Sweet Alana

Sweet Alana
Pesta


__ADS_3

“Huh, maaf pak saya telat!”, ujarku dengan gemetar karena baru saja berlari seperti dikejar setan. Pukul 06.50 , aku baru berangkat dari rumah bersama Abangku yang paling narsis sedunia. Untung saja ia memang hobby kebut-kebutan dijalanan jadi dengan mudah untuk sampai didepan gerbang sekolahku uang nyaris ditutup jika aku telat satu menit saja.


"Lari keliling lapangan lima kali dulu sana! Baru boleh masuk" jawab Pak Indra guru mapel Matematika yang terkenal Killer .


"Tapi pak, kasih saya keringanan ya. Tiga kali aja ya, tadi saya udah lari-larian capek pak" ujarku mencoba menawar hukuman. Kalo boleh kan lumayan juga. Jika tadi aku tidak berlari , hukuman ini akan langsung ku terima tanpa berberat hati.


"Loh, kalo kamu telatnya cuma sekali sih masih saya toleransi, tapi telat kamu berkali-kali. Cepat sana lari, apa mau saya tambah larinya?" Ujar Pak Indra lebih tegas lagi , kali ini dengan ancaman. Aku meringis dan bersiap meninggalkan kelas setelah menaruh tas ransel biru ku di atas tempat dudukku.


Dengan berat hati, juga kaki aku berlalu meninggalkan kelas. Sesampainya di lapangan aku mulai berlari dengan santai, menghemat tenaga sarapan tadi takut pingsan. Beruntung jika ada yang berlagak menjadi pahlawan kesiangan untuknya, kalau tidak bisa jadi rempeyek tubuhku.


Aku berlari dengan mulut yang terus berkomat-kamit mengeluarkan sumpah serapah ku kepada guru Matematika yang galaknya tidak ketulungan lagi, memang ganteng sih orangnya tetapi kalau galak juga perempuan berpikir dua kali mau dekat dengannya. Buktinya dengan status lajangnya saat ini, itu membuktikan jika Pak Indra kelewat batas galaknya.


Hari yang paling aku benci, bukan hari senin seperti kebanyakan anak sekolah lainnya. Tetapi hari ini, hari Rabu. Jam pertama Matematika, terus Fisika, Sejarah, Kimia. Apa yang buat jadwal itu tidak peka atau bagaimana satu hari full otak bekerja keras berpikir tentang berhitung. Apalagi Sejarah, sepertinya aku akan membuat jadwal sakit teratur pada hari rabu. Selain itu gurunya galak semua, apalah salahku hingga masuk sekolah dengan guru yang rata-rata killer.


Akhirnya acara lari keliling lapangan selesai, tepat ketika perutku mulai berdemo meminta makan. Tenggorokan ku terasa sangat kering, seperti aku sedang berpuasa dan berlari disiang hari benar-benar kehausan.


"Nih!" Ujar seorang laki-laki yang gantengnya pas-pasan dengan tampang dingin itu sambil menyodorkan sebotol air mineral kepadaku. Lumayan, setelah hukuman berakhir keberuntungan yang ki dapatkan. Dapat perhatian dari pangeran kodok.


Aku meraih botol itu dengan senyuman lebar, laki-laki tadi duduk disebelahku lalu menatapku dengan tatapan tajam. Setajam pisau mama didapur ,seperti ingin menguliti kulitku yang mulai gosong karena terlalu lama berada di bawah terik matahari. Aku hanya diam dan mencoba mengalihkan pandangan, aku tahu dia pasti sedang marah saat ini.


"Ck! Udah gue bilang bareng gue biar ga telat!" Ujarnya membuatku tersenyum kecut. “ Tadi kan gue telat gara-gara nungguin abang gue yang paling ganteng itu mandi lama banget kaya cewek” gumamku yang masih tetap bisa didengar olehnya. Ia hanya menggedikkan bahu nya enteng, tak ingin tahu alasanku.

