
Awal pagi yang berat. Setiap hari kami membuka restoran di saat cahaya matahari belum memasuki pandangan mata. Sebelum itu, kami mempersiapkan semuanya, dari mulai pengelolaan tempat duduk, kebersihan dan bahan mentah. Semuanya sudah harus dipersiapkan sebelum para pelanggan datang.
Namun, itu bukan masalahnya.
Kami hampir tiap harinya harus mengatasi keluhan dan amukan pelanggan yang tidak masuk akal. Itu karena mereka berasal dari beberapa tempat yang bahkan aku tidak mengetahui asalnya. Kondisi akhir-akhir ini juga menjadi faktor utama yang menyebabkan itu terjadi.
Mengatasi semua kebiasaan yang terjadi di restoran sudah menjadi makanan sehari-hari kami. Karena itulah mengatasi mereka semua adalah hal tersulit yang pernah kami hadapi. Lagipula kami hanya ber-sembilan termasuk aku, dan restoran ini jauh dari kata 'Strategis', bertempat di pinggir hutan yang jauh dari pemukiman penduduk. Meskipun setiap hari kami kesulitan setiap hari dengan beranggotakan terbatas, tapi catatan pentingnya adalah, kami tidak akan menerima pelamar pekerjaan kepada kami.
Beberapa saat setelah restoran dibuka, para pelanggan membeludak memenuhi tempat duduk dan pesanan. Meskipun dunia memang sudah berubah dan jauh dari kata 'selamat', tapi persepsi orang-orang tidak terlalu peduli tentang kehancuran dunia. Inilah yang dialami orang-orang yang ada di sini sekarang. Mereka hanya bisa makan, minum dan tertawa, memikirkan ego masing-masing tanpa memedulikan kondisi dunia saat ini.
Jadi apa yang diharapkan dari dunia yang telah lepas dari tampuknya seperti ini?
Mengabaikan hal itu, mari kembali ke saat ini.
Aku sedang mempersiapkan hidangan untuk para pelanggan, tanganku tidak pernah berhenti karena tumpukan pesananan yang terus berdatangan. Karena itu kesibukan inilah yang membuatku kerepotan tiap hari. Tapi apalah daya ini semua untuk mencukupi kebutuhan kami semua.
Di saat yang sama suara langkah kaki datang ke dapur. Seorang gadis cantik yang sedang memakai seragam pelayannya dan membawa buku menu.
"Tuan Yuuki, ada amukan lagi dari pelanggan dan dia meminta bayaran atas ketidaknyamanannya."
Dia adalah Astia, asistenku, gadis berambut hitam sebahu, mata berwarna hijau emerald. Astia datang kepadaku membawakan keluhan yang tidak masuk akal.
"Panggil Annastasia dan Elma, aku yakin mereka dapat mengatasinya. Sekarang aku tidak bisa pergi."
"Ya, baiklah." Astia tersenyum lalu pergi.
Padahal yang aku harapkan adalah kehidupan normal, tapi kenyataan selalu berakhir menyakitkan.
Pekerjaan kami terlalu berat, bahkan kami tidak ada namanya pergantian Shift. Kenapa bisa? Mungkin orang-orang akan heran dan menanyakan itu. Restoran ini pada awalnya hanya sebuah mansion tua yang sudah ditinggal berpuluh-puluh tahun, kemudian kami menempati mansion ini dan membuat restoran. Mengurusi segala aspek dari mansion ini tidaklah mudah karena luasnya tempat ini, sehingga kami harus melayani pelanggan hanya dengan keterbatasan anggota kami.
Namun, sebagai gantinya kami memberikan batasan waktu tutup yang lebih cepat daripada restoran lain, dan waktu libur di akhir pekan. Setidaknya itu akan memberikan napas tambahan untuk pekerja yang ada di sini.
"Huh~"
Setelah pekerjaan yang melelahkan selesai, aku duduk di ruanganku. Di dalam kesendirian, aku hanya bisa mengehela napas berat dan melihat-lihat dekorasi ruangan yang cukup antik.
Ruanganku berada di lantai dua, Di lantai satu, tepatnya di aula, yang kami gunakan sebagai restoran. Ruangan anggota lainnya juga berada di lantai dua. Yah karena itu daripada disebut ruangan, mungkin lebih pantas disebut kamar pribadi mereka.
