Terpaksa Menikahi Kekasih Sahabatku

Terpaksa Menikahi Kekasih Sahabatku
TMKS 22. Usulan Hiro


__ADS_3


"Aduuhhhh .... Mama sudah tidak sabar untuk segera menimang cucu Pa. Mama yakin, malam ini mereka akan bercocok tanam sampai kelelahan."


Keluar dari kamar pengantin baru setelah memberikan ramuan ajaib itu, Ayumi dan Kenji kembali ke kamar mereka. Sembari menyusuri lorong-lorong hotel, sepasang paruh baya itu berangan-angan akan apa yang akan dilakukan oleh anak dan menantunya. Berharap, mereka bisa melewati malam pertama ini dengan penuh gairah.


Kenji hanya bisa memijit pelipisnya. Keinginan sang istri yang begitu menggebu untuk segera menimang cucu, seakan membuatnya lupa jika pengantin baru itu mungkin sedang lelah karena acara pernikahan yang hampir sehari semalam tanpa jeda.


"Hmmmm... Papa rasa malam ini mereka belum akan melakukan ritual itu Ma. Mama ingat saat kita menjadi pengantin baru? Bahkan Mama menolak Papa ketika Papa ajak malam pertama. Mama mengeluh kelelahan bukan?"


Seketika memory Ayumi berkelana ke masa yang telah lalu. Ia ingat betul saat itu ia memang sempat menolak Kenji karena kelelahan.


"Iya juga ya Pa? Jadi malam ini mereka tidak akan menjalankan ritual?"


"Menurut Papa tidak Ma. Mama lihat sendiri bukan kalau Hana tertidur pulas? Sampai-sampai dibopong oleh Hiro saja ia tidak bangun."


"Hmmmmmm ..... Berarti semakin lama lagi dong Pa mereka memberikan Mama cucu."


Kenji berdecak lirih. Lagi-lagi perihal cucu yang dibahas. "Sudahlah Ma. Biarkan mereka menikmati masa-masa pengantin baru mereka terlebih dahulu. Mama ingat kan, jika Hiro dan Hana baru sebentar saling mengenal? Biarkan mereka menghadirkan chemistry terlebih dahulu dalam hati masing-masing Ma."


"Hhhmmmmm ... Baiklah kalau begitu. Tapi Mama tetap berharap malam ini mereka melakukan ritual itu Pa. Mama sungguh tidak sabar lagi."


Pada akhirnya sepasang suami istri itu tiba di depan kamar yang mereka tempati. Mereka masuk ke dalam dan mulai merebahkan diri di atas ranjang.


***


Hiro masih tetap terjaga di jam tiga dini hari ini. Sejatinya ia telah didera oleh rasa kantuk yang luar biasa namun tetap saja kelopak matanya tidak bisa terpejam. Ia merebahkan diri di atas sofa karena tidak ingin berada satu ranjang dengan Hana. Matanya menatap langit-langit kamar hotel yang didominasi oleh warna putih itu.


"Aaarrrggghhh ... Bisa gila aku kalau seperti ini."


Hiro menggeser sedikit posisinya hingga kini ia dalam posisi duduk di atas sofa. Lelaki itu mengacak rambutnya kasar seakan ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Bagaimana tidak mengganjal jika ia teringat akan bentuk dua gundukan sintal yang sempat ia lihat saat mengganti pakaian Hana.


"Selain punggung yang menggoda, mengapa buah d a d a itik buruk rupa itu juga memiliki bentuk yang sempurna. Padat, sintal, kenyal, putih, mulus bahkan pucuk buah d a d a itu berwarna merah jambu yang nampak ..... Aarrrggghhh!!!"


Hiro terlihat semakin frustrasi sendiri. Lagi-lagi ia mengacak rambutnya kasar bahkan sampai menjambaknya. Berharap agar ia dapat keluar dari kungkungan rasa aneh seperti ini.

__ADS_1


"Tidak .... Tidak ... Aku tidak boleh seperti ini. Jika aku terus mengingat buah d a d a milik ituk buruk rupa itu bisa-bisa aku melanggar janjiku kepada Nara. Aku tidak mau membuat Nara terluka."


Hiro bangkit dari posisi duduknya. Kali ini ia memilih untuk berjalan ke arah ranjang. Dilihatnya dengan lekat sosok wanita yang tengah terlelap dalam posisi terlentang itu. Sorot matanya tertuju pada wajah Hana dan perlahan turun hingga berhenti di bagian dada.


Hiro semakin kesusahan menelan salivanya saat melihat bagian dada Hana yang menjulang ke atas dan naik turun seiring dengan napasnya. Ditambah dengan lingerie warna merah yang tipis dan menerawang seakan menjadi sinyal untuk diserang. Warna merah lingerie itu terlihat begitu kontras dengan kulit putih milik Hana.


