SWEET PATISSIER

SWEET PATISSIER
4


__ADS_3

-20/6/2022


-Mirai High School


_________________________♪♪♪


Saita berjalan menuju kursinya, ia duduk sambil mengambil buku pelajaran yang ada di tasnya.


Saita melirik ke arah Rei, ia melihat Rei sedang asyik berkirim pesan entah dengan siapa. Mungkin dengan pacarnya?


Pelajaran yang sedikit membosankan akhirnya selesai, dan kini waktunya istirahat. Seperti biasa Ryota akan membuatkan mereka makanan.


Saita jenuh, ia ingin pergi ke kantin hanya untuk membeli minuman. Tapi saat dia membuka pintu kelas..


"Saita, mau kemana?"


"Ah Daisaku... Uhm ke kantin"


"Ikut"


Daisaku Tanami. Seorang anggota OSIS yang sangat di hormati, walaupun kita masih kelas 1. Tetapi Daisaku orang yang cerdas, banyak manusia naksir sama dia. Untuk talent yang dia miliki, humm... Dia mendapat gelar Ultimate Detective.


Karena kecerdasan yang ia punya dari kecil, dia sangat terobsesi dengan detektif. Bahkan ia ingin bekerja sama dengan polisi jika ada suatu kasus yang sulit di tangani.


"Aku hanya ingin membeli minum Dai"


"Tidak apa apa, aku juga ingin membeli minum"


Daisaku merangkul pundak Saita, lalu mencium rambut Saita.


"Wangi..."


"Terima kasih Dai"


"Bolehkah aku mendekap mu?"


"Maksud kamu?"


"Wangi mu sangat membuatku nyaman. Aku ingin menciumnya setiap hari"


"Dai, kamu berlebihan"


"Apa aku tidak di izinkan?"


"Hanya satu kali"


Daisaku tersenyum, lalu menarik Saita mengarah ke tangga.


"Daii kita mau kemanaa"


Daisaku terus berjalan dan sampailah mereka di rooftop.


"Dai, katanya mau beli minum?"


Daisaku duduk bersandar di dinding rooftop, lalu ia menyuruh Saita duduk di depannya.


"Duduk sini"


Saita menurut, setelah saita duduk. Ia terkejut karena Daisaku dengan cepat menarik tubuh Saita sampai menempel padanya. Dan kini Daisaku menciumi rambut Saita.


"Daii, pelan dong"


"Maaf... Habis aku sudah tidak tahan"


"Kamu aneh Dai..." Daisaku hanya diam, dia tidak merespond kata kata Saita.


"Dai, kalau aku katain kamu mirip seperti anjing gimana?"


"Coba kata katain..."


"Kamu anjing"


"Ughh... Lagii lagii" Daisaku menatap Saita dengan wajah bahagianya.


"Kamu anjing dai"


"Ughh jantungku... Mmhh lagii teruss"


Saita mencubit kedua pipi Daisaku sambil menatap Daisaku lekat lekat.


"Kamu anjing, mati saja kau Dai!!"


"Aaahhhhh iyaahh Saitaaaaa" Saita benar benar tak bisa berkata apa apa, kini Daisaku kembali memeluk erat tubuhnya.


( Aneh ) batin Saita


Tak lama kemudian, mereka memutuskan untuk kembali ke kelas, mereka takut kalau teman teman yang lain mencari keberadaan mereka.  


mereka sampai di kelas, Ryota menyambut mereka dengan dua piring berisikan daging steak yang baru saja dimasak.


"Maaf merepotkanmu ryota" ucap Saita


"tidak apa apa manis, di habiskan ya"


Dai yang melihat itu sedikit cemburu dan marah. tapi ia memilih untuk diam. Daisaku duduk di bangkunya, ia hanya diam sambil memakan makanannya.


"Kayaknya banyak banget yang suka sama kau Saita" Rei datang dari arah belakang saita dan duduk di depan saita.


"Ngapain kesini?"


"Aku gaboleh makan bareng?"


"Hm, silahkan.."


HP Saita berdering, saita melihat layar hp nya.


Unknown number


Saita berjalan ke arah pintu kelas dan mengangkat telfonnya.


^^^"Halo, dengan saita disini"^^^


Ah kamu yang manggil aku bukan?


^^^"K-kamu? Ah syukurlah"^^^


Hahaha, ada apa saita?


