
Pekat malam kian menyelimuti sepi. Dingin kian merambat semerbak membalut tulang. Keramaian sang malam yang sesaat lalu terdengar menemani, kini tiba-tiba hilang meninggalkan keheningan yang mencekam. Bau menyengat muncul tercium kembali oleh kedua wanita itu.
"Mbak, apa itu.." Ujar gita dengan suara tercekat. Matanya sudah tak mampu lagi menangkap apapun yang berada di depannya. semua gelap gulita.
Rembulan yang tenang menyinari pun telah hilang bersembunyi di balik mendung. Gemuruh kecil terdengar bergejolak di balik cakrawala.
"Ayo gita, pelan-pelan kita harus pindah. Aku.. aku.. merasa.." Ucap mbak rida.
"Iya mbak aku juga. Tapi gimana sama kondisi mbak? Apa mbak bisa jalan?" Sahut gita sembari memapah tubuh yang sudah sempoyongan tersebut.
"Sebentar ta, kita duduk dulu ya. Sambil isi tenaga sebentar. Huhhhh." Jawab mbak rida.
Mbak rida pun terduduk sembari membetulkan posisi anak perempuannya yang baru saja lahir. Mengenaskan, bayi mungil nan cantik itu hanya menggunakan jaket gita sebagai selimut. Jaket yang mereka berdua harapkan bisa melindungi malaikat kecil itu dari dingin yang terus membuat ngilu sendi dan tulang. Sementara itu telinga gita kembali mendengar samar dari balik pohon asam yang mereka jadikan naungan, suara aneh itu kembali terdengar lagi.
Ciitttkkk... Ciitttkkkk.. ciittttkkk...
Kali ini suara yang mirip dengan suara anak ayam yang baru saja menetas. Tapi gita sendiri yakin itu adalah sebuah kemustahilan. Apalagi ia tau mitos yang banyak beredar selama ini, jika mendengar suara anak ayam di pada malam hari, padahal di sekitar tidak ada tanda-tanda ada ayam atau anak ayam. nah, itu pertanda ada makhluk halus yang tengah berada dekat dengan kita.
Dengan wajah yang penuh dengan keringat dingin. Gita mencoba mengintip dari celah ranting yang cukup besar. Tak terlalu terlihat jelas. Sebuah karung yang cukup panjang tergantung di atas, tepatnya berada di antara apitan pohon-pohon besar yang ada di sana. Aneh, saat gita terus memperhatikan tiba-tiba karung putih itu terus memanjang. Padahal jarak karung dari tanah di bawahnya mengkin sekitar 2 meteran.
Karung itu terus memanjang seakan lentur terasa. Bau wangi singkong bakar bercampur bau busuk seperti berputar-putar di hidung gita. Matanya seakan terpaku pada benda putih yang kali ini berputar mengahadapnya.
__ADS_1
"Po... Pocong!!!" Teriak gita kencang, sekencang-kencangnya.
Saat buntelan itu berbalik, gita terkejut bukan kepalang. Wajah dengan lidah panjang itu menatap gita dengan mendelik. Lidahnya teramat panjang hingga ke tanah. Gita yang berlari sembari menggandeng mbak rida pun kini tersadar setelah hampir 50 meter menyeret tangan wanita yang masih menggendong bayi itu. Wanita yang baru saja melahirkan itu tidak mana bisa berlari! Bodohnya aku! Pikir gita.
"Mbak maaf mbak.. gita nggak sengaja narik mbak rida. Gita refleks mbak. tadi ada.. ada.." Ujar gita dengan terengah-engah.
Sementara itu mbak rida kembali menimang-nimang bayinya tanpa memperdulikan gita. Malah ia memunggungi gita yang sesekali terlihat masih awas menatap ke belakang.
"Mbak.. ayo.. kayaknya kita harus segera keluar dari sini! Mbak nggak apa-apa kan kakinya?" Ucap gita menepuk lembut pundak wanita yang di hadapannya tersebut.
Ckllkakkk... Bruuukkkk..
Tiba-tiba kepala di hadapannya terjatuh sendiri. Meninggalkan tubuh yang masih bergoyang-goyang seakan sedang menimang bayi. Suara tangisan pun samar terdengar dari bayi yang ternyata berbentuk bajang itu. Melihat kondisi seperti itu. Ia yakin jika itu bukan mbak rida yang asli.
