
...(◍•ᴗ•◍)❤...
...Enjoy to read it gues...👩💻...
Jakarta, 3 Bulan Kemudian
Setelah menghabiskan waktu selama tiga bulan di Amerika, Alvi akhirnya kembali ke Indonesia. Dia kembali tidak sendiri, melaikan bersama dengan Niken. Tidak hanya itu, William bersama keluarga kecilnya juga akan ikut ke Indonesia untuk membantu Alvi dan Niken menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang diakibatkan oleh keluarga Rusdiantoro dan Turano. Tapi, Will baru bisa berangkat ke Indonesia tiga hari setelah kepergian Alvi dan Niken karena masih harus menyelesaikan beberapa urusan di rumah sakitnya.
Kedatangan Alvi dan Niken di sambut hangat oleh keluarga Keysnandra. Tampak Oma Mia, Papa Dana dan Mama Ratih yang menyambut kedatangan mereka dengan senyum bahagia. Mama Ratih bahkan tak henti-hentinya memberikan pelukan pada putrinya itu. Ia lega, melihat keadaan Niken yang sudah terlihat baik-baik saja. Mereka pun lekas disambut dengan banyak hidangan lezat di meja makan setelah terlebih dahulu Alvi dan Niken diberikan kesempatan untuk meletakkan barang bawaan mereka di kamar mereka masing-masing.
"Jadi, gimana dengan hubungan kalian....?" tanya Dana kepada kedua putra dan putrinya memulai percakapan.
"Baik Pa....," jawab Alvi yang diperkuat pula dengan anggukan kepalanya oleh Niken sebagai persetujuan jawaban Alvi.
"Jadi masalah perceraian itu....," Oma Mia mulai membahas akar permasalahan yang semula menjadi alasan kenapa Alvi pada akhirnya memutuskan untuk terbang ke Amerika menjemput Niken.
"Tidak akan pernah ada perceraian Oma. Aku dan Niken akan hidup bersama selamanya...," ucap Alvi sembari menggenggam tangan Niken dengan lembut. Ia tersenyum lembut kepada sang istri.
"Hmm....Alvi tidak masalah? Keadaan Niken mungkin...," Mama Ratih mulai sedikit mengungkapkan kecemasannya. Walau bagaimanapun ia sangat menyayangi Alvi layaknya anak kandungnya sendiri. Meskipun ia ingin lelaki itu tetap bersama dengan putrinya, tapi ia juga tidak boleh bersikap egois. Karenanya, ia perlu menanyakan hal itu kepada menantunya.
"Takdir tidak ada yang tahu Ma. Memiliki Niken sebagai istri saja Alvi sangat bersyukur. Ia memberi Alvi segalanya, bahkan sebuah keluarga yang hangat seperti Papa, Mama dan Oma. Masalah anak, itu hanyalah bonus dari Tuhan untuk kami. Kalau kami di beri kepercayaan itu kami akan terima, tapi jika sebaliknya kami juga akan ikhlas menerimanya terlepas dari adanya penyakit itu atau tidak dalam diri Niken. Karenanya, kami memutuskan untuk menjalaninya saja," jelas Alvi yang di respon dengan anggukan kepala oleh Mama, Papa dan Oma-nya.
"Oma, Papa dan Mama tidak keberatan bukan dengan keputusan kami berdua?" tanya Niken kemudian. Ia meremas tangannya menyembunyikan kecemasannya.
"Kami tidak masalah Nak, apapun keputusan kalian berdua kami akan hargai dan mendukung kalian...," Ucap Ratih sembari menggenggam tanggan putrinya dengan lembut.
"Iya, mama-mu benar. Lagipula Oma juga belum siap di panggil Oma Buyut...," ujar sang Oma.
__ADS_1
"Ingat umur omah, kalau nggak di panggil omah buyut mau di panggil apa?" Ledek Alvi.
"Oma masih muda ya Vi, gak beda jauh tuh sama mamamu...," Ucap sang omah yang tentu saja dibalas tawa oleh semua anggota keluarga di rumah itu.
...*****...
"Kamu yakin, akan menemui Irene?" Tanya Niken ketika melihat Alvi bersiap hendak pergi. Alvi menganggukkan kepala sebagai pengganti jawaban ia dari mulutnya.
