
Aku melemparkan handphone keatas kasur. Mau bertemu dengannya saja aku takut. Apa aku membawa teman saja ya? Mungkin pak Anwar bisa mengawasiku. Baiklah mas, aku akan menemui mu siang nanti.
Aku memejamkan mata untuk beristirahat menyiapkan tenaga sebelum berjumpa dengan mas Erik.
Siang menjelang, aku tengah bersiap.
Tok..tok..tok..
" Boleh masuk sayang..?"
Terdengar suara mama dari luar.
" Masuk ma..!" Teriakku dari dalam.
Krieet...
Pintu terbuka, wajah mama yang masih awet muda menyembul dari balik pintu, " Semakin hari semakin cantik aja sih kamu sayang.. apa sih rahasianya?" Tanya mama heran.
" Ya iya dong ma, Zahra kan rajin pakai Cosmetics, ma" Jawab ku dengan bangga.
" Terus manfaatnya B erl itu apa zah?" Tanya mama serius.
" cosmetics itu bisa membuat wajah kita glowing loh,ma. Dan mudah-mudahan setelah wajah zahra glowing,hati Zahra juga bisa bercahaya. Jadi cantiknya luar dan dalam deh ma." Jelas ku lagi.
Mama hanya manggut-manggut, " Eh sepertinya mama tertarik deh besok kamu beliin mama ya..!"
" Oke ma." Aku mengangkat jempolku ke udara.
***************
Kini aku siap bertemu dengan mas Erik. Setelah berpamitan dengan mama, aku dan pak Anwar pun berangkat.
" Pak, Zahra bisa minta tolong enggak?"
" Tolong apa non?"
" Zahra nanti mau ke kafe, tolong bapak awasi Zahra. Kalau kira-kira ada yang mencurigakan tolong bantuin Zahra." Pintaku pada pak Anwar.
" Siap non."
Hatiku sedikit lega. Setidaknya aku lebih aman dari kemarin.
Tak lupa aku juga membawa kemeja batik untuk acara wisuda nanti. Bagaimana pun juga aku masih berharap hubungan kami masih bisa di perbaiki. Aku sudah jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama.
Kami sudah sampai di kafe tempat janjian dengan mas Erik. Pak Anwar sudah menyamar dan masuk duluan agar nantinya pak Anwar tahu aku duduk dimana.
Tring..pesan dari pak Anwar sudah masuk.
Aku melangkah masuk dengan menenteng baju yang sudah kupersiapkan.
__ADS_1
Mas Erik melambaikan tangan ke arah ku. Aku pun bergegas menuju ke tempat duduk mas Erik.
Mas Erik menyambutku. Ia merentangkan tangannya seolah ingin memelukku. Jangan sampai ia kembali menyentuhku.
" Hai mas." Sapaku ramah seolah ingin melupakan kejadian kemarin.
" Hai sayang.. kangen." Gaya bicaranya sok manja.
" Mas mau minta maaf karena uda buat kamu ketakutan. Maksud mas bawa kamu kehotel bukan untuk macam-macam hanya untuk bertemu klien." Jelasnya panjang lebar.
" Oh... Maaf juga mas aku sudah salah paham. Setahu aku kalau orang mau kehotel ya pasti mau tidur makanya aku kabur. Takut mas, karena belum ada ikatan pernikahan yang sah." sindirku
" Oh iya, kapan kamu wisuda yang?"
" Lusa mas, kamu datang ya! Ini aku bawa kemeja buat kamu." Aku memberikan kemeja itu pada mas Erik. Namun belum sampai di tangan mas Erik, tiba-tiba datang dua orang perempuan dengan pakaian seksi duduk diantara kami.
" Oh ini perempuan yang mau jadi pelakor dalam rumah tangga orang." Ucap perempuan uang berbaju tanktop merah. Sementara temannya sedang asyik memvideo aku dan mas Erik.
Mataku melotot, rasanya jantungku mau berhenti berdetak. Pelakor katanya? Oh.. jangan-jangan selama ini pria di hadapanku adalah pria beristri?
