
“Adelia kamu di mana?” Kania tidak bisa melihat apa-apa karena tempat tersebut terlalu gelap.
“Beraninya kau mengganggu tidurku!” geramnya yang tidak lain adalah Azora.
“S-siapa k-kau?” tanya Kania gugup.
“Seharusnya aku yang bertanya itu padamu. Kenapa kau masuk ke kamarku? Apa kau mau mati!” Azora paling tidak suka kalau tidurnya diganggu. Azora bangkit dari kasurnya, ia mendekat pada gadis yang telah menggangunya.
“Tolong lepaskan temanku hiks ...,” mohon Adelia, ia mengira kalau orang yang di depannya ini adalah lelaki yang membawa Adelia. Kania tidak bisa melihat wajah lelaki tersebut dengan jelas lantaran gelap.
“Kau memohon pada orang yang salah! Aku tidak tahu apa-apa tentang temanmu jadi pergilah selagi aku berbaik hati,” ucap Azora. Azora membantu Kania yang kesusahan untuk berdiri.
Kania baru sadar bahwa orang yang di depannya ini bukan lelaki tadi karena suara mereka berbeda.
“B-bisa tidak kau lepaskan borgol ini?”
“Kalau kau mau lepas dari borgol itu kau tinggal potong saja tanganmu dan kakimu,” ucap Azora enteng. Usulan yang bagus!
“Tidak usah,” ucap Kania. Kania langsung berbalik.
“Aku harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum dia berubah pikiran,” gumam Kania dalam hatinya.
Namun ketika ia hendak pergi, Azora menarik baju belakangnya dengan kuat hingga ia berhasil terjatuh ke belakang, tapi Azora menangkanya.
“Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja, hah? Tidak!” ucap Azora menyeringai.
Azora menggendong gadis itu, ia menutup kembali pintu kamarnya yang terbuka. Lalu mendudukkan gadis itu di atas kasurnya.
“K-kau mau apa?” Kania sangat ketakutan. Azora tidak menjawab pertanyaan dari Kania, tangannya meraih korek dan lilin yang ada di atas nakas, lalu ia menyalakan lilin itu.
“Siapa namamu?” tanya Azora. Di dalam kamar hanya ada cahaya redup dari lilin di tangannya. Kania dapat melihat wajah lelaki itu dengan jelas di depannya.
“K-kania,” jawabnya sambil menunduk takut.
“Hmm, nama yang bagus! Aku Azora Erlangga. Pasti adikku, kan yang membawamu ke sini?”
'Ohh, ternyata dia ini kakanya?' Kania membatin. Kania merasa bahwa setelah ini hidupnya akan habis di tangan lelaki yang ada di hadapannya.
“Adikku itu ternyata suka sekali ya membawa wanita cantik ke sini,” gumam Azora. Kenapa mangsa Gara selalu wanita? Karena menerutnya daging dan darah wanita lebih segar dan manis dibandingkan pria.
“Tadi aku sempat mendengar kau memanggil nama Adelia, apa dia temanmu?” Kania mengangguk.
“A-ku mohon hiks ... lepaskan kami!” Kania terisak, air mata mengalir sangat derah di wajahnya, memohon agar lelaki di depannya ini berbaik hati. Berbaik hati?
Azora menggelengkan kepalanya.
“Mine!”
Semalam Azora gagal mendapatkan Adelia tapi temannya boleh juga! Ditambah Kania sama cantiknya dengan Adelia.
__ADS_1
________
'Hening'
kata itulah yang mewakili pada Adelia dan Gara. Tidak ada satu kata pun yang terkeluar dari mulut Gara apalagi Adelia.
Adelia masih duduk di atas meja sambil menundukkan wajahnya ke bawah. Ia tidak berani menatap ke depan, karena di depannya ada Gara yang dari tadi menatapnya sangat dalam tanpa henti.
“Kenapa menunduk?” Gara mengangkat dagu Adelia dengan jari telunjuknya.
“A-aku mohon jangan siksa temanku! Sebagai gantinya kamu boleh siksa aku sepuasnya,” ucap Adelia yang dari tadi diam.
“Wah, aku tidak akan puas jika hanya menyiksamu. Bagaimana kalau aku siksa kalian berdua? Jadi adil, kan!”
“Apa kau tidak punya hati? Kau sekarang lebih mirip dengan iblis!” lontar Adelia, ia langsung menutup mulutnya karena perkataannya sudah keterlaluan.
Adelia berhasil membuat Gara marah. Kalau Gara tidak punya hati sudah dari kemarin ia menghabisi gadis di depannya ini.
Gara mengambil sebelah tangan gadisnya dengan kasar dan meletakkannya ke dadanya.
“AKU MEMANG TIDAK PUNYA HATI KARENA HATIKU SUDAH AKU MAKAN!” murka Gara, matanya menatap tajam pada Adelia.
Nyali Adelia menciut ia benar-benar salah kerena sudah membangunkan singa yang tertidur.
“Kau sudah membuatku marah,” geramnya, lalu ia mengeluarkan silet di saku celananya. Silet itu nampak sangat mengkilap dan tajam. Adelia samakin ketakutan. Apa yang akan dilakukan Gara kali ini?
