Terpaksa Menikahi Kekasih Sahabatku

Terpaksa Menikahi Kekasih Sahabatku
TMKS 08. Negosiasi


__ADS_3


Nara menutup pembicaraannya dengan Hiro melalui sambungan telepon. Setelah Hana memberi kabar jika sahabatnya itu akan datang menemuinya, Nara yakin jika Hana telah berubah pikiran. Hana yang sebelumnya kekeuh tidak mau menerima tawarannya, kini dengan suka rela ia mendatanginya. Memang benar kata orang jika berada di dalam keadaan terjepit sungguh bisa meruntuhkan kokohnya benteng diri. Nara tersenyum puas karena semua berjalan sesuai dengan apa yang ia rencanakan.


Derap langkah kaki seseorang terdengar semakin dekat dengan ruang privat yang ia pesan. Hatinya semakin bertambah bahagia kala orang yang ia tunggu sudah tiba di restoran. Ia melirik ke arah daun pintu dan tak selang lama masuklah dua orang wanita yang satu diantaranya begitu ia kenal.


"Selamat datang sahabatku, Hana!"


Nara beranjak dari posisi duduknya. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk mendekat ke arah Hana yang baru saja tiba dan diantar oleh seorang pelayan. Dengan senyum merekah, ia menyambut kedatangan sahabatnya ini.


Hana tidak dapat mengucapkan apapun. Pikiran dan hatinya seakan berkecamuk. Mereka seperti berperang untuk tetap menguasai Hana. Hati kecilnya berbisik agar Hana tidak melakukan hal konyol seperti ini. Sedangkan logikanya berteriak jika saat ini ada nyawa yang harus ia selamatkan. Siapa lagi jika bukan nyawa sang ayah. Hana pun hanya tersenyum kecil dan mengangguk pelan.


"Terima kasih Ra!"


"Baiklah, ayo kita duduk di sana!" Sebelum kembali ke tempat semula, Nara mendekat ke arah pelayan. "Oke Mbak, karena yang aku tunggu sudah tiba, semua pesanan makananku silakan diantar kemari. Ingat ya jangan sampai ada yang keliru. Karena tamuku ini adalah tamu istimewa."


Waitress itu sejenak melirik ke arah Hana. Ia sungguh sangat terkejut jika wanita dengan penampilan awut-awutan seperti ini menjadi tamu istimewa.


Rambut berantakan, pakaian terlihat murahan, wajah kusam, dan tadi ketika aku jalan di dekatnya juga tercium aroma yang tidak enak. Istimewa dari mana wanita ini? Ini sih lebih pantas jika disebut dengan gembel.


Sadar jika sudah terlalu dalam ia larut dalam hinaan untuk Hana, si waitress itu menyunggingkan senyum. "Baik Kak, mohon ditunggu. Saya persiapkan semuanya."


Waitress restoran ini melenggang pergi meninggalkan ruang privat yang sudah dipesan oleh Nara. Sedangkan Nara kembali berjalan mendekat ke arah Hana. Ia menggeser kursinya dan ia daratkan bokongnya di sana.


"Kita tunggu kekasihku sebentar lagi ya Han. Dia sedang berada di jalan. Dan setelah ia datang, kita bicarakan perihal perjanjian yang akan kita sepakati," ucap Nara sedikit santai.


Kali ini Nara memang tidak perlu bersusah payah untuk mencari jalan keluar menuruti kemauan kakek dari sang kekasih. Karena jalan itu sudah terbuka lebar dengan sendirinya. Pastinya dengan goyahnya pertahanan hati Hana.


"Ra, apakah harus dengan cara seperti itu? Apakah tidak bisa jika aku berhutang kepadamu dan setiap bulan sedikit demi sedikit aku kembalikan ke kamu sampai jumlahnya sesuai dengan uang yang kamu pinjamkan?"

__ADS_1


Hana masih mencoba untuk bernegosiasi dengan Nara. Ia berharap Nara dapat mengubah keputusannya dan tidak sampai menjalani sebuah pernikahan settingan seperti ini. Ia pun juga berharap agar hati kecilnya terbuka sehingga sadar bahwa pernikahan bukanlah sebuah permainan. Pernikahan adalah suci di mana sepasang manusia berjanji di hadapan Tuhan untuk sehidup sesurga.


Nara tergelak seketika hingga suaranya terdengar begitu membahana memenuhi langit-langit ruang privat ini. Dengan intens, wanita itu menatap manik mata Hana.


"Han, uang yang aku keluarkan untuk biaya operasi om Ndaru tidaklah sedikit. Kamu ingat betul bukan berapa nominalnya? Hampir seratus lima puluh juta. Dengan nominal yang fantastis seperti itu, mau berapa puluh tahun kamu melunasinya, Hana?"


