Termux Work & Bahasa Pemrograman

Termux Work & Bahasa Pemrograman
BONUS UNTUK PARA PEMBACA SETIA


__ADS_3











saya kasih bonus foto mantep


jika kalian ingin code nuklir silakan kalian cari saja di mangatoon dengan nama"kode nuklir"


slakan di nikmatin jika kalian nanti juga ada bonus pembaca lagi silakan kalian tunggu saja ya


bonus novel:


PAGI itu, waktu aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang


di depan sebuah kelas. Sebatang pohon tua yang riang


meneduhiku. Ayahku duduk di sampingku, memeluk pundakku


dengan kedua lengannya dan tersenyum mengangguk-angguk pada


setiap orangtua dan anak-anaknya yang duduk berderet-deret di


bangku panjang lain di depan kami. Hari itu adalah hari yang agak


penting: hari pertama masuk SD. Di ujung bangku-bangku panjang


tadi ada sebuah pintu terbuka. Kosen pintu itu miring karena seluruh


bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh. Di mulut pintu


berdiri dua orang guru seperti para penyambut tamu dalam


perhelatan. Mereka adalah seorang bapak tua berwajah sabar,


Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah dan seorang


wanita muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hafsari atau Bu Mus.


Seperti ayahku, mereka berdua juga tersenyum.


Namun, senyum Bu Mus adalah senyum getir yang


dipaksakan karena tampak jelas beliau sedang cemas. Wajahnya


tegang dan gerak-geriknya gelisah. Ia berulang kali menghitung


jumlah anak-anak yang duduk di bangku panjang. Ia demikian


khawatir sehingga tak peduli pada peluh yang mengalir masuk ke


pelupuk matanya. Titik-titik keringat yang bertimbulan di seputar


hidungnya menghapus bedak tepung beras yang dikenakannya,


membuat wajahnya coreng moreng seperti pameran emban bagi


permaisuri dalam Dul Muluk, sandiwara kuno kampung kami.


“Sembilan orang … baru sembilan orang Pamanda Guru,


masih kurang satu…,” katanya gusar pada bapak kepala sekolah.


Pak Harfan menatapnya kosong.


Aku juga merasa cemas. Aku cemas karena melihat Bu Mus


yang resah dan karena beban perasaan ayahku menjalar ke sekujur


tubuhku. Meskipun beliau begitu ramah pagi ini tapi lengan


kasarnya yang melingkari leherku mengalirkan degup jantung yang


cepat. Aku tahu beliau sedang gugup dan aku maklum bahwa tak


mudah bagi seorang pria berusia empat puluh tujuh tahun, seorang


buruh tambang yang beranak banyak dan bergaji kecil, untuk


menyerahkan anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih mudah


menyerahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut


atau pada juragan pantai untuk menjadi kuli kopra agar dapat


membantu ekonomi keluarga. Menyekolahkan anak berarti


mengikatkan diri pada biaya selama belasan tahun dan hal itu


bukan perkara gampang bagi keluarga kami.


“Kasihan ayahku …..


Maka aku tak sampai hati memandang wajahnya.


“Barangkali sebaiknya aku pulang saja, melupakan keinginan


sekolah, dan mengikuti jejak beberapa abang dan sepupu-


sepupuku, menjadi kuli …..

__ADS_1


Tapi agaknya bukan hanya ayahku yang gentar. Setiap wajah


orangtua di depanku mengesankan bahwa mereka tidak sedang


duduk di bangku panjang itu, karena pikiran mereka, seperti pikiran


ayahku, melayang-layang ke pasar pagi atau ke keramba di tepian


laut membayangkan anak lelakinya lebih baik menjadi pesuruh di


sana. Para orangtua ini sama sekali tak yakin bahwa pendidikan


anaknya yang hanya mampu mereka biayai paling tinggi sampai


SMP akan dapat mempercerah masa depan keluarga. Pagi ini


mereka terpaksa berada di sekolah ini untuk menghindarkan diri


dari celaan aparat desa karena tak menyekolahkan anak atau


sebagai orang yang terjebak tuntutan zaman baru, tuntutan


memerdekakan anak dari buta huruf.


