Skandal Cinta Ke Dua

Skandal Cinta Ke Dua
Bertemu Mantan Mertua


__ADS_3

"Justru model ini, kamu harus menyamar mas Arga. Baiknya kamu ikuti kata aku aja deh, aku enggak mungkin terjerumus lebih jauh untuk kamu."


"Tapi apa harus sekarang Nit?"


"Iya .. Kalau tetangga tahu kamu ada di rumah, kamu bakal di laporin. Ingat, kamu itu jadi DPO tahu kan artinya, daftar pencarian orang!"


"Sampai kapan?"


"Sampai misi berhasil, kamu tahu kan mas Arga. Kamu harus berpura pura jadi saudara jauh aku, bukan suami aku. Atau putra ibu Febi, jadi jangan lupa soal berita kamu yang udah tercemar ya! Nama kamu masuk berita, wajah kamu, udah hafal kalau kamu itu saat ini ada di penjara."


Arga terdiam, ia benar benar mencerna omongan Anita, yang dimana kali ini harus pasrah. Sebab menurutnya Anita benar benar membuat Arga senyum, bahkan untuk kali ini ia tidak salah dimana ia merasa beruntung memiliki Anita yang satu frekuensi. Hingga beberapa kali Anita ikut tersenyum dan sedikit terlihat begitu yakin, jika Arga mudah ia kendalikan.


Dan untuk kali ini Arga di buatkan tompel, dimana ia juga memakai pakaian lusuh, usang dengan warna pudar. Apalagi Anita memberikan satu tongkat penyangga untuknya.


"Untuk apa ini Nit?"


"Kalau ke luar teras, atau ke warung kamu agak pincang aja. Supaya enggak dicurigai, bahaya kalau polisi datang. Sekarang mas Arga ke rumah sewaan satu lagi aja, disana masih ada kamar satu. Jadi mas Arga tidur disana enggak boleh sering terlihat di kontrakan ini." jelas Anita, membuat Arga menghela nafas pasrah.

__ADS_1


Sementara Febi, untuk saat ini ia melihat beberapa kali ke arah sebuah toko, dimana sebuah mobil mewah matanya terlihat begitu mengamati, sebab bukan tanpa alasan kali ini Febi yang penat di kontrakan petak menantunya itu, ia berjalan jalan hingga sampai pasar Senin dimana letaknya beberapa puluh kilo saja.


"Tunggu, bukannya itu wanita yang pernah nyasar cari alamat rumah ya. Kok bisa dia ada disini, jangan jangan .. Benar dia Asna ..?" lirih Febi, sedikit sesak.


Febi melihat seseorang yang dibukakan pintu mewah, dimana Febi benar mengamati seolah tak percaya, jika Arga bilang wanita disana itu bekas menantunya, yang mana wajahnya sangat buruk saat itu.


'Enggak mungkin, dia pasti orang yang salah. Nampak berbeda dari Asna, putraku pasti salah orang. Mana mungkin Asna Wijaya wajahnya cantik mirip kulit orang korea yang sehat, apalagi perubahannya drastis sekali.' batin Febi bergumam dan mendekat.


Sementara Asna dan Irham yang pulang, ia mencoba ke toko kue di samping butik langganan sebelum pulang ke rumah. Dan hal ini membuat Asna menoleh karena ibu paruh baya itu mendekatinya dan mencoba berbicara.


"Maaf bu, apa ada masalah? Ada apa ya, menegur istri saya seperti ini?" tanya Irham mencoba melindungi.


Bahkan terlihat dua security datang, seolah ingin mengusir. Namun kode tangan Irham untuk tetap menghormati yang lebih tua, sehingga dua security mengamati dan berjaga jaga saja.


"Wanita ini benar bos PT Nusa sakti kan? Masih ingat saya kan. Seingat saya kamu itu orang yang cari alamat terus, tapi Arga bilang kalau klien yang jadi bosnya itu mantan menantu saya yang penyakitan." cercah Febi membuat Irham sedikit emosi dengan kata kata tidak pantas.


Deg.

__ADS_1


"Apa ibu tahu Arga putra ibu jadi DPO. Maaf, saya lancang, sepertinya itu lebih penting dari sekedar informasi. Sebab saya baru saja dapat broadcast nya loh, dan ini kami selesai dari sini mau ke tempat ibu. Maaf loh, ibu benar benar ibu kandungnya Arga Kusuma yang di duga korupsi dan melakukan tindakan kecurangan pada proyek kan?" balas Asna, nampak elegant membuat pertanyaan Febi sedikit beringsut atau lupa.


Arg .. Tatapan Febi, menoleh ke arah pengunjung lain yang menatapnya, bahkan terlihat memotret atau mungkin memvideokan. Hingga Febi pun langsung pergi tanpa menunggu jawaban pertanyaan tadi, akibat pertanyaan putranya yang jadi DPO.


'Ah .. Dasar kenapa aku jadi takut karena pertanyaan begitu sih, gimana kalau orang curiga dan ada yang ikutin. Arga harus tahu, Anita juga harus tahu supaya Arga harus di ungsikan.' batin Febi, meracau kali ini.


Sementara Asna menoleh ke wajah Irham, dimana Irham memegang tangan Asna untuk tegar dan penuh senyuman untuk ia baik baik saja.


"Are you okey?"


"Fine .. Aku baik baik saja suamiku."


Spontan hal itu membuat Irham meminta yang memotret segera menghapus, dan Irham selesai menerima pesanan ia langsung bergegas pergi, hingga dimana setelah Sampai luar. Terlihat orang yang tidak asing, dengan buru buru berjalan cepat ke arahnya.


"Suamiku, kenapa dia datang?" tanya Asna, membuat Irham memegang erat tangan Asna, saat ingin membuka pintu mobil tidak jadi.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2