Terpaksa Menikahi Janda Kakakku

Terpaksa Menikahi Janda Kakakku
Bab 21. Bertemu Seseorang


__ADS_3

Saat sarapan, Dinda terus memikirkan mimpinya dan terus memikirkan mimpinya.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang? tidak mungkin aku mengatakannya lebih dulu. Itu sama saja menjilat ludah sendiri.' Gumam Dinda sambil mengaduk-aduk makanan yang ada di atas piring.


"Nyonya, apa nyonya sedang tidak enak badan? Wajah nona terlihat pucat. " tegur bi Susi.


"Aku sedang sakit kepala saja bi. Oya apa Rasya sudah siap? ini hari pertamanya ke sekolah?"


"Bentar saya coba memeriksanya." bi Susi pun segera menuju ke kamar Rasya untuk melihat apakah pengasuh Rasya sudah menyiapkan Rasya.


Tak lama Rasya pun turun bersama pengasuh nya yang sudah siap mengantarkannya ke sekolah.


"Pagi ma." Sapa Rasya dengan ceria.


"Pagi sayang, apa sudah siap untuk ke sekolah?" tanya Dinda dan Rasya pun mengangguk.


"Anak pintar, mama cuma pesan, Rasya gak boleh nakal ya, jangan berkelahi dengan temannya. Rasya kan sudah janji sama mama , kalau sudah bertemu papa, Rasya akan mematuhi perkataan mama."


"Iya ma, Rasya janji. Tapi kalau kalau ada yang nakal duluan, tetap Rasya lawan." jawab Rasya, sambil meringis menunjukkan gigi susunya yang putih. Seketika Dinda langsung melotot.


Selesai sarapan, Dinda mengantarkan Rasya ke sekolah di hari pertamanya di salah satu sekolah dasar swasta yang sudah memiliki standar internasional.


Di perjalanan, Dinda ingin memantapkan hatinya dengan bertanya pada Rasya akan keputusannya.

__ADS_1


"Rasya bolehkah mama bertanya sesuatu. Dan mama minta Rasya berkata jujur."


"Iya ma."


"Apa Rasya sayang dengan papa?" tanya Dinda.


"Rasya sayang sama papa, sayang banget. Tapi kenapa papa tidak tinggal dengan kita ma? Bukankah seharusnya tinggal sama kita biar bisa sarapan dan main bersama." jawab Rasya.


"Sebenarnya, mama sama papa sudah begini." Dinda menggunakan bahasa isyarat untuk mengatakan berpisah.


"Gak boleh ma, nanti papa di ambil orang. Mama harus baikan dengan papa. Jangan marahan lagi." ucap Rasya dengan polosnya.


"Mama jangan kuatir, Rasya akan bilang sama papa buat baikan lagi dengan mama, biar papa mau pulang." imbuh Rasya dan Dinda hanya mencoba tersenyum walau terpaksa demi buah hatinya.


Sesampainya di sekolah, Dinda hanya bisa mengantarkan Rasya sampai di depan gerbang dan tidak di izinkan untuk ikut masuk.


Setelah Rasya masuk, Dinda merasa ada yang sedang mengawasi dirinya. Dan segera saja Dinda mengedarkan pandangannya, namun tak menemukan tanda-tanda. Namun perasaan Dinda menjadi begitu cemas saat hendak meninggalkan Rasya, Karena Dinda tau, jika Rasya adalah sebuah aset berharga dan pasti semua orang akan mengincarnya.


Dinda segera mengambil ponselnya di saku dan menghubungi kakaknya.


"Ada apa Dinda, menghubungi kakak pagi-pagi?" tanya Robert di seberang telepon.


"Kak, aku baru mengantarkan Rasya ke sekolah, tapi aku merasa ada seseorang yang mengawasi. Aku tidak tenang kak meninggalkan Rasya di sekolah." jelas Dinda, Robert yang mendengarkan penjelasan adiknya segera berdiri karena terkejut.

__ADS_1


"Kamu tenang saja Dinda. Kakak akan segera mengirimkan Seseorang untuk menjaga Rasya, kamu gak perlu kuatir. percayalah pada kakak, tidak akan kakak biarkan siapapun berani menyentuh Rasya. Lebih baik kamu juga pulang, tidak aman kamu sendirian di sana." ucap Robert dan segera mematikan panggilan telepon dari Dinda dan Dinda pun segera pulang, walaupun berat rasanya meninggalkan Rasya.


Baru beberapa meter meninggalkan area sekolah, sebuah mobil hitam menghadang mobil Dinda, hingga membuat pak sopir merem dadakan.


"Maaf nyonya, ada mobil yang menghadang jalan kita." ucap sopir menjelaskan. Dinda tak berani turun dia hanya memperhatikan mobil yang ada di depannya memang menghadang jalan. Dinda pun melihat seseorang keluar dari dalam mobil dengan berpakaian rapi dan berjalan menghampiri.


Pria tersebut mengetuk kaca mobil agar Dinda mau membukanya, Dinda hanya menurunkan kaca mobil tersebut.


"Nona, bisakah ikut denganku sebentar, Tuan muda ingin bicara sebentar denganmu." ucap pria itu.


"Maaf aku tidak bisa. Aku tidak bisa bertemu dengan orang yang tidak aku kenal." jawab dinda, pria itu tersenyum dengan ramah.


"Jangan kuatir Nona, Tuan muda tidak akan menyakitimu. Ikutlah sebentar, atau Nona tidak akan bisa pulang, begitu juga dengan putra nona." ucap pria itu tenang tapi mengancam.


"Jangan menggertak ku, dan jangan menyentuh anakku."


"Jika Nona tidak ingin anak Nona kenapa-kenapa, lebih baik Nona ikut sebentar." pertegas pria itu.


"Oke baiklah aku akan mengikuti mu, tapi ingat jangan pernah menyentuh anakku, atau aku akan buat perhitungan denganmu." Dengan terpaksa Dinda pun menyetujui permintaan lelaki itu dan segera keluar dari mobilnya untuk ikut ke dalam mobil pria tersebut, namun sebelum pergi, Dinda berpesan pada sopirnya untuk memberitahu kakaknya apa yang terjadi.


"Silahkan masuk Nona." ucap pria itu saat membukakan pintu mobil dan dengan terpaksa Dinda pun segera masuk. Dan pria itu pun ikut masuk dan duduk di sebelah Dinda.


Mereka pun segera pergi membawa Dinda. Di sepanjang jalan Dinda beberapa kali bertanya, namun pertanyaannya tak ada yang di jawab, sampai akhirnya mereka tiba sebuah tempat yang tak pernah dia tau sebelumnya.

__ADS_1


"Dimana ini?" tanya Dinda.


To be continued ☺️☺️☺️


__ADS_2