Story Full Of Mystery

Story Full Of Mystery
Diary Terkutuk


__ADS_3

Suasana siang ini cerah sekali. Terlihat semua murid sedang memanfaatkan waktu istirahat dengan sebaik-baiknya. Mungkin agar pada saat pelajaran selanjutnya dimulai mereka tidak akan merasa tegang. Banyak murid yang berlalu lalang di depan kelasku dengan bebasnya. Namun tidak denganku.


Hanya karena saat pelajaran pertama aku mendapat masalah, aku jadi harus berdiri di depan kelas sampai jam pulang sekolah nanti. Dan setelah hukuman ini selesai, masih ada satu hukuman lagi yang mengungguku. Dan hukuman itu adalah, membersihkan halaman sekolah. Benar-benar menyebalkan. Padahal masalah yang tadi kan bukan salahku.


“Lucy, maaf ya.” Sesal Rani sambil menatapku. “Kita kan friend. Masa mau ngambek terus?” ia menarik-narik tanganku.


“Temen sih temen. Tapi kalau kena hukuman jangan ngajak-ngajak dong!” jawabku ketus.


“Iya-iya. Maaf deh.” Rani terus menatapku dengan wajah seperti akan menangis hingga membuatku merasa iba. Sahabatku yang satu ini memang tau bagaimana caranya membuatku berhenti marah padanya.


Saat sekolah sudah terlihat sepi, aku dan Rani masih menyapu di halaman sekolah. Padahal jam di tanganku sudah menunjukkan pukul setengah dua. Tapi sampah di halaman belum habis juga. Huh! Benar-benar menyusahkan.


“Hore! Akhirnya kerjaan kita selesai juga.” Kataku dengan sangat senang setelah melihat halaman yang sejak tadi kami bersihkan telah bersih.


“Oh, iya Lucy. Aku harus pulang dulu nich. Soalnya setengah jam lagi aku ada les bahasa inggris. Kamu gak papa kan kalau harus buang sampah sendiri?” tanya Rani.


“Hm… gimana ya?” aku berpikir sejenak. “Ya udah deh. Nggak papa.” Kataku sambil tersenyum tipis.


“Ok. Kalau gitu aku duluan ya!” Rani beranjak pergi setelah mengambil tasnya di kelas.

__ADS_1


Sebenarnya sih membawa tempat sampah ini sendirian pasti akan terasa berat. Tapi karena Rani sering membantuku, jadi aku akan menganggap ini sebagai balas budi.


Aku menjinjing tempat sampat itu menuju container. Karena containernya sedikit tinggi, aku jadi harus mengangkat tempat sampah itu agar bisa mengeluarkan isinya. Benar-benar berat. Lenganku jadi terasa sakit. Setelah tempat sampah itu kosong, aku segera melangkahkan kakiku untuk menuju kelas. Namun setelah beberapa kali, aku menghentikan langkahku. Kini pandanganku tertuju pada sebuah buku berwarna biru yang ada di dekat container. Aku meletakkan tempat sampah yang kubawa lalu memungut buku itu.


“Ini diary?” tanyaku sambil membuka satu-persatu lembaran buku itu. Sepertinya buku ini sudah dibuang. Kulihat tulisan berwarna merah yang tertulis dalam buku itu. Susah payah aku membaca tulisan itu tapi tetap tak bisa. Tita yang digunakan sangat tipis juga telah luntur seperti terkena air.


“Ya ampun. Udah jam segini!” seruku setelah melirik jam tanganku yang telah menunjukkan pukul 02.05. Aku meletakkan buku itu ke tempatnya semula lalu menjinjing tempat sampah dan berlari menuju kelas.


Setelah mengunci kelas, aku bergegas pergi meninggalkan sekolah. Tapi saat sampai di gerbang, langkahku terhenti. Aku teringat dengan buku diary yang kutemukan tadi. Tiba-tiba perasaan aneh menghampiriku. Rasanya ingin sekali aku mengambil dan membawanya pulang. Tapi yang aku tau itu hanyalah diary yang telah lusuh dan terbuang.


“Aneh. Padahal tadi aku sudah meletakkannya disini? Apa mungkin ada orang lain yang telah memungutnya?” aku bertanya-tanya. Aku berusaha mencari diary itu disekitar tempatku meletakkannya tadi.


Sore ini aku duduk termenung di dekat jendela. Ada banyak hal yang kupikirkan hingga membuat kepalaku terasa pusing. Salah satu hal yang aku pikirkan adalah tugas Bahasa Indonesia yang akan dikumpulkan besok. Tapi masalah utamanya bukan itu. Yang membuat kepalaku pusing adalah bagaimana caranya aku mengerjakan pr kalau bukunya saja tidak ada? Salahku juga sih karena tak sengaja menghilangkannnya.


“Oh, ya! Diarynya!” seruku setelah teringat dengan buku diary itu. aku mengambil tasku untuk mencarinya juga sebuah pulpen yang akan kugunakan untuk menuliskan pengalaman yang aku alami hari ini.


“Dear diary. 3 hari yang lalu aku nggak sengaja menghilangkan buku Bahasa Indonesiaku. Gimana ya? Padahal besok ada tugas yang harus kubawa. Mana gurunya galak lagi. Masa aku mau dihukum lagi kaya tadi?


Andai aku bisa, aku akan meminta agar Pak Ahmad tidak bisa datang untuk mengajar besok. Apapun alasannya aku ingin dia tidak bisa mengajar. Dan satu lagi permintaanku. Aku ingin agar bukuku bisa ketemu secepatnya.”

__ADS_1


Ya… walau pun aku tau kalau menulis diary itu nggak akan bisa menyelesaikan masalahku, tapi setidaknya aku bisa merasa sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Soalnya aku bisa menceritakan masalahku walau hanya pada buku diary. Ini masih lebih baik dari pada aku harus bercerita pada ibuku. Yang ada nanti aku malah dimarahi.


Hari ini kelas ramai sekali. Benar-benar mirip pasar. Kulihat teman-temanku terus mondar-mandir untuk menghampiri temannya yang ada di bangku lain. Sementara aku masih berdebar-debar sambil melihat kearah pintu karena takut kalau Pak Ahmad tiba- tiba datang dan langsung memeriksa pr-nya. Duh… nggak bisa kubayangkan human apalagi yang akan menimpaku hari ini.


“Woi! Kok bengong?” Rani berteriak tepat ditelingaku hingga membuatku kaget.


Aku menatapnya kesal. ”Ih, ganggu orang aja!” gerutuku kesal. Suda pagi-pagi stress, dikagetin lagi. Gimana gak tambah stress?


“Iya deh, aku minta maaf.” Katanya setelah duduk disebelahku.


“Oh, ya. Pak Ahmad mana? Kok dari tadi gak kelihatan?” tanyaku penasaran.


“Kamu gak tau?” Rani menatapku serius.


“Apa?”


“Hari ini tuh Pak Ahmad nggak bisa ngajar. Katanya sih lagi sakit.”


Aku tertegun mendengar jawaban Rani. “Sakit?” batinku. Perasaan kemarin Pak Ahmad masih bisa mengajar di kelas sebelah. Kok sekarang tiba-tiba sakit ya? Tapi sudahlah. Bukankah itu artinya ini adalah hari keberuntunganku? Dengan begini aku tidak akan kena hukuman. Setidaknya aku masih punya waktu seminggu lagi untuk menemukan buku itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2