^^^"Maaf, apa kita bisa bicarakan hal ini sepulang aku sekolah? Disini tidak aman"^^^


Baiklah baiklah, simpan saja ya nomornya


^^^"Baik, terima kasih"^^^


...Call Ended...


Saita tersenyum, lalu dia kembali ke kursinya.


"Siapa tadi?" Tanya Rei


"Saudara jauh, katanya mau kesini"


"Oh begitu, pantas senyum senyum sendiri"


"Terserah aku lah"


Karena jam istirahat tak berlangsung lama, saita dengan cepat menghabiskan makannya dan membeli minuman dari kantin.


_________________________♪♪♪


-After School


Saita berjalan bersama Rei, mereka berjalan ke arah parkiran. Walaupun banyak mata memandang mereka.


"Kamu terkenal ya Rei"


"Tidak, apa kamu risih dengan tatapan mereka?" Saita ingin menjawab, tetapi seorang gadis yang entah datang darimana menghadang mereka.


"Bisa minta waktunya sebentar?"


Saita mengangguk, Rei hanya diam.


"Jadi apa kalian yang bernama Rei Akashima dan Saita Queldrick?"


"Benar" ucap Saita

__ADS_1


"Ah maaf jika menganggu kalian. Namaku Lila Kimberd. Aku ingin mengundang kalian makan malam bersama teman teman ku, apa kalian mau?"


( Tch nama samaran ya ) Batin Saita


"Maaf, aku tidak bisa" ucap Saita. Rei sempat menatap saita sebentar.


"Maaf, aku ada urusan mendadak setelah ini" ucap Rei


"Ah begitu ya, baiklah. Kapan kapan ikut datang ya, janee" Walaupun nada suaranya terlihat tenang, Lila sempat marah dan tak percaya dia akan di tolak oleh seorang laki laki.


"Kenapa kamu tidak ikut, Rei?" Rei menatap Saita, mendekatkan wajahnya.


"Prioritas ku sekarang mengantar kau pulang. Kalau kau tidak setuju, maka jawabanku akan sama"


"Pftt, bukannya kau ngefans sama dia?"


"Hmm... Iya juga sih, tapi aku tetap tidak mau. Kecuali kalo aku lagi longgar"


Mereka kembali berjalan menuju parkiran.


"Langsung pulang kan Saita?"


"Iya"


Di sepanjang perjalanan, Saita menunjukkan dengan detail arah rumahnya. Lalu tepat di depan gerbang rumah Saita, Rei sedikit terkejut melihat rumah Saita yang sangat mewah.


"Mewah juga ya"


"Terima kasih, sayangnya ini rumah papa ku. Jadi aku tidak bisa terlalu bangga"


"Kapan kapan aku boleh main?"


"Boleh, akan aku tunggu kehadiranmu" Saita melambaikan tangannya sambil tersenyum, lalu dia masuk kedalam rumah.


_________________________♪♪♪


- Saita House


Saita memutuskan untuk mandi, lalu mengabari orang yang akan berguna untuknya.


"Aku sudah tidak sabar... Semoga saja berhasil"


Kamar saita cukup luas, bahkan bisa muat 16 orang. Walaupun begitu, tidur sendiri membuat saita sedikit jenuh. Ia butuh teman...


Saita berjalan menuju kamar mandi sembari membawa pakaian gantinya.


"Kak, udah pulang? Kok adek Gatau?"


"Tadi adek kemana emang?"


"Hmm... Mungkin adek masih di kamar tadi, kakak mau mandi juga?"


"Iya, adek juga?"


"Iya"


Mereka terdiam selama 5 menit....


"Yaudah Kaka duluan aja"


"Terima kasih.."


Saita masuk kedalam kamar mandi. Ia sungguh ingin mempunyai kamar mandi sendiri di dalam kamarnya, sayangnya papa Saita masih belum membuatkannya.


Saita melepaskan pakaiannya, tubuh yang langsing, kulit putih bersih beserta wajah yang manis membuat penampilan Saita menjadi lebih perfect.


"Tidak ada perubahan..."


Saita menyalakan keran di bathup, lalu menyiapkan sabun dan shampo yang akan dia pakai.


"Souee, kakak kayaknya lama. Kamu gamau ikut?"