Aku mengenal para orangtua dan anak-anaknya yang duduk


di depanku. Kecuali seorang anak lelaki kecil kotor berambut


keriting merah yang meronta-ronta dari pegangan ayahnya.


Ayahnya itu tak beralas kaki dan bercelana kain belacu. Aku tak


mengenal anak beranak itu.


Selebihnya adalah teman baikku. Trapani misalnya, yang


duduk di pangkuan ibunya, atau Kucai yang duduk di samping


ayahnya, atau Syahdan yang tak diantar siapa-siapa. Kami


bertetangga dan kami adalah orang-orang Melayu belitong dari


sebuah komunitas yang paling miskin di pulau itu. Adapun sekolah


ini, SD Muhammadiyah, juga sekolah kampung yang paling miskin


di Belitong. Ada tiga alasan mengapa para orangtua mendaftarkan-


anaknya di sini. Pertama, karena sekolah Muhammadiyah tidak


menetapkan iuran dalam bentuk apa pun, para orangtua hanya


menyumbang sukarela semampu mereka. Kedua, karena firasat,-


anak-anak mereka dianggap memiliki karakter yang mudah


disesatkan iblis sehingga sejak usia muda harus mendapatkan


pendadaran Islam yang tangguh. Ketiga, karena anaknya memang


tak diterima di sekolah mana pun.


jalan raya di seberang lapangan sekolah berharap kalau-kalau masih


ada pendaftar baru . Kami prihatin melihat harapan hampa itu.


Maka tidak seperti suasana di SD lain yang penuh kegembiraan


ketika menerima murid angkatan baru, suasana hari pertama di SD


Muhammadiyah penuh dengan kerisauan, dan yang paling risau


adalah Bu Mus dan Pak Harfan.


Guru-guru yang sederhana ini berada dalam situasi genting


karena Pengawas Sekolah dari Depdikbud Sumsel telah


memperingatkan bahwa jika SD Muhammadiyah hanya mendapat


murid baru kurang dari sepuluh orang maka sekolah paling tua di


Belitong ini harus ditutup. Karena itu sekarang Bu Mus dan Pak


Harfan cemas sebab sekolah mereka akan tamat riwayatnya,


sedangkan para orangtua cemas karena biaya, dan kami, sembilan


anak-anak kecil ini yang terperangkap di tengah cemas kalau- kalau


kami tak jadi sekolah.


Tahun lalu SD Muhammadiyah hanya mendapatkan sebelas


siswa, dan tahun ini Pak Harfan pesimis dapat memenuhi target


sepuluh. Maka diam-diam beliau telah mempersiapkan sebuah


pidato pembubaran sekolah di depan para orangtua murid pada


kesempatan pagi ini. Kenyataan bahwa beliau hanya memerlukan


satu siswa lagi untuk memenuhi target itu menyebabkan pidato ini


akan menjadi sesuatu yang menyakitkan hati.


“Kita tunggu sampai pukul sebelas,” kata Pak Harfan pada Bu


Mus dan seluruh orangtua yang telah pasrah. Suasana hening.


Para orang tua mungkin menganggap kekurangan satu murid


sebagai pertanda bagi anak-anaknya bahwa mereka memang sebaik


nya didaftarkan pada para juragan saja. Sedangkan aku dan

__ADS_1


agaknya juga anak-anak yang lain merasa amat pedih: pedih pada


orangtua kami yang tak mampu, pedih menyaksikan detik-detik


terakhir sebuah sekolah tua yang tutup justru pada hari pertama


kami ingin sekolah, dan pedih pada niat kuat kami untuk belajar tapi


tinggal selangkah lagi harus terhenti hanya karena kekurangan satu


murid. Kami menunduk dalam-dalam.


