
Udara pagi yang begitu segar, suara kicauan burung terdengar riang mengawali hari. Hilir mudik siswa/i menuju taman sekolah membawa alat kebersihan, kegiatan yang rutin mereka lakukan pada hari Jumat pagi satu jam sebelum memulai pembelajaran. Pagi itu giliran kelas X - TKJ 2 dan X - TKJ 3 yang merupakan kelas Sienna, Talia dan juga Luan yang membersihkan taman sekolah. Sementara kelas X lainnya membersihkan area sekolah yang berbeda, sedangkan kelas XII membersihkan ruang kelas mereka.
"Na, liat deh dari tadi mereka ngeliatin kita." Talia menarik-narik lengan Sienna.
"Perasaan kamu aja kali, Li." Sienna menyapu daun-daun kering yang berjatuhan.
"Perasaan gimana sih Na, liat dulu dong itu nunjuk-nunjuk kesini sambil bisik-bisik." Sanggah Talia sedikit menaikan nada bicaranya. Sienna tersenyum kecil sambil menaikan kepalanya, "Iya, iya."
Benar saja dilihatnya segerombolan siswi kelas X - TKJ 2 sedang berbisik sambil menunjuk kearah mereka. Sienna merasa aneh karena dia merasa bahwa dia tak memiliki masalah apa pun dengan mereka bertanya, "Kamu punya masalah gak Li sama mereka?"
"Gak lah Na, aku kan cinta damai. Kamu kali." Talia justru melemparkan pertanyaan itu kembali padanya.
"Apalagi aku Li, mereka temen sekelas Rigel sama Luan kan ya?" tanya Sienna.
"Iya Na, tuh Luan lagi nyapu disana." Kata Talia sambil menunjuk Luan yang sedang menyapu di dekat wastafel batu.
"Yaudah, kita samperin yuk." Sienna menarik tangan Talia.
Saat melihat Sienna dan Talia mendatanginya Luan tampak terkejut. Ia menghentikan aktivitasnya sampai mereka sampai.
"Kenapa?" Luan bertanya kepada Sienna dan Talia dengan nada datar.
"Mereka temen sekelas kamu kan?" Tanya Sienna sambil memajukan tangannya ke arah mulutnya sambil menatap kearah gerombolan siswi itu. Luan mengangguk, "Udah denger?" tanya Luan.
"Denger apa Luan?" Sienna kebingungan dengan pertanyaan yang diajukan oleh Luan.
"Mereka semua udah tau soal kejadian kemaren." Kata Luan sambil mulai menyapu lagi. Talia dan Sienna saling melempar pandang.
"Maksudnya?" Talia memastikan apa yang ia dengar.
"Iya mereka udah tau soal Rigel yang jatoh dari tangga kemaren." Kata Luan datar.
"Kok bisa sih?" Talia mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ya orang si Rigel nya sendiri yang cerita." Luan berbicara sambil mengumpulkan daun daun kering yang di sapunya. Sienna dan Talia keheranan hingga tak sadar membuat ekspresi kebingungan yang begitu jelas.
"Kalian gak liat Rigel kan hari ini? Rigel gak bisa jalan, keseleonya parah banget. Dia izin di grup kelas, dan ceritain yang dia alami kemaren dan ya, kita jadi bahan omongan mereka." Jelas Luan panjang lebar.
"Liat tuh, mereka lagi ngomongin kita." Luan menunjuk ke arah gerombolan siswi itu. Sienna dengan cepat menurunkan tangan Luan dan tersenyum canggung ke arah mereka. Bel berbunyi pertanda jam pelajaran pertama akan segera dimulai.
Itu artinya mereka harus berpisah, kembali ke kelas mereka masing-masing.
Jam pelajaran pertama X - TKJ 3 hari ini adalah Bahasa Indonesia. Mata pelajaran kesukaan siswa/i karena gurunya terkenal ramah dan menyampaikan materi pembelajaran dengan menyenangkan sehingga mudah dipahami.
"Sienna, Ibu boleh minta tolong diambilkan buku paket untuk kegiatan pembelajaran kita hari ini?" Bu guru mendekati meja Sienna dan meminta bantuan dengan lembut. Sienna langsung mengangguk, sebenarnya ia sudah menunggu-nunggu permintaan tolong itu. Memang Sienna sangat senang berjalan-jalan jadi permintaan tolong itu sama sekali tidak membebani Sienna justru membuatnya bahagia.
"Li, mau ikut?" Sienna memutar badannya kebelakang untuk mengajak Talia.
"Mau, pengen jalan-jalan." Talia keluar dari mejanya.
Letak perpustakaan di sekolah mereka memang terletak agak jauh dari kelas mereka tepatnya ada di sebrang pos satpam dekat gerbang sekolah mereka. Mereka berjalan dengan gembira. Ketika sudah selesai mengambil buku paket dan mencatatnya di daftar buku pinjaman, mereka membagi dua buku paket itu.
"Ayo Li." Sienna mengajak Talia sambil mengangkat buku paket yang menutupi tubuh mungilnya itu. Tak terdengar jawaban dari Talia, Sienna kira Talia mengikutinya dari belakang.
"Oh iya makasih ya dek." Baru saja Sienna ingin berterima kasih kepada anak itu ternyata anak itu sudah tidak ada disampingnya. Saat tengah kebingungan itu Talia bergegas menghampiri Sienna.
