
Setibanya di rumah sakit, Alfin langsung ditangani dokter.
“Cinta, lo yang sabar ya!” ucap Rio.
“Ini salah gue, harusnya gue enggak biarin Alfin bantuin gue! Harusnya gue yang ada di dalam sekarang, Yo!”
“Lo enggak boleh bilang gitu. Lo tenang aja, Alfin orangnya kuat, kok! Dia enggak mungkin kenapa-kenapa. Gue mau hubungi Papanya Alfin dulu,”
Sebelum Rio menelepon, Dokter terlebih dulu keluar dan memberi tahu jika keadaan Alfin kritis.
Hal itu membuat Cinta semakin sedih. Entah kenapa hatinya begitu hancur. Ia takut jika sampai terjadi sesuatu pada Alfin.
Semua tingkah konyol Alfin berputar begitu saja di kepala Cinta.
'Aku janji, Al, kalau kamu sembuh dan sadar, aku akan bersikap lebih baik lagi sama kamu, tapi please, sadar!' Batin Cinta.
Tak berapa lama, akhirnya Papa Alfin pun datang. Terlihat ketegangan di wajahnya tatkala Rio memberi tahu kondisi Alfin saat itu.
Tak dapat dipungkiri jika Pak Danu sangat mengkhawatirkan kondisi putra kesayangannya itu.
Senakal apa pun Alfin, ia tak pernah terlibat pertengkaran hingga membahayakan nyawanya seperti saat ini.
Raganya mulai lemas. Wajah yang selalu terlihat tegar walau masalah apa pun yang menerpa, kini mulai terlihat pucat.
“Om, maafkan Cinta. Ini semua Salah Cinta. Seandainya saja Alfin enggak bantuin Cinta, kondisi Alfin tidak akan seperti saat ini,” ucap Cinta yang sudah duduk bersimpuh di hadapan Pak Danu.
“Ini semua sudah takdir, Cinta. Kamu enggak perlu menyalahkan diri kamu sendiri. Apa yang Alfin lakukan itu sudah benar, yaitu melindungi kamu.”
“Bener kata Om Danu, Cin! Lu enggak perlu merasa bersalah, justru gue yakin, Alfin bisa gila kalau sampai lu yang ada di posisi dia sekarang,” ujar Rio.
Cinta tak bisa mendebat jawaban dua orang terdekat Alfin tersebut. Ia hanya bisa berdoa agar semuanya baik-baik saja.
Pak Danu mencoba menghubungi mantan istrinya–Kartika, untuk memberi tahu keadaan Alfin saat ini.
__ADS_1
Beliau tidak berharap mantan istrinya itu akan datang untuk menjenguk Alfin, tetapi jika hal buruk menimpa Alfin, setidaknya ia telah memberitahu Mamanya.
Setelah satu jam, Kartika pun datang ke rumah sakit. Akan tetapi, entah kenapa seperti sangat terpaksa sekali. Raut wajahnya pun tidak bersahabat.
“Gimana keadaan Alfin? Enggak becus sih, jaga anak, sampai anak jadi preman seperti itu,” ucap wanita paruh baya tersebut.
Cinta selalu memperhatikan setiap gerak gerik wanita tersebut. Jengah rasanya melihat kelakuannya.
Bagaimana bisa, ada seorang ibu yang meninggalkan suami dan anaknya demi kekayaan laki-laki lain, tetapi justru menyalahkan sang mantan suami, saat anaknya terkena musibah, batin Cinta.
“Maaf, Tante! Alfin berantem sama orang bukan karena dia seorang preman. Justru dia terluka karena berusaha menolong orang lain,” ucap Rio yang tak terima Alfin disebut sebagai preman.
“Betul kata Rio, justru calon menantumu yang tidak tahu malu itu yang telah menyebabkan anak kandungmu hampir meregang nyawa,” sahut Pak Danu.
Mendengar tentang calon menantunya disebut-sebut sebagai pelaku, membuat Kartika memutar bola matanya, seolah tak percaya akan apa yang didengarnya.
