
Aditya berpakaian putih dan berdiri tegak. Dia menatap Tisna dengan heran, dengan sedikit mengangguk, dia berkata, "Berhasil! Aku sudah menembus alam tempering tubuh tingkat ketujuh! Kak Tisna, kenapa kamu masih belum pergi istirahat?"
Tisna tertegun ketika dia mendengar kata-kata Aditya, jantungnya berdebar kencang, hatinya begitu senang sehingga dia ingin menangis.
"Bagus! Benar-benar bagus!" Tisna menyeka mata sambil berkata. "Aku sudah berjanji untuk membantu Yang Mulia Pangeran Kesembilan menjaga pintu, jadi aku pasti tidak akan pergi. "
Aditya sedikit terharu, mengeluarkan pil darah dan menyerahkannya kepada Tisna.
"Sudah turun salju, jangan sampai kedinginan, istirahatlah lebih awal! Minumlah pil darah ini, ini seharusnya bisa menghangatkan tubuhmu!" Kata Aditya.
Tisna mengambil pil darah, memegang erat-erat di tangannya, mengangguk kuat, dan berjalan menuju ke kediamannya sendiri, berpikir dalam hati bahwa malam ini pasti tidak bisa tidur.
...
Aditya kembali ke kamar tetapi tidak berlatih lagi, sebaliknya, dia berbaring di tempat tidur, membiarkan dirinya rileks sepenuhnya, dan tertidur lelap.
Setelah menembus alam tempering tubuh tingkat ketujuh, akhirnya dia bisa tidur dengan nyenyak.
Awalnya Aditnya berpikir bahwa dia butuh tiga bulan untuk mencapai level ini. Namun, dengan bantuan kekuatan kristal spiritual ruang-waktu dan sejumlah ramuan obat kultivasi, dia hanya butuh setengah bulan untuk mencapai level ini.
Aditya memiliki kepercayaan diri untuk menembus level yang lebih tinggi sebelum ujian akhir tahun.
Setelah istirahat satu malam, Aditya kembali bersemangat, dan seluruh tubuhnya penuh kekuatan.
"Pil Pengumpul Qi dan Bubuk Tempering Tubuh sudah terpakai sebagian, aku harus pergi ke pasar perdagangan untuk membeli lagi."
Setelah sarapan dengan Selir Malya dan Tisna, Aditya meninggalkan istana sendirian dan menuju pasar perdagangan.
Aditya datang ke pasar perdagangan dan masuk ke toko yang menjual pil.
Toko ini terletak di persimpangan jalan, dan termasuk dalam tiga toko besar teratas. Sebagian besar petarung yang lewat akan masuk untuk melihat-lihat, ada yang masuk untuk membeli pil yang cocok, dan ada yang masuk untuk menjual obat berharga yang baru saja mereka kumpulkan.
Seorang lelaki tua dengan tahi lalat di sudut bibirnya tiba-tiba muncul di belakang Aditya lalu bertanya sambil tersenyum. "Tuan, apakah Anda ingin membeli Pil Pengumpul Qi?"
__ADS_1
Aditya sedikit terkejut, lalu berbalik dan menatap lelaki tua itu dengan seksama.
Lelaki tua ini tidak sederhana, dia bisa berjalan di belakang Aditya tanpa bersuara.Jika dia tidak mengambil inisiatif untuk berbicara, Aditya bahkan sulit menyadarinya.
Dia pasti seorang master bela diri!
Lelaki tua itu tersenyum dan memperkenalkan dirinya. "Namaku Anggabaya, aku kepala toko pil ini."
"Ternyata kepala toko," Aditya mengangguk dan berkata. "Aku ingin membeli lima puluh Pil Pengumpul Qi dan tiga puluh botol Bubuk Tempering Tubuh. Apakah toko Anda memiliki stok?"
Anggabaya sedikit terkejut, ini transaksi yang sangat besar, hanya keluarga besar yang akan membeli begitu banyak obat-obat kultivasi sekaligus. Sangat jarang seorang petarung membeli begitu banyak pil.
Pil Pengumpul Qi dan Serbuk Tempering Tubuh bukanlah barang murah, dan petarung biasa tidak akan mampu membelinya.
"Jika Anda pergi ke toko lain, Anda mungkin tidak dapat membeli begitu banyak pil. Kebetulan sekali, toko kami memiliki banyak Pil Pengumpul Qi dan Bubuk Tempering Tubuh, pasti dapat memenuhi kebutuhan Anda."
Anggabaya tersenyum sedikit dan berkata. "Lima Puluh Pil Pengumpul Qi, tiga puluh Bubuk Tempering Tubuh, harganya adalah 80.000 koin perak. Tapi ada diskon khusus untuk Anda yang membeli dalam jumlah sebesar ini. Anda cukup membayar 72.000 koin perak saja!"
