SELAMAT PAGI BIDADARI

SELAMAT PAGI BIDADARI
SELAMAT PAGI BIDADARI


__ADS_3

EPOSODE 87


Restu mengendarai mobilnya, menuju ke rumah sakit terdekat, barangkali ia bisa menemukan Lisa di sana. Ketika ia masuk, ia melihat Rio dan ayah serta ibunya. Apa benar Lisa dibawa ke rumah sakit ini?


“Restu? Kamu sudah datang, apa Murni sudah ada yang menunggu?” tanya bu Broto.


“Yu Sarni sudah datang, lalu saya meninggalkannya.”


“Ia membawa barang-barang yang diperlukan istri dan anak kamu?”


“Iya, sudah dibawa semuanya.”


“Kamu sedang mencari siapa, kok melongok-longok,” tanya pak Broto.


“Apa Lisa dibawa kemari ya?” gumamnya sambil matanya mencari-cari.


“Kamu menyebut nama siapa? Lisa? Bukan dia itu perempuan jahat yang nuyaris merusak rumah tangga kamu? Aku heran sama kamu Restu,  semua yang kamu alami tidak kamu jadikan sebagai pelajaran untuk hidup kamu. Sekarang kamu masih mencari-carinya,” omel bu Broto kesal.


“Sebentar Bu, ibu jangan marah dulu. Dia sedang hamil.”


“Hamil?” pekik pak Broto hampir bersamaan dengan istrinya, sedangkan Rio langsung menatap tajam Restu.


“Kamu malah membuatnya hamil?” geram bu Broto.


“Apa yang kamu lakukan Restu? Istri kamu sendiri sedang hamil dan nuyaris celaka, kamu malah menghamili perempuan jahat itu?” tanya pak Broto dengan marah.


“Sabar Pak, Bu, bukan Restu yang menghamili dia.”


“Lalu kenapa kamu masih mau mengurusnya?”


“Dia sudah punya suami, jadi ya hamil karena suaminya dong Bu, kok jadi Ibu sama Bapak marah sama Restu?”


“Lha dia mau hamil sama siapa, kenapa kamu peduli? Ingat Restu, dia akan menjadi racun dalam rumah tangga kamu selamanya, kalau kamu masih berhubungan sama dia,” omel pak Broto.


“Nggak kasihan sama istrinya,” sambung bu Broto.


Restu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung harus memulai dari mana supaya kedua orang tuanya tidak menuduhnya yang bukan-bukan.


“Kamu bingung menjawabnya bukan?” hardik pak Broto lagi.


“Sabar Pak, begini lho, Restu mau menemui Lisa, karena Restu mau minta maaf.”


“Lha kok minta maaf segala. Yang salah dia, kenapa kamu yang minta maaf?”


“Ceritanya tuh begini. Tadi, Lisa main ke rumah, untuk menemui Gilang.”


“Mengapa kamu ijinkan dia datang ke rumah kamu?”


“Baiklah, begini. Restu memang belum sempat menceritakan semuanya dari awal, karena semula menganggap itu tak perlu. Sebenarnya Restu dan Murni pernah bertemu Lisa, yang sekarang jadi penjual balon.”

__ADS_1


“Penjual balon?” pekik pak Broto dan istrinya, bahkan Roi juga ikut mendengarkannya walau tanpa komentar.


“Ia akhirnya menyadari kesalahannya, karena semua kegagalan dan mencapai keinginannya. Ia hidup terlunta-lunta, kemudian nyaris mati kelaparan atau apa, dan ditemukan oleh seorang penjual balon. Akhirnya Lisa menikah dengan penjual balon itu, dan akhirnya hamil.”


“Baiklah, lalu apa peduli kamu sampai mencarinya lagi? Kamu jangan cari gara-gara Restu.”


“Tidak Pak. Dengar dulu penjelasan Restu.”


Kemudian Restu menceritakan tentang kedatangan Lisa ke rumah, hanya untuk membawakan balon untuk Gilang, dan terjadilah peristiwa Murni terjatuh yang kemudian Lisa yang menolongnya membawa ke rumah sakit.


“Restu mencarinya untuk meminta maaf, karena saat melihat Lisa di rumah sakit dan sedang menunggui Murni, Restu menuduhnya berbuat jahat, dan berkata kasar sama dia. Tak tahunya dia lah yang menolong Murni.”


“Lalu kenapa kamu mencarinya di sini?”


“Restu mencari ke rumahnya, tetangganya mengatakan bahwa Lisa dibawa ke rumah sakit karena kandungannya bermasalah atau apa, semua belum jelas. Rumah Lisa dan suaminya tak jauh dari sini, makanya Restu mencarinya ke sini.”