Saat itu sudah pukul sebelas kurang lima dan Bu Mus semakin


gundah. Lima tahun pengabdiannya di sekolah melarat yang amat


ia cintai dan tiga puluh dua tahun pengabdian tanpa pamrih pada


Pak Harfan, pamannya, akan berakhir di pagi yang sendu ini.


“Baru sembilan orang Pamanda Guru …,” ucap Bu Mus


bergetar sekali lagi. Ia sudah tak bisa berpikir jernih. Ia berulang kali


mengucapkan hal yang sama yang telah diketahui semua orang.


Suaranya berat selayaknya orang yang tertekan batinnya.


Akhirnya, waktu habis karena telah pukul sebelas lewat lima


dan jumlah murid tak juga genap sepuluh. Semangat besarku untuk


sekolah perlahan-lahan runtuh. Aku melepaskan lengan ayahku dari


pundakku. Sahara menangis terisak-isak mendekap ibunya karena


ia benar-benar ingin sekolah di SD Muhammadiyah. Ia memakai


sepatu, kaus kaki, jilbab, dan baju, serta telah punya buku-buku,


botol air minum, dan tas punggung yang semuanya baru.


Pak Harfan menghampiri orangtua murid dan menyalami


mereka satu per satu. Sebuah pemandangan yang pilu. Para


orangtua menepuk-nepuk bahunya untuk membesarkan hatinya.


Mata Bu Mus berkilauan karena air mata yang menggenang. Pak


Harfan berdiri di depan para orangtua, wajahnya muram. Beliau


bersiap-siap memberikan pidato terakhir. Wajahnya tampak putus


asa. Namun ketika beliau akan mengucapkan kata pertama


Assalamu’alaikum seluruh hadirin terperanjat karena Tripani


berteriak sambil menunjuk ke pinggir lapangan rumput luas halaman


sekolah itu.


“Harun!.


Kami serentak menoleh dan di kejauhan tampak seorang pria


kurus tinggi berjalar terseok-seok. Pakaian dan sisiran rambutnya


sangat rapi. Ia berkemeja lengan panjang putih yang dimasukkan ke


dalam. Kaki dan langkahnya membentuk huruf x sehingga jika


berjalan seluruh tubuhnya bergoyang-goyang hebat. Seorang wanita


gemuk setengah baya yang berseri-seri susah payah memeganginya.


Pria itu adalah Harun, pria jenaka sahabat kami semua, yang sudah


berusia lima belas tahun dan agak terbelakang mentalnya. Ia sangat


gembira dan berjalan cepat setengah berlari tak sabar menghampiri


kami. Ia tak menghiraukan ibunya yang tercepuk-cepuk kewalahan


menggandeng-nya.


Mereka berdua hampir kehabisan napas ketika tiba di depan


Pak Harfan.


“Bapak Guru …, ” kata ibunya terengah-engah.


“Terimalah Harun, Pak, karena SLB hanya ada di Pulau


Bangka, dan kami tak punya biaya untuk menyekolahkannya ke


sana. Lagi pula lebih baik kutitipkan dia disekolah ini daripada di


rumah ia hanya mengejar -ngejar anak-anak ayamku …..


Harun tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya yang kuning


panjang-panjang. Pak Harfan juga terseyum, beliau melirik Bu Mus


sambil mengangkat bahunya.


“Genap sepuluh orang …,” katanya.


Harun telah menyelamatkan kami dan kami pun bersorak.


Sahara berdiri tegak merapikan lipatan jilbabnya & menyandang


tasnya dengan gagah, ia tak mau duduk lagi.


Bu Mus tersipu. Air mata guru muda ini surut dan ia menyeka

__ADS_1


keringat di wajahnya yang belepotan karena bercampur dengan


bedak tepung beras.


__ADS_2