__ADS_1


"Iya deh, bisa dipertimbangkan!" Lanjutku sekenanya.


Ia tersenyum dan mencubit pipi chubby ku yang semakin gendut karenanya. Aku hanya mencebikkan bibirku, lalu mengikuti langkah kaki panjangnya yang telah beranjak terlebih dulu.


"Ihh, tungguin dong!" Laki-laki tadi berhenti dan berbalik menuju tempatku berdiri, setelah sampai tepat didepanku wajahnya mendekat hingga jarak sekitar lima senti karena aku tidak repot mengukurnya.


Mata kami saling bertemu pandang, saling mengunci satu sama lain dengan tatapannya yang hangat? Seakan aku adalah seorang gadis yang teramat ia cintai. Seolah terhipnotis aku terus saja memandangi mata indahnya yang jarang menampilkan tatapan hangat seperti sekarang. Mata indah itu, seperti mata milik seorang yang ku rindukan.


"Aduuh" aku semakin memanyunkan bibirku, tangan kiriku mengusap pelan keningku yang dengan tidak baiknya disentil jari panjangnya. Sedangkan nasib tangan kananku telah ditarik olehnya. Maklum orang tinggi kakinya panjang, tangan juga, jari apalagi. Serasa jadi kurcaci kalau berjalan disampingnya seperti ini. Ralat maksudku dibelakangnya.


Selama berjalan dikoridor sekolah lantai pertama ini, banyak pasang mata yang memandang kami dengan berbagai tatapan. Mungkin sedang jam kosong hingga mereka bisa berjalan dikoridor. Mereka menatap laki-laki disampingku dengan tatapan memuja, kagum , cinta dan masih banyak lagi. Sedangkan menatapku dengan tatapan tak suka, benci, jijik dan lainnya. Apalagi genggaman tangan hangatnya yang masih setia menggenggam tangan mungilku. Mereka hanya iri.


"Ish, tuh cewek kegatelan banget deh"


Mendengar ucapan mereka aku geram sebenarnya , yang tadi menggenggam tanganku terlebih dulu siapa? Yang menarik tanganku aku terlebih dulu juga siapa? Aku juga yang salah sih. Mereka kan memang tidak tahu, hanya menilai apa yang mata mereka lihat. Aku menjulurkan lidah kepada mereka, lalu tertawa melihat mereka kesal seperti ingin menarik rambut panjangku.


"Udah La, jangan ditanggepin!" Seperti biasanya ia pasti tahu apa yang ku lakukan ketika ada yang berbisik dan membicarakanku, tidak tinggal diam dan menanggapi atau hanya sekedar mengejek mereka. Oh iya lupa, laki-laki yang seenaknya menarik tanganku ini namanya Kevlar Keano Putra, kakak kelasku , sahabat kecilku, teman curhatku. Ia anak XII IPS 1 , orangnya pinter banget juara kelas dari dulu. Kapten tim basket yang digandrungi siswi-siswi se-sekolahan, tetapi bolehkah aku berbangga diri jika hanya aku satu-satunya perempuan yang dekat dengannya. Kevlar itu sangat malas berdekatan dengan perempuan yang genit dan suka mencari muka, mungkin terdengar sedikit aneh jika laki-laki sepopuler dia belum pernah berpacaran sekalipun.


"Heh! Ganti baju dulu gih bau!" Aku membulatkan kedua bola mataku mendengar kalimatnya tadi, bau dia bilang? Aku meraih tangan kirinya yang masih menggenggam tanganku dengan cepat, lalu kugigit tangannya dengan keras.


“Aduuh, sakit La!” Kevlar mengaduh dan mencoba melepaskan tangannya, aku tak terima dikatakan bau ya walaupun sepertinya ia berkata jujur. Kan aku baru saja berolahraga pagi menjelang siang ini.

