
Beberapa hari yang lalu...
Aku terbangun dalam keadaan yang tidak mengenakkan, aku merasa kepala dan tubuhku sakit berdenyut denyut, hal yang pertama yang ingin aku lihat adalah wajah pahlawanku Raven, tapi aku malah melihat wajah Benhard yang terlihat panik sekali, dia berjalan berputar putar di dekatku, sesekali dia menggigit kedua jarinya untuk menenangkan diri.
“Benhard ada apa?” tanyaku khawatir
“Lyra!” ucap Benhard yang terkejut melihat aku yang tiba – tiba siuman, sepertinya dirinya benar benar panik hingga tidak menyadari keadaan sekitar.
“Lyra aku harap kamu bisa tenang setelah mendengar apa yang akan aku katakan” ucap Benhard melihatku dengan serius
“Ya, ada apa?” tanyaku lagi, aku berhenti bernafas saking menegangkan hal yang dikatakan oleh Bernhard, aku bahkan termenung untuk beberapa saat mendengarkan hal itu keluar dari mulut Benhard
“Tidak mungkin!” ucap Lyra dengan ekspresi sedih
Aku sudah memikirkannya selagi Lyra tidur, daripada harus jujur lebih baik aku berbohong padanya. Ini demi kebaikannya, aku mungkin agak berlebihan tapi ini lebih baik daripada Lyra harus menderita karena aku yang tidak bisa melindunginya.
“Lyra, aku akan mengantarkanmu pulang, ayo kita bergegas!” ucap Benhard buru – buru, lebih baik aku mengantarkan Lyra ke tempat yang aman lalu kemudian aku akan mencari tuan Raven.
“Tidak! Aku tidak mau pulang! Raven tidak mungkin mati, tidak mungkin!” ucap Lyra dengan wajah penuh air mata
“Lyra tenanglah, ayo kita kembali sebelum gelap” ucap Benhard dengan nada memaksa
Pada akhirnya Lyra menangisi Raven hingga langit gelap, membuat Benhard terpaksa untuk menginap malam ini di gua itu. Karena merasa bersalah dengan apa yang dia katakan, Benhard bertekad untuk memberitahu Lyra mengenai hal yang sebenarnya, tapi karena hari sudah larut, Benhard memutuskan untuk memberitahu Lyra besok pagi.
Benhard tidur di dekat mulut gua, sementara Lyra tidur di dalam gua. Sinar matahari mulai tampak menandakan pagi telah tiba, Lyra terbangun dari tidurnya begitu juga dengan Benhard yang hanya tidur dengan sebelah matanya yang masih terbuka.
“Woah!” Benhard menguap, tangannya ke atas, dia masih ngantuk berat tapi dia harus segera bergerak karena sinar matahari pagi telah menyinari pohon tempat ia tidur, Benhard segera pergi untuk menemui Lyra.
“Lyra apa kamu sudah bangun, Lyra?” ucap Benhard sambil berjalan ke dalam gua
Bernhard melihat Lyra dengan wajah datar, di wajahnya terlihat jelas bekas aliran air matanya. Melihat keadaan yang begitu parah pada Lyra membuat Benhard merasa bersalah karena telah berbohong padanya.
“Lyra, sebenarnya...” ucap Benhard, aku berhenti sejenak mengambil jeda manatap Lyra dengan rasa penyesalan, dia menoleh ke arahku menunggu aku berbicara.
“Sebenarnya Raven masih hidup, maafkan aku telah berbohong padamu!” ucap Benhard berlutut di depan Lyra.
Ternyata aku kena prank, ya aku kena prank oleh teman sendiri. Raven masih hidup, pahlawanku masih hidup, hatiku yang tadinya rasanya hampa tiba – tiba berbunga – bunga kembali karena mendengarkan kata – kata itu, tapi ini adalah kedua kalinya aku dibohongi oleh temanku sendiri, aku harus tetap tenang agar tidak terlihat bahwa aku lega.