Syyyuuuutttrtt...
"Sssstttt.. kamu itu kenapa sih ta? Tiba-tiba lari ninggalin mbak? Mbak kaget 'kan jadinya. Mana ngejar kamu kenceng banget larinya. Huuhhh.. huhhh.." Ucap mbak rida.
Tangannya dengan spontan menarik gita yang sesaat lalu hampir roboh. Kendati gita masih ragu dan takut dengan mbak rida di hadapannya, apakah di depannya ini mbak rida yang asli atau palsu alias hantu seperti tadi. Hiii. Tapi, melihat sorot kasih sayang di netranya, gita yakin sekali jika ini memang mbak rida yang asli.
Setelah beberapa saat beristirahat, gita sedikit bercerita tentang apa yang tadi ia alami. Ketakutan menjalar dengan begitu cepat. Hingga tak lama, akhirnya mereka pun sejenak terlelap dalam kegelapan. Saling memeluk dalam jurang harapan yang hampir pupus.
__ADS_1
Setelah hampir satu jam beristirahat, tenaga gita pun sudah mulai sedikit pulih. Bayi mungil itu pun terlihat membuka matanya lebar seiring dengan tangisnya. Namun aneh, mbak rida seperti tak merespon gelagat anaknya yang sudah terbangun. Dengan perlahan gita mencoba menggoyangkan bahu mbak rida. Berharap akan membuat wanita itu segera terjaga kembali. Suara tangisan itu tentu akan memancing hal-hal yang tak mereka ingin temui bukan?
"Mbak rida, bangun." Ucap gita lembut.
"Mbak.." Ucap gita kembali. Namun, tetap tak ada jawaban dari mbak rida. Gita pun mencoba mengecek dahi mbak rida.
"Astaghfirullah. Mbak... Mbak.. bangun dulu mbak.. ya Allah." Teriak gita panik.
Badan mbak rida sudah terasa dingin. Nafasnya terdengar rendah tak beraturan. Gita mencoba mengecek bola mata mbak rida. Sial! matanya sudah mulai tak merespon cahaya.
Seketika gita lemas tak berdaya, ia menangis untuk yang kesekian kalinya. Ia bawa bayi kecil itu, kemudian ia tenangkan rindu dengan suara tangis yang tertahan. Menahan pilu yang semakin menggores luka yang terbuka. Sejenak ia berangan jika semua ini adalah sebuah mimpi buruk dan sebentar lagi, ia akan segera terbangun dari tidurnya.
...****************...
"Sial! Jika bertemu anak itu, akan ku habisi dia dengan tanganku sendiri!" Gerutu bi minah.
Sementara itu, dito dan bu sandra yang baru saja tiba disana hanya menatap hampa ke dalam ruangan yang sudah kosong melompong. Hanya meninggalkan sosok gadis kecil yang sudah hampir setengah mengering. Sandra mendekati sosok gadis itu dan setengah berlutut di sampingnya. Sandra menatap nanar wajah mungil yang sudah tinggal tulang berbalut kulit itu.
"Dito! Tidak ada waktu lagi! Semua sudah terlambat! Kau bodoh! Kau memang laki-laki tidak berguna bodoh!" Umpat sandra dengan wajah memerah.
Dito hanya bergeming saja. Seutas senyum melekat menghiasi bibirnya. Perlahan ia melihat jam tangan yang melekat di pergelangan tangannya. Ia mendekati perlahan sosok yang sudah ia pinang sebagai istri berpuluh tahun yang lalu. Tersirat kenangan manis saat resepsi yang layaknya hanya impian baginya. Dito seorang pria dari kalangan biasa dapat memperistri seorang keturunan ningrat. Semua luka yang sudah ia bungkus rapi di dalam hati tiba-tiba terbuka bagai tergores belati..
__ADS_1
Bruuuggggkkkkhh..
Satu ayunan linggis berukuran kecil sudah cukup untuk membuat tubuh wanita cantik itu tersungkur. Cairan merah kental mengalir menggenangi kaki dito.