
"Luan, kamu udah lama narik ojek online?" Sienna berusaha memecahkan keheningan yang canggung diantara mereka.
"Gak kok, justru baru banget. Kamu aja penumpang pertama ku, biasanya Ayah yang narik tapi karena Ayah lagi sakit jadi aku yang gantiin Ayah. Maaf ya tadi lama soalnya aku sempet bingung. Untung aja kamu gak cancel kalo gak bisa-bisa performa akun Ayahku bisa menurun." Luan menjelaskan panjang lebar.
"Emang kalo performanya menurun apa akibatnya Luan?" Tanya Sienna penasaran.
"Kalo performanya menurun bisa-bisa susah dapet penumpang Sienna," ucap Luan sambil terus melaju. Namun karena angin kencang yang menerpa mereka Sienna tak dapat mendengar jelas apa yang Luan katakan.
"Hah, apa Luan?" tanya Sienna sekali lagi.
"Kalo performanya menurun bisa-bisa susah dapet penumpang Sienna." Luan mengulangi perkataan nya, lagi-lagi Sienna tak dapat mendengar dengan jelas apa yang Luan katakan.
"Hah?" Tanya Sienna mengencangkan suaranya.
"Kalo performanya menurun bisa-bisa susah dapet penumpang Sienna." Luan menjelaskan dengan suara yang lebih keras untuk memastikan Sienna dapat mendengar suaranya, disisi lain saat Sienna mendengar hal itu ia merasa lega karena tidak jadi membatalkan pesanannya.
"Rumah kamu jauh juga ya." Kata Luan seraya melihat ponsel yang ia tempel di atas stang motornya.
"Iya, agak jauh sedikit memang." Sienna menggaruk helm yang ia kenakan tanpa sadar. Luan yang melihat itu dari spion pun tertawa. Mereka melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan mereka yaitu rumah Sienna. Sesampainya disana Sienna pun turun dan membuka helm lalu memberikannya pada Luan.
"Pake promo ya Luan." Ujar Sienna sambil memberikan ongkosnya. Luan mengangguk dan mengambil uang itu.
Saat Luan menghitung kembalian dan memberikannya pada Sienna, Sienna justru menolak, "Udah gak apa-apa, buat kamu beli minum. Semoga Ayah cepet sembuh ya Luan." Saat mendengar itu sepercik semangat muncul tanpa sadar terpampang senyum diwajahnya.
"Makasih, yaudah aku pamit dulu mau narik lagi." Luan berpamitan, seraya memutar motornya.
"Iya, hati-hati ya semoga dapet banyak penumpang." Ucap Sienna sambil melambaikan tangannya.
***
"Loh kok ruang siaran nya agak terbuka, apa ada orang?" Sienna yang sedang berjalan di koridor melihat pintu ruang siaran sedikit terbuka, ia bergegas menuju ruang siaran dengan sedikit berlari.
"Luan, lagi ngapain?" rambut hitam panjang terurai ke bawah tertiup oleh angin tiba-tiba saja kepala menyembul keluar.
"Astagfirullah ... kamu jangan ngagetin gitu dong." Ucap Luan yang kaget saat melihat kepala Sienna yang muncul begitu saja.
__ADS_1
"Maaf, kaget ya?" Sienna menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum simpul.
"Emangnya kamu lagi ngapain?" Sienna menggerakkan lehernya penasaran.
"Aku lagi mindahin audio mixer, biar nanti pas siaran gak repot." Ucap Luan sambil memasang kabel-kabel
ke dalam port yang tersedia.
"Ada yang bisa aku bantu Luan?" Sienna menawarkan bantuannya.
"Gak usah Sienna, udah beres kok." Kata Luan sambil memasangkan adapter ke stopkontak.
"Oh iya, ini naskah siaran hari ini." Sienna mengeluarkan kertas naskah itu dari dalam tasnya.
"Mau langsung kita mulai siarannya?" Tanya Luan sambil melirik ke arah jam dinding, yang menunjukkan waktu tepat jam lima sore. Sienna mengangguk seraya menarik kursi dan mulai mengenakan headphone. Dinyalakan microphone yang ada dihadapannya, Tepi Senja siap mengudara.
"Sampurasun, wilujeng sonten Baraya Kata. Tepang deui sareng Radio Sora 44,4 FM. Kumaha damang Baraya Kata? Tepi Senja balik lagi nih, dan pastinya siap nemenin kita semua selama 30 menit ke depan. Bersama saya Sienna dan Luan yang akan menjadi teman cerita kalian sore ini."
