Terjerat Cinta Gadis Muda

Terjerat Cinta Gadis Muda
Bertamu Ke Rumah


__ADS_3

Segera Ardan memakan bakso yang tadi dipesannya. Tak lupa, dia juga memesan segelas es jeruk. Dalam sekejap, bakso yang ada di hadapannya pun tandas tak bersisa.


"Ngomong-ngomong, Dan, boleh engga kami nanti bertamu ke rumah lu? Yah, semacam perkenalan sama istri lu, gitu," ucap Aden.


"Ya boleh-boleh aja. Asal jangan dadakan aja. Biar istri gue ada persiapan buat nerima tamu," sahut Ardan seraya mengambil es jeruk yang ada di atas meja.


"Wih, mantep tu. Terus, gimana ceritanya lu bisa ketemu bini lu? Secara kayaknya dia masih muda banget," tanya Serlan penasaran.


"Ah, kami ketemu pas acara perpisahan sekolah. Aku datang sebagai alumni, sekalian reuni ama temen-temen seangkatan," tutur Ardan.


Alena memilih untuk beranjak dari meja kantin. Topik yang sedang teman-temannya bahas, membuatnya tak nyaman. Segera dia berlalu, dan pergi menuju ke kantor tempatnya bekerja.


"Eh, Len, tungguin napa!" seru Erin bergegas berdiri dan mengejar Alena yang berjalan cepat.


"Engga apa-apa, tuh?" tanya Aden pada Ardan sambil jarinya menunjuk pada Alena yang telah bergerak jauh.


"Apanya?"


"Duh, Dan. Pasti dia engga suka sama pembahasan kita tadi," imbuh Serlan.


"Ya mau gimana lagi? Emang begini keadaannya. Udah gue bilang kan, hubungan kami ga lebih dari sekadar kawan," kata Ardan sambil menghela napas.


"Tapi, pernikahan lu emang bikin kaget satu kantor, Dan. Apalagi buat Alena yang lumayan deket ama lu," ujar Aden pula.


"Hubungan yang cuma dilandasi sama kata "semengalirnya aja" itu engga selamanya bakalan berakhir baik. Toh, engga ada janji apapun yang disematkan di situ," kilah Ardan.


"Gue paham. Tapi, apa kalian engga pernah saling ungkapin rasa gitu?" tanya Aden tampak serius.


"Engga ada. Lu sendiri tau gimana kondisi gue kayak gimana, 'kan? Mana ada yang mau deket ama gue yang terkenal sebagai orang terbuang," ujar Ardan sambil menerawang.


"Udah udah. Jadi bahas ke mana-mana. Udahlah, Den, lagian Ardan dah punya bini ini. Ngapain repot mikirin perasaan Alena. Orang dia sendiri yang responnya bertele-tele," potong Serlan.


Aden pun memilih untuk menghentikan perdebatannya dengan Ardan. Apa yang dikatakan Serlan benar. Bagaimana pun juga, Ardan sudah memiliki istri. Jadi, biar Alena patah hati atau marah sekalipun, sudah bukan urusan Ardan lagi.


"Kalau gue sama Serlan main ke rumah lu boleh, engga? Biar kita bisa ngobrol banyak," ujar Aden.


"Kapan? Hari ini? Bisa aja, sih. Tapi, gue kasih tau istri gue dulu," jawab Ardan.

__ADS_1


Aden mengangguk. "Kami mainnya juga engga terlalu lama, kok. Pahamlah kalo pengantin baru engga bisa terlalu diganggu," ujar Aden sambil tersenyum.


Ardan terkekeh mendengar ucapan Aden. Segera Ardan mengirim pesan pada Delima. Bahwa temannya, yaitu Aden dan Serlan akan bertamu ke rumah. Jadi, Delima bisa bersiap untuk menyambut tamu nantinya.


***


Sebuah mobil berhenti di halaman rumah Ardan. Delima bergegas menyambut kedatangan lelaki yang baru saja turun dari mobil.


"Loh, Kak, kirain temennya langsung ikut ke sini," kata Delima sambil mengambil tas kantor yang ada di tangan Ardan.


"Mereka pake mobil sendiri. Tolong, kamu siapin kue sama minumannya, ya. Aku mau bersih-bersih badan dulu," ujar Ardan.


