
ini bukan keinginannya namun takdir berkehendak, tak akan mampu untuk menghindar ataupun menjauh.
semalam tak mampu memejamkan mata, terasa perih di hati, mata pun bengkak akibatkan buat tangannya. benar benar kena mental, sakit lahir batin.
perang Dingin kembali terjadi, maaf kata yang ditunggu dari sang suami namun tak pernah terucap. jarang pulang ke rumah kumpul bersama istri dan anak. itu menjadi pertanyaan, setelah dia lama mengembara, dia mendatangi sang istri, itupun untuk memuaskan nafsu birahinya saja. setelahnya kembali dingin.
Setelah beberapa bulan,
si istri dan anaknya ikut piknik bersama keluarga si istri.
" ikut saja mas kita piknik tempat hiburan, sambil momong anak.. " kata si istri.
" nggak.. gua mau di rumah aja tidur.. " jawabnya.
" oh iya, tolong titip ibu di rumah sebelah.. " kata si istri.
" emang gua baby suster.. " jawabnya dengan wajah kesal.
menjelang sore hujan petir juga angin ikut serta. sedangkan ibu serta si suami, sedang bersitegang.
tak lama istri pulang bersama anak dalam keadaan lapar juga gerah panas, namun disambut muka garang si suami. setelah mandi juga memberi anak makan.
__ADS_1
kemarahan itu meledak, dia berkata
" gua pusing ma' emak luh ngatur gua, harus nurutin maunya terus, gua cape. mulai sekarang kita hidup masing-masing, gua ceraikan luh, biar anak gua bawah.. "
Bagai disambar petir. hatinya hancur berkeping-keping. tangisan memilukan, hatinya terasa sakit, kenapa dia suka ucapkan berpisah, meskipun diapun lelah tetap berjuang karena anak.
yang dipikirkan hanya nasib anak, untuk si istri sendiri tak memikirkan soal hati semua perlakuan sikapnya diterima dengan tulus, namun dia tak terima sikap keluarga nya, terutama ibunya.
alasannya klasik masalah yang masih bisa dibenahi kenapa harus dibesarkan, hanya satu kata terima keadaannya, kekurangan manusia hal lumrah, karena yang maha sempurna hanya Tuhan pencipta alam semesta. sadarlah akan keadaan sifat dewasa dibutuhkan dalam rumah tangga, jangan selalu mementingkan egois.
seminggu kemudian dia tak pernah pulang ke rumah si istri, entah dimana tinggal dengan siapa.
tak terasa sebulan mereka berpisah. Tiba-tiba dia datang malam hari untuk bertemu, dengan alasan rindu, terasa lucu kemarin menggebu-gebu ingin pisah mengapa ada kata rindu.
dengan kalimat memaksa, lewat pesan singkatnya tertulis,
" gua tunggu di hotel *** "
" maaf mas nggak bisa,kan kita pisah " balas si istri.
" jangan sok luh, dasar Munafik ".balasannya
__ADS_1
" anak juga kasihan lagi tidur " balas si istri.
" bawalah..!!" balasannya.
" nggak bisa udah malam juga,kamu juga udah ucapan talak kedua" balas si istri.
" halah.. baru dua,udah jangan banyak alasan " balasannya.
dengan menghela nafas kesal si istri menjawab.
" cukup aku lelah mas.. "
" halah.. Pura-pura jablay luh an**** , umpatan kasar lain, dengan berujung, gua talak tiga sekalian biar mampus ".
manusia tak punya hati masih membutuhkan tapi selalu memaki sesuka hati.
istilahnya kata orang bijak,dalam ucapan adalah doa seperti itu kalimat tepat untuknya. dia mengikrarkan Tuhan yang menjawab.
kata sumbang terdengar, kalau dirinya mengutuk ucapan sendiri dengan penyesalan, namun penyesalan tak membuat keluarga kecil untuk kembali, bahkan tak sehangat dulu lagi.
semua cita citanya ada dinding pembatas untuk dirobohkan.
__ADS_1