
*
Aku melihatnya sedang melamun disalah satu bangku taman sekolah yang mulai lapuk, telinganya tersumpal oleh sebuah earphone putih yang sepertinya mengalunkan lagu yang indah. Jangan salahkan aku, jika saat ini aku terpesona akan senyuman tipis yang kebetulan terpatri disana.
Aksara Kalandra, aku tahu nama lengkapnya dari mading sekolah yang selalu up to date tentang cerita-cerita di SMA Persada. Dia teman satu angkatan ku, kekasih saudari kembarku, dan juga orang yang ku suka selama hampir dua tahun.
"Aksa!" begitulah dia disapa oleh cewek berambut panjang berwarna hitam legam itu, dia berjalan menghampirinya sambil menerbitkan sebuah senyuman. Lengkungan bibirnya indah seperti mentari, begitu menghangatkan dan mungkin saja senyuman itu yang mampu mencairkan bongkahan es batu dalam diri Aksa.
Lihatlah! Bagaimana cowok itu bisa membalas senyuman lebarnya, lalu tangan hangat miliknya yang saat ini tengah mengelus rambut panjang nan halus milik cewek itu. Sungguh, aku ingin menjadi Aluna. Sekalipun, sejak pertama kali aku menghirup napas pertama kalinya, aku memang telah menjadi dirinya yang lain. Cewek yang ku maksud itu, saudari kembarku.
Aku sama sekali tidak mengalihkan pandangan mata kenari ini, mata yang sering mengeluarkan lelehan kristal dan mata yang menjadi saksi semua tentang cerita pengharapan ku dengan Aksa.
"Alana! Gila lo ya, gue cariin lo kemana-mana ternyata disini" Yah, namaku Alana. Lebih tepatnya, Rhesa Alana Hanggini.
Aku nyengir kuda, merasa tidak bersalah telah merepotkan Zora. Sahabatku di SMA Persada, dia tampak kesal denganku. Cewek cantik berkacamata namun, dia bukanlah seorang nerd seperti didalam sebuah cerita novel. Zora lebih dari seorang most wanted, salah satu siswi populer yang sering mendapatkan prestasi luar biasa. Pengecualian dalam pertemanan, dia lebih memilih dengan cewek biasa sepertiku.
"Sorry deh, jadi ikutan ekskul modelling?"
Tanyaku padanya, Zora mengangguk antusias. Sesuai dengan wajah, dan body–goals nya. Sangat disayangkan jika Zora tidak bergabung dalam ekskul modelling, yang menjadi lahan prestasi gadis cantik di SMA Persada. Tidak sepertiku yang malas dan sama sekali tidak pantas, entah sudah berapa kali mama membujukku agar bergabung dengan ekskul itu.
"Lo sendiri gimana, Al?"
"Gue enggak ikut, gue udah daftar ekskul mading" kataku sambil menarik tangannya pergi dari taman belakang sekolah, kami berjalan melewati koridor kelas yang sudah sepi. Maklum, jam pulang sekolah seperti ini apalagi hari Jum'at ketika kelas dibubarkan lebih awal dan hanya ada ekskul modelling dan ekskul pramuka wajib untuk kelas sepuluh.
__ADS_1
"Lo tadi ngintipin Aksa sama Luna lagi?"
Aku menggedikan bahu santai, tapi senyuman dibibirku tidak pernah luntur. Bisa dibayangkan bukan? Bagaimana perasaanku melihat orang yang ku suka, bahagia tentu saja. Walaupun, dia adalah kekasih dari Aluna–saudari kembarku yang lahir lebih dulu dan mengambil semua gen baik dari papa dan mama, kecuali mata indah ber-iris hazel yang ku miliki.
Sekalipun wajah kami seperti sebuah benda yang sama, namun aku berbeda dengan Aluna yang mendapatkan segalanya. Aluna seperti sebuah magnet yang mampu menarik apapun didekatnya, dan seakan memiliki medan yang bertolak belakang dariku. Jika Aluna menjadi siswi terbaik, tercantik, aku sebaliknya.
