Semua Untuk Cinta?

Semua Untuk Cinta?
Perkelahian Alfin dan Dimas


__ADS_3

Masalah Felly dan Fery sudah diatasi dengan baik, Rio dan Salsa juga kian hari kian terlihat semakin kompak dan mesra. Kini giliran Alfin yang harus berjuang untuk mendapatkan gadisnya.


"Apa rencana, Lo?" tanya Rio.


"Gue harus dapetin Cinta," ucap Alfin.


"Terus urusan kalian yang saudara tiri, gimana?" tanya Rio lagi


"Bokapnya Cinta, udah ngasih gue restu, dan siap pisah sama nyokap gue. Tapi gue sekarang ragu, Cinta punya perasaan yang sama apa enggak, sama gue!" ucap Alfin yang terdengar frustasi.


"Tenang aja, kata Salsa, Cinta juga suka kok sama lo."


Setidaknya ucapan Rio dapat sedikit menenangkan perasaan Alfin.


"Al ... Al, itu bukannya Cinta? Dia sama cowok?" tanya Rio sambil menunjuk pada dua orang berlainan jenis di seberang cafe, tempat mereka nongkrong saat ini.


"Itu, Dimas, mantannya Cinta. Sebentar lagi, dia akan jadi suaminya Karin, adik tiri gue yang lain," desah Alfin.


"Hah, kok gue makin enggak paham ya sama silsilah keluarga lo?" ledek Rio sambil tertawa.


"Jangankan lo, gue aja enggak paham," ucap Alfin.


Namun, Alfin juga merasa heran. Bagaimana bisa Cinta masih berhubungan dengan orang yang sudah jelas mengkhianatinya?


Alfin masih terus memantau tingkah kedua orang itu. Rasanya ingin sekali dia menghampiri mereka dan memberi pelajaran pada Dimas agar tak mengganggu Cinta lagi.

__ADS_1


Namun, Alfin mengurung keinginan itu karena melihat keduanya seperti sedang terlibat pertengkaran.


Entah apa yang mereka perdebatkan, tetapi itu menarik perhatian Alfin.


Sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman, tatkala dia melihat Cinta menampar pipi Dimas.


"Gue ke sana dulu," ucap Alfin, seraya beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Cinta.


Alfin datang di saat yang tepat, saat tangan Dimas hendak membalas tamparan Cinta.


"Jangan beraninya sama perempuan! Cowok lawannya cowok dong! Jangan seperti banci kaleng!" ucap Alfin sambil menahan lengan Dimas.


Terlihat kegeraman di wajah Dimas saat itu, sedangkan Cinta, sudah pasti dia sangat terkejut akan perlakuan kasar Dimas.


"Cinta, lo enggak apa-apa kan?" tanya Rio.


Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Yo, bawa Cinta pergi dari sini, biar gue urusin dulu banci kaleng ini," titah Alfin, yang langsung dituruti oleh Rio.


"Bedebah!" umpat Dimas sambil meronta, berusaha melepas kuncian tangan Alfin.


"Wow, bisa ngumpat juga, lo?" sahut Alfin seraya melepaskan Dimas dan mendorongnya hingga tersungkur.


"Ayo, sini bangun, dan lawan gue!" lanjut Alfin, melayangkan tantangan pada Dimas.

__ADS_1


Dimas mulai bangkit dan mengepalkan tangannya yang siap untuk melayangkan sebuah tinjuan pada wajah Alfin.


Cinta yang mulai cemas akan terjadi hal yang lebih buruk, hendak melerai keduanya, tetapi Rio menghalangi Cinta. Menurut Rio, Alfin akan mengatasi semuanya dengan baik.


Alfin yang memperhatikan setiap pergerakan Dimas, berhasil menangkis serangan rival sekaligus calon adik ipar tirinya itu.


"Cuma segini kemampuan lo?" ledek Alfin.


Namun, siapa sangka ternyata Dimas telah menyiapkan sebilah pisau dan berhasil menyayat bagian perut Alfin hingga darah mengucur dari sana.


Cinta langsung histeris melihat kejadian itu, sedangkan Dimas, langsung kabur tapi berhasil ditangkap oleh Rio dengan bantuan beberapa orang yang berada di TKP.


"Al, lo harus bertahan," ucap Cinta dengan histeris.


Rio langsung membawa Alfin ke rumah sakit setelah dia memastikan orang-orang tadi membawa Dimas ke kantor polisi.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Alfin terus memandang wajah Cinta yang bercucuran air mata tanpa melunturkan senyumnya.


Alfin begitu senang melihat gadis itu menangis karena kgawatir terhadapnya. Rasa sakit karena tusukan Dimas, tak begitu terasa. Hanya rasa dingin yang mulai menyelimuti tubuhnya.


Perlahan, Alfin mulai memejamkan matanya. Tentu hal itu membuat Cinta semakin khawatir.


"Yo, please lebih cepet, Alfin mulai merem, Yo."


Rio yang mendengar hal itu, tanpa pikir panjang langsung menambah laju kecepatan mobilnya. Dia juga cemas, takut sahabat karibnya itu sampai kenapa-kenapa.

__ADS_1


__ADS_2