"Hari ini kita akan menceritakan pengalaman horror sekolah yang dikirim oleh Kang Nando ke email Tepi Senja. Pengalaman yang tak akan pernah ia lupakan dan akan selalu jadi cerita andalan saat menceritakan kejadian horror katanya. Penasaran dengan kisahnya? Langsung saja kita dengar ceritanya."
Dengan tenang Luan menyalakan microphone dan mulai bercerita.
"Sebelum cerita kenalan dulu dong, karena tak kenal maka tak gendong eh salah tak sayang maksudnya. Kenalin, namaku Nando aku kelas XII di salah satu SMA swasta kegiatan ku sebelumnya biasa saja tak ada yang istimewa hanya sekolah dan nongkrong bersama teman-teman, namun semenjak aku memiliki SIM timbul keinginanku untuk mulai mencari uang. Hitung-hitung membantu Bapak menabung untuk biaya kuliahku nanti daripada waktunya ku habiskan untuk nongkrong yang hanya buang-buang uang lebih baik ku pakai waktunya untuk mencari uang.
Kemudian aku mendaftar ranger hijau alias pengemudi ojek online, Bapak pun mengizinkan asalkan tak mengganggu kegiatan sekolah ku. Aku memulai mencari penumpang setiap pulang sekolah. Biasanya setiap pulang sekolah banyak murid-murid yang memesan ojek online. Aku cukup senang karena setiap harinya aku selalu mendapatkan penumpang. Sekalipun tak pernah ku alami kejadian horror, seperti para pengemudi ojek online lainnya.
Sampai hari itu tiba, saat pertama kalinya aku mengalami kejadian di luar nalar. Masih teringat jelas di benakku, saat itu aku sama sekali belum mendapatkan penumpang. Langit sore perlahan mulai mengganti warnanya, jingga kemerahan cantik sekali langit sore itu. Tanpa sadar satu pesanan masuk, titik lokasinya di depan gerbang sekolahku, tanpa berlama-lama aku langsung keluar dari parkiran menuju gerbang sekolah.
Tapi tidak ada siapapun disana, mungkin saja dia sedang menuju kesini pikirku aku menunggu beberapa saat sambil mengirim pesan kepadanya, saya sudah sampai di lokasi. Saat menurunkan ponsel dari wajahku ku lihat sudah ada seorang wanita di sampingku. Sejak kapan dia ada disana? Mengapa tak ada suara yang terdengar? batinku berkecamuk.
"Kak Vivi ya, ke Jl.Berang-berang?" Aku mencoba memastikan apakah dia benar penumpang yang memesan atau bukan.
"Iya Kang betul." Katanya dengan senyum manisnya. Ketika mendengar jawaban darinya semua pikiran negatif ku pun sirna, bagaimana bisa gadis secantik dirinya bukan manusia. Aku sempat merasa konyol bagaimana bisa aku berpikiran seperti itu. Aku menyodorkan helm penumpang kepadanya. Dia menerima helm ku dengan tangan kiri, memakainya dan lekas naik ke motorku. Agak aneh melihat seseorang menerima sesuatu menggunakan tangan kirinya tapi aku tak terlalu ambil pusing.
Sepanjang jalan kami terus berbincang-bincang, ternyata dia adalah anak kelas XI di sekolahku, dia terlambat pulang karena terkunci di kamar mandi sekolah. Dia banyak bercerita tentang hal-hal horror, pada dasarnya aku memang orang yang suka mengobrol jadi aku merasa senang mendapatkan penumpang yang ramah dan senang mengobrol sepertinya.
__ADS_1
Saat hampir sampai menuju lokasi aku kaget karena kami harus melewati pemakaman besar terlebih dahulu sebelum masuk ke pemukiman warga. "Vi emang betul ya lewat sini?" Jujur saja aku merasa sedikit takut melewati pemakaman sebesar itu menjelang magrib pula.
"Iya Kang, sebentar lagi juga sampe," katanya. Suara pohon bambu yang tertiup angin membuat ku semakin merinding.
"Vi disini emang sepi ya?" tanyaku karena tak melihat warga yang sedang beraktivitas.
"Iya kang memang kalo menjelang magrib disini suka sepi, gak ada yang berani keluar soalnya suka di nampakin perempuan penunggu disini." Bisiknya pelan.
"Perempuan? Ah, Vi jangan nakut-nakutin."
