigil, dirinya telah beristirahat sejak tadi, tapi sampai sekarang nafasnya masih terengah tak berhenti. Menandakan ada suatu hal yang benar-benar membuat takut di kepalanya.

__ADS_1


"Tolong bantu kami, bawalah siapapun atau apapun, tapi aku mohon tolonglah kami"


Pasrah, ia memegang tanganku berkali-kali sampai membungkuk, menawarkan 30 keping emas sebagai janjinya jika bisa menyelesaikan masalah ini. Pada umumnya Tentara bayaran hanya menerima empat keping emas untuk setiap orangnya. Menawarkan sampai banyak sekali keping emas untuk satu orang adalah hal yang sangat langka, namun aku tidak tahu mungkin bisa saja ia berharap aku bisa membawa sekelompok orang lain untuk membantu dalam menyelesaikan masalah, jadi mungkin ini bukan emas untuk perorangan.


Alz yang sedari tadi tampak seperti menahan diri kemudian memegang pundak dari pria malang itu. Menenangkannya dan mengatakan padanya bahwa ia tak perlu khawatir, karena kami akan membantunya. Alz tersenyum kepada orang tua itu dengan tulus,. Melihat senyuman Alz, orang itu benar-benar tampak seperti bahagia, memegang tangan Alz dengan seksama sambil menaruh harapan serta rasa terimakasih yang tinggi kepadanya.


Aku menatap Alz dari jauh, dengan sedikit dingin merasa dikhianati karena ia memutuskan sesuatu sendiri tanpa berbicara denganku terlebih dahulu. Pada umumnya ada serangkaian proses yang rumit bagi seorang tentara bayaran untuk menerima tawaran pekerjaan. Namun mungkin kali ini, aku akan menerima tawaran itu.


Aku menghela nafas dan menghampiri Alz secara perlahan. Petani yang tampak sangat senang itu kemudian mengajak kami untuk mengikutinya. Katanya, kami tinggal berjalan sejauh 5km dari reruntuhan desa Milten ini.


Dalam perjalanan aku mengetuk kepala Alz sekali, ia yang kaget secara spontan berkata "aduh" sambil menatapku dengan bersalah. Dalam bisikan, aku mengatakan sesuatu kepada Alz.


"Kenapa kau langsung menerima tawaran itu? Kita bahkan tidak tahu siapa yang kita lawan?" ujarku dengan ekspresi yang datar seperti menahan kecewa.


Alz yang menyadari ketidaknyamananku atas keputusannya, kemudian berusaha menjelaskan tindakannya itu dengan berbagai alasan sambil berbisik.


"Kau dengar itu Arslan? 30 keping emas, kapan lagi seorang tentara bayaran sepertimu mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat? Walau nanti setengahnya akan dibagi denganku sih, tentunya ya."


"30 keping emas itu memang banyak, tidak, 15 emas ya jika kau benar-benar berbicara tentang keuntunganku. Memang nilai itu cukup banyak, namun apa kau tahu seberapa kuat lawan yang akan kita hadapi? Tidakkah kau mengerti bahwa etika terpenting yang dilakukan oleh seorang tentara bayaran itu adalah bertahan hidup?".


Alz yang mendengar kalimatku itu kemudian menghentikan langkahnya tiba-tiba. Berdiam, tak berbuat apa-apa, spontan setelah berjalan sedikit di depannya aku juga mulai berhenti, hingga akhirnya ketika mendengar kami semua berhenti melangkah akhirnya petani yang berada di depanku juga memberhentikan langkahnya sambil menengok ke belakang.


Kenapa Alz berhenti? Apakah ia menyadari kesalahannya dan ingin membatalkan misi ini? Atau aku telah menyakiti perasaannya? Terkadang, aku benar-benar merasa tidak mengerti cara berpikir orang lain.


Dalam heningnya yang tiba-tiba itu ia kemudian menatapku dan berkata dengan tegas sambil menaruh kedua tangannya di belakang.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, karena...


-Aku adalah penyihir yang sangat kuat".

__ADS_1


Ia tersenyum lagi, menatap ke arahku dan kemudian berjalan terus ke depan. Meninggalkanku, lalu berbicara dengan petani yang tampak kebingungan dengan tingkah laku kami tadi.


Huh, aku benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


__ADS_2