
“Istirahatlah,” ucap Gara. Lalu ia beranjak keluar meninggalkan Adelia. Pintu kamar tidak ia kunci.
Gara kembali ke gudang ia melepaskan borgol yang ada di tangan dan kaki Dinda. Dinda jadi bingung, apakah Gara akan berbaik hati padanya dan melepaskannya? Tentu tidak.
Gara mengangkat tubuh Dinda membawanya keluar dari gudang.
Sampai di depan pintu rumah Gara menurunkan Dinda dari gendongannya. Pintu rumah itu terbuka lebar.
“Pergilah dan berlarilah sebisa mungkin,” ucap Gara. Dinda langsung berlari keluar dari kediaman Gara tanpa memikirkan Adelia. Ia menuju jalan pulang.
Gara mengambil sebuah panah. Ayah dan ibunya juga ikut. Begitulah cara keluarganya bersenang-senang, melepaskan mangsanya dan memburunya.
Jika mangsanya sudah mati maka mereka akan membawanya pulang. Bukan untuk di makan tapi di jadikan pajangan di ruang bawah tanah.
Ayahnya bernama Alex Erlangga dan ibunya bernama Gisel Mariana. Alex sudah siap dengan kapak besarnya dan Gisel juga sudah siap dengan cambuknya.
Mereka bertiga langsung pergi memburu Dinda dengan berjalan kaki, tidak mungkin mereka pakai mobil itu sangat curang dalam permainan mereka.
“Semoga dia sudah lari jauh,” kekeh Gara.
Dinda terus berlari menelusuri jalananan yang beraspal, tidak ada satupun seseorang atau mobil yang melintas. Sangat sepi.
“Aku tidak akan pernah bisa sampai ke rumah jika begini,” gumam Dinda.
“Aku harus bagaimana? Apa mereka serius melepaskanku atau mereka sedng merencanakan sesuatu?” Dinda jadi ragu ia terus berlari hingga ia berhenti karena kakinya tidak bisa digerakkan lagi.
Dinda rasa ia sudah cukup jauh dari kediaman iblis itu. Ia beristirahat sejenak sambil mengatur nafasnya yang dari tadi ngos-ngosan.
“SAYANG KAMI DATANG!” teriak Gara dari kejauhan sambil melambai-lambaikan tangannya.
Dinda terkejut melihat Gara berlari ke arahnya bukan hanya Gara tapi orang tuanya juga. Wajah Dinda jadi memucat lantaran mereka mengejarnya tidak hanya dengan tangan kosong melaikan membawa senjata.
Dinda kembali berlari sekuat mungkin, ia berteriak sangat keras meminta pertolongan.
“Siapapun tolong aku hiks ....”
Gara melepaskan anak panah dari busurnya. Anak panah tersebut mengarah ke Dinda.
Set!
Panahan Gara tepat sasaran. Anak panah itu tertancap di kaki kanan Dinda. Darah kental mengalir deras di kakinya, Dinda pun terjatuh.
“Akh ...,” jerit Dinda kesakitan. Ia berusaha mencabutnya.
“ARGG ... SAKIT!” teriak Dinda sambil mencabut anak panah yang menancap di kakinya. Akhirnya ia berhasil mencabutnya namun Gara dan orang tuanya semakin dekat.
Dinda merobek baju bawahnya dan ia ikatkan ke kakinya yang terluka. Lalu Dinda berusaha bangkit.
“TOLONG!” teriak Dinda.
“Percuma kau berteriak, tidak akan ada yang menolongmu,” ucap Gara.
“Tolong lepaskan aku hiks ...,” mohon Dinda.
Plaks!
Sebuah cambukan melayang ke tubuh Dinda.
“Akh ...,” jerit Dinda.
“Dikeluarga kami tidak ada yang namanya kasihan,” ucap Gisel. Lalu ia kembali mencambuk tubuh Dinda tanpa ampun.
Dinda tidak berdaya lagi, mulutnya mengeluarkan darah. Baju Dinda juga robek-robek dan tubuhnya penuh dengan luka.
“Sekarang giliranku,” ucap Alex.
Alex memotong kedua kaki Dinda dengan kapak besarnya. Dinda berteriak dan menjerit penuh kesakitan, sakit yang luar biasa. Darahnya mencurat ke mana-mana. Mereka sungguh keji dan lebih kejam dari serigala.
Set!
Gara menusuk jantung Dinda dengan anak panahnya. Dinda langsung kehilangan kesadarannya, ia menutup matanya selama-lamanya.
“Ayo kita bawa dia,” ucap Gisel.
*****
“A-aku harus pergi dari sini!” Adelia berusaha bangkit meskipun tubuhnya sakit-sakitan ia terus memaksa dirinya.