“M-maaf,” sesal Adelia.
“Terlambat!” ucap Gara sambil mencengkeram dagu Adelia.
Gara langsung menggores kedua pipi Adelia dengan silet yang ada di tangannya.
“Akh ...,” jerit Adelia kesakitan. Darah kental mengalir deras di wajahnya.
“M-maaf Gara hiks ... hentikan,” ucap Adelia disela isaknya, ia menahan tangan Gara agar berhenti menggores-gores wajahnya.
“H-hentikan ... perih hiks ... hiks ....”
Gara menghentikan aksinya, ia memasukkan kembali siletnya ke dalam saku celana. Lalu ia menyesap darah yang ada di wajah Adelia dan meneguknya. Manis! Kata itulah yang dirasakan Gara saat ini.
“Aku ingin lebih banyak!” gumam Gara. Gara mengabaikan tangisan dan jeritan dari gadisnya. Ia menekan-nekan luka di wajah Adelia dengan kuku panjangnya agar darahnya kembali keluar.
“Hentikan hiks ... hiks ....”
“Kita tidak akan berhenti sampai di sini. Darahmu benar-benar nikmat, membuatku sangat ketagihan” bisik Gara di telinga Adelia. Ia kembali menyesap dan menjilat darah yang ada di wajah Adelia.
“Hiks ... hiks ... hiks!” Adelia semakin menangis.
“Behentikah menangis,” ucap Gara sambil membawa Adelia ke dalam dekapannya. Ia sudah menghentikan aksi gilanya itu.
__ADS_1
“Hiks ... perih!”
“Mau lagi?” tawar Gara.
“E-enggak,” tolak Adelia langsung. Orang di depannya ini sangat tidak normal dan lebih kejam dari psikopat. Adelia tidak ingin berlama-lama ada ditempat ini, ia harus memikirkan cara untuk kabur dari sini.
“Jangan pernah membuatku marah,” ucap Gara sambil mengeratkan dekapannya.
“M-maaf,” ucap Adelia. Seharusnya Gara yang mengatakan maaf, bukan Adelia. Gara kembali membawa Adelia ke kamarnya dengan menggedongnya, lalu ia mendudukkan Adelia di kasur miliknya.
Gara membuka lacinya dan mengambil kotak P-3K, lalu ia ikut duduk di kasur, behadapan dengan Adelia. Ia pun mulai mengoleskan obat ke wajah Adelia. Sesekali ia meniupnya agar rasa perihnya hilang.
“Apa masih perih?” tanya Gara.
“Iya,” jawab Adelia pelan nyaris tidak didengar.
“Hmm, sekarang kau terlihat lebih cantik dengan luka di wajah itu.” Cantik? Dia yang melukai dia juga yang mengobati.
“Aku ....” Gara ingin mengatakan sesuatu tapi lidahnya seakan tertahan.
“Aku ... membencimu!” Sial! Ingin sekali ia memotong lidahnya. Bukan kata itu yang Seharusnya ia keluarkan melainkan kebalikan kata benci, yaitu sayang!
Mau benci atau sayang. Adelia tetap tidak peduli karena yang dipikirkannya saat ini adalah kabur dan pergi jauh dari Gara dan keluarganya.
‘Aku juga membencimu, sangat membencimu ....’
Gara membantu Adelia untuk berbaring, dan menyuruhnya untuk istirahat. Lalu Gara keluar dari kamar tidak lupa mengunci pintunya dan ia langsung melangkah ke dapur.
Sampai di dapur, ia langsung memasakkan nasi goreng untuk Adelia. Ia tau kalau gadisnya hanya makan nasi putih sejak kemarin.
“Kau sedang apa, Nak?” tanya Gisel, ibunya. Ia menghampiri anaknya.
“Memasak nasi goreng, Bun,” jawab Gara.
“Buat gadis kamu ya?” tebak Gisel.
“Iya, Bun dia sejak kemarin hanya makan nasi dan air putih doang,” lirih Gara sambil mengaduk-aduk nasi yang ada di wajan.
“Jangan pernah merasa iba pada dia, Nak dan juga jangan jatuh cinta terlalu dalam, takutnya kau juga yang akan sakit nantinya,” pesan Gisel.
“Iya, Bunda!” sahut Gara. Lalu ibunya beranjak pergi meninggalkan Gara yang sibuk memasak.
“Hmm, nasi goreng ini kayaknya ada yang kurang. Apa aku campur aja ya dengan usus agar rasanya semakin nikmat?” gumam Gara. Sejenak ia terdiam dan menggeleng.
“Tidak! Dia pasti tidak mau memakannya,” gerutunya.
Gara meraba sakunya, mengambil silet yang tadi. Lalu ia langsung menggores-gores jarinya.
'Tes, tes, tes'
__ADS_1
Darah kental dari luka di jarinya sengaja ia teteskan di nasi yang digorengnya dan ia kembali mengaduknya. Bagaimana rasanya? Entahlah! Yang pasti sangat menjijikan.
“Aku yakin dia pasti suka,” kekehnya.