
"Cukup Kak!" ucap Binar dengan suara yang sedikit menekan namun tidak berapi-api di depan suaminya.
Sebab ia tahu tidak baik jika seorang istri meninggikan suaranya di depan suaminya. Namun air matanya tak dapat dibendung lagi. Jatuh dengan sendirinya tanpa disuruh.
"Kamu memang tidak bisa menyayangi dan mencintai kedua putriku dengan tulus. Sebab mereka tidak lahir dari rahimmu. Beruntung pernikahan kita tidak ada anak. Karena jika ada anak kandung yang lahir dari rahimmu, pasti kamu lebih menyayanginya daripada Devina dan Disya yang cuma putri sambungmu," ucap Dion yang langsung menusuk hati Binar. Rasanya bagai ditusuk belati tajam di ulu hatinya.
Jlebb...
Begitu menyakitkan.
Mungkin jika ia dibilang istri yang tidak baik, dirinya tak mempermasalahkan. Namun jika ia dianggap sebagai ibu sambung dari si kembar yang tidak baik bahkan dituding menelantarkan Devina dan Disya, sungguh rasanya sangat menyayat hatinya.
Bahkan semut di tembok rumahnya sebagai saksi. Dirinya tak pernah mengeluh sedikit pun mengasuh si kembar sejak kecil. Saat Devina dan Disya belum genap satu tahun sudah ditinggal pergi Berliana untuk selama-lamanya.
__ADS_1
Suaminya sibuk mengembangkan bisnis dan pekerjaannya yang lain, ia tak pernah mengeluh. Bahkan saat si kembar sakit, ia merelakan tidak masuk kerja untuk mengurus Devina dan Disya tanpa kenal lelah. Hingga dirinya tumbang beberapa hari karena keletihan dan penyakitnya kambuh. Hanya dirinya sendiri yang merasakan.
Binar tipe orang yang tidak mau berbagi kesedihannya dan beban kepada orang lain, termasuk keluarganya sendiri.
Akan tetapi, kini rasa cintanya yang begitu tulus tanpa pamrih pada Devina dan Disya, tengah diragukan oleh suaminya. Perih.
"Maaf Kak jika di mata Kak Dion aku seperti itu. Kakak boleh mengatakan apa pun hal negatif padaku. Aku akan terima. Tapi tidak dengan ketulusan cintaku untuk Devina dan Disya,"
"Dengan teganya kakak mengatakan aku tidak tulus mencintai mereka hanya karena si kembar bukan darah dagingku. Apa begitu buruknya aku di mata kakak selama ini?"
"Maaf, jika aku sudah banyak mengecewakan kakak. Tidak seperti mendiang Kak Berli yang selalu sempurna bagimu,"
"Satu hal lagi. Materi dalam hidup memang penting Kak. Materi bisa membeli segala hal. Tetapi tidak semua hal bisa dibeli oleh materi yang kita miliki. Walaupun materi kita sangat berlimpah ruah,"
__ADS_1
"Cinta dan harga diri. Dua hal itu yang tidak bisa dibeli dengan berapa pun banyaknya materi yang kita punya. Aku mencintai pekerjaanku sebagai dokter karena memang murni dari hatiku dan juga keinginan mendiang kakekku Jenderal Polisi Prasetyo Pambudi namanya, jika kakak lupa. Harga diriku sebagai istri bisa kakak injak sesuka hati karena memang aku banyak bersalah. Tetapi sebagai ibu si kembar yang selama ini aku selalu berusaha mencintai dan bertanggung jawab pada mereka tanpa pilih kasih, sekarang kakak bilang aku tidak tulus mencintai mereka. Aku tidak terima akan hal itu. Harga diriku telah kakak injak dan lukai. Seperti kakak menginjak puntung rokok yang masih menyala dan ingin dimatikan begitu saja dengan sepatu mewah milik kakak. Seekor semut saja akan berontak jika ada yang menginjaknya,"
"Apa aku harus meninggal seperti Kak Berli, baru aku akan dianggap ada di hati kakak dan juga menjadi bagian rumah ini?"
"Apa itu yang kakak inginkan?"
Deg...
Bersambung...
🍁🍁🍁
BANTU LIKE💋
__ADS_1