" Mau ngasih kado apa? Kemeja batik? Mau dilamar sama suami gue?" Tanyanya lagi dengan sinis.
Aku menatap mas Erik, menuntut jawaban atas semua ini. Tapi satu hal yang membuatku jijik, lelaki yang kucintai hanya terduduk santai tak melakukan pembelaan apa-apa.
" Gaya sok alim, masih kecil tapi mau jalan sama suami orang." Hinanya lagi padaku.
" Siap-siap video kamu viral, pelakor!" Dia tersenyum sinis pada ku.
Rasa muakku terhadap Erik seketika memuncak. Entah keberanian dari mana aku bangkit dan memukul wajahnya.
Plak.. plak..
" Itu hadiah untuk lelaki pembohong seperti mu."
Kutinggalkan mereka. Aku seperti tidak mempunyai kekuatan lagi. Rasanya hatiku sudah hancur berkeping-keping.
Cinta pertama ku benar-benar hancur. Cinta pertama ku jatuh pada orang yang salah. Pantang bagiku menangis di depan laki-laki brengsek. Pak Anwar sudah membuka pintu mobil. Aku segera masuk ke mobil. Barulah air mataku tumpah. Aku sudah tidak memiliki rasa malu lagi untuk menangis di depan pak Anwar.
**************
Dering di ponselku berkali-kali berbunyi. Aku meraba-raba ponselku diatas kasur. Mataku masih terasa berat akibat tadi malam aku begadang karena susah tidur.
" Halo." Jawabku asal tanpa melihat nama sipenelpon.
" Halo Zah, coba tengok video viral! " Terdengar suara cempreng sahabatku. Ia seperti panik.
" Put, ada apa? Ngomong yang jelas jangan panik." Aku bangkit dari tidurku.
" Coba tenang dulu!" Aku berusaha menenangkan sahabatku.
__ADS_1
" Kamu masih bisa santai? Bangun Zah! Lihat video yang aku kirim di hp. Kamu sudah viral pagi ini." Ucapnya marah-marah.
Aku mematikan sambungan telepon. Segera aku membuka video yang dikirim oleh Putri.
Mataku terbelalak melihat wajahku ada di dalam video tersebut. Video berdurasi lima menit itu berjudul kan Pelakor bersama suamiku.
Allah... Miris sekali nasibku. Siapa yang tahu jika lelaki itu sudah beristri. Aku membuka aplikasi berlogo biru, disana video itu sudah viral dengan beragam komentar.
Hatiku sakit membaca komentar di video. Semua menyalahkan ku, semua menganggap jilbab yang kupakai adalah kedok.
Ya Allah... bagaimana jika nanti orang tuaku mengetahui video ini nanti. Sebentar lagi aku akan menjalani wisuda. Mau di taruh dimana muka ku nanti?
Allah... cobaan apa lagi yang hamba harus hadapi?
***
" Zah, dipanggil papa." Suara mama mengejutkanku siang ini.
Mama menatapku penuh arti.
Aku sudah tahu akan kemana arah pembicaraan ini.
Aku berjalan dengan langkah berat. Jantungku berdegup keras. Badanku terasa dingin dan gemetar.
Mama dan papa sudah menunggu di ruang keluarga.
Brakkk...
Papa melempar handphone kesayangannya ke dinding tepat hampir mengenai wajahku. Untung saja aku sempat mengelak.
" Pa..!" Mama terkejut dan menghampiri ku.
" Mana yang sakit?" Tanya mama lagi.
Aku menangis tersedu-sedu.
" Jangan dibela anak tak tahu diri ini ma..!" Papa berteriak dengan kencang.
" Bikin malu. Cuih!" Papa meludah sembarangan.
" Kita tanya dulu pa, biar lebih jelas." Mama berusaha menjadi penengah diantara aku dan papa.
" Tanya.. tanya sama anakmu itu!" Papa menunjuk wajahku.
" Apa benar kamu menjadi pelakor?"
Ini adalah titik terendah bagiku. Aku yang tidak tahu apa-apa di tuntut untuk mengakuinya
Apakah Zahra benar-benar seorang pelakor? yuk komen dibawah ya😊🙏
__ADS_1