Aku tidak boleh tersenyum, “Benhard apa kamu berbohong padaku!” ucap Lyra dengan tatapan seram pada Benhard
Aku baru melihat ekspresi perempuan yang bisa seseram ini selama hidupku, bahkan ekspresi ibuku marah tidak semengerikan ini. Aku melihat senyuman kecil dengan mata melotot sedang melihatku dengan sangat dalam, aku benar benar belajar dari kesalahan ini, aku tidak akan berbohong lagi kepada perempuan seumur hidupku.
JDUK
Lyra memukul kepala Benhard dengan sekuat tenaga nya, Lyra berbalik kemudian berbicara dengan nada serius pada Benhard “Kenapa kamu berbohong padaku?” tenya Lyra
“Itu karena aku ingin kamu kembali ke zona aman! Tuan Raven menitipkan pesan kepadaku untuk melindungi dirimu, tapi tuan Raven hilang entah kemana, aku ingin mencarinya tapi janjiku kepadanya harus tetap ditepati!” ucap Benhard
“Aku paham, maksudmu aku hanya akan membebani bukan?” ucap Lyra dengan nada pelan
Aku sudah melukai hati nona Lyra, jika aku mengatakan bahwa dirinya hanya akan menjadi beban tim maka tamat sudah riwayatku sebagai seorang pria. Aku harus mencari alasan, nona Lyra adalah orang yang sangat mengagumi tuan Raven, mungkin itu bisa menjadi alasannya...
“Tuan Raven ingin aku melindungimu bukan? Aku yakin dia sangat khawatir padamu jadi itulah sebabnya aku tidak ingin mengecewakan tuan Raven, aku yakin tuan Raven sangat khawatir padamu” ucap Benhard, bagaimana ini? Alasanku terdengar sangat memaksa, aku harap bisa diterima olehnya.
“Tuan Raven mengkhawatirkan diriku?” ucap Lyra, tiba tiba saja suasana hati Lyra menjadi membaik setelah membayangkan bahwa tuan Raven mempedulikan dirinya.
“Tapi aku tidak akan kembali, aku akan ikut mencari Raven! Dia adalah pahlawanku!” ucap Lyra dengan penuh semangat
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Niat awalku untuk fokus untuk mencari tuan Raven sekarang harus menambah beban berat, tapi aku yakin tuan Raven baik baik saja, daripada memikirkan keadaan tuan Raven memang lebih baik aku melindungi Lyra, tuan Raven aku akan berusaha untuk menepati janjiku padamu!
Pada akhirnya Lyra dan Benhard pergi bersama – sama untuk mencari Raven, dalam hati kecil Lyra dia tahu bahwa keberadaanya pasti membebani Benhard tapi entah kenapa sebagian besar hatinya malah tetap ingin ikut mencari Raven.
...
__ADS_1
Benhard dan Lyra beberapa kali bertemu gate monster seperti Flame Wolf ataupun Aerogorilla dalam jumlah sedikit, perlahan – lahan mereka menjelajahi hutan kemudian beristirahat ketika matahari sudah tenggelam, hingga beberapa hari telah berlalu.
Pada malam yang begitu tenang, tidak terdengar suara angin yang meniup dedaunan pohon ataupun suara jangkrik, malam yang begitu tenang. Membuat Benhard waspada dan tetap terjaga malam itu sementara Lyra tidur duluan karena kelelahan menjelajahi hutan pada siang hari.
“Benar benar tidak biasa, aku merasa firasat buruk” ucap Benhard melihat sekeliling, dia mematikan api unggun kemudian bersiap memegang kedua pedangnya.
“Lyra!” teriak Benhard
Lyra yang tadinya tidur terkejut karena namanya dipanggil dengan sangat keras oleh Benhard, Lyra bergegas terbangun dan bersiap memegang tongkat sihirnya.
“Aku merasakan bahwa kita sedang diawasi” ucap Benhard
“Jangan – jangan...” ucap Lyra
Sebuah tombak melayang ke arah Lyra, dengan cepat Benhard menangkisnya dengan kedua pedangnya. Namun serangan itu tidak berhenti begitu saja, karena sebuah anak panah melesat ke arah bahu Benhard, karena terfokus melindungi Lyra membuat Benhard lengah.
“Benhard!” teriak Lyra
“Aku tidak apa – apa! Lari nona Lyra!” ucap Benhard sambil mencabut panah yang menusuk bahunya
Rasanya benar benar sakit sekali, tapi aku harus kuat menahannya...