Adelia keluar dari kamar. Ia terus memaksakan dirinya untuk melangkah, mencari gudang. Mencari gudangnya bukanlah hal yang mudah, rumah Gara sangat luas dan besar. Seperti labirin.
“Ini gudang di mana, sih?” ucapnya sambil menatap ke satu pintu yang ada di ujung. Adelia melangkah ke sana, ia pikir itu adalah gudang dan Adelia masuk ke dalam. Anehnya pintu itu tidak terkunci.
“Dinda?” panggil Adelia. Ruangan tersebut sangat gelap tidak ada cahaya sedikitpun.
“Siapa kau? Beraninya masuk ke kamarku!” ucap seorang laki-laki, ia sangat marah karena telah menggangu tidurnya.
Lelaki itu bangkit dan duduk di tepi ranjang lalu ia menyalakan lilin dan diletakkan di atas nakas.
“Kemarilah!” perintahnya. Adelia sangat ketakutan, ia tidak bisa melihat orang yang ada di depannya itu lantaran gelap.
Apakah itu Gara? Tidak mungkin suaranya saja beda! Menurut Adelia.
“Maaf, telah menggangumu,” ucap Adelia.
“Aku bilang kemari!” geramnya. Kedua tangannya terkepal dengan kuat. Adelia melangkah maju menuruti perintahnya. Badannya sudah bergetar ketakutan.
“Duduk!” suruhnya lagi sambil menepuk-nepuk pahanya. Dengan berat hati Adelia duduk di pangkuannya, ia juga tidak berani menatapnya.
“Kau siapa?” tanyanya.
“A-a-ku a-aku!” Adeliat terbata-bata ia bingung harus menjawab apa.
“Ngomong yang jelas mau aku potong lidahmu?” Adelia langsung menggeleng.
__ADS_1
“Aku Adelia, tolong lepaskan aku hiks ... aku mau pulang,” mohon Adelia.
“Melepaskanmu? Itu tidak mungkin sebab kau terlalu cantik,” ucapnya sambil mengangkat dagu gadis itu agar dapat melihat wajah cantiknya. Mata elangnya bertemu dengan mata indah Adelia.
Adelia ingin bangkit tapi tangan kekar lelaki itu menahannya.
“Kau milikku,” ucapnya. Baru kali ini merasa tertarik untuk memiliki seseorang dan Adelia lah orangnya.
Adelia sontak terkejut. Adelia tidak mau terikat dengan keluarga iblis ini yang di pikirannya hanyalah kabur dari sini dan pulang.
“Aku Azora Erlangga,” ucapnya.
______
Kediaman Dinda ....
“Tante Dinda ada?” tanya Kania.
“Loh, dari tadi dia sudah pergi katanya mau jemput kamu,” ucap ibu Dinda.
“Hah? tadi Kania udah nunggu mereka di bandara tapi mereka gak muncul-muncul,” jelas Kania.
“Lah, terus mereka ke mana?”
Dari tadi Kania udah telepon mereka tapi gak ada yang angkat,” ucap Kania.
“Coba kita cek ke rumah Adelia dan Amel, siapa tau mereka ada di sana,” ajak Yanti, ibunya Dinda.
“Kebetukan aku bawa motor, Tante bisa bareng aku aja,” ucap Kania.
“Baik!” sahut Yanti. Lalu ia mengunci rumahnya terlebih dahulu.
Mereka berdua langsung pergi menuju rumah Amel.
Beberapa menit kemudian mereka sampai ke pekarangan rumahnya. Yanti turun dari motor Kania ia langsung memanggil pemilik rumah.
“Windi!” panggil Yanti sambil mengetuk-ngetuk pintu rumahnya.
“Iya sebentar!” sahutnya. Pemilik rumah tersebut membukakan pintu.
“Ehh, Yanti ada apa?” tanya Windi, ibunya Amel. Selain Amel dan Dinda beteman, ibu mereka juga berteman akrab.
“Amelnya ada?”
“Amel? Dia sudah pergi dari tadi,” jawab Windi.
“Amel pergi ke mana tante?” tanya Kania.
“Ehh, kamu bukannya Kania temannya Amel? Tadi Amel bilang dia mau pergi ke bandara jemput kamu,” jelas Windi.
“Begini, Wind. Kania cerita ke aku kalau mereka gak jemput dia di bandara, telepon juga gak diangkat-angkat,” ucap Yanti
“Kalau begitu aku yang coba telepon Amel.” Windi masuk ke rumahnya, ia mengambil benda pipih yang ada di meja. Ia mencoba mengubungi anaknya.
“Enggak diangkat juga! Aduh itu anak ke mana? Semoga aja tidak terjadi hal buruk,” ucap Windi.
