The Fool

The Fool
Some Memories Are Unforgettable


__ADS_3

Malam sudah larut, ini pukul dua pagi orang - orang bahkan tidak menyebutnya malam lagi, jelas sudah lewat. Tapi Jae Hwan masih memegang botol soju nya dengan erat, ia tengah duduk di sebuah kedai tepi jalan. Bersama udara yang pengap sebab malam pun terasa panas baginya, entah sudah berapa botol yang dihabiskan ia bahkan sudah lupa. Pikirannya terus saja di penuhi penyesalan pada gadis itu, seseorang yang bersabar dengan tingkahnya selama 2 tahun terakhir. Gadis yang kini menyerah menghadapinya. Kenangan tentang gadis itu terus saja muncul membuatnya merasa bertingkah bodoh selama ini dan terlalu terlambat kini ia sadar gadis itu benar - benar telah masuk terlalu dalam di hatinya.


Ia merogoh ponsel dari saku jaket kulit miliknya menyentuh layarnya dan wuusshh seperti magic wajah gadis itu dan dirinya tengah tersenyum muncul di layar seperti tengah mengejek betapa ***** dirinya 'sial,' ia mengumpat. Jae Hwan mengetik nama gadis itu. Ara. hampir menekan tombol hijau disana lalu mengurungkannya lagi kemudian membanting ponselnya di meja, jelas itu ponsel mahal layarnya bahkan tidak retak karna kekesalan Jae Hwan. Ia mengacak rambutnya yang sudah berantakan sejak beberapa jam lalu karna ini adalah kali kesekian ia mengulang kejadian yang sama


''Ara ssi, jeongmal mianhae (maafkan aku).''


Jae Hwan mulai bergumam sendiri, wajahnya memerah ia menangis. Lelaki itu menangis. laki - laki yang terkenal tukang onar, playboy bahkan sudah tidak terhitung gadis mana saja yang tidur dengannya, bahkan laki - laki yang sanggup tinggal sendiri sejak remaja karna tidak ingin diatur keluarganya kali ini menangis seperti orang bodoh karna seorang wanita


"Ara ssi...".


"YA!".


seorang wanita paruh baya menegurnya, jelas dia si pemilik kedai terlihat dari celemek yang digunakan. Jae Hwan tidak perduli dia tetap sibuk dengan dirinya, kemudian menuangkan lagi soju ke gelas yang ternyata sudah habis. Ia menatap kosong botol itu pikirannya tidak sedang benar - benar disana, kemudian berkata pelan


"ahjumma, soju!"


"kau sudah terlalu mabuk, pulanglah!"


"YAA!! aku tidak mabuk, ambil ini aku bisa membeli semua soju disini!"


Jae Hwan menyodorkan beberapa lembar uang yang bahkan cukup membeli 10 botol soju lagi, wanita paruh baya itu tidak berkata lagi ia lebih peduli dengan uang daripada laki - laki itu dan ia kembali dengan dua botol soju meletakkannya di meja lalu pergi tanpa basa basi.


Tiba - tiba saja pria itu ingat hari penerimaan mahasiswa baru di kampusnya dua tahun lalu. Gadis itu menampilkan tarian terbaiknya, ia begitu energik ia bahkan tampak bersinar padahal lampu ruangan saat itu dibuat redup. Gadis itu akan jadi populer dengan gayanya yang sedikit tomboy Jae Hwan bisa melihatnya dari ramainya tepuk tangan yang mengakhiri penampilannya di tambah beberapa senior juga ikut naik ke stage untuk menari, sebenarnya itu koreografi yang mudah semua bisa menirunya karna sangat populer tapi seharusnya tidak cocok untuk gadis sepertinya, itu jenis tarian konyol kenapa ia memilihnya padahal banyak tarian girlband yang terlihat seksi dan bisa menarik perhatian tapi tarian Gangnam Style dari PSY itu terlihat berbeda saat ia yang melakukannya. Matanya membulat, Jae Hwan tertarik, jelas saja menjadi pemenang diantara banyak pesaing adalah takdirnya tapi ia juga tahu dirinya tidak suka terikat, maka ia memutuskan untuk sedikit bermain - main saja seperti yang biasa ia lakukan.


...***************...


Jae Hwan pulang ke apartemennya pukul 7 pagi benar - benar semalaman ia habiskan untuk menyiksa dirinya dengan tidak beristirahat, sebenarnya dia sudah pergi dari kedai 3 jam yang lalu tapi selanjutnya ia habiskan waktu dengan berjalan kaki tanpa arah dalam keadaan mabuk, Seoul masih ramai di jam itu orang - orang juga mungkin menghabiskan malam yang sama atau perasaan Jae Hwan saja sebab ia tidak ingin patah hati sendiri, hanya beberapa mobil yang melintas ia sendiri bahkan bisa dengan santai menyebrang tanpa melihat arah.


Dering ponsel terus mengganggunya yang baru saja mencoba tidur, ia meraba setiap sudut tempat tidur dengan malas dan menyadari benda itu tidak ada.


"Ara ssi, ponselku dimana?"


Ia lalu terdiam, Jae Hwan sadar tidak ada Ara disana, tidak ada wanita itu yang selalu sibuk di apartemennya entah membereskan tempat tidur atau membuat makanan untuknya. Bodoh kenangannya berserakan dimana - mana sehingga dimana pun ia berada bayangan wanita itu terus saja muncul.


Ponselnya berdering lagi membuyarkan lamunannya sejak tadi tentang gadisnya itu tapi kali ini ia dapat menemukannya. Telepon dari ibunya


"Mm... eomma."