"Aduh Na, maaf ya aku baru inget kalo topi aku ilang. Jadinya mumpung kita kesini, aku beli deh sekalian. Aku kira kamu udah duluan, ternyata kamu nungguin aku ya," ucap Talia panjang lebar.
"Tadinya sih aku gak nyadar kamu ketinggalan, tapi tadi ada anak kecil yang ngasih tau," jelas Sienna.
"Hah anak kecil? Ngasih tau apa?" Talia keheranan mendengar penjelasan Sienna.
"Iya, tadi ada anak kecil ngasih tau kak temennya ketinggalan, tapi pas aku mau bilang makasih anaknya udah gak ada." Kata Sienna sambil terus melangkah.
"Jangan-jangan itu hantu Na, aku pernah denger cerita soal hantu anak kecil disekolah kita, katanya emang suka main, keliling di sekitar area perpustakaan sampai taman sekolah." Talia mulai ketakutan.
"Hus, Siapa tau itu anaknya Ibu penjaga perpustakaan atau anak siapa kali, lagian kalo baik gak apa-apa kali Li." Sienna mencoba mengubah arah obrolan supaya sedikit lebih ringan.
__ADS_1
"Tapi Na, mereka belum menikah ataupun punya anak lagi pula jarang ada guru yang bawa anaknya kemari."
Tak terdengar lagi obrolan dari mereka berdua, sepanjang jalan menuju kelas mereka berjalan dengan lebih cepat. Karena hari Jumat jam istirahat kedua pun diundur setelah Salat Jumat dan keputrian selesai. Sebagai kelas X Sienna dan Talia wajib mengikuti kegiatan keputrian yang diadakan di gedung olahraga sekolah, memang letaknya sedikit jauh dari gedung pelajaran sehingga banyak siswi yang memilih untuk membolos.
Setelah keputrian usai Sienna buru-buru menuju kantin karena ia tahu pasti selepas Salat Jumat kantin akan menjadi penuh sesak karena para lelaki berbondong-bondong kesana.
Saat sedang asyik makan di meja kantin ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ia mencoba mengamati sekitarnya, namun tak menemukan siapapun.
"Buset Na, fokus banget makan nya dari tadi aku panggil ngga nengok-nengok." Max duduk disamping kanan Sienna sambil membawa semangkuk bakso.
"Ngagetin aja kamu Max, orang aku laper. Aku kira kamu gak akan ke kantin soalnya kamu gak bales chat aku." Sienna menjelaskan sambil menyeruput mie ayam. Sejujurnya Sienna merasa kaget atas kehadiran Max yang muncul secara tiba-tiba, kemudian Sienna teringat akan kejadian yang menimpanya pagi ini. Mungkinkah ia salah dengar atau salah lihat?
"Sembarangan aku bales tau, tapi kamu gak baca-baca. Jadi aku langsung otw kesini deh, gila cape banget." Max menyanggah Sienna sambil mengipasi dirinya dengan tangannya.
"Hehe, maaf ya Max. Kamu mau minum apa biar aku beliin." Sienna menawarkan tawaran tersebut kepada temannya karena melihat temannya sama sekali tak membeli minum.
"Es jeruk kalo boleh." Max tertawa malu-malu.
"Boleh, aku beliin ke dalem dulu ya." Sienna bangun dari duduknya, memesan es jeruk untuk max dan membeli beberapa cemilan untuknya. Disana Sienna tak sengaja mendengar obrolan siswa/i lain yang sedang membicarakan siaran yang ia buat bersama teman-temannya. Ia tak bisa mendengarkan cerita itu secara lengkap karena es jeruk pesanannya sudah jadi, tak ada alasan baginya untuk terus berada disana.
"Nih Max es jeruk nya." Sienna meletakkan es jeruk di hadapan Max yang tengah mengunyah bakso dengan lahap. Max mengangguk dan menelan makanannya terlebih dahulu.
"Eh Na, kamu udah denger rumor soal ekskul penyiaran?" tanya Max dengan tatapan ingin tau.
"Rumor? rumor apa?" Sienna penasaran.
"Kata orang-orang sih setiap orang yang mencoba menghidupkan kembali ekskul penyiaran, mereka akan terkena bala. Buktinya siaran kalian kemarin, emang kalian siaran apa sih kemarin? Aku kemarin kerkom jadi gak bisa dengerin." Max bersungguh-sungguh.
"Ya ampun begitu banget sih rumornya. Kemarin memang temanku jatuh dari tangga pintas sehabis siaran terus kakinya keseleo Max, tapi masa sih karena itu? Kemaren kita menceritakan ulang thread horror dari burung biru. Kamu bisa dengerin besok di aplikasi voice, namanya Tepi Senja Max." Sienna menanggapi Max sembari sedikit promosi.
"Gila sampe keseleo, itu kan tangganya pendek. Besok pasti aku dengerin deh penasaran banget aku sama siaran kalian." Max terlihat sangat antusias mendengar hal itu.
Kalo aja Max tau apa penyebab Rigel jatuh pasti tambah heboh.
__ADS_1
Sienna mengangguk, "Ajakin juga dong temen-temen kamu buat dengerin siarannya." Max mengangguk dan mengacungkan jempolnya ia terlihat sangat riang dan bersemangat.