Sesat : Teror!

Sesat : Teror!
Bertahanlah!


__ADS_3

Senja kembali merambat turun. Meninggalkan anak senja yang menggantung di ufuk barat. Sayup suara tonggeret dan jangkrik yang bersembunyi di balik rimbunnya vegetasi. Suara nyaring sudah saling berbalas meramaikan suasana sore. Samar suara tapak kaki yang saling bergantian terdengar saling memburu. Memecah keheningan sesaat di dalam kebun liar yang tumbuh tak terawat.


"Ayo cepat, keburu pak dito kembali." Ujar gita seraya memapah mbak rida yang cukup kesusahan berjalan.


"Huhhh.. huhhh.. masih jauh nggak ta?" Tanya mbak rida. Peluhnya terlihat berceceran membasahi seluruh tubuh. Kakinya terasa berat karena menggendong sang buah hati yang masih nyaman berada di dalam perut.


"Sebentar lagi mbak. Mbak sabar dulu ya." Jawab gita mencoba menenangkan. Kendati ia sendiri juga tak begitu tau arah yang saat ini mereka tuju. Keluar dari kebun ini dengan cepat dan selamat. Hanya itu yang mereka harapkan.


Harapan itu kian memeluk nasib mereka tatkala di depan mereka terhampar sebuah jalan. Jalan tanah yang sepertinya sering di lalui para pencari rumput atau orang yang pergi mencari kayu. Sebuah pertanda akan kehidupan sebuah perkampungan sudah di depan mata. Bantuan akan segera mereka dapatkan.


Aaaarggghhhh... Brukkkk..


"aku sudah nggak kuat ta!!" rintih mbak rida.

__ADS_1


Tiba-tiba mbak rida yang sedari tadi berjalan, terjatuh duduk dengan memegangi perutnya. Wajahnya meringis kesakitan. Nampak airmata menganak di sudut netranya. Gita yang melihat itu nampak terkejut. Sebuah cairan berwarna kuning pekat bercampur warna kemerahan mengalir deras dari balik daster kucek mbak rida.


"Mbak rida kenapa kak?" Tanya Dewi yang sedari tadi berjalan di depan mereka.


Tangan kurus wanita itu memegangi lengan gita dengan erat. Gita terbungkam tak bisa lagi berpikir. Ia ikut menangis sembari memeluk tubuh kurus kering mbak rida. Mbak rida tak pantang menyerah. Ia terus berusaha mengejan dengan sekuat tenaga. Ia tau, bayinya tak bisa menunggu lebih jauh lagi. Si kecil itu terus memaksa ibunya untuk bisa keluar melihat kejamnya dunia.


Dengan airmata yang terus mengalir tanpa ampun, gita mencoba sebisanya membantu persalinan mbak rida. Ia sendiri tak mempunyai skil apapun perihal persalinan. Mulutnya tak berhenti berdoa pada sang maha kuasa agar semua di beri kelancaran.


Dua puluh menit sudah berlalu begitu cepat. Sang gelap mulai menyelimuti alam. Hening suasana menjelang malam pecah seketika, tatkala sebuah suara tangisan bayi ramai menggema di tengah antah berantah. Gita bagaikan tak percaya dengan apapun yang terjadi hari ini. Akhirnya mereka bertiga bisa bernafas lega, mbak rida pun terus memeluk putri kecilnya yang akhirnya keluar tanpa ada kekurangan suatu apapun. Apakah ini akan menjadi akhir yang indah?


"Makasih ya ta. Aku nggak tau bagaimana nasibku jika sekarang masih ada di sana. Bagaimana nasibku jika nggak ada kamu. aku sangat berterimakasih." Sahut mbak rida.


"Mau di kasih nama siapa ya mbak kira-kira. Yang keren lho. Hehehe." Celetuk gita. Perempuan itu mencoba menghibur diri. Karena ia tau betul, nasibnya kini sedang dalam ketidakpastian.

__ADS_1


"Rindu, mbak mau kasih nama dia rindu." Jawab mbak rida sembari menatap kasih wajah mungil yang kini ada dalam gendongannya.


"Alhamdulillah ya mbak. Kita semua masih bisa selamat sampai disini. Meskipun tujuan kita masih belum pasti." Ujar gita nanar. Suaranya terdengar bergetar karena ia pun merasa antara bingung dan bingung.


"iya, Alhamdulillah ta. Mbak bersyukur. Hiksss... Hiksss.. tapi gimana ini ta? Mbak sudah nggak kuat lagi berjalan." Ujar mbak rida yang terkulai sembari terus memeluk bayinya. Darah pun terlihat masih sedikit mengalir dari balik daster tipis yang sudah terlihat kuyup.


"Semoga dewi cepat dapat bantuan ya mbak." Ujar gita yang menyuruh adik perempuannya pergi mengikuti alur jalan tanah tersebut dan mencari bantuan sesegera mungkin. Hanya itu yang bisa mereka harap.


Hanya di temani cahaya purnama yang belum sempurna membulat, mereka berdua berusaha saling menguatkan. Luka yang sedari tadi mengangga kini sepertinya sudah mulai pulih sedikit demi sedikit. Tak ada banyak hal yang bisa di lakukan saat ini. Mbak rida pun nampak sudah pasrah dengan hidupnya. Semua bagai mimpi buruk yang tiada ujung akhirnya.


"Gita, hikss.. hiksss... Hiksss... Kalau mbak rida, nggak bisa keluar dari sini, kamu jaga anakku ya ta. Antarkan dia dengan selamat ke bapaknya. Aku titipkan rindu untuk mas hadi." Ujar mbak rida dengan mata terpejam. Wajahnya terlihat pucat pasi di tengah kilauan cahaya rembulan.


"Mbak itu ngomong apa sih? Nggak mau! Pokoknya mbak rida harus nganterin rindu sendiri. Pak hadi, mbok yem pasti bahagia kalau ketemu mbak. Mbak itu harus kuat. Rindu masih butuh mbak. Rindu masih butuh sosok ibu kaya mbak rida. Mbak rida kumohon bertahanlah mbak. Hikkssss.. hiksss..." Rengek gita. Wajah mbak rida nampak kian memucat. Bibirnya pun terlihat mulai membiru.

__ADS_1


Hihihihihi... Ckkk ckkk ckkk... Hiiihihiihii


"Astaghfirullahaladzim!!" Ucap gita terperanjat.


__ADS_2