Sebagai seorang ksatria aku harus bertahan dan tidak menunjukan ekspresi dan perasaanku saat diserang oleh musuh agar mereka mengira serangan itu tidak mempan. Tapi sebenarnya bukan itu alasannya, jika aku menunjukan bahwa aku kesulitan menahan serangan musuh maka aku yakin nona Lyra akan putus asa, sebagai seorang ksatria aku tidak akan membuat orang yang aku lindungi kehilangan harapannya!
Monster yang menyerang kami adalah Blue Night Goblin yang biasa muncul pada malam hari, tampaknya mereka tidak menyerang secara tiba – tiba, mereka sudah mengepung kami berdua. Mungkin saja mereka sudah mempersiapkan hal ini beberapa hari yang lalu, Blud Goblin sangat berbeda dari Goblin pada biasanya, mereka lebih pintar dan memiliki strategi yang lebih mematikan dibanding saudara mereka.
“Benhard!” teriak Lyra yang melihat Benhard terus menghalangi serangan panah dan tombak yang dilemparkan oleh Blue Goblin, selagi berlari Benhard melihat ke depan kemudian mewaspadai serangan dari belakang.
“Di sana ada sebuah gua! Ayo pergi ke sana” ucap Benhard sambil mencabuti panah pada bahu kirinya
Lyra bergegas berlari bersama dengan Benhard, sementara itu Blue Goblin perlahan berhenti menyerang karena melihat target mereka telah masuk wilayah monster lain. Blue Goblin tidak menyerang, mereka menunggu di depan gua, menunggu mangsa mereka untuk keluar dari sana.
“Tampaknya mereka tidak akan mengejar kita” ucap Benhard dengan nafas ngos – ngosan
“Apa kamu tidak apa – apa Benhard? Aku akan menyembuhkanmu” ucap Lyra yang mendekati Benhard
“Terima kasih, itu sangat membantuku” ucap Benhard lega, dia sangat tertolong dengan sihir penyembuhan itu.
Benhard dan Lyra terus mewaspadai Blue Goblin yang bisa saja menyerang kapan saja, tapi setelah matahari terbit, akhirnya Benhard dan Lyra bisa menarik nafas lega karena Blue Night Goblin akan berhenti menyerang ketika matahari terbit.
“Kita sudah aman sekarang” ucap Benhard dengan senyum lega, tanpa sadar Benhard memejamkan matanya tanda dia sudah sangat kelelahan.
Pada akhirnya Benhard dan Lyra beristirahat hingga siang hari pada gua itu, tapi mereka tidak tahu bahwa mereka telah memasuki wilayah monster yang lebih berbahaya. Gate monster ini sangat jarang ditemui pada zona keempat tapi beberapa hari yang lalu mereka telah menetap di gua itu.
“Benhard!!” teriak Lyra
“Ada apa!” balas Benhard yang langsung bangun dari tidurnya
“Sepertinya penghuni gua ini telah kembali” ucap Lyra cemas
“Apa!?” ucap Benhard terkejut, dengan mata kepala aku sendiri aku melihat beberapa Burst Flame Wolf bersama dengan Flame Wolf, hal ini sangat jarang terjadi. Tapi ada yang aneh dengan penampilan mereka, aku melihat kulit mereka yang berwarna hitam pekat yang menandakan semakin kuat Flame Wolf dan warna mata mereka sedikit aneh, warna biru terang! Apa mungkin mereka adalah monster yang telah dijinakkan seseorang?
Benhard bertahan dari serangan Flame Wolf dan Burst Flame Wolf, sementara itu Lyra hanya bisa berdiam di belakang dan memberikan support berupa mana ataupun efek penguatan sihir.
“Penguatan fisik tahap tiga, Powerful!” ucap Benhard, sebuah aura ungu di sekitar tubuh Benhard yang menandakan sihir penguatan fisik telah berhasil diaktifkan.
“Fire resistance” ucap Lyra mengarahkan tongkat sihirnya pada Benhard
Mereka berdua bertahan dari serangan Burst Flame Wolf hingga pada titik terpojok karena telah dikepung olehnya.
