
"Rora lepas..." Al masih menggoda Aurora yang sekarang sedang menangis didadanya itu
bukannya menuruti kemauan sang suami, Aurora semakin menangis dipelukan Al. Memeluk Al sekuat-kuatnya seakan tidak mengizinkan Al pergi darinya barang sedetikpun
" lepas.." desis Al
Aurora menggelengkan kepalanya tidak ingin melepaskan pelukannya
" nggak! ja-jangan cuekin Rora.."
" ya lepas aku gerah nih.." Al sungguh tidak serius mengatakan hal tersebut. Ia hanya mau menggoda Aurora, padahal Al merasa sangat nyaman dipeluk aurora seperti ini
Al yang sudah tidak tahan dengan sikap Aurora, lalu mengelus puncak kepala Aurora
Aurora mendongakkan kepala karena merasa sentuhan lembut dipuncak kepalanya
" kakaaakk.." rengek Aurora sembari menatap lekat mata Al seakan memohon
" kenapa hm?" tanya Aurora
Aurora menggelengkan kepala dan menunduk. Tangan Aurora masih setia bermain didada bidang Al
Al menaruh buku yang ia baca tadi, dam merebahkan Aurora dikasurnya. Menindih Aurora yang sedang menunduk masih terdengar isakan kecil dari Aurora
Al mengambil tangan usil Aurora, menaruhnya diatas kepala Aurora dan mengangkat dagu Aurora agar menatapnya
" kenapa? kok nangis" tanya Al dengan lembut
tangan Al yang menganggur juga sudah bertengger dimana-mana. Al mulai mengendus tubuh Aurora, mengecup-kecup leher Aurora
" masih...marah?" tanya Aurora takut
__ADS_1
" kenapa emang, kalo masih marah? hm?" tanya Al sembari mengendus-endus leher Aurora
" jangan cuekin aku kak, aku nggak suka dicuekin!" sahut Aurora " cukup orang lain aja yang cuekin aku, kamu jangan..hiks..hiks" Aurora kembali menangis
" jangan nangis dong! iya aku udah nggak marah lagi" ujar Al sembari mengelus pipi Aurora
" beneran ya?" Al mengangguk
" yaudah minggir, aku mau main-main sama Bunda dulu" Aurora mencoba mendorong tubuh Al. Namun naas, tenaga Aurora tidak sebanding dengan tenaga Al
" mau kabur kemana? tanggung jawab dulu!" ucap Al
" tanggung jawab apa? nanti aja ya? aku mau sama bunda dulu" sahut Aurora lalu pergi keluar kamar
" eh tunggu besok kita sekolah. nanti kalo main pasti aku capek.." monolog Aurora
Aurora lalu berbalik dan memandang Al yang sedang memandangnya heran
" yang~" rengek Al
"oke tomorrow! thankyou hubby muuuaaacchh..."
"Bunda menantu cantikmu datang!!" pekik Aurora sembari keluar kamar dengan buru-buru agar tidak kena serangan Al
Al memandang kepergian Aurora dengan tidak percaya
' gagal malam peratamaan lagi!" gumam Al dalam hati
☘️☘️☘️
" Kayra apa kamu baik-baik saja?" tanya Naura
__ADS_1
"tidak..akh! Na-Naura tolong telfon nomor ini" pinta Kayra sembari memberikan handphonenya kepada Naura
Naura mengangguk lalu menelfon seseorang yang diminta Naura
selang 20 menit, seorang wanita cantik keluar dari mobil mewah dengan wajah yang khawatir
"Nona!" pekik seseorang yang sudah pasti Sekretaris Kim
" Nona Kim.."
"Nona apa anda baik-baik saja? astaga apa yang terjadi kenapa sampai seperti ini?" tanya Sekretaris Kim cemas
"ekhm, Nona, sebaiknya anda membawa pulang Kayra dulu. Kami yang akan meminta izin kepada pelatih kami!" jelas Na-Ra
Sekeretaris Kim melihat kearah Na-Ra, sedikit terkejut karena melihat yang berkata tadi adalah Na-Ra
Sekretaris Kim mengangguk canggung "terimakasih Nona, kalau begitu saya permisi"
Sekretaris Kim pergi dengan memapah Kayra yang terlihat lemas
" Nona muda, apa perlu saya antar anda kerumah sakit?" tanya Sekretaris Kim saat sudah sampai dimobil
" tidak perlu.." jawab Kayra
"Nona Kim ada apa dengan dia? kenapa sangat sakit? akh!" tanya
" dari pengawal yang Anda perintahkan, tidak ada masalah dengan Nona Aurora, dia baik-baik saja Nona.." sahut Sekretaris Kim
" Nona muda, mungkin anda hanya sakit kepala biasa, karena memang tidak ada masalah apapun dengan keluarga Dewantara"
" tidak! rasa sakit ini berbeda dengan sakit kepala biasa, tapi ini adalah sakit yang parah dari biasanya. Penjahat itu memang kurang ajar!" pekik Kayra
__ADS_1