The Fool

The Fool
Falling In Love Is Always A Surprise, Right?


__ADS_3

Jae Hwan melirik jam di pergelangan tangannya dengan sedikit kesal. Bisa saja ia pergi dari kedai patbingsu (es kacang merah) ini sejak tadi, tidak ada orang yang suka menunggu bahkan setengah jam? tapi kenyataannya ia tidak beranjak. Ia merindukan gadis yang tidak di temui olehnya sejak pagi, hanya sejak pagi. Tapi begitulah saat jatuh cinta, berpisah terasa begitu menyebalkan, gadis itu seperti candu membuat kepalanya pusing jika tidak melihatnya dan harinya membosankan.


Ia meraih ponsel di meja, menulis dalam kolom chat yang jelas di tujukan kepada siapa. Kesal tidak mendapat jawaban. ia memutuskan menelponnya dan mendengar setiap nada tunggu berbunyi dari benda tersebut, mulutnya dengan gatal siap mengomeli gadis yang membuatnya menunggu sejak tadi dan seperti tengah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan memastikan gadis itu tidak melakukannya lagi.


"chagiyaaa (sayang), aku sedang menuju ke sana, kau bisa menungguku 10 menit?"


"Baiklah."


ia menggeram dengan sedikit kesal namun mengingat panggilan yang di berikan gadis itu, suaranya melembut.


"pastikan kau sudah mendapat tempat duduk sebab aku tidak mau mengantri. Eung!"


kemudian panggilan berakhir dalam 30 detik begitu saja, Jae Hwan menggigit bibir bawahnya kemudian mendengus. Ia luluh bahkan hanya karna gadis yang selalu mengumpat padanya menyebutnya 'chagiya' yang bahkan panggilan itu terlalu sering keluar dari mulut teman kencannya dengan mudah dan Jae Hwan tidak merasakan apapun tapi lihatlah sekarang, betapa mudahnya gadis itu memberi kejutan dan Jae Hwan mendadak seperti terkena serangan jantung ringan.


10 menit, dan untung saja gadis itu menepati janjinya. Ara datang dengan senyumnya yang tidak lepas, yang bagi Jae Hwan terlihat seperti permohonan maaf membuat pria itu tanpa sadar tersenyum juga menyambutnya.


"Kerja bagus uri chagi, aku tidak perlu ikut mengantri lagi."


Ia mengusap punggung tangan Jae Hwan yang berada di atas meja, dan bodohnya pria itu menatap setiap gerakan Ara seperti seorang amatir, dengan sorot mata terpesona.


Mereka memesan dua mangkuk besar bingsu, milik Jae Hwan terlihat lebih menggoda bagi Ara dengan potongan strawberry yang melimpah dan ice cream scoop sedang miliknya hanya patbingsu biasa dengan toping kacang merah dan susu. Ara mengambil sendok dan memasukan suapan besar ke dalam mulutnya merasakan sensasi dingin dan manis di mulut. Ia menggigit sendok dengan bibirnya, matanya jelas tertuju pada Gwail bingsu milik Jae Hwan yang baru di sentuh pria itu dengan satu sendok saja. Dengan ragu ia menatap Jae Hwan, dan pria itu bisa menebak jika Ara menginginkan bagian miliknya.


Gadis itu membuka mulut ketika Jae Hwan hendak memasukan suapan keduanya, dan tanpa sadar pria itu menurut menyuapi gadis itu dengan senang hati. Ara terkejut, ia menyukai strawberry yang bercampur ice cream disana, namun rasanya tidak asing bagi Ara. Ia sibuk dengan pemikiran soal makanan itu sementara Jae Hwan masih terpesona dengan refleksnya terhadap gadis itu.


"ikuti aku, ES CAM-PUR!"


ucap Ara dengan mulut terbuka tengah mengeja, Jae Hwan heran namun ia tidak complaint


"ES CAM-PU"


Ara bertepuk tangan dengan senang meski pelafalan huruf 'R'nya buruk, membuat beberapa mata memandangnya dengan heran dan ia tidak peduli.


"kau tahu di indonesia ada dessert yang mirip dengan gwail bingsu, ES CAMPUR"


"kau memasukan banyak jenis buah, rumput laut, agar - agar kemudian es serut dan sirup juga susu putih."

__ADS_1


Jae Hwan tampak antusias dengan penjelasan Ara melihat bagaimana gadis itu bercerita dengan mata berbinar.


"geurae, kau harus mengajakku ke Indonesia nanti."


"jinjja (sungguh) ?"


Ara menutup mulutnya yang tersenyum dengan tidak percaya, bahkan Jae Hwan masih bisa melihat senyum gadis itu dari sela - sela jarinya.


"Aku berjanji jika kau ke sana, aku akan membawamu ke semua tempat yang tidak akan kau lihat disini."


"kull"


Jae Hwan tersenyum sementara Ara masih tertawa senang.


Gadis itu lagi - lagi menghipnotisnya, ia tidak pernah bersikap manis bahkan mencoba membuat Jae Hwan terpesona tapi bahkan senyumnya saja sudah membuat pria itu takluk. Sial.


"Jadi bagaimana keluargamu, menyenangkan?"


Gadis itu sampai pada pertanyaan paling dalam dan Jae Hwan tidak suka bercerita namun sekali lagi gadis itu membuatnya mengoceh menceritakan bagaimana tingkah ibu dan ayahnya hari ini.


