
🌴🌴🌴
"Mas, kira-kira ini di mana ya?"
"Entah. Mungkin di pulau kecil dekat Australia atau Papua." Mas Rimba melepas kemeja putihnya yang sekarang bewarna coklat dan penuh pasir.
Tubuhnya yang berotot dan kekar membuatku memalingkan wajah. Tanpa bisa kutahan wajahku bersemu merah. Sedangkan Mas Rimba cuek-cuek saja bertelanjang dada. Pria dewasa itu mengambil ranting pohon yang panjang dan mulai mencari-cari sesuatu di antara puing-puing pesawat yang ikut terdampar di sekitaran pantai.
"Kenapa diem aja? Katanya mau survived?" Teriak Mas Rimba dengan berkacak pinggang. Ya ampun, baru beberapa menit lalu pria itu terlihat lemah tak berdaya, kenapa sekarang sudah segar bugar begitu sih?
"Sabar.. aku lagi laper mas. Lemes banget." Sahutku tanpa berusaha mendekat. Tapi aku memang lapar.
"Ya sudah, diam di sana. Biar Mas yang cari makanan." Balasan Mas Rimba membuatku bersemu. Entah kenapa kami seperti sedang memainkan sebuah film romantis yang mana aktornya sedang berjung mati-matian untuk hidup pasangannya.
Halu. Astaga.. dasar otak perawan.
"Hehe." Setidaknya pikiran ini mengalihkan segala kekhawatiran dan ketakutanku.
Beberapa saat kemudian Mas Rimba datang membawa kerang-kerangan dan beberapa ikan kecil yang ia bungkus dengan kemeja putihnya yang tak lagi putih.
"Gimana cara makannya, mas?" Tanyaku bingung.
"Ya dimakan aja. Tidak ada cara lain. Yang penting ada sesuatu yang masuk ke perut kita."
"Tapi..." Aku menatap ikan-ikan kecil yang sudah mati itu dengan gejolak di perut. Mual.
"Aku nggak bisa makan ikan mentah, mas." Kataku merasa bersalah. Takut membuat usaha Bang Rimba tampak tidak kuhargai.
"Ini satu-satunya cara untuk survived sekarang. Besok kita coba masuk hutan, cari buah-buahan dan kalau beruntung, kita bisa menemukan penduduk pulau ini." Mas Rimba ikut bersila denganku di atas pasir. Menatap ombak lautan yang masih bergulung-gulung dengan ganasnya.
"Makasih mas.." aku mengambil kerang yang bentuknya seperti piring. Mencoba membukanya. Susah.
"Ck." Mas Rimba berdecak, namun tangannya mengambil alih kerangku dan membukakannya untukku.
"Makasih lagi mas." Aku tersenyum dan memulai makan kerang mentah di tanganku.
Aku mengernyit, merasakan tekstur kenyal dan lendir yang bersatu membuatku ingin muntah.
"Segitunya nggak doyan?" Mas Rimba menatapku tajam.
"Iya mas.. aku jijik."
"Kalau kamu makannya gini?" Mas Rimba menarik tengkukku lalu menyambar kerang di tanganku dan memasukkannya ke mulutku dengan mulutnya.
Mataku membelalak, tidak menyangka dengan aksi Mas Rimba yang ajaib ini.
__ADS_1
"Uhmmm.."
Lidah Mas Rimba mendorong kerang mentah menggunakan lidahnya. Mau tak mau akupun menelannya. Bibir Mas Rimba yang kenyal dan penuh membuatku terhanyut dalam ciumanya yang dalam. Ini adalah ciuman versi dewasa pertamaku.
"Mmas.. sudah." Aku mendorong dada Mas Rimba menjauh, namun hal itu membuatku tersadar aku sedang menyentuh dada bidang pria dewasa 35 tahun yang bidang dan berbulu.
Perutku kembali mulas, namun karena alasan lain.
"Kenapa?"
"Kenapa mas cium bibir aku?" Tanyaku polos dengan nafas terengah-engah.
"Supaya kamu lebih termotivasi makan seadanya." Jawab Mas Rimba datar. Lalu berdiri menuju tepian pantai, kembali mencari benda-benda yang masih berguna.
Aku menyentuh bibirku yang sedikit membengkak.
Ya ampun... Aku ciuman sama kakak sahabatku sendiri.
****
"Menurut Mas Rimba sekarang kita lagi dicariin nggak?"
"Mungkin."
"Kalau mereka nyariinnya nggak sampai ke sini gimana, mas?"
"Ya sudah, kita survive di sini aja sampai meninggal." Ucap Mas Rimba enteng.