“Kita tunggu sampai malam kalau mereka belum balik juga baru kita laporkan pada polisi,” ucap Yanti. Setelah itu Kania mengantar ibunya Dinda pulang ke rumahnya.
Windi dan Yanti mencoba setenang mungkin. Berharap hal buruk tidak menimpa pada anaknya.
______
Setelah membunuh Dinda, mereka mebawanya ke rumah. Gara yang mengangkat tubuh Dinda dan ayahnya membawa kakinya yang sudah terpisah.
Sampai di rumah, Alex dan Gisel membawa tubuh mangsanya ke ruang bawah tanah. Mereka akan memutilasi tubuhnya dan menjadikannya koleksi yang ke 100. Genap!
Gara pergi ke kamarnya untuk mengganti bajunya yang berlumuran darah. Soal memutilasi ia tidak ingin ikutan.
Ceklek!
Ia membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam. Lalu Betapa terkejutnya ia ketika melihat gadis yang ia cambuk tidak ada di kamarnya.
“Ke mana dia?” geram Gara tangannya mengepal sangat kuat. Salah sendiri kenapa tadi tidak mengunci pintu kamar? Bodoh!
Gara ke luar dari kamar dan ia melangkah menuju gudang akan tetapi langkah kakinya terhenti ketika mendengar suara perempuan di kamar kakaknya.
Azora Erlangga adalah kakaknya. Kakanya jarang keluar kamar, ia hanya keluar di jam makan dan selalu mengurung dirinya di kegelapan. Gara juga tidak terlalu akrab dengannya.
“Aku mohon lepaskan aku hiks ... aku mau pulang!” Suara di dalam sana. Gara sudah berada di depan pintu kamar kakaknya. Ia sangat marah lantaran suara perempuan itu adalah suara gadisnya. Gadisnya??
“Beraninya dia mengambil milikku,” geram Gara.
Brak!
Gara membuka pintu kamarnya dengan kasar. Pintu itu terbuka lebar.
“Beraninya kau masuk tanpa bilang permisi terlebih dulu!” Azora sangat marah.
Mata Gara menatap pada gadis itu, ia tengah berada di pangkuan Azora sambil terisak.
“Lepaskan dia! Dia milikku,” ucap Gara. Ia menarik tangan Adelia untuk bangkit dari pangkuannya. Azora tidak tinggal diam, ia melingkarkan kedua tangannya ke perut Adelia agar Gara tidak dapat mengambil miliknya.
“Jangan sentuh dia!” bentak Gara sambil memukul-mukul tangan Azora yang melingkar di perut Adelia.
Kepala Adelia berdenyut, ia merasa sangat pusing sekarang ini karena mencium bau anyir. Bau tersebut datang dari Gara, Gara belum mengganti bajunya.
Tubuh Adelia juga semakin sakit akibat mereka saling menarik. Adelia bagaikan barang yang diperebutkan.
“Ada apa ribut-ribut?” tanya Gisel yang sudah berada di depan pintu.
“Bun, Azora mengambil punyaku,” adu Gara.
“Azora, Gara lepaskan dia! Kalian ingat? Dikeluarga kita tidak ada yang boleh jatuh cinta pada mangsanya, kalian hanya boleh jatuh cinta pada wanita yang latar belakangnya sama seperti kita,” jelas ibunya.
__ADS_1
“Azora lepaskan dia!” perintah ibunya.
Azora melepaskan Adelia. Gara langsung menggendong tubuh Adelia membawanya pergi dari kamar kakaknya.
“Bun, aku mau makan dia malam ini,” ucap Azora. Kalau dia tidak bisa memilikinya maka Gara juga harus sama.
“Iya nanti dagingnya kita bakar!” ucap ibunya sambil mengelus pucuk kepala anaknya.
Gara membawa Adelia masuk ke dalam kamarnya, ia mendudukkan Adelia di kasurnya.
“Kau pasti lelah, kan? Istirahatlah!” ucap Gara. Adelia hanya diam, ia rasa hidupnya akan segera berakhir.
Gara masuk ke kamar mandi.
“Bagaimana caranya kabur dari sini?” Adelia menatap ke sekeliling kamar namun tidak ada yang namanya balkon, hanya ada jendela kecil.
“Jendela? Tidak!” Jendela tersebut sangat kecil tidak muat dengan badannya.
Selang beberapa menita Gara sudah selesai dengan ritual mandinya, ia keluar hanya dengan berlilitan handuk di pinggang. Adelia langsung pura-pura tertidur.
“Ck, aku harus mencambuknya sebanyak mungkin agar dagingnya tidak enak dan dia tidak akan jadi santapan dikeluargaku,” gumam Gara yang masih didengar Adelia.
