
Dering telfon terdengar dari ujung ruangan tanpa jawaban, pesan masukpun berulang-ulang kali terdengar akan tetapi dia hanya terdiam membisu dengan menundukan pandangan.
Tatapan matanya tertuju pada layar Handphonenya tanpa disadari air matanya mulai keluar bercucuran, terisak terasa sesak di dada.
Dia hanya bisa menangis tersedu-sedu sesekali dia memegang dadanya, mengusap air matanya dan menghela nafas panjang mencoba untuk tegar menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah.
..........................
ZOLA seorang anak gadis yang lahir di bulan Januari anak tunggal dari pasangan suami istri bapak Amir dan Ibu Diar.
Kenyataannya pahit sangat pahit Zola harus bisa merelakan kedua orang tuanya ketika dia berumur 15tahun, merelakan bahwa kenyataannya dia harus menjadi anak BROKEN HOME (anak korban perceraian).
Ya kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Rumah tangga yang sudah di bina dari masa pacaran hingga menikah pada ujungnya menemukan titik jenuhnya.
Meski masih berumur 15 tahun zola sudah mengerti apa arti dari perceraian, zola bahkan mengetahui itu dari dia berusia 10 tahun.
ketika duduk di bangku SD zola mempunyai teman bernama RANIA.
Rania sering terlihat menyendiri, merasa kesepian meski di tempat ramai Dan juga sering melamun bahkan sering bolos sekolah sesekali juga rania sering terlihat menangis di sekolah.
__ADS_1
Entah apa yang di alami rania saat itu hingga zola memberanikan diri untuk mengajaknya mengobrol.
flashback saat zola berumur 10 tahun
#Ruang kelas SD HARAPAN#
"Pagi ran, udah ngerjain tugas Matematika belum?" Tanya zola pada rania
Rania tidak menyadari kedatangan zola, karna saat itu rania sedang melamun di tempat duduknya.
"Raniaaaa, ran hello raniaaaaaa.....raaannn" Tanya zola lagi
"Aku udah manggil kamu dari tadi tapi kamu aku panggilin dari tadi gak nyaut-nyaut. Kamu kenapa si Ran? Ada masalah...? " Tanya zola pada rania
"Enggak ada apa-apa kok zol, cuma ada problem dikit tapi it's okay. aku gak papa" jawab rania sambil tersenyum
"Serius ran? Aku kawatir tau sama kamu, aku perhatiin udah seminggu ini kamu sering banget bengong kemaren juga kamu gk masuk" tanya zola khawatir
"iya beneran gak papa kok zola. makasih ya kamu udah khawatir sama aku" jawab rania sambil memegang tangan zola
__ADS_1
"Syukur deh kalau kamu beneran gak papa. Kalau ada apa-apa cerita aja kali aja aku bisa bantu kamu ran jangan di pendam sendirian ya kita kan sahabat . Okay?? " kata zola
"okay zola. makasih ya" jawab rania
"sini peluk dulu " kata zola sambil memeluk rania dengan erat.
Seakan tak percaya dengan jawaban rania bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi padanya zola tetap menghargai jawaban tersebut. Mungkin rania butuh waktu untuk menceritakan apa yg sebenarnya dia alami.
Setelah obrolan itu belpun berbunyi pelajaran berjalan seperti biasanya hingga satu minggu kemudian rania tidak pernah masuk sekolah tanpa keterangan apapun.
Zola mencoba mendatangi rumah rania akan tetapi rania sudah pindah rumah tanpa sepengetahuannya.
"Ya ampun ran kamu ini sebenarnya kemana si. sampai pindah rumah aja kamu gak ngomong sama aku." cletuk zola dengan nada gelisah
Zola sudah mencoba menghubungi rania tapi tetap saja tidak ada jawaban. Zola hanya bisa menunggu dan menunggu kabar dari sahabatnya itu. 2 minggu kemudian Zola mendengar kabar dari pihak sekolah bahwa rania akan pindah sekolah, bagai tak percaya sahabat baiknya dari TK kini akan meninggalkan nya tanpa ada kabar apapun.
Hingga hari itu Rania datang kesekolah untuk berpamitan dengan para guru dan tentunya dengan Zola sahabat baiknya.
" Raniaaaaaaaa....... " ucap zola sambil berlari kecil ke arah rania Yang sedang ada di depan ruang guru
__ADS_1