“O, gitu ya? Kalau periksa kandungan ya pastinya di poli kandungan,” kata pak Broto.


Sementara itu perawat sudah mendorong Wulan ke kamar rawat, lalu Rio bersama pak Broto dan bu Broto mengikutinya.


“Restu mau mencari Lisa dulu, supaya tidak menjadi ganjalan. Murni juga menginginkan Restu segera menemuinya dan meminta maaf.”


“Baiklah, kamu ke ruang rawanya Wulan dulu, baru nanti menjenguk istri kamu,” kata bu Broto.


***


Ketika Restu sampai di poli kandungan, keadaan sekitar sudah sepi pasien. Hanya ada seorang laki-laki muda sedang duduk menunggu. Restu mendekat, dan duduk di sampingnya. Ia berharap ada perawat keluar dari ruangan, sehingga dia bisa menanyakan apakah ada pasien bernama Lisa.


“Istri saya, sedang diperiksa.”


“Mau melahirkan?”


“Baru menginjak lima bulan. Tadi entah tadi pergi kemana, pulangnya berjalan kaki, lalu sampai di rumah mengatakan kalau perutnya sangat sakit, lalu saya membawanya kemari.”


“Oh, mungkin kecapekan berjalan,” kata Restu sok tahu.


“Bapak mau apa? Disini kan poli kehamilan?”


“Saya mencari teman saya yang mungkin periksa kemari.”


Sementara itu dari ruang periksa, perawat keluar dan memanggil laki-laki yang duduk di samping Restu.


“Bapak, suami ibu Lisa? Dokter sudah siap untuk bertemu.”


Restu terkejut. Tidak mengira kalau yang duduk di sampingnya adalah suami Lisa. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi laki-laki itu sudah masuk ke dalam ruangan itu.


Akhirnya Restu memilih untuk menunggu.


Agak lama menunggu, dan diseling dengan telpon istrinya yang menanyakan apa sudah bertemu Lisa, akhirnya Lisa dan suaminya keluar dari ruangan itu. Sang suami menggandeng isterinya dengan sayang, sementara Lisa merebahkan kepalanya di pundak suaminya. Mereka berjalan sangat hati-hati.

__ADS_1


“Lisa !!” sapa Restu sambil mendekat.


“Lho, Bapak tadi mencari siapa?”


“Lisa ini, Mas.”


Lisa menatap Restu dengan tatapan tak suka.


“Mau apa lagi kamu?”


“Lisa, aku datang untuk meminta maaf.”


“Memangnya ada apa ini?” tanya suami Lisa.


“Tidak apa-apa, ayo kita pulang,” kata Lisa sambil melangkah meninggalkan Restu.


“Lisa, aku sungguh tidak tahu. Aku salah menilai kamu. Aku mencari kamu untuk meminta maaf,” kata Restu.


Tapi Lisa tak menggubrisnya. Ia terus melangkah pergi.


Restu yang merasa kesal kemudian membiarkannya. Kemudian menuju ke arah mobilnya. Ketika mobilnya melintas, dilihatnya Lisa dan suaminya masih berdiri di depan gerbang rumah sakit. Restu memberhentikan mobilnya.


“Mari saya antarkan,” kata Restu.


Tapi Lisa kemudian menarik suaminya agar menjauh. Restu tak mungkin terus memaksanya.


Sementara itu Lisa dan suaminya kemudian berhenti, setelah tak lagi melihat mobil Restu.


“Ada apa sebenarnya?” tanya sang suami.


“Aku marah sama dia. Aku berbuat baik dengan menolong istrinya, tapi dia menuduhku berbuat jahat. Jadi lebih baik aku mengacuhkannya. Kesal aku.”


“Tapi kan dia datang untuk meminta maaf?”


“Aku masih marah.”


“Jangan begitu. Kamu sedang hamil. Kalau kamu suka marah, nanti anakmu akan menjadi orang yang galak lho.”


“Benarkah?”


“Perilaku seorang ibu akan merasuk ke dalam jiwa bayi yang dikandungnya.”


Lisa diam, ia benar-benar tunduk kepada suaminya yang sangat menyayangi dan memperhatikannya dengan tulus. Ini berbeda dengan setiap lelaki yang dekat dengannya di masa lalu, yang menyayanginya hanya karena nafsu semata. Satu hal yang membuat Lisa merasa bhawa hidupnya telah berbeda.


“Dia marah sama kamu tadi, mungkin ada alasannya.”


Lisa terdiam.


***

__ADS_1


Besok lagi ya.


__ADS_2