Terjerat Cinta Gadis Muda

Terjerat Cinta Gadis Muda
Nasi Goreng buatan Delima


__ADS_3

Aden dan Serlan berpamitan untuk pulang. Ardan dan Delima pun mengantarkan sampai ke teras rumah. Setelah mobil telah menjauh, barulah Ardan dan Delima masuk ke dalam rumah.


"Temen Kak Ardan pada lucu, ya. Suka ngelawak," ujar Delima sambil duduk ke sofa.


"Gitulah. Kadang eror otak mereka tu," sahut Ardan.


Delima tersenyum mendengar jawaban Ardan. Tampak Ardan jadi lebih ceria setelah bertemu teman-teman kantornya.


"Kak, tadi mama nelpon aku. Katanya, boleh engga kalo mama minggu depan main ke sini," kata Delima melaporkan tentang pembicaraannya dengan sang ibunda.


"Boleh. Kapan aja mau ke sini juga boleh," balas Ardan.


"Misal mama mau nginep, gimana?"


"Boleh aja. Tapi, harus kasih tau dulu. Soalnya mau engga mau, kamar yang kamu pakai akan dikasih buat mama tidur pas nginap," sahut Ardan.


"Kok gitu?" Delima tampak bingung.


"Kalo ketahuan kita tidurnya beda kamar. Pasti mama engga bakal suka. Kita cuma beruntung, engga ketahuan beda kamar pas di rumah kamu. Lagian, ada alasan kalo kamu kangen kamar kamu," tutur Ardan memberi alasan.


Delima mengangguk paham. Bagaimana pun juga, sang ibunda hanya tahu kalo mereka telah menikah dan menjalani pernikahan selayaknya suami istri pada umumnya.


"Susu hamil udah diminum?" tanya Ardan.


"Belum. Nanti malam aja, pas mau tidur," jawab Delima cepat.


"Obat yang dikasih bidan gimana? Cocok?" tanya Ardan lagi.


"Cocok, cuma obat tambah darahnya kadang bikin mual obatnya. Baunya engga enak," sahut Delima.


"Kalo gitu, nanti pas pemeriksaan selanjutnya. Minta ganti obat yang lain aja. Kali ada obat yang lebih aman buat penciuman kamu," ucap Ardan.


Kemarin sore, setelah selesai mandi dan bersiap-siap. Ardan mengajak Delima untuk pergi ke rumah bidan yang ada di depan komplek.


Setelah menyerahkan fotocopy kartu keluarga, Delima pun mendapatkan buku panduan untuk ibu hamil. Atau, lebih sering disebut sebagai buku pink.


Delima mendapat beberapa macam obat, berupa obat mual, obat tambah darah, juga vitamin. Setelah selesai pemeriksaan, Ardan dan Delima pun pulang ke rumah waktu itu.


***


Delima menyeduh susu ibu hamil untuknya, dia juga membuatkan segelas teh hangat untuk Ardan. Setelah itu, dia menata piring di atas meja.

__ADS_1


Segera dipanggilnya Ardan, saat makanan di meja makan telah siap. Ardan yang tengah berada di ruang keluarga sambil menonton tv, lekas mendatangi Delima.


"Ikan nilanya udah dihangatkan?" tanya Ardan memastikan.


"Udah. Cuma sambal bayi cuminya aja yang engga aku panasin," ujar Delima.


Ardan mengangguk. Toh, sambal baby cumi memang bukan salah satu makanan favoritnya.


Ardan menyendokkan nasi ke mulutnya. Sesekali dia menyeruput teh hangat yang ada di depannya. Tak lupa, dia juga mengambil saus asam manis yang ada di sela-sela ikan nila.


"Del, kamu engga makan nila asam manisnya?" tanya Ardan.


"Engga, Kak. Aku mau makan sambal bayi cumi aja," sahut Delima.


"Jangan terlalu banyak makan sambalnya. Nanti sakit perut." Ardan mengingatkan Delima yang terus menambahkan sambal baby cumi ke piring.


"Hehe, iya Kak," sahut Delima.


"Setelah selesai makan, kamu langsung istirahat aja di kamar. Aku mau ngerjain tugas kantor," pinta Ardan.


Delima mengangguk. Hari ini dia memang tak tidur siang, sehingga matanya terasa sudah berat. Tak bisa untuk diajak menonton televisi.