Ara mendengarkan pria di hadapannya bercerita, awalnya Jae Hwan tidak terbuka dan hanya menceritakannya sekilas saja namun gadis itu memang pandai mencairkan suasana membuat Jae Hwan tanpa sadar menceritakan segalanya dengan detail, hari saat ia masih kecil, ibunya yang dahulu seorang psikolog dan ayahnya yang jatuh cinta pada wanita paling berpengaruh di rumah tersebut. Wanita yang dengan hebatnya mengendalikan dua pria tersebut.


Ara kembali mendengarkan Jae Hwan sesekali ia juga menanggapi dengan ceritanya yang hampir sama. Namun dari semua cerita Jae Hwan pria itu tidak menyebut satupun nama temannya, Ara mengerti jika mengingat lingkungan pertemanan Jae Hwan yang palsu. Ia pasti muak meski tidak diucapkannya.


"ayahku dulu pernah hampir depresi, kau tahu menghadapi tekanan menjadi seorang chaebol (konglomerat) bukanlah hal mudah,"


Jae Hwan seperti menerawang, kemudian menarik nafasnya sebelum melanjutkan,


"haraboji (kakek) terus menekannya untuk menjadi seseorang yang sempurna, sementara jiwanya ingin bebas, belum lagi paman dan bibi menginginkan ayahku tidak pernah ada, mereka membenci fakta bahwa ayahku lebih segalanya dalam berbagai situasi dan haraboji selalu membanggakannya."


Ara terkejut, ia tidak tahu bahwa kehidupan orang kaya begitu rumit, tidak seperti yang semua orang lihat bahwa mereka orang kaya hanya tahu cara menghamburkan uang, ia tidak berkomentar namun Jae Hwan tahu gadis itu mendengarkan dengan baik.


"uang membuatmu memiliki segalanya termasuk orang - orang yang membencimu,"


Jae Hwan seperti merasakan dirinya sendiri dalam situasi yang sama.

__ADS_1


"lalu bagaimana ia bertemu ibumu?"


Ara menyela, ia lebih tertarik pada bagian bagaimana ayah Jae Hwan jatuh cinta


"ayahku mendatangi psikolog diam - diam dan kau bisa menebak disana lah ibuku."


Jae Hwan tersenyum, ia sepertinya juga menyukai bagian tersebut.


"eomma pernah mengatakannya padaku bahwa ayahku terlihat sangat kesepian saat itu, ia membutuhkan seseorang untuk di andalkan meski sebenarnya ia mampu berdiri sendiri namun ada bagian dari dirinya yang membuat ibuku tanpa sadar mendekat."


"dan biar ku tebak, ayahmu terus datang ke sana untuk konsultasi?"


Jae Hwan mengangguk setuju


"hebatnya lagi pria tua itu berkembang dengan sangat baik, ia berusaha membuktikan bahwa dirinya pantas menjadi pewaris dan bisa menghadapi semuanya hanya agar bisa menikahi eomma. Ia tidak mau haraboji menentangnya nanti."


Ara melongo, ia terpesona dengan cerita Jae Hwan juga terpesona pada pria yang sedang terpesona juga mengingat kenangannya.


"ku fikir itu lebih dari sekedar cinta, sebab ia membutuhkan apapun yang eomma miliki. Dan eomma juga begitu."


"ibuku adalah seseorang yang luar biasa,"


Jae Hwan melanjutkan ceritanya


"ia seperti membuat pria tua itu jatuh cinta setiap hari, bahkan sampai pagi ini ketika aku melihat mereka."


sekali lagi Jae Hwan menerawang mengingat kejadian pagi ini dengan senyum yang membuat Ara terpesona, ia terlihat begitu hangat.


Jae Hwan lebih sering meledek ayahnya dengan menyebut 'pria tua' namun Ara bisa melihat Jae Hwan amat menyayangi ayahnya dari cara pria itu bercerita. Ara bahkan bisa melihat kekaguman dalam sorot mata Jae Hwan, dan Ara pikir ayah Jae Hwan juga memang luar biasa.


Mereka memutuskan pergi dari kedai sebelum di usir sebab antrian yang kini mengular sampai ke luar, ini musim panas wajar saja jika semua orang ingin menikmati makanan manis dan segar seperti bingsu atau ice cream.


Ara ingin jalan - jalan sebentar meninggalkan mobil pria itu terparkir disana, mereka mengecek beberapa toko untuk melihat - lihat, kemudian berdebat sebab Ara tidak membeli apapun, pria itu lelah dan terus mengeluh namun kakinya tetap mengikuti kemana gadis itu pergi.


Mereka berhenti di bangku taman menikmati langit yang mulai gelap dan kota menjadi terang oleh lampu malam, banyak papan iklan berukuran besar yang menambah pencahayaan setiap ruas jalan.

__ADS_1


Ara hampir tidak percaya ketika Jae Hwan mengatakan keluarga pria itu ingin bertemu dengannya, meski Jae Hwan mengucapkannya dengan wajah yang di buat seolah kesal namun keduanya tahu itu merupakan sebuah pertanda yang baik. Jae Hwan baru ingat menceritakan bagian itu ketika Ara ingin minum teh dan cake mengingatkan Jae Hwan pada ibunya.


Dan membuat Jae Hwan kesal dengan nafsu makan Ara.


__ADS_2