Terdampar

Terdampar
Let's Move!


__ADS_3

"Mas lagi apa?"


"Bikin pisau."


"Bisa?" Aku mendekat ke tempat Mas Rimba berada. Pria itu nampak serius berkutat dengan sampah alumunium yang ia temukan di pesisir pantai.


"Seharusnya bisa." Mas Rimba tidak terusik sama sekali dengan kehadiranku, dia tetap sibuk menempa alumunium sebesar lengan itu dengan batu.


Aku mengangguk saja. Tidak ingin mengganggu Mas Rimba, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di pesisir pantai. Siapa tahu aku menemukan sesuatu yang berguna.


"Jangan jauh-jauh." Seru Mas Rimba.


"Iya."


Aku melambai ke arah Mas Rimba sambil tersenyum lebar. Ah, dia tidak sedang menatapku. dengan menghentakkan kaki, aku membasahi kakiku yang telanjang dengan air laut yang sudah terasa hangat karena siang hari.


kruyuukkk.


Oh iya, tadi pagi aku belum sarapan dengan layak. Hanya menyantap daging buah kelapa muda yang jatuh dari pohonnya. Aku tidak mau makan daging ikan mentah seperti Mas Rimba. Untuk minum, kami meminum air hujan yang kutadah semalam.


Dalam kondisi seperti ini, aku jadi ingat video youtube yang pernah kutonton. Dalam video itu seorang youtuber menjelaskan cara bertahan hidup saat terjebak di pulau tak berpenghuni. Yaitu membuat tanda S.O.S.


Mengapa baru terpikirkan sekarang?


Kuedarkan pandanganku ke arah pepohonan. Dengan penuh semangat aku segera mengumpulkan ranting kayu, bebatuan dan sampah apapun yang kutemukan. Baru kali ini aku merasa ada hikmahnya sampah yang terdampar di bibir pantai.


Aku tersenyum kecil melihat hasil karyaku. Tulisan S.O.S raksasa membentang di atas pasir. aku sengaja membuatnya agak dekat dengan pepohonan karena takut terbawa air pasang dan tersapu hujan.


Ya Tuhan, semoga dengan ini kami bisa segera diselamatkan. Amin.


"Wow." Sebuah suara mengagetkanku. Pria 35 tahun yang mendadak menjadi sangat dekat denganku itu menatapku takjub. Aku

__ADS_1


"Sudah beres, Mas?" Tanyaku mengalihkan perhatian Mas Rimba yang masih menatapku intens, membuat rona merah menjalar dari pipiku.


"Sudah. Mau kita pergi sekarang?" Tanya Mas Rimba kembali pada mode serius. Pagi tadi kami sepakat untuk masuk ke hutan, mencari tempat berlindung dan sumber air. Karena tidak mungkin kami terus bertahan di sekitar pantai yang minim sumber makanan dan air bersih.


"Okey."


"Violetta Hacika Narendra..." Mas Rimba menyebut nama lengkapku untuk pertama kali. Aku tidak bisa menahan jantungku yang berdebar kencang. Menebak apa yang akan dikatakan Mas Rimba selanjutnya.


"Setelah ini, Mas yang akan melindungi kamu meski nyawa mas taruhannya." Mas Rimba meraih tanganku. Lalu menautkan jari-jarinya di sela jemariku.


"Mas ngomong apa? Kita akan bertahan hidup sama-sama. Taruhan dosa tahu." Ucapku dengan membenamkan diri di pelukan Mas Rimba.


"Aku cuma mau bilang aja, karena kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di hutan nanti."


***


"Mas.. ada gua!" Pekikku girang saat melihat sebuah batu besar yang membentuk lubang secara alami. Meski tidak sepenuhnya tertutup karena lubang tersebut tembus hingga ke sisi lainnya, batu tersebut kurasa cukup menjadi tempat berlindung kami dari terik dan hujan. Apalagi tidak jauh dari sana, kami sudah menemukan aliran sungai kecil yang menuju ke lautan.


"Tunggu." Mas Rimba lebih dulu mendekati lokasi batu tersebut untuk mengecek kondisi. Aku menunggu tidak jauh dari sana dengan membawa barang-barang temuan yang masih berguna. Tak lama, Mas Rimba berlari ke arahku. Wajahnya nampak sumringah.


"Mas Rimba kok bisa yakin kalau tempat ini aman untuk kita bermalam?" Tanyaku sambil melihat-lihat. Mas Rimba sudah meletakkan barang-barang kami di dekat dinding batu.