“Tenang saja nona Lyra, aku akan melindungimu dengan nyawaku sendiri” ucap Benhard
Tiba – tiba seekor anjing hitam membantu Lyra dan Benhard melawan Burst Flame Wolf, walau terdengar samar – samar suara Raven terdengar oleh Lyra dan Benhard membuatnya dapat bertahan sedikit lagi karena tahu Raven akan menyelamatkan mereka berdua.
__ADS_1
“Pahlawanku!! Tolong!” ucap Lyra sekencang – kencangnya
Aku harus bertahan hingga tuan Raven datang ke sini! Aku harus kuat bertahan! Sejauh ini nona Lyra baik – baik saja, tiba – tiba aku melihat seekor Burst Flame Wolf menyerang dari belakang dengan bola api biru, tubuhku bergerak sendirinya tanpa berpikir mendorong nona Lyra. Serangan itu tidak mengenainya, setidaknya aku masih bisa melindungi nona Lyra, melindungi janjiku dengan tuan Raven.
“Benhard bertahanlah!” ucap Raven yang telah sampai di belakang Benhard kemudian menangkis serangan bola api tersebut.
“Beraninya kalian!” ucap Raven yang mengeluarkan mana berwarna biru terang membuat Burst Flame Wolf menghentikan serangannya sejenak bersiap untuk lari.
“Jangan pikir kalian bisa lari!” kata Raven yang bersiap menyerang habis – habisan, di tangan kirinya sudah ada bola api berwarna biru terang, sementara itu anjing hitamnya berubah menjadi lebih besar menyerupai bentuk Burst Flame Wolf, dan terdapat bayangan hitam di depan Raven yang berubah menjadi seekor naga tanpa sayap dengan panjang 1 meter lebih.
“Mati!” kata Raven, bayangan hitam Raven menyerang bersamaan namun di saat yang bersamaan Raven menghentikan serangannya karena melihat Burst Flame Wolf yang bertekuk lutut dan tidak berniat lagi untuk menyerang, seakan mereka sudah menyerah.
“Tolong ampuni kamu, tolong!” kata salah satu Burst Flame Wolf, karena Raven memiliki kemampuan Reality Hack dia bisa secara tidak langsung memahami apa yang dipikiran Burst Flame Wolf itu.
“Hahaha, aku mengampuni kalian? Kenapa?” kata Raven dengan sombong
“Apa kamu bisa mengerti kami?” tanya Burst Flame Wolf lagi
“Sebenarnya kami sedang berada di pengaruh mana biru yang sedang menyebar di seluruh zona ini, mana itu membuat kami tidak berpikir jernih, kami bermaksud untuk mengecek tempat istirahat kami untuk terakhir kalinya, kami tidak akan menyerang kalian” kata Burst Flame Wolf itu pada Raven
“Mengecek?” tanya Raven
“Ada beberapa anak flame wolf sedang kami tinggal di gua itu karena kami ingin mencari markas baru, jika kami bisa mendapatkan anak – anak kami, kami tidak akan menyerang kalian, tolong ampuni kami” jawab Burst Flame Wolf
Beberapa ekor anak Flame Wolf keluar dari gua dengan ketakutan, mereka sepertinya juga ingin meminta ampunan kepada Raven untuk orang tua mereka.
Setelah aku pikir baik-baik, Flame Wolf bukanlah monster yang agresif yang menyerang manusia. Mereka adalah monster defensif yang melindungi markas mereka, lagi pula mereka terkena efek dari mana sihirku, aku merasa bersalah terhadap tindakan mereka.
“Pergilah, tapi ingatlah jika kamu bertemu dengan aku dan teman – temanku jangan pernah sentuh mereka atau kalian akan aku buru hingga keturunan terakhir” ucap Raven dengan mata yang menyeramkan
Para Flame Wolf serta beberapa Burst Flame Wolf pergi sambil memberikan hormat kepada Raven, mereka pergi untuk mencari wilayah baru yang lebih aman. Sebelum pergi seekor Burst Flame Wolf melihat Raven dengan penuh hormat, dia berkata dalam hatinya “klan Flame Wolf berhutang budi padamu tuan”
Setelah kepergian para monster itu, tiba – tiba saja Benhard terduduk dan menghirup nafas lega. Sementara itu Lyra menangis dan berlari memeluk aku. Dia tidak berkata apa – apa tapi aku tahu dia sangat berterima kasih padaku, aku tahu itu karena dia memelukku tanpa mempedulikan dadanya yang sangat menempel pada dadaku yang membuat sensasi panas.