"Tapi aku yakin bisa melunasinya dengan cepat Ra. Aku akan bekerja lebih keras lagi untuk bisa segera menyelesaikan kewajibanku. Aku berjanji Ra!"


Nara semakin terbahak mendengarkan negosiasi dari Hana. Wanita itu tetap bersikukuh untuk menggelengkan kepala.


"Tidak bisa Han. Sekeras apapun kamu bekerja, kamu tidak akan pernah bisa segera melunasinya. Ingat Han, kamu hanya lulusan SMA. Gaji paling tinggi yang bisa kamu dapatkan mungkin hanya sebatas UMR kota ini saja."


Kedua bola mata Hana terbelalak sempurna. Ada tikaman belati tak kasat mata yang terasa begitu menusuk jantungnya kala mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Nara. Teramat pedih dan perih terasa.


Hana sungguh tidak menyangka jika sikap dan perilaku Nara berubah setatus delapan puluh derajat dari masa-masa SMA dulu. Sosok Nara yang dulu lebih sering mengedepankan hati nurani, kini seakan hilang ditelan bumi. Wanita itu kini jauh lebih mengedepankan logikanya dibanding dengan nuraninya.


Nara yang melihat Hana terdiam sendiri hanya bisa terkekeh pelan. Ia raih telapak tangan Hana dan ia genggam dengan erat.


"Daripada kamu harus menderita karena bekerja keras, lebih baik kamu ikuti permainanku, Hana. Jika kamu mengikuti permainanku, hutang-hutang itu akan secara otomatis lunas. Bagaimana? Sangat mudah dan simpel bukan?"


"Tapi ini semua seperti menginjak-injak harga diriku Ra. Aku yang bermimpi bisa membina sebuah keluarga bersama lelaki yang aku cinta, harus pupus dengan cara rendahan seperti ini."


"Apa Han? Harga diri? Hahahaha." Nara terbahak. Perutnya seakan dikocok habis-habisan saat mendengar Hana berbicara tentang harga diri. "Jangan pernah berbicara tentang harga diri dalam situasi terhimpit dan terjepit seperti ini, Hana. Itu semua tidak akan pernah menyelamatkan posisimu. Paham?"


Hana membuang napas kasar. Kali ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerima tawaran dari Nara. Ia membenarkan perkataan Nara, bahwa saat ini yang harus ia selamatkan adalah sang ayah bukan harga dirinya.


"Percayalah, ini semua hanya sementara dan tidak akan merugikanmu sama sekali. Bahkan mungkin justru akan menguntungkanmu, Hana."


"Menguntungkan seperti apa Ra? Coba jelaskan kepadaku peruntungan seperti apa yang aku dapatkan jika setelah ini hidupku akan terkungkung dalam permainanmu," tanya Hana sedikit menuntut penjelasan.

__ADS_1


Nara justru semakin terbahak mendengarnya. "Berkorbanlah sedikit saja Ra. Berkorban untuk ayahmu yang saat ini tengah berjuang untuk bertahan hidup. Kamu tidak ingin membuat om Ndaru menderita bukan?"


Hening tidak ada suara sama sekali. Hanya suara pendingin ruangan lah yang terdengar lirih di telinga mereka.


"Kamu cukup menjalankan peranmu dengan baik dan hidupmu akan beruntung, Hana. Bagaimana? Apakah kamu masih ingin mundur?"


Pertanyaan retoris Nara justru semakin membuat Hana tersudut. Untuk kesekian kalinya ia membuang napas kasar, mengurai semua rasa sesak di dalam dada.


"Baiklah, aku akan mengikuti permainanmu, Ra. Aku akan menjalani pernikahan kontrak dengan kekasihmu."


"Bagus Ra. Itulah yang aku inginkan darimu!"


Senyum seringai terbit di bibir Nara. Hatinya seakan begitu bahagia tiada terkira memiliki seorang sahabat yang begitu penurut seperti Hana. Hingga, pandangan mata yang sebelumnya menatap intens wajah Nara, kini ia geser ke arah pintu kala terdengar suara riuh dari luar. Tak selang lama pintu terbuka lebar dan nampak Hiro berdiri dengan gagahnya.


"Akhirnya Sayang, kamu datang juga."


"Cepat katakan, mana wanita itu Ra?"


Nara tergelak. "Han, coba tegakkan wajahmu. Kekasihku ingin melihatmu secara langsung!"


Dengan hati yang berat, Hana perlahan mendongakkan wajahnya. Ia yang sebelumnya intens menatap lantai, kini ia tatap lekat wajah lelaki yang akan menjadi suami settingannya.


"Kamu?" pekik Hana dan Hiro secara bersamaan ketika keduanya kembali dipertemukan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2