Koin perak Aditya tidak tersisa banyak, jadi tidak cukup untuk membayar pembelian sebanyak ini, dia pergi ke bank pasar perdagangan untuk menarik 200.000 koin perak.
Setelah menghabiskan 72.000 koin perak, dan ditambah sisa koin perak sebelumnya, dia masih memiliki total 135.000 koin perak.
Setelah menyelesaikan pembelian besar ini, wajah Anggabaya tersenyum, dan dia berkata, "Tuan, apakah Anda masih ingin membeli barang lain?"
Aditya berkata, "Anda pasti tidak menjual barang yang aku inginkan."
Anggabaya berkata, "Mungkinkah Anda ingin membeli sebuah senjata yang cocok?"
Aditya semakin merasa kepala toko ini bukan orang sederhana, lalu berkata, "Kamu benar-benar hebat."
Anggabaya tersenyum dan berkata. "Aku sudah menjadi kepala toko di sini selama puluhan tahun, dan telah melihat banyak petarung. Jarang ada petarung yang tidak memakai senjata. Begini saja, toko kami juga memiliki cabang yang menjual senjata, aku akan meminta pelayan untuk membawa Anda ke sana."
Setelah beberapa saat, Anggabaya memanggil seorang anak laki-laki gendut berusia lima belas atau enam belas tahun, dan berkata kepadanya. "Arga, segera bawa tuan muda ini untuk membeli senjata, dan beri tahu Nyonya bahwa dia adalah pelanggan kita yang terhormat, berikan diskon untuknya."
__ADS_1
Anak laki-laki gendut bernama Arga itu segera melebarkan matanya, dan menggelengkan kepalanya dengan kuat, lalu berkata, "Tidak! Tidak! Aku tidak ingin pergi ke tempat Nyonya. Nyonya akan mengambil jiwa pria. Aku akan pergi kalau ke sana."
Anggabaya sangat marah, dan berkata dengan kuat. "Kamu bukan laki-laki dewasa, apa yang perlu ditakutkan? Baiklah! Jika kamu tidak mau pergi, aku tidak akan memberimu Pil Pengumpul Qi bulan ini."
Arga langsung menjadi cemas dan buru-buru berkata. "Jangan, jangan, aku pergi, aku pergi!"
Arga berjalan menuju Aditya dan berkata dengan hormat. "Tuan, silakan!"
Aditya mengangguk dan mengikuti Arga. Dia selalu merasa bahwa kepala toko ini agak aneh, seolah-olah dia bukan orang biasa. Tentu saja, dia tidak khawatir mereka memiliki niat jahat, lagipula ada prajurit yang menjaga keamanan di pasar perdagangan, dan manajemennya juga sangat ketat, tidak ada yang berani berbuat sembarangan di pasar perdagangan.
Arga berkata dengan suara rendah. "Tuan, apakah Anda benar-benar ingin membeli senjata di sana? Nyonya dapat mengambil jiwa pria! Tuan, apakah Anda pria dewasa?"
"Eh ... aku juga belum dewasa!" Kata Aditya.
Arga menghela napas lega, dan berkata, "Baguslah kalau begitu!"
Arga berkulit putih dan gemuk, dengan kepang di atas kepalanya, dua telinga yang mencolok, dan sepasang mata kecil seperti kacang kedelai.
Aditya sedikit penasaran, dan berkata, "Kamu bilang bos-mu bisa mengambil jiwa pria, jadi apakah bos-mu adalah wanita yang sangat cantik?"
Arga mengangguk, dan berkata: "Tentu saja, Nyonya sangat cantik, seksi dan mempesona, sekali melihatnya akan membuat jantung berdebar, dan tersipu. Tapi kamu mungkin tidak tahu kalau Nyonya sudah menikah dengan tujuh bos."
“Menikah dengan tujuh bos?” Aditya sedikit terkejut.
Arga lanjut berkata. "Benar! Ketujuh bos semuanya mati, dan semuanya mati pada malam pernikahan di kamar pengantin."
Aditya berkata, "Setelah ketujuh bos mati, bagaimana dengan harta benda mereka?"
"Tentu saja menjadi milik Nyonya! Bahkan kepala toko kami hanya bekerja untuk Nyonya."
Arga berkata dengan suara rendah. "Nyonya adalah wanita pembawa sial, dia adalah reinkarnasi dari utusan pencabut jiwa. Sulit bagi siapa pun untuk hidup selama tiga hari setelah melihatnya. Untungnya, kita bukan laki-laki dewasa, jadi jiwa kita seharusnya tidak akan diambil olehnya."
Aditya mengangguk dan berkata. "Semoga saja!"
__ADS_1