"Amit-amit mas.. aku belum nikah loh ini. Mas kok udah mikir skenario paling jeleknya aja sih?" Tukasku tak terima.
"Memangnya Mas Rimba nggak pengen nikah, udah 35 tahun loh Mas." Tanyaku iseng. Menurut Aurora dulu saat cerita, kakaknya ini enggan menikah sampai Aurora duluan yang nikah. Well.. ini karena orang tua keduanya sudah meninggal saat aurora SD, dan Mas Rimba lah yang selama ini menghidupi Aurora. Makes sense sih.
"Nggak sopan, nanya-nanya nikah ke orang dewasa!" Sungut Mas Rimba tanpa melirikku.
"Apaan. Emangnya aku belum dewasa juga sampai dibilang nggak sopan?"
"Iyalah. Mana ada wanita dewasa yang masih memakai miniset?" Balas Mas Rimba dengan senyum asimetris. Aku tertohok.
Tadi sore Mas Rimba memaksaku berganti pakaian dengan baju bersih yang ia temukan di dalam tas yang terdampar. Dan pria itu memaksa membantuku berganti pakaian. Sialan.
"Itu karena tete aku kecil, mas. Mubadzir kalau pakai BH." Sungutku kesal.
"See? Itu kamu aja masih masa pertumbuhan gitu, sok banget pengen dibilang dewasa." Pria itu tertawa.
Baiklah.. aku biarkan dia merasa menang kali ini.
__ADS_1
"Terserahlah.. sebahagianya situ aja." Aku manipiskan bibir.
Kalau gitu, dia tadi nyium anak kecil dong. Dasar pedofil. Aku kembali mengingat ciuman kami barusan.
"Baru kali ini ya, kita ngobrol lama." Kataku mengalihkan topik.
"Iyalah. Kan aku sibuk, nggak kayak bocil samping aku."
"Apa sih maaas... Ngatain mulu ah dari tadi." Aku mencubit pinggang Mas Rimba yang sudah terlapisi kaos hitam polos.
"Kan aku udah kerja. Emangnya apa yang bisa diobrolin sama bocah SMA kelas sebelas kayak kamu?"
"Iya juga sih.. tapi kan.. bisa tuh mas, basa-basi aja pas aku main ke rumahnya mas."
"Mas tuh cuek bangett.. udah kayak ngomong ama candi tau nggak tiap aku nyapa mas Rimba."
"Hahaha.. ada-ada aja kamu, Vi." Mas Rimba mengacak rambutku gemas.
Dih.
"Kamu nggak apa-apa kita tidur di tepi pantai gini? Mas belum berani bawa kamu masuk ke hutan karena kita masih belum lihat ada apa di dalam sana." Mas Rimba menatap ke arah rimbunan semak dan pohon kelapa yang tampak masih lebat dan tidak pernah terjamah manusia. Dengan kata lain, tampaknya pulau ini adalah pulau yang masih perawan. Saat siang tadi sih biasa aja, tapi pas dilihat malam-malam begini jadi kerasa mencekam sekali. Seperti ada sosok yang menunggu kami di dalam sana.
"Iya mas, aku juga lebih tenang di sini. Siapa ntar malam ada kapal nelayan atau tim sar." Kataku menenangkan mas Rimba yang masih tampak khawatir.
"Aku kira kamu anak manja yang cengeng." Mas Rimba mengalihkan topik, kembali membuatku mencebik kesal.
"Aku kira juga Mas Rimba hanyalah candi yang nggak akan mau ngomong sama aku." Balasku sambil menyandarkan kepala ke pundaknya.
Malam sudah semakin larut. Sejujurnya aku mengantuk, tapi aku takut saat aku tertidur ingatan tentang kecelakaan itu kembali. Wajah panik Aurora masih terpatri jelas di benakku.
"Mikirin apa?" Bisik Mas Rimba. Kini ia membawaku rebahan di atas baju-baju kering yang kami temukan.
"Mikirin Aurora. Keluargaku. Entahlah."
"Aurora pasti selamat." Gumam Mas Rimba menenangkanku, entah untuk dirinya sendiri.
"Mas, dingin." Bisikku seraya mendongak. Saat berbaring seperti ini wajahku berhadapan dengan dadanya.
"Sini." Mas Rimba membuka lengannya yang dari tadi terlipat.
Aku segera menenggelamkan wajahku di lehernya. Mencium aroma air laut dari tengkuknya, karena kami belum menyentuh air bersih sama sekali sejak siang tadi.
"Aku bersyukur, tidak sendirian saat terdampar di sini."
"Aku juga." Mas Rimba mengetatkan pelukannya sebelum perlahan kantuk mengambil alih kesadaranku.
__ADS_1
***