Terjerat Cinta Duda

Terjerat Cinta Duda
Terjerat Cinta Duda 21


__ADS_3

Aku menatap mereka satu persatu. Sampai cukup lama aku menunggu tawa mereka reda. Setelah suasana cukup tenang om Iwan angkat bicara, " kamu ini kenapa sih Zah? Cantik iya, manis iya, baik iya. Tapi yang mau melamar kamu semuanya duda. Dulu suami orang hadeh ..." Om Iwan masih tertawa sambil menggelengkan kepala.


"Emang kamu mau menikah dengan pak Indro? " Tante Lidya bertanya penuh selidik.


Aku bergidik ngeri membayangkan menikah dengan pria yang usianya sangat jauh dibawahku. Pak Indro seumuran dengan papa, lalu bagaimana bisa ia ingin melamar putri temannya sendiri.


Aku kembali mengingat momen-momen, dimana pak Indro adalah orang yang paling baik menerimaku di sekolah yang dipimpin olehnya. Begitu perhatiannya pak Indro padaku. Kupikir ia tulus karena sudah menganggap aku anaknya sendiri. Ternyata ada udang di balik bakwan eh salah, dibalik batu.


" Keputusan ada di tanganmu. Satu minggu lagi pak Indro akan datang kesini. Persiapkan jawabanmu dengan sebaik-baiknya." Pesan nenek padaku.


Masalah mas Amal belum selesai, masalah mas Andre sudah datang. Kini masalah jauh lebih besar lagi. Pak Indro akan melamarku.


Ya Allah... Apa salah ku hingga cobaan tiada habisnya menghampiriku.


Malam semakin larut. Namun mataku tak juga mau memejam. Pa, ma, Zahra rindu. Andai kalian masih ada pasti Zahra bisa berbagi cerita dengan kalian.


***********


Hari ini aku izin tidak masuk sekolah. Ada perasaan malas saat ingin bertemu dengan pak Indro dan mas Andre.


Bagaimana bisa mereka mempunya perasaan yang lebih yerhadapku? Sedangkan aku hanya menganggap mereka adalah teman. Terlebih terhadap pak Indro aku sudah menganggap beliau sebagai orang tua.


" Loh Zah, belum mandi? Emang gak sekolah?" Tanya tante Lidya.


" Mau izin aja satu hari ini tan, lagi malas."


" Takut ketemu pak Indro?" Tante Lidya mulai menggodaku.


" Apaan sih tan."


" Jangan cemberut nanti cepet tua kayak nenek mau?" Ucap tante Lidya sambil berlalu dari hadapanku.


*************


Waktu terus berputar. Tidak terasa ini adalah hari dimananaku memutuskan untuk memberi jawaban pada pak Indro.


Pak Indro sudah datang bersama keluarganya dan anak-anaknya. Apa beliau yakin jika aku akan menerima permintaan beliau. Anaknya yang paling kecil saja sama usianya dengan ku. Lalu bagaimana cara pemikiran pak Indro?


" Jadi bagaimana dik Zahra? Sudah siap memberi jawaban?" Tanya pak Indro penuh harapan.


Apa? Ia memanggil ku dengan sebutan dik. Lelucon seperti apa ini


Tidak sadarkah jika ia sudah berur fan mempunyai cucu.


Aku menarik napas panjang, " pak Indro, saya harap keputusan yang saya sampaikan nantinya tidak menyakiti keluarga terutama pak Indro."


" Maaf pak saya tidak bisa menerima lamaran bapak, karena salah satunya bapak asudah saya anggap sebagai orang tua saya sendiri. Bapak sudah saya anggap sebagai pengganti papa saya yang sudah tiada." Aku mecoba menyampaikan penolakanku secara lembut.


Aura diwajah pak Indro seketika berubah menjadi merah padam. Ia menatapku tajam. Ada kemarahan yang ia tahan.


" Tidakkah dik Zahra memberi saya satu kesempatan?" Ucap pak Indro sinis.

__ADS_1


Aku bergidik ngeri melihat pak Indro. Sengaja aku menunduk agar tidak melihat wajah pak Indro.


" Maaf pak Indro, itu adalah pilihan cucu saya. Saya harap pak Indro bisa menerima dengan hati legowo." Ucap nenek.


Tanpa kami duga, pak Indro vangkit dan menggebrak meja di hadapannya.


Brraak!


Sontak kami terkejut semua. Termasuk anak-anak pak Indro.


" Dasar wanita sombong." Ucap pak Indro marah.


Ia berhasil menarik jilbabku keras hingga aku terjatuh dari kursi.


" Auwwww..." Aku berteriak kesakitan karena sebagian rambutku ikut tertarik.


Om Iwan mendorong pak Indro keras hingga ia jatuh terjengkang kebelakang.