Setelah terpaku pada gundukan sintal itu, mata Hiro terpaku pada bagian bawah. Di mana ada sebuah lembah yang ditumbuhi oleh rambut-rambut tipis yang justru semakin membuatnya kesusahan menelan salivanya. Bentuk lembah itu juga terlihat sempurna dan juga begitu sedap dipandang mata.


"Shhhiiitttt ....!" umpat Hiro.


Lagi-lagi Hiro mengumpat saat merasakan ada tegangan di bawah sana. Sebuah tegangan yang membuat miliknya berdiri dan membesar. Seakan meronta untuk segera dipuaskan.


Hiro bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Jika sudah seperti ini hanya sabun yang bisa menolongnya.


"Baru kali ini aku mendapati situasi lelaki yang sudah menikah malah sibuk nyabun di kamar mandi. Hah... Ini semua demi Nara!"


***


Hana membuka matanya kala sayup-sayup terdengar suara air shower yang berasal dari kamar mandi. Ia mengedarkan pandangannya ke arah sekitar sembari mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Dahinya mengernyit karena seingatnya ia tidur di sofa yang berada di balkon.


Tubuh Hana melonjak seketika hingga membuatnya terduduk di atas ranjang saat melihat lingerie warna merah sudah membungkus tubuhnya.


"Ini mengapa aku bisa memakai lingerie? Bukankah aku tadi memakai bathrobe?"


Masih di penuhi oleh sejuta tanda tanya tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Gegas, Hana menutupi tubuhnya dengan selimut yang sudah tersedia. Tak selang lama, Hiro keluar dari dalam kamar mandi.


"Oh .... Kamu masih hidup? Aku kira kamu mati karena sejak tadi tidak bangun-bangun," tanya Hiro dengan ucapan pedasnya. Dengan santai, lelaki itu mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.


Hana hanya bisa terperangah. Perkataan Hiro sungguh tidak ada sopannya sama sekali. Persis perkataan dari orang yang tidak memiliki akhlak. Namun Hana tetap berupaya membesarkan hati. Ia harus tahan dengan ucapan-ucapan Hiro yang terdengar pedas itu.


"Yang mengganti pakaianku ini siapa?" tanya Hana langsung pada pokok persoalan.


"Masih kamu tanya siapa yang mengganti?" tanya Hiro balik. "Kamu lihat bukan yang ada di kamar ini siapa saja?" sambungnya pula.


"Hah, jadi yang mengganti pakaianku kamu?" tanya Hana pula dengan kedua bola mata yang membulat sempurna. "Mengapa kamu lancang melakukannya?"

__ADS_1


"Lancang? Memang aku ini siapa? Aku ini suamimu, jadi aku berhak melakukan bukan," jawab Hiro penuh ketegasan.


Dahi Hana semakin berkerut dalam. Dari ucapan yang terlontar dari bibir Hiro sepertinya lelaki itu melupakan sesuatu.


"Kamu lupa?" tanya Hana.


"Lupa? Lupa perihal apa?"


"Kamu ini hanya suami settingan dan pernikahan kita hanyalah pernikahan kontrak. Ada peraturan-peraturan yang mengikat di dalamnya. Jika aku tidak punya hak menyentuhmu maka kamu tidak punya hak untuk menyentuhku pula bukan? Dan apa kamu lupa akan janji yang kamu ucapkan kepada Nara?"


Deg!!!!


Perkataan Hana seperti menampar hati Hiro yang seperti mulai lupa akan daratan. Ia baru ingat jika ada hati dan perasaan Nara yang harus ia jaga. Namun itu semua seakan kalah dengan realita yang ia hadapi. Bentuk tubuh milik istri kontraknya ini hampir membuatnya lupa akan kontrak yang telah mereka tandatangani.


"Bukan, bukan seperti itu maksudku!"


"Lantas bagaimana maksudmu? Apakah kamu bebas menyentuhku sedangkan hanya aku yang terkungkung dalam kontrak pernikahan itu?"


Hiro membuang napas sedikit kasar. "Aku mengganti pakaianmu atas perintah Mama. Kalau bukan karena Mama, tentu aku tidak akan melakukannya."


Hana mencoba mencerna apa yang diucapkan oleh Hiro. Ia pun juga mencoba untuk memahaminya.


"Ohhh ... Aku kira atas kemauan kamu sendiri."


"Tentu tidak!" ucap Hiro tegas. "Tapi sepertinya kita harus membuat perjanjian baru agar permainan kita ini benar-benar terlihat natural, terlebih di hadapan keluarga kita."


"Maksudmu?"


Senyum seringai terbit di bibir Hiro. "Tenang saja. Nanti akan aku buatkan perjanjian baru itu. Yang pasti perjanjian ini hanya untuk aku dan kamu. Bahkan Nara pun tidak mengetahuinya."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2