"YA! Kau tidak kuliah?"

__ADS_1


"Mm..."


"Ya Tuhan apa saja kerjamu?"


"Eomma, jebal keumanhae (kumohon berhenti)!"


"Kepalaku pusing."


Ia lalu mematikan telepon ibunya sebab ia yakin jika tidak di hentikan ibunya akan terus mengoceh bahkan mengucapkan sumpah serapah padanya.


Waktu menunjukan pukul 4 sore ternyata dia sudah cukup tidur, entahlah rasanya baru saja ia terlelap kecuali badannya yang pegal - pegal seperti menjelaskan bahwa kegiatan itu saja melelahkan. Meski begitu hari ini ia memutuskan tidur lagi setidaknya ia bisa lupa pada gadis itu dan berhenti bertingkah bodoh dengan merusak dirinya atau menelpon Ara habis - habisan walau tetap di acuhkan.


Hari itu, 9 mei 2016 Jae Hwan menghampiri Ara yang tengah berkumpul dengan kelompoknya, tiba - tiba saja ikut duduk di sampingnya tanpa mengucapkan apa - apa membuat suasana sedikit canggung, semua junior tahu siapa Jae Hwan dia salah satu yang paling terkenal di kampus. Bagaimana tidak, ia tampan, kaya bahkan mahasiswa lain tidak ada yang berani dengannya itulah juga sebab kenapa Jae Hwan bertindak semaunya, ia memiliki segalanya juga memiliki kendali atas orang lain di sekitarnya.


"Kenapa diam? Kalian terlihat asik tadi. Lanjutkan saja!"


Katanya sambil tersenyum dan memberi isyarat dengan tangannya.


Semuanya hanya saling tatap lalu Kim Tae Hyuk mencairkan suasana membuat semua mengobrol seperti semula walaupun sebenarnya pandangan mereka tertuju pada satu orang.


Ara pun begitu, ia risih karna sejak tadi Jae Hwan menatapnya, terlalu dekat bahkan.


Ara memberanikan diri bertanya meski bibirnya hampir kelu karna gugup


"Ani (tidak) aku hanya ingin bergabung denganmu,"


Ucap Jae Hwan santai, lalu kemudian ia berdiri membuat semua mata memandangnya tanpa sebab. Entahlah ia memiliki kharisma yang membuat semua mata tertuju padanya, dan apa - apa yang tidak Ara sadari tadi sekarang terlihat jelas. Pria itu tinggi dan tampak sempurna dengan celana jeansnya.


"Ahh.. kau! Kenapa kau berbicara santai denganku?"


Jae Hwan jelas bertanya pada Ara. Tapi Ara tidak menjawab ia membiarkannya. Ara tidak boleh menatap laki - laki itu sebab Ara tahu ia bisa terpesona seperti yang lain ia tidak akan membiarkan waktu kuliahnya di rusak oleh urusan semacam ini.


"Oppa!"


Suara yang manja terdengar dari mulut seorang gadis cantik dengan kaos putih dan skirt berwarna merah yang jelas terlalu pendek, ia menggandeng lengan Jae Hwan tanpa sungkan membuat pandangan setiap orang kini tertuju pada mereka. Terlihat sangat serasi sebab wanita itu sempurna dengan kulit seputih susu.


"Sedang apa kau disini? Kau bilang akan mengajakku pergi!"


Gadis itu menggelayut manja jelas membuat beberapa orang disana tampak muak terutama para wanita

__ADS_1


"Ahh... Mianhae (maaf) aku ada urusan lain."


Ucap Jae Hwan santai sambil melepaskan pegangan gadis itu perlahan membuat si gadis merengut menatap Jae Hwan.


"Oppa, kau tahu aku memesan couple shirt untuk kita. Itu sangat manis. Kita akan memakainya kemana - mana. eung?"


"YA! Siapa yang masih memakai couple shirt jaman sekarang?"


Jae Hwan sedikit mengejek.


"Wae (kenapa) ? Itu manis. Ada gambar hati disana."


"Kau mempermalukan dirimu sendiri!"


Ucap Jae Hwan dengan raut jijik membayangkan ia menggunakan tshirt tersebut sambil pergi meninggalkan gadis itu yang di pandangi hampir semua orang disana


"Oppaaaa!"


"Ka (pergi) jangan mengganggu ku terus, aku sudah muak denganmu!"


Jae Hwan hanya mengangkat sebelah tangannya tanpa berbalik memperdulikan gadis cantik itu.


Gadis itu berlari kecil menyusul Jae Hwan menarik tangannya untuk berbalik dengan kasar.


"Oppa, Apa maksudmu? Kau bilang kau sangat menyukaiku".


"Ku pikir kau... Kau sangat menyukaiku".


Ucap gadis itu pelan dan ragu


"Itu seminggu yang lalu, aku sudah tidak menyukaimu lagi,"


Jae Hwan mengusap rambut gadis itu lalu berbisik


"Jangan berfikir aku akan menyukaimu selamanya, itu hanya omong kosong!"


Dari satu kejadian saja Ara sudah tahu laki - laki seperti apa Kim Jae Hwan. Gadis itu bahkan membuka mulutnya dan membulatkan mata karna begitu terkejut kejadian semacam itu ada di hadapannya.


Ara memasang sign dalam dirinya bahwa dia harus menghindari laki - laki brengsek itu atau nasibnya akan sama dengan semua gadis yang pernah Jae Hwan Permainkan.

__ADS_1


__ADS_2