Gara melangkah ke ruang ganti setelah mengambil pakaiannya di lemari.
'Lebih baik aku mati dari pada hidup dikeluarga iblis ini' batin Adelia.
Adelia bangkit dari tidurnya, lalu ia mengacak isi laci Gara, mencari sesuatu yang bisa melenyapkan nyawanya.
Dari pada dijadikan santapan lebih baik ia Mengakhiri hidupnya sendiri.
Adelia menemukan sebuah gunting. Gunting itu terlihat sangat tajam. Adelia mengarahkannya tepat di lehernya.
“Ini pasti akan sakit,” lirih Adelia.
“Satu ... dua ....” Adelia mulai menghitung. Tapi belum sempat mengucapkan angka tiga guntingnya sudah direbut terlebih dahulu oleh Gara.
“Apa yang kau lakukan?” geram Gara matanya menatap tajam pada Adelia.
Gara melempar gunting itu asal. Lalu ia mendorong Adelia sangat kuat hingga Adelia terjatuh ke kasur. Gara langsung menindih tubuhnya.
“Kau mau bunuh diri, hah?” Gara mencengkeram dagu Adelia.
“Hiks ... lepas s-sakit,” ucap Adelia disela isaknya.
“Berhentilah menangis!” bentak Gara sambil melayangkan tangannya.
Plak!
Gara menampar wajah Adelia sangat kuat. Wajah Adelia memerah dan nyeri. Gara memang kasar dan kejam beda dengan sikap Azora yang lembut.
“Apa masih kurang?” tanya Gara.
“Hiks ... sakit Gara,” ucapnya dengan suara lemah.
Gara tertegun lantaran gadis itu memanggil namanya. Gara berhenti menindihnya, ia berbaring di sebelah Adelia, lalu ia membawa gadis itu ke dalam dekapannya.
“Tidurlah! Kau harus istirahat sebelum aku mencambukmu,” ucap Gara.
Adelia terdiam lalu ia memejamkan matanya. Gara ikut menyusul Adelia ke alam mimpi.
Beberapa saat kemudian Gara tertidur pulas tidak menyadari bahwa Adelia dari tadi hanya berpura-pura tidur. Adelia berusaha menjauhkan tangan kekar Gara yang menindihnya secara perlahan.
Setelah berhasil menjauhkan tangannya, Adelia bangkit dari kasur dan ia mengambil gunting tadi yang tergeletak di lantai.
Adelia memandang gunting dan Gara secara berulang-ulang. Apa yang akan dilakukannya kali ini?
Adelia kembali naik ke kasur. Ia memandang wajah damai Gara yang tengah tertidur.
“Dari pada hidup denganmu lebih baik kau yang mati hiks ....” Dia akan melenyapkan Gara tapi apakah bisa? Tangannya saja bergetar hebat.
Set!
Adelia menancapkan gunting itu tepat di perut Gara. Gara yang tadinya tidur jadi terbangun.
“Apa yang kau lakukan?” Gara melirik ke perutnya dan bajunya sudah berlumur darah.
Tubuh Adelia bergetar hebat karena baru pertama kali dalam hidupnya ingin melenyapkan seseorang. Gara terlihat santai dan tidak kesakitan sedikitpun.
“Kalau kau mau membunuhku kau harus memenggal kepalaku terlebih dahulu!” jelas Gara lalu ia mencabut gunting yang menancap di perutnya dan melemparnya ke dinding.
Membunuh Gara adalah hal yang mustahil! Dia tidak akan mati jika hanya ditusuk oleh gunting.
“Ma-m-maaf,” ucap Adelia terbata-bata, ia sedikit mundur dari hadapan Gara lantaran takut jika Gara akan murka.
Adelia melipat lututnya dan memeluknya erat, lalu menyebunyikan wajahnya di sana.
“Kau kenapa?” Gara tahu bahwa gadis ini sedang takut padanya.
“Hiks ... hiks ....” Adelia kembali menangis.
“Kenapa menangis?” Gara mendekatinya lalu ia memeluk tubuh Adelia dengan erat.
“Aku tidak akan memaafkanmu begitu saja!” ucap Gara.
Gara mencengkram rambut Adelia sangat kuat. Adelia kesakitkan dan minta dilepaskan.
“Akh ... sakit!” jerit Adelia.
“Sakit, kan? Kita impas!” Gara langsung tertawa, ia melepaskan tangannya dari rambut Adelia.
“Ambilkan kotak P-3K di laci,” perintah Gara.
Adelia hendak bangkit dari kasur tapi kepalanya sangat pusing dan ia pun jatuh pingsan.
__ADS_1
“Hei, bangun!” Gara menepuk-nepuk wajahnya namun dia tidak kunjung sadar.