Tante Lidya langsung membantuku berdiri dan membawaku menjauh dari kebrutalan pak Indro.


" Pergi atau saya bawa anda ke kantor polisi!" Ancam om Iwan pada mereka.


Akhirnya anak-anaknya berhasil menyeret pak Indro keluar dari rumah kami. Om Iwan langsung menutup pintu dan mengunci.


Aku masih menangis di pelukan nenek dan tante Lidya. Begitupun tante dan nenek juga ikut menangis.


" Sakit?" Tanya nenek sambil mengusap kepalaku. Aku hanya menggangguk.


Aku masuk kedalam kamar. Aku masih merenung, mengapa jalan percintaanku tak pernah mulus? Usiaku kini hampir dua puluh empat, tapi tidak ada yang serius padaku.


Mas Erik hanyalah suami orang. Mas Andre lajang, tapi sukapnya begitu arogan. Mas Amal seperti tak serius, itu pun mantan istrinya masih mengancamku.


Malam ini aku tak tidur. Ku buka laptop dan aku berniat untuk membuat surat pengunduran diri. Jika aku tetap bertahan, keamanan ku disana tidak terjamin. Aku juga merasa trauma untuk bertemu langsung dengan pak Indro.


Surat pengunduran ku sudah selesai. Kumasukkan kedalam amplop. Maafkan Zahra, pa! Tidak bisa melanjutkan impian papa. Zahra juga yakin jika papa masih hidup papa pasti akan marah melihat teman papa berlaku kasar batinku dalam hati.


*************


Pagi ini aku sudah mandi. Namun aku tidak memakai baju dinas.


" Mau kemana?" Tanya nenek heran.


" Mau kerumah mas Amal."


" Ngapain?" Tanya nenek lagi.


" Mau titip surat pengunduran diri sama mas Amal,nek."


" Hati-hati!" Seru nenek.


Aku mengeluarkan sepeda motor dan melajukan kearah rumah mas Amal.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama untuk sampai dirumah mas Amal.


" Assalamu'alaikum.." aku mengucapkan salam.


" Waalaikumsalam..." Terdengar sahutan dari dalam rumah.


" Eh Zahra tumben pagi-pagi sudah datang. Ayo masuk!" Senyum ramah khas ibunya mas Amal.


" Mas Amal ada bu?"


" Ada sedang mandi. Ayo tunggu didalam." Ajak ibu mas Amal.


Aku pun masuk mengikuti ibu mas Amal ke dapur.


" Ibu sedang masak nasi goreng buat sarapan Amal, ibu sambil masak ya?"


" Silahkan buk! Zuwita belum bangun buk?" Aku mencari-cari sosok mungil nan menggemaskan.


" Tadi subuh ikut abinya bangun, di kasih susu eh malah lanjut tidur lagi." Ucap ibu mas Amal sambil tangannya sibuk membolak-balik masakannya.


Aku begitu kagum dengan rumah mas Amal, begitu rapi susunannya. Dapurnya pun begitu nyaman dengan perabot yang super lengkap. Aku yakin, ibunya mas Amal adalah orang yang sangat menjaga kebersihan.


Disaat aku sedang asyik mengamati rumah ini, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Tampak mas Amal yamg baru siap mandi dan keluar hanya memakai handuk setengah badan. Sementara dadanya di biarkan begitu saja.


Tatapan kami bertemu. Hingga aku membuang pandanganku karena malu.


Ada rasa bersalah karena mataku telah salah memandang.


Mas Amal buru-buru berlalu dari hadapanku.


Mungkin ia terkejut melihatku berada di rumahnya pagi-pagi.


Ibunya Mas Amar sedang menyusun makanan di meja makan, aku bingung apa yang harus kulakukan. Bagaimanapun rasanya tidak pantas aku bertamu di rumah seorang laki-laki, apalagi masih pagi.


Rasanya aku terlalu lama menunggu Mas amal untuk keluar dari kamarnya.


"Kita makan dulu ya Zahra. Makanannya sudah siap. Sebentar Ibu panggilkan Mas Amal dulu." Ibunya Mas Amal pun masuk ke dalam kamar.


Tak berapa lama Mas amal dan ibunya pun keluar menuju ke arahku.


Saat melihat penampilan Mas amal pagi ini, aku merasa kagum dengan ketampanannya.


Pantas saja Zuwita cantik, mungkin garis keturunan yang diturunkan oleh Mas Amal.


Mas Amal sudah duduk di hadapanku. Begitu juga dengan ibunya Mas Amal.


" Mas, maaf mengganggu pagi-pagi. Zahra mau titip ini." Aku mengeluarkan sebuah amplop putih dan memberikannya pada mas Amal.


" Apa ini?" Tanya mas Amal keheranan.


" Surat pengunduran diri." Jawabku lemah.

__ADS_1


__ADS_2