__ADS_1


"Dasar singa! Udah sana ganti baju gue tunggu dikantin!" Ujarnya setelah berhasil melepaskan gigitanku, ia memencet hidungku keras hingga memerah sampai berhasil melepaskan tangannya yang aku yakin sekarang pasti berbekas. Aku mengganti seragamku dengan yang baru, aku selalu membawa cadangan karena semua teman sekelasku tahu aku ini anak teladan. Langganan guru piket, terlambat hampir setiap hari dengan alasan yang sama Abangku.


Namaku Auristela Sheanette, anaknya mama dan papa yang super sibuk. Aku masih single bukan jomblo, karena nasibku tidak seburuk itu. Laki-laki idaman?pasti ada. Selain Papa ku sendiri. Dia se-angkatan Abangku, kuliah disalah satu universitas swasta terkenal. Dia juga alumni SMA Merdeka 45 dan kebetulan teman satu kelas Abangku dari Smp. Orangnya ganteng, pinter, rajin, mantan Ketua Osis dulu , most wanted juga , baik orangnya tapi dia kurang peka. Aku yang gencar mencari perhatian darinya, selalu diacuhkan dan dianggap hanya angin lalu.


Kembali lagi dengan seragam yang sudah bau keringat tadi, setelah aku berganti seragam dengan yang baru dan wangi khas bunga mawar kesukaanku. Aku berjalan cepat menuju kantin dimana tadi korban keganasanku menunggu. Sepertinya aku tahu alasan Kevlar tidak risih denganku, mungkin karena sikapku yang tidak terlalu mencerminkan seorang perempuan.


Dikoridor dekat kantin aku melihat segerombolan perempuan tukang cari muka tengah bergosip ria dan menggoda setiap laki-laki yang lewat, mungkin mereka kurang belaian hingga menurunkan harga diri mereka serendah itu. Dengan percaya diri aku melewati mereka, tanpa menoleh sedikitpun kepada mereka.


"Heh! Ga punya sopan santun lo ya sama senior !" Teriak salah satu dari mereka dengan menekankan kata senior diakhir. Aku tak mengindahkan teriakan itu, tetap melanjutkan langkahku menuju salah satu meja dikantin.


"Cewek bar-bar! Yang namanya Auristela sini lo jangan ngehindar! Dasar pengecut" teriakannya kali ini lebih keras dan membuatku geram. Apalagi salah satu dari mereka juga berani menarik rambutku. Tanpa pikir panjang lagi, aku berbalik dan berjalan cepat kearahnya yang berdiri dengan sok kecentilan. Tanganku melayang dengan cepat, sebelum ia sempat menghindar telapak tanganku sudah sampai di pipi kanannya.


PLAKK!!


"Apa Lo bilang? Gue? Cewek bar-bar? Lo tuh yang cewek bar-bar ngaca dong! NGACA!!" teriakku dengan segala kemarahan yang belum seberapa. Pipi yang tebal make up nya lima senti mungkin, mereka sekolah seperti mau pergi kondangan.


Ia tak terima lalu membalasku, dengan sekuat tenaga mungkin ia menarik rambutku yang tergerai. Membuatku sakit kepala dan akhirnya kami saling menjambak. Terlebih teman-temannya yang lain juga berusaha melepaskan tanganku pada rambut coklat miliknya.


"STELA! DINAR! CUKUP!!" setelah suara menggelegar tadi berdenging ditelingaku , kami berdua menghentikan acara tarik-menarik rambut. Teriakan tadi bukan teriakan guru, ataupun satpam sekolah. Tetapi teriakan Kevlar yang kini sudah memancarkan aura mengerikan, ia menatap kami dengan tajam. Ia benar-benar marah kali ini.


Aku hanya menundukkan kepalaku, namun sebelum aku menunduk kulihat Dinar tengah menatap nanar kearah Kevlar.

__ADS_1


"Hiks.. hiks.. Kev sakiit. Tadi si cewek bar-bar narik rambutku sama nampar pipi ku" ujarnya dengan manja dan dibuat-buat. Membuatku berdecih mendengarnya.


“Dasar tukang cari muka!” Gumamku , lantas bergerak menjauh dari tempat itu.


__ADS_2