
Ruangan itu tampak sunyi, hanya ada Ata, pak Marcel dengan asisten sekretaris sang Kakek saja.
Dan ketika Ata baru saja mau memulai percakapan, dia selalu di hentikan.
“ Hm, pak saya mau nan..”
“ Pak, Yuda dimana ya tolong panggilkan dia.”
“ Baik pak.”
Ata melihat ke pintu dan sekretaris berjalan meninggalkan mereka berdua.
“ Pak..”
“ Shutt..”
“ Pak saya mau nanya..”
“ Shutt..”
Ata kelihatan sangat kesal, dengan wajah yang cemberut dia menahan amarah nya.
Kringggg..
Telepon Ata berbunyi.
“ Ta, kamu dimana?.”
“ Lagi di Rumah sakit, kenapa Yur?.” Tanya nya sambil berbisik.
“ Oh ga, mau kabarin aja udah dapat apartemen nya haha.”
“ Beneran?.”
Yuri tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya ketika sudah mendapatkan tempat tinggal baru dengan uang hasil kerja kerasnya.
“ Hm, maaf pak .. saya harus pergi sekarang.”
“ Em ya.”
“ Cuek banget, pantasan aja ga ada yang mau.”
Di jalan, Ata mengganti nama kontak pak Marcel menjadi manusia dingin. Ini karena, perilaku pak Marcel yang berubah beberapa belakangan ini.
“ Yuri..” Ata melambaikan tangan.
“ Sista Ata..sini sini.”
Apartemen Yuri sangat besar, di lengkapi dengan 2 kamar dan ruang tamu yang luas.
__ADS_1
Ata bertanya kepada Yuri kenapa dia bisa mendapatkan tempat tinggal dengan cepat.
Dan tanpa Ata ketahui, pak Marcel lah yang telah membantu.
“ Ini..kemarin itu dapet dari web kok.”
“ Ohh, mewah juga ya.”
“ Iya, keren kan jadi kamu nanti main-main kesini ya.”
Mereka berdua menghabiskan waktu di tempat baru Yuri, malam hari pun tiba.
Ketika Ata baru saja membuka pintu Apartemen, dia melihat tepat di depan nya ada Yuda.
“ Yur..Yuri lihat.”
“ Itu kan?.”
“ Ta, jangan kesini dulu ya. Kapan-kapan aja.”
Ata mengangguk.
Yuda tinggal di tempat yang sama dengan Yuri, singkatnya mereka adalah seorang tetangga.
Yuda curiga dengan suara-suara yang berbisik itu dan diam sejenak.
“ Kayak kenal.”
“ Hati-hati Ta.”
***
03.00 subuh.
Ata berjalan keluar dari kamar untuk mengambil air dari kulkas.
Kreek..
“ Kenapa ya pak Marcel, beda banget.”
“ Kakak pasti simpananan nya atasan ya.”
Kata Kevin dengan suara pelan yang berasal dari bawa meja, tepat di samping kaki Ata. Dia sedang mencoba cemilan yang di bawa Ata tadi.
“ Kevin..itu apa?.”
“ Oh ini? Cemilan kakak, makasih ya enaak banget.”
Ata tidak memberikan respond apapun.
__ADS_1
Tampaknya dia sudah banyak beban pikiran hari ini.
Dia kemudian meninggalkan Kevin sendirian.
“ Tumben banget ga marah.”
“ Abisin aja sekalian sama tempatnya.”
Pagi hari nya, cahaya matahari itu mulai masuk perlahan menusuk matanya.
Gaya tidurnya yang miring, membuat orang di rumahnya menjadi jahil.
“ Pa, hp mu mana?.”
“ Hp?.. ini, buat apa?.”
“ Mengabadikan kenang-kenangan.”
Tidak lama kemudian, Ata terbangun dengan pelan seperti seorang princess.
“ Hoamm..”
Mama Ata yang sudah menunggu di depan pintu daritadi, hanya bisa melihat heran anaknya.
“ Ata cantik.”
Ata membuka matanya sembari meregangkan badannya.
“ Ma..Eh hehe halo Ma.”
“ Sudah bangun?.” Dengan wajah yang tersenyum.
“ Udah kok ini, Ata mau beresin kamar dulu.”
“ Bagus, setelah itu jadwal kamu untuk membuka kedai lagi.”
Seketika itu membuat Ata berharap ada seorang pangeran yang menjemputnya.
“ Andai aja ada pangeran berkereta kuda datang.”
Sementara itu pak Marcel..
“ Saya ada jadwal apa hari ini?.”
“ Untuk sementara kosong pak.”
Tanpa sengaja mereka lewat di depan kedai ayam milik Ata.
“Catherine, apa kamu mau mencoba ini?.”
__ADS_1
Rambut panjang dengan model bergelombang, style yang luar biasa cantik, adalah Catherine adik angkat pak Marcel.”
Catherine hanya mengangguk dan mengikuti sang kakak.