Setelah situasi tenang, kami bertiga akhirnya memutuskan untuk berbicara serius mengenai penjelajahan ini. Aku memulai pembicaraan mengenai bos monster zona keempat yang telah aku kalahkan, dan perubahan mana sihirku yang berubah menjadi biru, aku juga menyuruh mereka untuk menyembunyikan kekuatan dan prestasiku mengalahkan bos monster itu.
“Aku harap kalian memahaminya, aku tidak ingin diberikan prestasi secara khusu oleh kerajaan, hal itu bisa saja membuatku menjadi seorang pahlawan resmi yang terikat akan aturan kerajaan” ucap Raven melihat Benhard dan Lyra dengan serius
“Baiklah aku tidak masalah dengan hal itu jika memang tuan Raven memang menginginkan itu” ucap Benhard
“Aku akan mengikuti keputusan pahlawanku! Aku akan terus berada disisimu apapun keputusanmu!” ucap Lyra
Suasana menjadi santai ketika aku melihat senyuman mereka berdua yang sepertinya dapat menerima keadaanku apa adanya. Selagi ngobrol, beberapa sinar kecil masuk ke dalam gua, sinar sinar itu tiba tiba pecah ketika sudah berada di dekat kami. Spontan aku langsung membuat bayangan hitam untuk melindungi Lyra dan Benhard.
Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi yang jelas aku melihat tuan Raven berbicara dengan sinar sinar itu, setelah sinar itu pecah keluar beberapa peri di dalamnya yang berbicara dalam bahasa yang tidak aku pahami, aku melihat nona Lyra yang juga sepertinya tidak paham, berbeda dengan tuan Raven yang tampaknya mengerti dengan apa yang dikatakan peri kecil itu.
Tapi aku tidak yakin bahwa yang dikatakan peri itu adalah hal yang baik karena ekspresi tuan Raven yang tiba – tiba saja berubah menjadi suram.
“Benhard, Lyra aku akan pergi ke zona yang lebih tinggi dari zona ini, aku harap kalian tidak ikut” ucap Raven dengan nada datar.
“Ada apa tuan Raven? Kenapa tiba – tiba berubah?” ucap Benhard
“Tidak mau, aku ingin bersama pahlawan!” kata Lyra menatap Raven serius
“Hahahaha, kalian mau ikut?” ucap Raven dengan nada sombong
“Kalian adalah beban tim, pergilah ke tempat yang aman atau aku akan mengirimkan kalian dengan paksa” ucap Raven melihat Benhard dan Lyra dengan mata bersinar biru terang
Aku tahu bahwa aku dan nona Lyra adalah beban bagi perjalanan tuan Raven, aku perlu menjadi lebih kuat agar bisa berdiri di samping tuan Raven, tapi apakah nona Lyra paham akan maksud tuan Raven, memang terlihat kasar tapi niat asli tuan Raven adalah untuk menjaga kami dari bahaya yang lebih besar lagi, aku harap nona Lyra tidak salah paham.
“Baiklah, aku akan pulang” ucap Lyra dengan tangisan, air matanya bercucuran, tapi dia masih berusaha untuk tersenyum di depan orang yang dicintainya.
“Tapi berjanjilah satu hal padaku hiks hiks” ucap Lyra sambil menangis tersedu – sedu
__ADS_1
Raven melihat Lyra dan menatapnya dalam dalam, “Berjanjilah untuk berkencan denganku saat kamu telah kembali” ucap Lyra dengan senyuman
Aku tersenyum kecil mendengarkan hal itu, ternyata aku sangat berharga dimata Lyra, aku tidak akan mengecewakannya. Aku pergi bersama dengan peri peri kecil itu, mereka menuntun jalanku untuk menaklukkan gerbang utama yang dijaga oleh monster yang sangat mengerikan.