Tanpa sengaja, Kartika melihat keberadaan Cinta yang sedang duduk di sebuah kursi tunggu dekat ruang bedah IGD di rumah sakit tersebut.
Kartika langsung menghampiri Cinta dan menanyakan tentang keberadaannya di tempat itu.
Seketika itu juga wajah Kartika langsung memerah, tatapannya semakin tak bersahabat. Aura kemarahan yang ia munculkan, membuat Rio dan Cinta bergidik ngeri.
Namun, Cinta juga bingung, kenapa Pak Danu mengatakan hal tersebut? Tetapi Cinta masih berpikir positif, mungkin saja beliau ingin melindungi Cinta dari amukan Kartika.
“Apa kamu bilang? Dia calon istri Alfin? Enggak bisa, aku enggak setuju! Dia ini anak dari perempuan yang tidak tahu malu!” ucap Kartika dengan nada yang mulai tinggi.
“Siapa yang kamu bilang enggak tahu malu, Kartika? Bukannya kamu yang dengan tidak tahu malunya telah merebut Papanya Cinta?”
Kartika begitu terkejut mendengar sanggahan mantan suaminya itu.
'Jadi dia tahu dia anaknya Mas Ilham?' batin Kartika.
“Dan anakmu, dia yang sudah merebut pacarnya Cinta. Jadi, tidak salah jika aku menjodohkan Alfin dengan Cinta,” lanjut Pak Danu dengan nada tegas.
__ADS_1
“Jangan gila kamu, ya, Mas! Dia anaknya suamiku, dan Alfin adalah anakku, mereka saudara tiri!”
Pak Danu menyunggingkan senyum sinis ke arah mantan istrinya tersebut. Mungkin Kartika lupa jika mantan suaminya itu bisa melakukan apa pun demi kebahagiaan putra kesayangannya.
Plak...
Tiba-tiba saja datang seorang gadis yang langsung membuat terkejut banyak orang.
“Lu apain Dimas, hah? Gue udah peringatin lu untuk jangan pernah lagi ganggu Dimas! Tapi rupanya lu gak mau dengerin omongan gue!” ucap Karin dengan penuh amarah.
“Maaf, Mbak, di sini rumah sakit! Tolong jangan buat keributan!” tegur seorang Suster yang kebetulan berjaga di area tersebut.
“Lebih baik, kamu ajak anak kamu pulang, sebelum aku mempermalukan kamu di depan umum,” ucap Pak Danu dengan sedikit ancaman.
Namun, rupanya ancaman tersebut tak dihiraukan oleh Kartika. Dia justru membantu Karin memaki Cinta.
Cinta yang memang sejak awal merasa bersalah, hanya bisa diam, mendengar segala cacian dari mulut kedua orang di hadapannya.
Air mata Cinta semakin mengalir deras membasahi pipinya, perasaannya hancur, tubuhnya seolah tak kuasa lagi untuk berdiri.
Cinta sebenarnya bukanlah gadis yang lemah dan gampang menangis. Tetapi, dia juga bukan manusia yang angkuh dan tak tahu berterima kasih dan meminta maaf pada orang lain.
Kejadian yang menimpa Alfin saat ini, benar-benar membuatnya tersudut, hingga ia memutuskan untuk pergi ke kantor polisi untuk membebaskan Dimas.
Rio yang merasa khawatir dengan keadaan Cinta, langsung mengejar Cinta.
“Lu mau ke mana, Cin?” tanya Rio.
“Gue mau ke kantor polisi untuk bebasin Dimas.”
Mendengar hal itu, Rio begitu geram, ia tak percaya jika Cinta akan melakukan hal tersebut.
Rio berusaha mencegah Cinta, dan menjelaskan jika apa yang akan dilakukannya itu tidaklah benar.
__ADS_1
Rio juga mengingatkan Cinta agar ia tak terpengaruh oleh ucapan Mamanya Alfin dan juga adik tirinya.