"Hayoloh, udah gak apa-apa Kang. Kalo digangguin dateng aja ke rumah nanti aku bantuin deh." Ucapnya seperti sedang meledekku.
"Rumah ku didepan kang," sambungnya.
Benar saja kami sudah berada di lokasi, karena ketakutan aku sampai tak menyadari kalo kami sudah berada di tujuan. Yang terpikirkan olehku saat melihat rumah itu adalah rumah kecil yang asri, dan
nyaman.
Setelah turun, ia mencoba melepaskan helm tapi helmnya tak bisa terbuka. Ku coba untuk melepaskan helm itu untuknya, romantis sekali pikirku. Ia terlihat tersipu dan buru-buru memberikan ongkosnya dengan tangan kiri padaku sambil berkata, "Kembaliannya buat Akang aja, makasih udah mau nganterin aku pulang." Saat ku lihat uang yang ia berikan ternyata itu uang lima puluh ribu, sedangkan ongkosnya hanya tiga belas ribu kembaliannya masih sangat banyak untukku.
"Apa ngga kebanyakan Vi?" Kataku, namun ternyata Vivi sudah berada di depan pintu rumahnya.
Tanpa banyak berfikir aku berkata," Makasih banyak Vi." Ia tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Aku bergegas memutar arah agar bisa cepat-cepat keluar dari pemakaman itu, namun ditengah-tengah jalan motorku tiba-tiba berhenti. Aku langsung turun dan memastikan apa penyebab motorku tiba-tiba mogok begini, nihil semua mesin baik-baik saja bensin pun masih banyak. Aku berusaha mengotak-atik motorku barangkali memang ada yang luput dari pengawasan ku.
Aku teringat kata-kata pengemudi lain yang mengatakan kalo motor mogok tiba-tiba dan kelihatannya ngga ada yang salah, cobain puter balik kalo nyala berarti kita lagi dikerjain. Puter balik lah aku dan ku nyalakan motorku, dan ya menyala.
Ku coba lagi untuk keluar dari sana, namun lagi-lagi motorku mati di tengah jalan. Aku sangat bingung karena tak ada siapapun yang lewat. Pusing rasanya seperti tak ada harapan, aku melihat sekeliling pun percuma saja tak ada siapa-siapa disana. Langit mulai gelap, takut sekali rasanya tak sengaja aku melirik ke arah spion ku lihat ada seorang perempuan berambut panjang yang berantakan dengan baju putih lusuhnya sedang menatap kearah ku. Buru-buru aku menutup mata sambil mengalihkan pandanganku sialnya, saat aku membuka mata dia sudah ada di hadapanku. Perasaan ku tak karu-karuan aku berteriak dan tancap gas ke arah rumah Vivi.
Aku tak peduli dia akan mencap ku aneh, gila atau apapun. Dia sudah berjanji akan membantuku bukan? Namun saat sampai ke rumah Vivi yang tadi ku antar. Rumah yang tadi aku lihat itu sudah tak ada, berganti menjadi kuburan yang masih basah batu nisannya bertuliskan Vivi. Mataku membelalak tak percaya, badan ku gemetaran, otak ku tak bisa mencerna semua ini sekaligus namun yang pasti naluri ku berkata untuk kabur dari sana. Aku langsung tancap gas dan untungnya motorku tak mogok lagi.
Sepertinya Vivi menepati janjinya untuk membantuku. Fun fact sesampainya di rumah aku membuka uang yang diberikan oleh Vivi dan syukurlah uang itu tak berubah menjadi daun."
"Itulah cerita dari Kang Nando temen-temen, selalu seru ya dengerin pengalaman horror dari pengemudi ojek online pasti ada aja pengalaman nya, cukup membuat bulu kuduk berdiri dan jantung berdebar. Terimakasih kepada Kang Nando sudah berkenan untuk menceritakan ceritanya dan mengizinkan kami untuk menceritakan kisahnya disini. Tak terasa sudah hampir 30 menit Tepi Senja menemani Baraya Kata ya. Untuk Baraya Kata yang ingin ceritanya diceritakan di Tepi Senja seperti Kang Nando bisa langsung mengirimkan cerita ke email kita
Soratepisenja@gmail.com terimakasih sampai ketemu lagi minggu depan, Assalamualaikum."
__ADS_1
Sienna mematikan microphone dan melepaskan headphone nya. Sienna langsung mengangkat tangannya dengan semangat disambut dengan baik oleh Luan, mereka sangat senang karena siaran pertama mereka berdua sukses tanpa gangguan.