"Yang dulu sok-sokan gengsi buat deketin dia, terus sekarang gagal move on dong. Udah deh, entar bintitan mata lo. Tiap hari ngintipin orang pacaran mulu"
"Lo salah makan ya? Gila aja, Aksa itu cintanya sama Luna dan begitupun sebaliknya. Kalo gue masih keras kepala buat pertahanin Aksa, yang ada ngesek tiap hari lah"
Zora tertawa, "Makanya lo sama Nathan aja sih" Aku memutar bola mataku malas, selalu saja Nathan. Cowok yang sering menjadi sorotan disekolah, karena kenakalannya. Apalagi Nathan, adalah seorang ketua geng terkenal yang para anggotanya rata-rata bertubuh tinggi dan atletis. Namun, berkelakuan seperti Nathan kecuali, Aksa tentunya. Membolos kelas, tidak mengerjakan tugas, merokok didalam bilik toilet ataupun di rooftop sekolah sudah seperti sebuah tugas utama Nathan dan gengnya.
"Kalo gue sama Nathan, keturunan gue auto jadi badchildren semua! Gue gak mau mati muda Zora!" Sudut mataku menangkap jika orang yang sedang kami bicarakan sudah muncul dari belokan koridor.
Kami terkekeh geli, dia sudah seperti setan, tiba-tiba sudah melesat cepat ke belakang kami. Begitu dia datang, dan merangkul pundak kecilku, bau asap rokok seketika menguar dihidungku.
"Ish, lo habis ngerokok ya?"
Aku langsung menjauh, bukan karena aku benci dengan rokok. Hanya saja, sedang malas berurusan dengan guru BP atau ajudannya disetiap kelas. "Slow aja kali Lan, nanti gue kasih parfume import deh"
Jonah kembali meraih tubuhku, pada akhirnya aku menyerah. Membiarkan tubuh jangkung tersebut merangkul bahuku, kami bertiga berjalan bersama memenuhi koridor-koridor sekolah yang sudah sepi.
"Bisa beli sendiri!" Jonah bergeleng kecil, sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Lan, besok gue jemput ya!" kata Nathan ketika kami hampir sampai di ruang ekskul modelling. Aku bergeleng kuat, menolak Nathan.
"Tapi gue gak menerima penolakan, jam tujuh malem harus udah siap!"
Dia pergi begitu saja, tanpa menoleh kembali kearahku atau Zora dan aku tidak menyangka jika hari itu hari terakhir aku bertemu dengannya. Nathan mendadak pindah ke Milan, tidak tahu apa alasannya. Apakah aku bersedih? Entahlah, yang jelas aku merasa ada yang hilang dari diriku.
*
Lima tahun kemudian...
"Al!"
Cewek dengan pakaian formal itu keluar dari rumahnya terburu-buru, sibuk mengangkat ponselnya yang terus berdering. Suasana rumahnya tengah sangat ramai, orang-orang sibuk memasang dekor. Pasangan kekasih yang berdiri tak jauh dari Alana tampak seperti pasangan paling bahagia.
"Loh, kamu kerja?"
Alana berhenti tepat didepan mereka, sudut matanya tak sengaja menangkap Aksa. Masih sama seperti lima tahun yang lalu, jantungnya masih berdebar tidak karuan ketika berhadapan dengan Aksa, calon kakak iparnya sekarang.
"Iya Lun, maaf ya gak bisa bantu-bantu. Hari ini ada pergantian Direktur utama di kantor, jadi maaf banget ya" Kata Alana memasang wajah bersalah, karena memang cewek yang kini berusia dua puluh dua tahun itu tidak berbohong.
Saudari kembarnya itu mengangguk, tidak lupa senyuman khas Luna yang tidak pernah berubah membuat Alana semakin merasa bersalah. "Yaudah aku berangkat dulu, Bye!"
Alana bernapas lega ketika ia sudah sampai didalam mobilnya, ia lagi-lagi berhasil mengacuhkan Aksa. Ia tidak ingin merusak hubungan keduanya hanya karena perasaan tak terbalasnya, bolehkah saat ini mengeluh karena merindukan Nathan? Alana tidak pernah berbohong ketika ia rindu dengan cowok yang dulu sering mengganggunya.
__ADS_1