Hubungan kami semua tidak seperti anggota atau pekerja pada umumnya, kami jauh lebih spesial daripada itu. Bahkan mereka atau Astia yang bisa menjelaskannya lebih dapat dimengerti daripada aku. Seperti dimana saat kami bisa tertawa, bahagia, dan merasakan kepedihan bersama-sama tanpa memikirkan identitas dan ras kami yang masing-masing berbeda.
Yah aku dapat mempercayai mereka di atas kepercayaan atasan dan bawahan itu sendiri. Kami juga sudah tinggal bersama sejak lama, karena itu aku lebih menilai arti hubungan kami seperti... Keluarga.
Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu terdengar dan diikuti oleh suara gadis.
"Master, kami sudah menyelesaikan laporan hari ini. Apa kami boleh masuk sekarang?"
Suara gadis itu menunjukkan kalau dia tidak sendirian.
__ADS_1
"Masuklah."
Kemudian pintu dibuka oleh seorang gadis dan dua gadis lainnya yang mengikutinya. Mereka masih menggunakan seragam pelayannya.
"Ini master." Gadis berambut perak memberikan sebuah dokumen kertas kepadaku, dia adalah Lilia.
Sambil aku melihat dokumen yang diberikan oleh Lilia, aku sesekali melihat ke arah dua gadis lainnya yang arah pandangannya ke mana-mana. Mereka adalah orang yang kusuruh untuk menangani masalah tadi, yaitu Annastasia dan Elma.
"Bagaimana, apa kalian sudah cukup terbiasa dengan kombinasi unik kalian itu?" Kataku sambil melihat dokumen satu persatu.
"Cih! Kenapa aku selalu disandingkan dengan cewek murahan ini?" Kata Elma dengan kasar.
Sudah terbiasa untukku menanggapi sifat dan cara bicara Elma yang seperti laki-laki. Dia memang terlihat kasar, tapi dia hanya gadis yang tidak ahli dalam menunjukkan kelembutannya.
"Kenapa kau harus kesal?" Annastasia menguraikan rambut hitam penjangnya. "Lagipula Astia sudah meminta kita untuk mengurus orang-orang itu. Bukankah itu adalah pekerjaan yang paling cocok untuk kita?"
Di sisi lain Lilia hanya mencoba menghindar dari pertengkaran dua gadis tersebut, dan bersiul seolah dia tidak ada di sana.
Tapi entah kenapa saat aku memandangi Lilia, dia tiba-tiba mengubah perilakunya.
"Sudah, sudah... Kalau kalian ingin bertengkar, mari kita perang bantal saja bersama gadis-gadis lain. Anna, kau ingin memberi pukulan tepat di wajah Elma bukan? Lalu, Elma, kau juga ingin menarik rambut Anna dan menyeretnya di lantai bukan? Aku tahu kalian ingin melakukan hal itu dengan semangat, tapi ini bukanlah saatnya untuk itu. Mari kita urus itu nanti."
Begitulah tindakan Lilia untuk melerai pertengkaran di antara mereka berdua, tapi itu malah lebih disebut sebagai provokasi.
Dengan senangnya dan tersenyum, Lilia mengatakan itu kepada mereka berdua. Padahal tadi dia sudah berusaha tidak ingin ikut campur.
"Huh~" Aku hanya bisa menghela napas.
Ellena adalah rekan seperjuangan kami saat peperangan melawan monster kelas bencana, tapi setelah perang itu selesai, aku tidak mendapatkan kabar apapun tentangnya. Dia memang selamat dari perang itu, tapi beberapa hari kemudian, dia benar-benar menghilang. Jadi selama ini kami terus berjuang mencarinya dari belakang layar.
"Itu benar, gadis lainnya pun juga mengatakan hal yang sama. Di saat mereka menyelidiki setiap pelanggan yang masuk ke restoran ini, mereka tidak menemukan apapun tentang informasi si terkait. Ini memang benar-benar masalah yang tidak terduga." Annastasia menambahkan dengan serius.
Ini memang masalah yang serius. Di dalam situasi yang tidak masuk akal ini, salah satu dari teman kita menghilang. Kecurigaan jelas kalau ini adalah penculikan atau penyerangan yang tidak bisa kuprediksi sama sekali. Dalangnya tidak diketahui, bahkan penculikan atau bukan ini masih menjadi misteri.
"Apa kalian sudah mencari di seluruh area Pegunungan Yatze?" Tanyaku.