"Mas belum begitu yakin tempat ini bisa menjadi tempat tinggal permanen kita atau enggak. Tetapi Mas bisa bilang kalau tempat ini cukup aman untuk kita bermalam. Mas tadi ngecek ada lubang-lubang mencurigakan di sekitar sini atau nggak. Takut di sini ternyata rumah ular." Mas Rimba membantuku melepas lapisan-lapisan baju yang sengaja kupakai agar bisa meminimalisir barang yang harus kubawa dengan tangan kosong. Karena ya, kami tidak memiliki tas yang layak pakai. Tas yang kami temukan sebelumnya sudah robek di segala sisinya.


"Kamu berani, mas tinggal sendiri? Mas mau cari makanan dulu dekat sini."


"Aku nggak boleh ikut?"


"Nggak. Mas tahu kamu capek dan kelaperan. Dari pagi kamu belum makan dengan benar."


Ucapan Mas Rimba membuatku tersentuh. Belum pernah ada sebelumnya seorang cowok yang mengetahui kondisi dan keinginanku tanpa aku mengatakannya. Bahkan keluargaku sekalipun. Jika kupikirkan lagi, sepertinya keluargaku tidak takkan peduli dengan nasibku sekarang. Ayah Ibuku terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka sebagai diplomat dan adikku sekarang sedang menempuh student exchange di Korea Selatan. Mengingat fakta itu, mataku jadi berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Hm?" Mas Rimba mengangkat daguku dengan kedua tangan. Matanya menelisik ke kedalaman mataku yang sudah berair.


"Hiks.. tiba-tiba ingat keluargaku, Mas. Aku nggak tahu apakah mereka sekarang sedang cemas mendapati hilangnya aku, atau justru tidak peduli. Hic." Suaraku bergetar.


Mas Rimba mengelus pipi dan mengusap air mataku sekilar lalu menarikku ke dalam pelukannya. Sepertinya aku mulai terbiasa dengan pelukan Mas Rimba.  Karena tanganku langsung melingkari tubuhnya. Melampiaskan segala kekhawatiranku di dadanya yang bidang.


''Mereka pasti sedang cariin kamu, Violetta. Percaya sama Mas." Bisik Mas Rimba di telingaku. Suaranya yang rendah dan serak membuatku bergetar. Bukan karena merasa dipedulikan oleh Kakak sahabatku, tapi karena dia adalah Mas Rimba. Pria 35 tahun yang membuatku jatuh cinta. Lagi.


***


Aku mengenal Mas Rimba sejak aku kelas 6 SD, saat itu aku datang ke rumah Aurora sekelas untuk melayat karena orang tua Aurora meninggal karena kecelakaan lalu lintas.


Pada saat itulah aku jatuh cinta pertama kali dengan kakak Aurora yang terlihat tampan dan dewasa mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Semenjak aku merasa yakin menyukai kakaknya Aurora, aku pun jadi dekat dengan gadis itu dan sering bermain ke rumahnya. Mencuri pandang saat pria itu menyapa adiknya dan mengelus rambut Aurora dengan kasih sayang. Jujur, hal itu membuatku iri setengah mati. Apalagi sikap Mas Rimba yang cenderung dingin kepada siapapun selain adiknya. Membuat perasaan sukaku pada pria itu memudar seiring aku tumbuh hingga lulus SMP.


Namun, pudarnya perasaanku untuk Mas Rimba tidak lantas membuat hubunganku sebagai sahabat Aurora merenggang. Kami justru semakin akrab karena Aurora memiliki ketertarikan yang sama denganku dalam bidang seni tari. Kami berdua tergabung dalam klub cheerleaders yang sama dan sering membuat cover dance bersama lalu menguploadnya ke youtube.


"Mas nemu pohon pisang." Mas Rimba menenteng satu tandan pisang bewarna hijau.


"Belum mateng ya mas?"


"Udah. Ini memang pisang ijo." Mas Rimba turut bersila di hadapanku.


"Makasih ya Mas Rimba." Aku mengecup pipi Mas Rimba sekilas. Semenjak terdampar berdua dengannya, aku jadi doyan skinship dengan pria ini.


"Sama-sama." Mas Rimba tersenyum tulus. Ganteng banget. Apalagi rahang Mas Rimba yang biasanya mulus, kini mulai terlihat jambangnya meski tipis.


Dengan bahagia aku segera mengupas pisang yang dibawa Mas Rimba lalu melahapnya.


"Pelan-pelan aja makannya." Mas Rimba terkekeh melihat cara makanku yang rakus. Bisa jadi di matanya aku terlihat seperti monyet yang belum makan seminggu.


"Mas juga makan, dong."

__ADS_1


"Iya, nanti. Mau lihat kamu kenyang dulu." Ughhhh... kenapa kakak sahabatku berubah jadi manis banget gini sih??


***


__ADS_2