SELAMAT PAGI BIDADARI

SELAMAT PAGI BIDADARI
SELAMAT PAGI BIDADARI


__ADS_3

EPISODE 86


Pak Broto dan bu Broto bergantian memeluk Rio, lebur menjadi satu dalam kebahagiaan. Rio kemudian mengajak Pak Broto dan Bu Broto duduk menunggu, karena Wulan belum bisa ditemui, walau keinginan bertemu dengan sang istri sudah sangat menghentak-hentak dadanya.


“Sabar Roy, kamu nanti pasti juga akan bisa segera menemui istri kamu,” kata pak Broto yangmelihat Roy tampak gelisah.


“Ini kebetulan juga Murni ada di rumah sakit, tapi aku sudah lega, Restu bilang Murni baik-baik saja, hanya saja harus dirawat beberapa waktu lamanya, sampai keadaan membaik,” kata bu Broto.


“Ya, nanti setelah kita bertemu Wulan, kita segera menemui Murni di rumah sakit.”


“Bagaimana dengan Sarni, dia pasti juga gelisah memikirkan anaknya.”


“Ibu telpon Sarni saja, suruh naik taksi ke rumah sakit, dimana Murni dirawat, sambil membawakan baju ganti, siapa tahu Murni membutuhkan. Jangan lupa juga baju ganti untuk Gilang, dan susu, dan apa lah semua kebutuhan Gilang, soalnya sudah lama dia di rumah sakit. Mungkin juga haus dan lapar. Restu kan belum bisa meninggalkannya karena Murni sendirian.”


“Iya ya, kalau begitu biar ibu telpon Sarni dulu.”


***


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Restu sambil menggendong Gilang yang sedang tidur.


“Aku baik-baik saja. Rasa nyeri sudah hilang. Hanya sedikit kaku, karena tak bisa bergerak.”


“Bukan tak bisa, memang tak boleh banyak bergerak. Kamu harus sabar Mur, demi bayi kamu, juga diri kamu sendiri.”


“Iya, aku tahu. Karena panik aku tak hati-hati.”


“Sebenarnya panik karena apa? Hanya mendengar dering telpon, mengapa panik?”


“Waktu itu Lisa kan datang dengan membawakan balon-balon untuk Gilang. Aku masuk ke rumah untuk mengambilkan uang. Tiba-tiba aku panik karena tak melihat Gilang di teras, lalu aku bergegas keluar, dan merasa lega karena melihat Gilang sedang lari-lari mengejar balon yang tertiup angin. Aku mendengar dering telpon sejak aku masuk ke rumah untuk mengambil uang, tapi belum sempat mengangkatnya karena rasa panik tadi. Kemudian aku tergesa masuk untuk mengangkat ponsel, tapi kurang hati-hati, tersandung mainan Gilang yang masih terserak di lantai, sehingga aku terjatuh. Untunglah ada Lisa yang dengan cepat memanggil taksi untuk membawaku ke rumah sakit.”


Restu bernapas lega. Ia merasa berdosa telah memarahi Lisa sehingga tampaknya Lisa sangat marah.


“Jangan lupa nanti Mas temui Lisa dan minta maaf.”


“Iya, nanti aku akan mencarinya. Habis rumahnya juga belum tahu.”


“Dia kan menjual balon di dekat pasar itu, nanti Mas bisa mencarinya di sekitar sana.”


“Baiklah, Sekarang aku telpon yu Sarni dulu, kita minta dia datang kemari sambil membawa baju-ganti untuk kamu ya.”


“Iya Mas, simbok pasti cemas karena belum melihat keadaanku.”


Tapi ketika Restu menelpon, yu Sarni ternyata sudah dalam perjalanan ke  rumah sakit.


“Ini tadi bu Broto menelpon, menyuruh yu Sarni ke rumah sakit sambil membawa baju ganti untuk Murni, dan juga untuk Gilang.”


“Syukurlah. Yu Sarni sempat membawakan susu untuk Gilang? Atau makanan, barangkali?”


“Susu Gilang masih ada yang di rumah bu Broto, sudah yu Sarni bawa, dan makanan kaleng saja yang ada. Belum sempat membuat bubur.”

__ADS_1


“Ya sudah tidak apa-apa Yu, segera datang. Ini Gilang sedang tidur.”


***


Yu Sarni segera memeluk Murni dan menangis. Tangisan lega karena Murni ternyata baik-baik saja.


“Lain kali harus hati-hati, ingat kamu sedang mengandung anak kamu.”


“Iya Mbok. Habisnya Murni jalan tergesa-gesa.”


