Sebatas Istri Bayangan

Sebatas Istri Bayangan
Bab 27 - Sebuah Buku


__ADS_3

"Hah, buku apa ini?" gumam Devina saat melihat sebuah buku tipis dengan ukuran sedang berwarna merah jambu.


Ia pun mengambil buku tersebut dan mengeja huruf yang ada di depannya, tertulis My Diary.


"Apa ini buku catatan harian Mami?" batin Devina.


Ragu-ragu akhirnya ia mengembalikan buku tersebut di tempat semula. Namun matanya terus melirik ke arah buku itu. Hatinya penasaran ingin membuka isinya. Namun logikanya tidak mengizinkan karena ia tahu buku itu milik ibu sambungnya.


Dan Binar sering menasehati dirinya juga Disya bahwa tidak boleh membuka atau mengambil milik orang lain tanpa seizin dari sang empunya.


Setelah hampir tiga puluh menit berperang antara hati dan logikanya, akhirnya ia pun memberanikan diri mengambil buku diary milik ibu sambungnya itu.


Plug...


Tanpa sengaja sebuah foto pun terjatuh saat ia membuka diary tersebut. Dan ternyata itu adalah selembar foto Papi dan ibu kandungnya saat keduanya menikah. Karena ia melihat Papi dan ibunya memakai baju tradisional mewah lalu memamerkan buku nikah di depan kamera. Keduanya pun tersenyum bahagia.


Foto Dion dan Berliana saat menikah sengaja diselipkan Binar di antara lembaran buku hariannya. Tangan kecilnya terulur membuka lembaran demi lembaran diary milik Binar. Dan akhirnya ia pun terketuk hati untuk langsung membaca tulisan pada halaman terakhir.


Entah sejak kapan cinta ini mulai tumbuh di hatiku. Yang pasti cinta ini hanya untukmu, suamiku. Cinta pertamaku namun terasa begitu menyakitkan. Namun entah mengapa aku tak bisa dengan mudah melupakan cinta itu dan menghapus namamu, Dion Ananta.


Tapi sepertinya aku harus segera bangun dari mimpiku. Diriku seakan tertampar karena kamu mengatakan hanya menganggapku sebagai ibu pengganti untuk kedua malaikat kecilmu yang sangat aku cintai. Karena cintamu sepenuhnya hanya milik kakakku, Berliana.


Hidup sebagai bayangan saudara kembar sendiri ternyata sungguh sesak. Maafkan aku Kak Berli, jika aku belum bisa menjalankan amanahmu dengan baik.

__ADS_1


Papa, Mama, Brahma dan Bisma, maafkan aku jika menyembunyikan rasa sakit di hatiku dan juga penyakitku. Aku tak ingin membuat kalian sedih dan terbebani. Aku ingin kalian semua selalu tersenyum bahagia. Cukup kalian tahu saja bahwa rumah tanggaku dengan Kak Dion baik-baik dan harmonis seperti rumah tangga yang lain pada umumnya. Walaupun kenyataannya tak seperti itu. Cukup aku saja yang tahu.


Kak Berli, terima kasih banyak karena berkat dirimu aku bisa merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Walaupun pada akhirnya cintaku tak terbalas dan hanya bertepuk sebelah tangan. Aku tetap sangat bahagia dan bersyukur. Karena berkat dirimu, aku bisa menjadi seorang ibu. Walaupun Devina dan Disya lahir bukan dari rahimku. Mereka selamanya tetap menjadi anak-anakku yang sangat aku cintai. Karena mereka berdua adalah malaikat kecilku yang dihadirkan Tuhan padaku. Keduanya lahir dari hatiku.


Love you kesayangan Mami,


Devina dan Disya💖


Permata hati Mami sampai menutup mata ini.


Doa Mami selalu menyertai kalian berdua di setiap helaan nafas dan di setiap sujud yang Mami lakukan. Jadi anak-anak yang sholehah untuk Papi dan mendiang Ibu ya sayang. Amin...


Maaf, jika Mami belum menjadi seorang ibu yang sempurna seperti yang kalian inginkan dan harapkan. Tapi buat Mami, Devina dan Disya adalah permata hati yang sangat sempurna. Dan tak ternilai dari harta apa pun yang Mami punya di dunia ini.


Peluk dan cium dari Mami.


Binar Mentari Mahendra.


Deg...


"Apa maksud na ini? Mami mau pergi ke mana?" batin Devina.


☘️☘️

__ADS_1


Devina tengah bingung dan akhirnya ia memutuskan membaca kembali beberapa halaman diary milik Binar.


Sedangkan di halaman rumah sakit tempat Binar dirawat, dua orang tengah berlarian sejak turun dari taksi online. Keduanya sedang berlari untuk masuk ke dalam rumah sakit.


"Lang, tunggu!" teriak Nanda, sahabat Binar.


"Ayo buruan Nan, lelet banget sih kamu! Asdos kok lelet gini sih! Apa Bu Merry enggak seleksi ketat? Kok bisa milih Asdos kayak kamu. Lelet banget mirip kura-kura. Huft!" gerutu Langit.


Nanda berusaha mengejar Langit yang berlari dengan cepat memasuki area rumah sakit menuju sebuah lift. Ia sangat tahu lelaki ini mencintai Binar. Tanpa sengaja Nanda yang bekerja sebagai asisten dosen di UGM, mendengar pembicaraan Langit dengan seseorang melalui telepon.


Saat itu keduanya tengah sarapan di kantin kampus. Kebetulan Langit sedang ada urusan dengan salah satu dosen di kampus. Keduanya tanpa sengaja bertemu dan memutuskan sarapan bersama di kantin.


Ketika asyik sarapan, ponsel Langit berdering dan lelaki itu menjauhinya ke arah koridor yang sepi. Ia pun penasaran, akhirnya memutuskan berjalan mengendap-endap untuk mendengar percakapan Langit dengan seseorang yang ternyata membawa kabar Binar sedang opname di rumah sakit.


Nanda pun akhirnya tahu tentang rahasia penyakit Binar setelah mendesak Langit untuk berkata jujur padanya.


"Jangan sampai siapa pun tahu mengenai penyakit Binar termasuk keluarganya. Karena Binar sendiri yang melarangnya," ucap Langit dengan nada sedikit mengancam pada Nanda.


"Apa kamu masih mencintai Binar, Lang?" tanya Nanda serius.


Bersambung...


🍁🍁🍁

__ADS_1


*Asdos : Asisten Dosen.


__ADS_2