
"Woah.... "
Kini di depan Yueying sudah begitu ramai orang, mulai dari anak kecil orang dewasa hingga mereka remaja yang tengah memadu cinta. Mereka terlihat sibuk saling bercakap dengan masing-masing lampion di tangan mereka, belum menyala tetapi siap untuk dinyalakan kapan saja.
Setelah mengancam Ziyu akhirnya pelayannya itu bersedia memberikan seragamnya pada Yueying, membuat dirinya bisa keluar dari kerajaan dan menyaksikan festival lampion. Meski hanya seorang diri tidaklah masalah, yang penting bisa melihat festival ini.
Pandangan Yueying mengedar, tetapi tidak lama kemudian maniknya menemukan keluarga kerajaan yang tengah berada di sebuah paviliun terbuka yang berdiri tepat di bibir sungai. Paviliun untuk ada mereka dan beberapa pejabat istana yang memiliki kedudukan tinggi. Memang tidak semuanya hadir hanya ratu, putra mahkota dan beberapa pangeran saja. Putra mahkota tengah duduk bersama Ban Hua yang tengah menyeduh tehnya.
"Cih," decakan itu bersamaan dengan Yueying memutar bola matanya malas.
Daripada merusak suasana hatinya dengan melihat keluarga kerajaan, Yueying memutuskan untuk berbaur kembali dengan yang lainnya. Senyumanya semakin lebar, suasana seperti inilah yang menjadi kesukaannya. Ada anak kecil bersama dengan orang tuanya, mereka terlihat seperti keluarga kecil yang sangat bahagia meski pakaian mereka memperlihatkan jika mereka berasal dari kalagan bawah. Berbanding terbalik dengan kehidupannya yang sekarang, memiliki seluruh kekayaan tetapi tanpa kasih sayang baik dari orang tua apalagi pasangan.
Meski begitu, sebisa mungkin ia tidak akan berkecil hati. Bisa menjalani hari-hari dengan masalah yang masih bisa ia tangani saja sudah bersyukur, di negeri antah berantah ini ia tidaklah memiliki orang yang dia kenal di dunianya.
"Apakah Nona ingin membeli lampion?"
Seorang anak kecil menyerahkan sebuah lampion pada Yueying, yang langsung diterima oleh gadis itu. Yueying mengeluarkan beberapa keping perak yang langsung membuat anak itu berbinar, harga satu buah lampion itu tidaklah semahal itu.
"Ini terlalu banyak, Nona."
"Ambilah semuanya," ucap Yueying pelan.
"Terimaksih, Nona."
Yueying tersenyum dan membiarkan anak itu pergi, lampion buatan tangan itu terlihat sangat rapi dan indah, entah orang tua anak itu yang membuat atau siapa.
Dug... Dug... Dug...
__ADS_1
Suara tabuhan itu menandakan acara akan segera dimulai, di mulai dengan penerbangan lampion oleh keluarga keraajaan dan orang-orang yang berada di paviliun terbuka. Barulah seluruh rakyat boleh menyalakan lampionnya, serentak lampion dinyalakan beserta dengan harapan dan doa yang dipanjatkan mengiringi terbangnya lampion.
Yueying juga ikut menyalakan lampionnya, lalu lekas merangkai harapan di hatinya. Yang dia inginkan sekarang hanyalah kembali lagi ke masanya, menjadi seorang Jessica Yu yang hidup di era modern bukannya terus-menerus terjebak di dalam novel seperti ini. Setelah selesai dengan harapannya kini Yueying melepaskan lampion itu dari tangannya, membiarkannya terbang dan membaur bersama dengan lampion milik orang lain.
Malam itu langit dipenuhi dengan ribuan lampion, menjadikannya terang dan begitu indah. Senyuman Yueying melebar bersamaan dengan itu, pemandangan ini sangat jarang ia lihat. Di masa depan mana ada festival penerbangan lampion yang seramai ini.
"Hai cantik apakah kau pergi seorang diri saja?"
