THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
Say No


__ADS_3

Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.


Selain itu narkotika dapat menyebabkan efek berbahaya seperti halusinasi, stimulan yaitu mengakibatkan kerja organ tubuh seperti jantung dan otak bisa lebih cepat dari biasanya. Selain itu bisa mengakibatkan depresi, Adiktif yang menimbulkan kecanduan jika terlalu lama dan sudah kecanduan maka lambat laun organ dalam tubuh akan rusak jika sudah melebihi takaran maka pengguna akan overdosis dan mengakibatkan kematian bisa juga penyakit menular.


Seperti itulah yang sekarang Kenzi rasakan, tubuhnya menggigil, ia meringkuk di atas tempat tidur meremas sprei dan berusaha untuk tidak mengkonsumsi lagi obat yang di berikan Laila. Setelah ia tahu keluarganya masih hidup, ia menjadi sangat menyesal dan ingin kembali pada keluarganya.


"Cepat minum obat ini! ucap Laila jengkel.


Namun Kenzi menepisnya hingga obat itu jatuh ke lantai berserakan. Laila mulai kesal lalu ia keluar kamar memanggil anak buahnya untuk memaksa Kenzi minum obat.


"Angela putriku..." ucapnya bergetar, tubuhnya terus menggigil. Ia berteriak histeris menahan rasa sakit di tubuhnya.


"Siena sayang, maafkan aku..maafkan aku.." ucapnya lirih, ia gigit ujung sprei untuk menahan rasa sakitnya akibat kecanduan parah obat obatan terlarang.


kenzi terus meracau menyebut satu persatu nama keluarganya. ia tidak ingin kehilangan memori itu lagi, ia tidak ingin melupakan nama Siena, Jiro, Ryu dan Angela. Namun apa daya, ia sudah terjebak dan menjadi pecandu terlalu lama.


***


Sementata itu, Siena dan dua anaknya bersama Kyo telah di kepung anak buah Laila. Hanya Siena yang memegang senjata api, sementara musuh tak terhitung jumlahnya.


"Ibu, bagaimana ini?" bisik Angela menatap waspada musuh yang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Kau tenang nak," ucap Siena menenangkan meski ia sendiri tidak tahu. Dari kejauhan terlihat beberapa mobil patroli Polisi berdatangan ke tempat itu Nampak Avram dan Aranza keluar dari pintu mobil.


Keberuntungan di antara kematian, lagi lagi pertolongan. datang dari Avram dan putranya Aranza. Sebagai salah satu pejabat di pemerintahan di kota itu. Ia meminta pihak berwajib untuk datang ke lokasi penyerangan yang sudah di ketahuinya.


Semua musuh dari pihak Laila tidak menyangka kalau mereka telah di kepung Polisi.


"Kalian sudah kami kepung!"


Namun musuh tidak mau menyerah begitu saja, mereka berlari dan melakukan penyerangan balik terhadap pihak berwajib. Saling kejar dan saling tembak antara kelompok Yakuza dan anggota Polisi pun tidak dapat di elakkan.

__ADS_1


Avram dan Aranza melindungi Siena dan keluarganya, membawa mereka pergi menjauh dari lokasi dan menyerahkan semua musuh pada pihak berwajib.


***


"Terima kasih, kau selalu membantuku," ucap Siena pada Avram. "Sebenarnya kau siapa?"


Avram tersenyum, ia duduk di kursi berhadapan dengan Siena. "Kau tidak perlu tahu aku siapa, yang terpenting kau dan keluargamu baik baik saja."


"Om, terima kasih." Ryu membungkuk hormat.


"Jangan sungkan," sahut Avram menoleh ke arah Ryu.


"Siena, aku masih ada urusan. Sebaiknya kalian menenangkan diri dan jangan keluar rumah dulu."


Siena menganggukkan kepala. "Terima kasih."


Avram tersenyum menepuk lengan Siena sekilas lalu ia berdiri dan melirik ke arah Aranza. "Kita berangkat sekarang."


Angela menganggukkan kepalanya, menatap punggung mereka berdua pergi mengantarkan Kyo hingga hilang dari pandangan.


"Ibu mau istirahat." Siena berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Ibu!" Ryu berlari menyusul Siena di ikuti Angela.


"Ibu."


Siena duduk di tepi tempat tidur, tengadahkan wajahnya menatap Ryu.


"Ibu mau, kalian pulang ke Indonesia. Tinggallah bersama paman Keenan." Siena tidak ingin anak anaknya celaka lagi, ia meminta Ryu dan Angela untuk pulang.


"Tidak, aku tidak akan pernah meninggalkan Ibu." Ryu menolak.

__ADS_1


Siena berdiri menatap tajam Ryu. "Nak, Ibu mohon. Ibu tidak mau terjadi apa apa lagi dengan kalian."


"Tidak," sahut Ryu tegas.


"Nak-?"


"Ayah membutuhkanku, Bu!" potong Ryu.


"Sayang, sudahlah!" Siena memalingkan wajahnya, mengusap wajahnya kasar.


"Bu, Ayah dalam bahaya." Ryu menyentuh tangan Siena.


"Ayah dalam pengaruh obat obatan, jika bukan karena obat obatan. Tidak mungkin Ayah bisa melupakan kita." Ryu berusaha menjelaskan pada Ibunya, betapa efek obat itu sangat berbahaya.


"Itu pilihan dia, kau tidak mengerti Nak." tangan Siena menampuk wajah Ryu.


"Bu, ayah butuh aku, butuh kita semua. Aku mohon Bu.." kedua tangan Ryu di lipat menatap penuh harap supaya hati Ibunya luluh dan memaafkan Kenzi.


"Kak, kakak tidak tahu bukan? ayah sudah menikah dengan wanita sundal itu dan punya anak."


Ryu dan Siena menoleh ke arah Angela.


"Dari mana kau tahu?" tanya mereka berdua.


Angela menundukkan kepala sesaat. lalu menceritakan kejadian saat ia mendatangi rumah Kenzi.


"Kau dengar? haruskah Ibu memaafkan Ayahmu? tidak, tidak akan pernah!" Siena duduk kembali di tepi tempat tidur menangkup wajahnya.


"Bu, aku tahu. Tapi sebagai anak, aku punya kewajiban untuk menolong ayahku." Ryu jongkok di hadapan Siena menggenggam kedua tangan Siena erat.


"Aku mohon izinkan aku, ayah butuh aku bu.."

__ADS_1


__ADS_2