Tempat itu adalah medan perang yang sudah kami lalui, banyak korban jiwa di sana, tapi beruntungnya kami selamat. Dan lokasi itu juga keberadaan Ellena yang menjadi terakhir kali bersama kami.
"Saat ini, Natasha, Amarilis dan Lilac sedang menyelidiki tempat itu. Aku berharap mereka menemukan sesuatu." Kata Annastasia.
Setelah aku mengonfirmasi hal tersebut, Lilia datang dengan sebuah pertanyaan.
"Aku ingin memastikan sesuatu, bukankah master masih menjadi bawahan dari Raja Azaka? Lalu kenapa kita tidak membuat proposal kepadanya untuk mencari orang hilang?"
Pertanyaan Lilia cukup masuk akal dalam kondisi yang seperti ini, tapi semuanya tidak semudah itu.
"Itu tidak bisa. Peraturan dunia sudah menetapkan kalau petualang itu bersifat netral yang tidak memihak negara manapun, dan pihak kerajaan juga tidak mempunyai hak untuk membantu seorang petualang. Jadi kita tidak bisa berbuat banyak hal. Kita harus mempercayakan ini kepada diri kita sendiri."
__ADS_1
Sistem di dunia ini memang sulit dimengerti. Jadi memang tidak usah dipikirkan dengan serius.
"Huh~ begitu ya. Sayang sekali..." Lilia menghela napas dengan kecewa.
Aku sedikit kepikiran sesuatu, karena itulah aku sedikit tersenyum dan menatap Lilia.
"Baiklah Lilia, sebagai pemimpin para gadis, menurutmu apa yang harus dilakukan untuk situasi yang seperti ini?"
"Eh-- Ehhh? Akuu?" Lilia kaget dan panik.
Aku menutup mataku dan mengangguk beberapa kali.
Lilia mulai menggaruk telinga elfnya, dan berkeringat, mulai menunjukkan kecemasan.
"A-Ah itu ya. Begini... Um..."
Kebingungan meliputi dirinya, dia mencoba bekerja keras memikirkan sesuatu untuk membuatku menerima idenya sebagai pemimpin.
"Sebaiknya kita memperluas pencarian dan mengingat kembali kejanggalan apa yang sudah kita lewatkan, atau bahkan kita sudah melewatkan seseorang yang benar-benar berbahaya tapi tidak pernah kita perhatikan... Mungkin?" Lilia sudah mencoba yang terbaik di atas kepanikan yang dialaminya.
"Mungkin? Dan juga kita tidak sedang mencari mayat."
"Ahahaha." Terdengar jelas suara tawa Lilia dipaksakan karena tidak memenuhi standar yang dia inginkan.
"Tapi, perkataanmu itu ada benarnya. Kita memang sedang diliputi oleh ketidaktahuan, tapi karena ketidaktahuan itu membuat kita lebih berhati-hati terhadap sesuatu. Selama kita mengantisipasinya dan mencoba yang terbaik, tidak menutup kemungkinan kita akan mendapatkan sebuah harapan."
Perkataanku mungkin terlihat menggurui, tapi itu semua berdasarkan pada pengalamanku sebelumnya.
Lalu, Annastasia dan Elma bertepuk tangan sederhana.
"Inilah yang diharapkan dari pemimin kita, Lilia."
"Aku tidak akan menyangkalnya, Lilia memang di luar ekspetasiku."
"Eh?"
Pujian langsung dari mereka berdua membuat Lilia bingung sekaligus takjub karena tidak menyangka hal ini bisa terjadi. Padahal kemungkinan Lilia mengatakan hal yang baru saja lewat di kepalanya.
"Yah, sebaiknya kau pertahankan kualitas dari ide-ide daruratmu itu, Lilia."
"Siap, master!"
Huh~ mungkin sudah ada sedikit kemajuan ide untuk saat ini, tinggal menunggu--
Di saat yang sama, sebuah langkah kaki cepat terdengar menuju ruangan ini. Pintu kamarku terbuka cepat, dan seorang gadis muncul dari sana.
"Kami pulang!!"
__ADS_1
Gadis berambut hijau berteriak dengan semangat dan diikuti oleh dua gadis lainnya dari belakang, tapi mereka berdua hanya menggeleng-geleng kepala.
Akhirnya diskusi ini akan lebih menuju titik terangnya...