Kalimat itu sedikit mengejutkan Yueying, segera ia lihat sosok dua orang lelaki dengan pakaian berantakan. Mereka terlihat sedikit mabuk terbukti dengan bau arak yang tercium jelas ketika mereka berbicara. Yueying menggelengkan kepalanya dan segera melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu, melewati banyak orang dengan langkah secepat mungkin agar jauh dari mereka.
Tetapi kedua lelaki itu justru mengikuti dirinya bahkan saat Yueying sudah jauh dari kerumunan, saat ini tempat menjadi lebih sepi sedikit menyesal rasanya karena ia malah pergi kesini. Seharusnya berada di tengah kerumunan lebih baik, saat akan berlari lengan Yueying dicekal.
"Kau mau kemana?"
Yueying memutar lengan lelaki itu hingga membuatnya meringis kesakitan, lalu mendorong lelaki itu hingga ia terjatuh ke tanah. Untung saja dahulu saat masih sekolah ia aktif dalam eskul karate, jadinya ia masih bisa melindungi dirinya.
Kedua lengan Yueying dicekal dan ia diseret ke suatu tempat, berteriak tidak ada gunanya karena tidak ada yang mendengar sedangkan melawan juga tidak bisa karena tenaganya tidak seberapa dibandingkan dengan mereka. Yueying dibawa ke sebuah gubuk kecil lalu di lemparkan pada tanah.
"Apa yang akan kalian lakukan? Pergi!"
"Tentu saja bersenang-senang denganmu, gadis cantik."
Yueying nyaris meludah mendengarnya, kalimat itu begitu menjijikan.
"Siapa yang akan terlebih dahulu?" pertanyaan lelaki itu ditujukan kepada rekannya.
"Aku saja,"
__ADS_1
Seorang lelaki maju mendekat ke arah Yueying, hendak melepaskan pakaiannya, Yueying melakukan berbagai perlawanan tapi sayangnya satu lagi lelaki lain membantu memegangi lengan Yueying sehingga pakaian terluarnya kini sudah tanggal, menyisakan kain tipis yang membungkus dari atas payudara hingga atas lutut.
"Tolong... Tolong... "
Air mata sudah turun, Yueying sangatlah ketakutan. Saat akan membuka kain itu, pintu gubuk dibuka dengan kasar sehingga mereka menghentikan aksinya. Qiu Yue datang dan menghajar mereka semua, tidak membutuhkan waktu lama semua orang itu sudah berbaring tidak berdaya di tanah.
Dengan segera Qiu Yue mendekat ke arah Yueying yang tengah menangis hebat, Yueying yang terlihat ketakutan justru menjauhkan tubuhnya. Qiu Yue menyadari jika ketakutan Yueying memang sedalam itu.
"Ini aku," ucapan itu mengalun lembut, tidak seperti biasanya yang dingin dan tanpa nada.
Yueying masih menangis dan memeluk tubuhnya, Qiu Yue melepaskan jubahnya dan menyelimuti Yueying. Tidak melihat adanya pergerakan dari Yueying, Qiu Yue lantas mengangkat tubuh gadis itu dan segera membawanya ke kereta kuda. Sebenarnya tadi Qiu Yue sudah melihat kehadiran Yueying dengan baju pelayan, ia juga melihat saat Yueying didekati oleh 2 lelaki itu. Barulah saat Yueying hilang dari pandangan Qiu Yue mencarinya dan meninggalkan semua orang di paviliun pinggir sungai.
Da Lan yang sedari tadi pergi mengawal Qiu Yue sedikit terkejut saat Qiu Yue justru mendatangi kereta kuda dengan Yueying dalam gendonganya.
"Katakan pada ibu kalau aku ada urusan mendadak dan pulang terlebih dahulu." ucapnya pada Da Lan.
"Tapi, bagaimana dengan selir Ban Hua Yang Mulia?"
"Carikan kereta untuknya," setelah mengucapkan kalimat itu Qiu Yue menyuruh pelayan melajukan kereta kudanya.
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Dont forget to click the vote button!...
...════════ ❁ཻུ۪۪ ═══════...
...Jika ada pertanyaan tuliskan saja di kolom komentar, terima kasih sudah mampir di cerita ini silahkan tunggu episode selanjutnya ^_^...
__ADS_1
...And, see you....