Setelah selesau makan, dan menyuci piring kotor. Delima pun melangkah menuju kamarnya. Segera dia masuk kamar, lalu tertidur dengan cepat.


Setelah selesai dengan tugas kantor, Ardan berjalan menuju ruang tamu. Dia pun menyalakan sebatang rokok. Menghisapnya perlahan dan mengembuskan asapnya dengan nikmat.


Ardan sebenarnya telah sangat jarang merokok setelah menikah dengan Delima. Dia tak mau kandungan Delima terpapar asap rokok. Tetapi, menghentikan kebiasaan merokok bukanlah hal yang mudah baginya.


Rasa asam di mulutnya, cukup sulit dihilangkan jika tidak dengan merokok. Selama ini, dia mengatasinya dengan selalu membawa permen di saku bajunya.


"Ah, suasanya sama seperti waktu itu," gumam Ardan, saat suara rinai hujan terdengar.


Kembali dia teringat akan suara ketukan pintu beberapa waktu lalu. Seandainya saja, dia tak membiarkan Delima menginap di rumah, apa akan berbeda kejadiannya?


Ardan mengusap wajahnya gusar, harusnya dia tak menyesali kejadian yang sudah berlalu. Segera dia berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka.


Dia pun lekas masuk ke dalam kamar. Tak ingin sampai terlambat bangun keesokan harinya, karena tidur yang terlalu larut.


TING!


Suara pesan masuk ke ponsel Ardan. Ardan pun memeriksa ponselnya, untuj memastikan siapa yang mengirim pesan.

__ADS_1


[Ada yang ingin aku bicarakan besok. Hanya kita berdua.]


Ardan menekan tombol off, setelah membaca pesan. Dia lebih memilih tidur, daripada membalas pesan tersebut.


Keesokan harinya, Ardan bangun lebih awal dari biasanya. Pesan yang dia baca semalam, membuat tidurnya serasa kurang nyenyak.


Segera dia berjalan ke luar kamar sambil membawa handuk. Tampak Delima yang baru saja dari kamar mandi, kepalanya dililit dengan handuk.


"Kok bangunnya pagi banget, Kak?" tanya Delima.


"Oh, iya. Kebelet pipis, jadi sekalian mandin aja," sahut Ardan.


Delima mengangguk, lalu melangkah meninggalkan Ardan yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Sial. Gara-gara pesan tadi malam, aku jadi ngerasa bersalah sama Delima," gumam Ardan seraya membuka pintu kamar mandi.


Segera Ardan masuk ke kamar mandi. Dihidupkannya shower yang ada di atas kepala. Dibiarkannya air dingin mengalir mengguyur kepala dan badannya.


"Semua harus kutuntasin. Demi kebaikan bersama," kata Ardan pada bayangan dirinya yang ada di cermin.


Terdengar suara denting peralatan masak di dapur. Sepertinya Delima tengah memasak. Segera Ardan menyelesaikan ritual mandinya.


"Masak apa, Del?"


"Nasi goreng sambal baby cumi," sahut Delima sambil tersenyum manis.


"Jangan ditambahin cabe, ya. Nanti sakit perut. Engga baik makan yang terlalu pedes buat ibu hamil," kata Ardan mengingatkan.


Delima mengangguk. Setelah pulang dari liburan, dia jadi lebih senang memasak di dapur. Walau hanya nasi goreng dan roti panggang, baginya itu adalah suatu kemajuan besar.


Setelah selesai bersiap-siap, Ardan lekas duduk dan menghadapi sepiring nasi goreng yang diberikan Delima. Dia cukup tergiur dengan aroma nasi goreng yang dimasakkan oleh sang istri.


"Nasi gorengnya enak. Apalagi kalo tambah bawang goreng," puji Ardan sambil mengambil toples kecil berisi bawang goreng.


"Bener, Kak. Berarti masakan aku ada peningkatannya, dong?" sahut Delima antusias.


"Iya. Jadi lebih enak dari yang kemarin-kemarin," jawab Ardan.


Delima tampak sangat senang dengan penuturan Ardan. Rasanya tak sia-sia dia memasak pagi-pagi untuk dihidangkan pada Ardan.


"Aku janji bakalan masak yang lebih enak lagi," ucap Delima.

__ADS_1


Ardan tersenyum, lalu mengelus rambut Delima. "Pelan-pelan aja belajar masaknya."


__ADS_2