"T-tapi kak... Kita kan sudah d-dewasa"


"Yaudah kalau mau nunggu sampai malam mah"


"B-baik kak, Soue masuk yaaa"


Pintu kamar mandi terbuka. Soue dengan sedikit ragu mulai melangkah memasuki kamar mandi, lalu mengantung pakaiannya.


"Habisnya, kita sudah lama tidak mandi bersama... Terakhir kali saat masih kecil.."


"Dan tidak ada salahnya Kaka adek mandi bareng kan? Sini masuk, kakak bantu sabunin punggung mu"


Soue melepas pakaiannya perlahan. Ia sangat gugup. Tetapi tubuh soue sangat berbanding terbalik dengan Saita.


Kulit bersih, dengan dada yang bidang, otot perut yang terbentuk sempurna. Tinggi badan yang pas dan wajah yang tampan.


Saita kagum melihat adeknya, adeknya yang dulunya masih kecil sekarang sudah beranjak dewasa.


"Celana?" Ucap Saita


"C-celana juga kak? T-tapi kan"


"Adek, kenapa harus malu?" Kata kata itulah yang menjadi kutukan untuk Saita.


Soue melepas celana nya, tetapi...


( Hah? Gimana gimana? ) Batin Saita


Saita reflek mengalihkan pandangannya


"Maaf kak... Adek masuk ya"


Soue masuk kedalam bathup, ternyata masih cukup untuk berdua. Saita kira tidak akan muat.


Soue melihat tubuh Saita yang cantik, ia sempat kagum juga dengan tubuh kakanya. Sangat berbeda dengannya.


"Kak..."


"Iya?"


"Mau adek sabunin punggungnya?"


"Ah boleh, silahkan" Saita membelakangi Soue, kini Soue sudah memegang sabun milik Saita, lalu mengoleskannya ke punggung Saita.


"Kulit kakak halus ya"


"Terima kasih..."


Tanpa sengaja, tangan Soue meraba bagian depan tubuh Saita.


"S-soue..."


"Ah, maaf kak"


"Uhm.. tidak apa apa..."


Saita memundurkan badannya sehingga punggungnya menempel dengan tubuh Soue.


"Aku ingin bersandar..."


"I-iya kak, silahkan..." Walaupun saita bisa merasakan sesuatu yang aneh. Saita hanya diam dan melanjutkan aktivitasnya


______________________♪♪♪


-After Shower


"Maaf ya Dek"


"I-iya kak gapapa, adek juga ga gampang terpancing kok"


"Yaudah, mau nemenin Kaka tidur malam ini?"


"Bolehhhh"


Mereka berjalan menuju kamar Saita, saita ingin mengeringkan rambutnya baru menuju ruang makan.


"Dek, bantu kakak pake hairdryer"


"Iya kak"


Sembari menunggu rambutnya kering, Saita mengoleskan skincare yang biasa dia pake ke wajahnya.


"Jadi itu rahasia kakak?"

__ADS_1


"Hum? Maksud kamu?"


"Wajah kakak manis, itu rahasianya?"


"Hahaha, apasih dek. Ini bukan rahasia. Semua manusia juga tau benda benda seperti ini, apalagi perempuan"


"Lantas, kenapa kakak memakainya? Adek gapernah dikasih begituan"


"Ya biar wajah Kakak tetap sehat dek, biar ga jerawatan atau berminyak"


"Apa adek juga boleh memakainya?"


"Tentu saja, nanti kakak bantu"


Setelah semuanya selesai, kini giliran Saita yang membantu Soue untuk memakai skincarenya.


"Kakak takut ga cocok dek"


"Kalo ga cocok tinggal nyari yang cocok"


"Emang adek ada uang?"


"Ada, papa transfer ke rekening adek lumayan banyak"


"Baguslah. Yah semoga aja cocok"


_______________________♪♪♪


- Dining Room


"Akhirnya keluar juga dia pangeran kesayangan mamaa"


"Apasih ma, kita baru saja selesai mandi" Ucap Saita


"Gimana sekolah kalian?" Pertanyaan papa membuat suasana sedikit canggung. Karena pertanyaan itu kadang sensitif untuk Soue maupun Saita.


"Lancar kok pa, Saita lumayan akrab dengan teman sekelas"


"Kalo Soue... Kayaknya masih ingin fokus mencari bakat yang ada pada Soue pa... Maaf..."


"Tidak apa apa. Kalian sudah berusaha sebisa mungkin, jadi jangan paksakan diri kalian. Papa tidak mau melihat kalian sakit"


"Iya pa" ucap mereka berdua.