"Aku cuman pergi selesain masalah yang ada, nggak usah cemburu gitu..," ledek Alvi sembari memencet hidung mancung Niken.
"Ish siapa coba yang cemburu, nggak level cemburu sama si Irene...," Sangkal Niken.
"Yakin nggak bakal cemburu kalau aku balikan lagi sama Irene? Nanti ada yang tiba-tiba kabur lagi nih ke Amrik...," Goda Alvi.
"Ih.hhh....," ucap Niken jengkel. Ia pun mencubit-cubit kecil pinggang Alvi sebagai balasan godaan menjengkelkan yang dilakukan suaminya terhadap dirinya itu.
Alvi pun mendekat ke arah niken yang duduk di ranjang tempat tidur. Ia berjongkok di depan Niken, mengambil tangan gadis itu dan mengenggamnya lembut dalam pamgkuan gadis itu.
aku tetap akan berada di sampingmu. Dan ku harap kamu juga bersedia untuk tetap selalu di sampingku..," jelas Alvi.
Niken pun menganggukkan kepalanya. Air mata nya pun jatuh perlahan menedengar pernyataan yang di sampaikan oleh Alvi. Melihat wanita yang dicintainya itu meneteskan air mata, ia menyeka air mata yang menetes di kedua pipi gadis itu.
"Sebelum kita melangkah ke masa depan kita selesaikan masalah kita satu persatu ya, dimulai dengan Irene dan gosip yang beredar..," ucap Alvi.
"Kamu hati-hati, Irene itu licik ia pasti punya seribu satu alasan untuk berkelit dari kesalahan dan kebohongannya..," ucap Niken.
Alvi pun menganggukkan kepalanya mendengar ucapan istrinya itu.
__ADS_1
"Kamu tenang saja aku sudah punya bukti yang kuat atas semua perbuatannya, kali ini dia tidak akan bisa berkelit lagi. Niken pun menganggukkan kepalanya.
Setelah menenangkan kekhawatiran istrinya Alvi pun bergegas menuju lokasi dimana ia janji temu dengan Irene.
Perjalanan selama tiga puluh menit itupun mengantarkan Alvi ke sebuah Cafe tempat dimana ia sering bertemu dengan Irene dulu secara diam-diam. Hal itu dilakukannya karena dulu orang tua Alvi tidak pernah menyetujui hubungan keduanya.
"Hai...," Sapa Irene kepada Alvi. Ia tersenyum senang melihat kedatangan lelaki itu.
Namun Alvi hanya menatap datar wanita di hadapannya. Ia seolah tak percaya bahwa wanita yang pernah dicintainya dulu itu melakukan hal yang teramat keji menurutnya.
Alvi melemparkan sebuah amplop berwarna coklat ke atas meja. Irene yang melihat hal itu mengernyitkan keningnya penasaran dengan apa maksud Alvi memberinya amplop coklat itu.
"Apa ini?" Tanya Irene.
"Bukalah...," Titah Alvi.
Irene membuka amplop coklat itu. Ia melihat di dalamnya terdapat banyak foto. Kemudian, ia melihat foto itu satu per satu dan bertapa terkejutnya ia menatap foto-foto yang berada di tangannya itu.
"In...ini...," Ucapnya.
"Semua itu bukti bahwa anaj tang berada di dalam kandunganmu itu bukan anakku...," Jelas Alvi.
"In..ini nggak seperti yang kamu pikirkan Alvi, aku visa jelasin semuanya sama kamu..," bantah Irene.
"Kamu mau mengelak apa lagi Ren. Jika kamu lihat tangal di foto itu maka akan sama dengan hitungan tanggal di foto usg kamu...," Jelas Alvi.
"Tap..Alvi ini benar anak kamu. Kamu mabuk waktu itu dan...,"
__ADS_1
"Dan kamu menjebakku. Aku sama sekali tidak pernah menyentuhmu, bahkan saat kita masih berstatus pacaran dulu, dan kamu tahu itu. Bahwa aku tidak akan menyetuhmu sampai kita menikah...,' jelas Alvi final. Dan Irene pun tidak dapat berkutik. Ia hanya bisa menangis meratapi nasibnya.
...🎼🎼🎼🎼🎼...