“Yu, tidurkan Gilang di situ, kan ada tempat tidur untuk penunggu, jaga Murni dan Gilang, saya mau pergi dulu.”


“Iya Pak Restu.”


“Aku sampai belum bertanya pada mas Rio, bagaimana operasinya Wulan.”


“Tadi bu Broto sudah menelpon, katanya bayinya sudah lahir, dan keadaan mereka baik-baik saja.”


“Ah, syukurlah, aku ikut senang mendengarnya.”


“Cuma saja belum boleh dijenguk, menunggu selesai ditangani. Itu sebabnya pak Broto sama bu Broto belum bisa ke sini, katanya kalau sudah bertemu bu Wulan baru mau datang kemari.”


“Ya sudah, yang penting semuanya baik-baik saja. Sekarang aku pergi dulu ya Yu.”


“Ya Mas, hati-hati.”


***


“Apa dia langsung pulang dan tidak berjualan ya? Lalu kemana aku harus mencarinya?”


Restu mondar mandir di sekitar tempat itu, dan akhirnya karena tak tahan, maka dia nekat bertanya kepada seseorang. Ia penjual buah yang mangkal di tempat itu.


“Numpang tanya Bu, yang biasanya jualan balon di tempat ini kok nggak kelihatan ya?”


“O, yang istrinya cantik itu?”


“Iya Bu.”


“Nggak tahu kenapa, hari ini dia tidak jualan. Kalau suaminya memang sedang sakit.Tapi mungkin juga dia tidak jualan menggantikan suaminya, karena dia juga sedang hamil. Tapi entahlah,” kata si penjual buah panjang lebar.


“Tahukah Ibu, dimana rumahnya?”


“Kalau tahu persis sih tidak, tapi rumahnya masuk di gang sempit itu. Cona tanya ke sana, barangkali tetngganya pada tahu rumahnya.”


“Oh, gang yang di depan itu ya Bu?”


“Ya, benar. Kalau persisnya saya tidak tahu karena belum pernah ke sana.”


“Baiklah Bu, terima kasih banyak,” kata Restu yang kemudian bergegas memasuki gang yang ditunjukkan oleh penjual buah itu.

__ADS_1


Restu melangkah sambil menoleh ke kiri dan kekanan. Gang itu sepi, ada rumah-rumah petak yang pintunya sebagian besar tertutup. Barangkali di siang hari menjelang sore ini mereka masih pada bekerja. Restu terus mengamati kiri kanan jalan. Ia sudah berjalan ham[pir sampai di ujung yang ada di depannya, ketika melihat seorang anak kecil lewat.


“Dik .. dik, tolong tanya. Rumah penjual balon di mana ya?”


“O, yang istrinya cantik?”


Restu heran, kok yang terkenal adalah kecantikannya sih. Penjual buah juga berkata seperti apa yang dikatakan anak kecil itu.


“Iya dik, yang istrinya cantik.”


“Rumahnya di situ, yang tertutup itu. Mungkin ada di dalam, karena suaminya sakit.”


“Oh, yang diujung itu ya dik?”


Anak itu mengangguk. Restu memberinya uang sepuluh ribu, lalu anak itu mengucapkan terima kasih, kemudian berlari menjauh.


Restu mendekati rumah yang ditunjuk  oleh anak kecil itu. Memang sepi, mungkin mereka ada di dalam. Restu mengetuk pintunya.


Tok .. tok .. tok..


“Permisi ….”


“Assalamu’alaikum ….”


Tak ada jawaban. Restu mengintip ke dalam rumah melalui sela-sela pintu yang renggang. Tapi tak ada siapapun yang tampak di sana.


Restu memutari rumah melalui samping, barangkali penghuninya ada di belakang. Tapi ia juga melihat pintu bagian belakang rumah tampak terkunci.


Restu merasa putus asa, sambil berjanji dalam hati untuk kembali ke esokan harinya, ia membalikkan tubuhnya dan bermaksud pulang. Ia juga bermaksud menjenguk Wulan karena kebetulan tempat itu tak jauh dari rumah sakit tempat Wulan melahirkan.


Tapi sebelum sampai di pagar, seseorang menyapanya.


“Bapak mencari penjual balon itu?”


“Iya, tapi rumahnya sepi,” jawab Restu.


“Belum lama mereka pergi. Istri penjual balon itu sakit.”


“Yang sakit istrinya, atau penjual balon itu?”


“Penjual balon itu memang sakit sudah beberapa hari ini, tapi tadi ia mengantarkan istrinya ke rumah sakit, katanya kandungannya bermasalah."


***


Besok lagi ya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2