Delima mengangguk. Setelah meletakkan tas kantor ke atas meja, lekas dia pergi ke dapur untuk menyiapkan cemilan yang akan disuguhkan pada tamu Ardan nanti.


"Kak, sabun mandi cairnya abis. Yang baru ada dalam rak tapi di bagian belakang," ujar Delima saat melihat Ardan berjalan menuju kamar mandi.


"Oke, Bos," sahut Ardan sambil menyunggingkan senyum manisnya.


Setelah selesai membuat minuman, juga menata kue ke dalam piring. Delima langsung membawa minuman dan makanan itu dengan nampan menuju ruang tamu.


Tampak Aden dan Serlan turun dari mobil. Delima masih ingat wajah teman-teman Ardan itu, karena mereka datang saat resepsi pernikahan.


"Silakan masuk, Kak. Kak Ardannya lagi mandi," kata Delima ramah.


Aden dan Serlan mengangguk, lalu masuk menuju ruang tamu. Tampak nampan berisi teh dan kue bolu tersuguh di atas meja.


"Wah, makanan pembukanya udah disiapin aja, nih," kata Serlan membuka obrolan.


"Soalnya, tadi kata Kak Ardan, kalian langsung ke sini. Cuma pake mobil sendiri," ujar Delima menjelaskan.


Aden mengangguk membenarkan ucapan Delima. Lalu, dia mendudukkan diri ke atas sofa.


"Aku tinggalin dulu, ya, Kak. Bentar lagi Kak Ardannya nemuin kalian," ujar Delima.


"Bini Ardan muda banget ya. Ngomongnya juga alus banget. Sopan," bisik Serlan pada Aden.


"Mungkin karena turunan orang kaya, jadi etikanya udah diajarin dari kecil," sahut Aden bersuara tak kalah pelan.

__ADS_1


"Heh, ngapain kalian ngomong sambil bisik-bisik begitu?" celetuk Ardan sambil duduk di sofa.


"Hih, ngagetin aja lu. Udah selesai aja mandinya. Kirain masih lama," sahut Serlan.


"Istri lu ke mana, Dan? Perasaan tadi ada," tanya Aden.


"Dia di kamar. Mau selesaiin nonton drama korea dulu bentaran katanya. Nanti juga nyusul duduk ke sini," sahut Ardan.


Ardan mempersilakan Aden dan Serlan untuk meminum teh yang telah dihidangkan oleh Delima tadi. Rupanya, bukan hanya kue bolu, Delima juga meletakkan sepiring tela-tela hangat ke meja ruang tamu.


"Kuenyq enak, buatan bini lu, Dan?" tanya Serlan sambil mengunyah kue bolu.


"Oh, kalo kue ini bikinan mertua gue. Nah, singkong ini nih yang buatan istri gue," sahut Ardan dengan bangga.


"Pantesan badan lu jadi gemukan. Dikasih makanan enak begini," sela Aden.


"Yah, begitulah. Lu kalo liat apa yang gue bawa dari rumah mertua bakalan kaget, sih. 90% yang dibawa pulang itu makanan. Dari nih kue bolu, pizza, roti bakar, pisang keju, pisang goreng, sampe sambal baby cumi, lengkap," ungkap Ardan.


"Wah enak banget, dong," imbuh Serlan.


"Gitulah, soalnya istri gue ngidam mau makan apapun," kata Ardan.


"Bini lu bunting? Buset, tokcer amat lu," ujar Serlan terkejut.


Ardan tersenyum melihat reaksi Serlan. Sebenarnya dia ingin bercerita, tapi sebaiknya dia tahan. Karena itu termasuk aib rumah tangganya.


Delima keluar dari kamar, lalu berjalan menuju ruang tamu. Segera dia duduk di sebelah Ardan.


"Ih, Kak Ardan, kuenya udah mau abis. Harusnya diambilin lagi donh," ujar Delima sambil berdiri lagi, lalu berjalan menuju dapur.


"Eh, engga usah. Ini udah cukup, kok," tolak Aden segan.


"Engga papa, Kak. Kuenya masih banyak ini," sahut Delima. Lalu menghilang ke area dapur.


"Tiap hari lah kalian ke sini. Biar gue engga sendirian ngabisin makanan," celetuk Ardan.


"Sekata-kata," umpat Serlan pada Ardan.

__ADS_1


__ADS_2