"Saita, kenapa kamu ingin menghubungi dia?"


"Apa papa sama mama akan marah kalau Saita jujur?"


Mama dan Papa saita sempat saling menatap, lalu mereka mengangguk.


"Ceritakan saja nak, mama mendengarkan kok"


"Saita bertaruh..." Pernyataan saita membuat papa, mama dan soue terkejut. Mereka menatap saita dengan tatapan tak percaya


"Isi taruhannya apa?" Tanya papa


"Mendedikasikan hidup kepada pemenang pa..."


*BRAAKKK


Mama memukul meja makan hingga retak. Lalu ia menatap kembali kearah Saita.


"Apa kamu yakin nak?..."


"Maaf ma..."


"Alasan kamu berbuat sampai sejauh itu untuk apa?"


"Saita tak ingin teman sekelas Saita di cap buruk. Saita hanya ingin dia setia dengan pasangannya, Saita punya firasat kalau dia juga menyukai gadis lain. Gadis yang mungkin akan membuatnya menyesali keputusannya"


"Jadi, kau ingin memanfaatkan teman papa untuk hal itu?"


"Iya pa"


"Hm, lakukan lah"


"Mama mendukung mu nak. Kalau kamu terpojok, mama akan membantu"


"Hahaha bilang saja mama ingin ikut campur, yakan ma?"


"Ohoho, kamu tau aja kebiasaan mama"


"Lawan saita Ultimate Gangster loh ma"


"Loh iyakah? Hanya ada satu Gangster di daerah sini...."


Mama saita kembali duduk dan berfikir


"Urata Akashima?"


"Hah? Bukan ma"


"Loh? Terus"


"Rei Akashima"


"Oh adeknya toh"


"Hah? Adek? Kukira itu ayahnya"


"Nak, orang tua mereka sudah tiada dua tahun yang lalu"


"Ah, maaf ma..."


"Tidak apa apa, orang tua mereka dulu dekat dengan mama dan papa. Mama dan papa tak ingin ada masalah diantara kalian. Tetapi kalo bisa tetap kalahkan dia ya"


"Papa berencana untuk menjodohkan kalian"


"HAH?"


Tak hanya Saita yang terkejut, Soue bahkan sampai tersedak Sushi yang sedang ia makan.


"Maksud papa?" Tanya Saita


"Kau itu lemah, kau harus punya pasangan yang kuat"


"Tapi kenapa harus dia? Dia kan sudah punya pasangan"


"Inilah kesempatanmu, papa tau kau ingin membuat hubungan mereka tak lama kan? Jadi itulah kesempatanmu dekat dengannya"


"Paaa tapi... Dia kan laki laki juga"


"Papa hanya tak ingin kamu di lukai sama orang lain nak, percayalah"


"Jadi kalian ingin menjodohkan aku dengannya? Tapi apa dia akan mau? Tidak pa!!! Papa mau Saita berjuang sendiri dan merasakan pahitnya cinta cintaan? Apalagi hal yang sangat berbeda dari lainnya?"


"Mama dan papa sudah memutuskan sesuatu kalau hal itu terjadi nak" ucap mama


"Kalau dia menyakitimu lebih dari sewajarnya, papa akan menjauhkanmu darinya. Dan kamu bisa bebas mencari pasangan yang menurut kamu pantas untuk dirimu"


"Ukh... Baiklah..."


( Apa? Kenapa kakak di jodohkan? Apa aku kurang kuat untuk melindunginya? Tidak, aku pasti bisa ) batin Soue


Setelah makan malam yang sedikit berantakan itu selesai, Saita bergegas menelfon orang itu dan menyampaikan tujuannya.


...Calling...


Halo Saita? Bagaimana?


^^^"Halo kak, jadi Saita ingin meminjam jasa kakak, kakak bisa buat gadis itu jatuh cinta ngga?"^^^


Maksud kamu?


^^^"Aku ingin kakak membuat dia bucin ke kakak, tapi setelah itu lepaskan"^^^


Hoo... Kejam juga kamu, aku mau asal kamu harus bisa membujuk dia


^^^"Dia siapa kak?"^^^


Besok kamu libur kan? Dia akan datang kok. Tenang aja dia ga gigit


...Call Ended...


_______________________♪♪♪

__ADS_1


To Be Continue.......


__ADS_2