
Malam berganti pagi, sekarang sudah jam 09:00 a.m. adinda baru terbangun dari tidur nya, tak ada semangat sedikit pun, dia juga tidak tau kenapa dia menjadi seperti ini.
"Adinda lu dah bangun?"Tanya Lina dari luar kamar Adinda, tetapi Adinda tidak niat untuk menjawabnya.
"Dinda lu dah bangun belum?"Tanya Lina lagi."Din jangan buat takut dong."Ucap Lina.
"Iya, gue udah bangun Lin."Jawab Adinda lesu.
"Fiuh...jawab kek dari tadi."Ucap Lina."Oh ya din, Lu langsung beres-beres aja ya, habis tuh keluar makan, biar kita langsung pergi
"Iya."Jawab Adinda.
Setelah Adinda selesai beres-beres dia langsung keluar kamar dan menghampiri Lina.
"Lina."Ucap Adinda lemas.
"Iya."Sambil melihat ke arah Adinda."Lu kok lemas banget, lu sakit?"Tanya Lina.
"Gue nggak apa-apa, berangkat aja yuk."Ucap Adinda.
"Makan dulu Din."Ucap Lina.
"Nggak deh, lu aja yang makan."Ucap Adinda.
"Lah kenapa? lu juga harus makan Din."Ucap Lina.
"Gue gak selera."Ucap Adinda.
"Ya udah, tapi awas aja kalo lu pingsan pas di jalan, gue gak tanggung jawab."Ucap Lina.
Tak ada sautan dari Adinda. Lina pun sarapan sendiri, setelah Lina selesai sarapan, mereka langsung pergi ke terminal untuk menunggu bus yang akan mereka naikin ke desa.
"Kita tunggu bus nya di sini aja ya."Ucap Lina.
"Oke, udah di pesan kan tiket nya?"Tanya Adinda.
"Udah kok."Ucap Lina.
Sekarang sudah jam 01:00 p.m. saat nya untuk mereka berangkat karena bus nya akan jalan. selama di perjalanan semua nya lancar sampai ke tujuan. pada saat mereka sudah sampai ke desa, mereka langsung menemui Buklek.
"Buklek."Ucap Adinda.
"Kamu udah sampai din."Ucap Buklek.
__ADS_1
"Udah Buklek, dimana makam Kakek dan Nenek?"Ucap Adinda.
"Gak usah buru-buru Nak, mereka udah tenang kok."Ucap Buklek.
"Adinda cuma mau lihat kakek dan nenek untuk yang terakhir kali nya Buklek."Ucap Adinda.
"Besok kan bisa Nak."Ucap Buklek.
"Adinda mau nya sekarang."Ucap Adinda yang hampir menangis tetapi di tahan sebisa mungkin.
"Apa kamu nggak capek Nak?"Tanya Buklek.
"Nggak Buklek, Dinda mau lihat Kakek dan Nenek untuk terakhir kali nya."Ucap Adinda.
"Oke lah, tapi sebelum pergi letak kan dulu barang-barang kalian ya."Ucap Buklek.
Setelah Adinda dan Lina menaruh barang-barang nya, mereka langsung di antar ke makam Kakek dan Nenek Adinda.
"Kalian sudah hapal jalan pulang nya kan?"Tanya Buklek.
"Sudah Buklek."Ucap Lina.
"Ok lah, buklek pulang dulu ya, Buklek mau masak untuk kalian."Ucap Buklek.
Adinda sudah berada di samping makam Kakek dan Nenek nya, dia hanya diam terpaku dan tangis nya pun pecah, tangis yang sedari tadi ia tahan, sekarang tidak bisa ia tahan lagi.
"Kenapa? kenapa Kakek dan Nenek gak bilang aja sama Adinda, kalo Kakek dan Nenek rindu sama Adinda?"Ucap Adinda sambil terisak.
"Sabar Din."Ucap Lina sambil mengelus pundak Adinda.
"Adinda memang cucu gak berguna, Dinda memang cucu yang hanya menyusahkan saja."ucap Adinda menangis sambil mengelus batu nisan Kakek dan Nenek nya.
"Dinda lu gak boleh bilang kayak gitu."Ucap Lina sambil memegang kedua bahu Adinda. "Nih ya Din, gue kasih tau sama lu. Kakek dan Nenek lu itu udah tenang jadi untuk apa nangis begini."
"Gue gak rela Lin."Ucap Adinda sesenggukan.
"Kalo emang lu gak rela, lu bisa apa? lu mau nangis sampai kapan?"Tanya Lina."Emang nya dengan lu nangis secara terus menerus, bisa mengubah semua ini? gak bisa Din."
Adinda hanya diam seribu kata, dia merenungkan kata-kata yang dibilang oleh Lina.
"Seperti nya lu benar Lin."Ucap Adinda yang mulai berhenti menangis.
"Dari pada lu harus nangis kayak tadi, lebih baik lu berdoa aja, minta yang terbaik."Ucap Lina.
__ADS_1
Mereka berdua pun berdoa, setelah mereka dari makam, mereka langsung pulang ke rumah buklek, untuk mengambil barang-barang mereka dan balik ke rumah Kakek dan Nenek.
"Buklek kami ambil barang-barang kami ya."Ucap Lina.
"Iya nak, gimana perasaan kamu sekarang nak Dinda?"Tanya Buklek.
"Sudah membaik Buklek."Ucap Adinda dengan senyum yang sangat kecil dan di paksa.
"Bagus lah, jangan terlalu larut sedih nya ya Nak. Itu gak baik untuk kesehatan kamu."Ucap Buklek.
"Iya Buklek, Dinda juga mau bilang makasih udah mau, bantu Adinda untuk ngurus pemakaman Kakek dan Nenek Adinda."Ucap Adinda.
"Iya sama-sama Nak, kita kan keluarga jadi harus saling tolong menolong dong. Oh iya tadi Buklek habis masak, ini untuk makan malam kalian ya."Ucap Buklek sambil menyodorkan rantangan.
"Makasih ya Buklek, kita pamit dulu."Ucap Lina, sambil menerima rantangan yang di berikan Buklek dan pergi ke rumah kakek dan nenek Adinda.
Setelah sampai di rumah Adinda yang ada di desa, mereka langsung pergi bersih-bersih.
"Gue mandi luan ya Din."Ucap Lina.
Lina pun langsung pergi mandi, setelah Lina selesai mandi lanjut Adinda yang mandi. Pada saat Adinda bersih-bersih Lina membereskan meja makan dan menyajikan makanan yang ada.
"Yuk makan Din."Ajak Lina saat melihat Adinda sudah selesai mandi.
"Luan aja, gue belum lapar."Ucap Adinda.
"Dari tadi lu gak ada makan Dinda, sekarang lu harus makan. gue gak mau tau."Ucap Lina.
"Iya-iya, gue makan." Ucap Adinda.
Mereka berdua pun makan, setelah selesai makan Adinda langsung pergi ke teras rumah nya.
"Gue ke depan dulu ya."Ucap Adinda sambil berjalan ke teras, setelah sampai di teras Adinda duduk di bangku yang berada di teras tersebut.
"Makasih ya nek, kek, udah mau temani Dinda selama ini."Ucap Adinda pelan. "Dinda yakin setiap akhir yang sedih pasti akan datang awal yang baik."
Pada saat Adinda duduk di teras sendirian sambil menatap langit gelap yang penuh bintang, ada yang melihat Adinda dari kejauhan.
Adinda menyadari bahwa ada seseorang yang melihat dia dari kejauhan.
"Siapa itu."Batin Adinda.
jangan lupa like, comen and vote๐๐
__ADS_1