Tuan Muda Untuk Wanita Yang Terbuang

Tuan Muda Untuk Wanita Yang Terbuang
4 ( kursi roda )


__ADS_3

"apa kau yakin Cash? mau bekerja?". tanya Lionel berbisik setelah keluar dari Restaurant berbintang itu.


"ya". jawab Cashel singkat.


"bagaimana dengan kuliahmu?". tanya Lionel.


Cashel yang sedang berjalan menghentikan langkah kakinya dan menatap datar Lionel, hal itu membuat Lionel mengerti bahwa Cashel adalah si jenius gila.


"cepatlah..! sudah jam 11 siang". ajak Lionel pun bersemangat.


Cashel melanjutkan langkah kakinya, Lionel sangat heran dengan Cashel yang tak mengambil mobil atau setidaknya motor saja malah hanya sepeda saja di Kos-an mereka, awalnya Lionel merasa Cashel hanya bercanda saat bilang ingin hidup sederhana tapi sekarang la melihat langsung bahwa perkataan Cashel selama ini tidaklah omong kosong belaka.


mereka berdua mencari pekerjaan dengan bermodalkan kemampuan dan kartu khas mahasiswa Kampus ternama


London, dengan kartu Diamond (mahasiswa) itu sudah jelas menandakan bahwa Cashel dan Lionel memiliki kualitas kerja yang memadai sebab tidak sembarang orang bisa kuliah di kampus itu.


Cashel dan Lionel diterima bekerja sebagai karyawan di toko roti terkenal, Cashel sebagai Chef baru, sebab kebetulan sekali Toko itu baru saja buka mencoba mencari


Chef baru karna Chef sebelumnya sudah mengundurkan diri, kemampuan memasak Cashel sangat pantas di juluki


Chef kelas dunia.


"kenapa aku jadi OB?". bisik Lionel.


"kalau begitu kakak saja yang memasak". jawab Cashel dengan enteng.


Lionel berdecak pelan, "kau menang".


Cashel menyunggingkan senyum tipis nan penuh kemenangannya.


"aku ingin bertanya bagaimana kau bisa sehandal ini sekarang? bukankah kamu belajar jadi Chef hanya mengisi jam kosong mu saja?". tanya Lionel.


"hmm". jawab Cashel melewati Lionel.


Lionel menarik nafas berat, "nmemang sulit punya teman kaku dan kikuk, aku penasaran siapa gadis yang mau menyukai Pria kikuk sepertinya". gumam Lionel.


hari itu juga Cashel dan Lionel bekerja di Toko itu, sementara pemilik Toko kembali pulang dengan senang hati karna sudah dapat pengganti Chef di Tokonya, Cashel sangat berbakat bahkan di janjikan gaji 3 kali lipat jika berhasil mengembalikan pelanggan toko nya yang sudah berkurang.


.


jam 11 malam,


"kenapa kita lama sekali pulangnya?". tanya Lionel dengan kesal.


Cashel menoleh ke Lionel, "Kak? kalau kau tidak sanggup silahkan jalani hidupmu sendiri, aku tidak minta kau mengikuti apa yang aku kerjakan".


"baiklah, aku tidak akan protes". sungut Lionel.

__ADS_1


"tidak asik sama sekali, memang berbicara dengan pria kikuk tidak kenal namanya bercanda, otaknya serius meluluk, geger otak tuh kepala kalau tidak ada humornya sedikitpun". dumel Lionel.


"berisik". ketus Cashel dan Lionel hanya mencibir.


sebenarnya Lionel tidak lelah, hanya saja la berbasa-basi supaya situasinya dengan Cashel tidak seperti kuburan alias sunyi dan senyap, tapi pada nyatanya butuh kesiapan mental, sabar dan stok jantung kalau berbicara dengan


Cashel.


Pagi-pagi


Cashel berangkat ke kampus, la berpenampilan sederhana tidak seperti Lionel yang berpakaian lumayan mewah dari


Brand ternama.


"kapan kau beli mobil kak?". tanya Cashel melihat ke arah


Lionel.


saat keluar dari Kos-annya adalah sebuah mobil, siapa lagi yang punya jika bukan Lionel.


"aku tidak mau berpenampilan sederhana sepertimu, disini bermodalkan Kasta setidaknya aku tidak terlalu di injak- injak berada di kampus Elit". jawab Lionel dengan santai.


Cashel mengangguk saja, la menaiki sepeda nya.


"ayo naik..!". ajak Lionel.


"terserahmu saja, lain kali aku berlatih sepertimu". balas


Lionel yang tak heran lagi dengan Cashel suka menjaga bentuk tubuhnya itu supaya tetap atletis dan seksi.


Cashel satu-satunya Pria berkendara dengan Sepeda dikampus itu membuatnya menjadi tatapan banyak para mahasiswa/i berbagai negara, mereka mencibir Cashel yang miskin, namun yang di cibir tidak peduli sama sekali dan berjalan melewati mereka semua.


wushhh...!


para wanita di kampus itu memejamkan mata mencium aroma tubuh Cashel yang wangi khas, entah wangi apa tubuh Cashel tapi jelas tidak ada parfum seperti itu di dunia ini.


"wangi". gumam para wanita itu mengipas-ngipasi wajah mereka sendiri melihat postur tubuh belakang Cashel.


para lelaki kalangan atas di kampus itu tidak menyukai


Cashel, kabar itu sampai ketelinga Lionel.


"sudah aku tebak, baru masuk sudah dapat musuh si


Cashel". batin Lionel tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala, la tidak perduli sebab Lionel tau batasan amarah


Cashel dan kemampuan Cashel tidaklah rendah.

__ADS_1


di Ruangan kampus Cashel, tidak ada yang menghargai


Cashel termasuk dosennya berkata santai dan tidak hormat pada Cashel tapi hal itu tidak membuat Cashel sedih sebab memang itulah tujuannya tidak dianggap, Cashel suka ketenangan karna la tidak suka ditempeli oleh ulat keket.


jam istirahat telah tiba,


Cashel memakan bekalnya di taman, la menoleh melihat sebuah mobil yang sama saat Cashel menemani Lionel mendaftar di kampusnya.


"ada apa denganku?


kenapa dengan mobil itu?". gumam


Cashel segera membuang muka.


Cashel heran dengan dirinya seolah mata hitamnya (mata samaran warna asli mata Cashel Violet) itu betah melihat mobil itu padahal Cashel tidak tertarik ingin memiliki mobil itu.


"wooii". Lionel tiba-tiba muncul tapi Cashel tidak terkejut sama sekali.


"bagaimana hari pertama mu? pusing diabaikan?". ledek


Lionel sambil mengambil alih makanan Cashel.


"lumayan tapi pikiran mereka berisik". jawab Cashel.


"yahh..! merepotkan punya kekuatan mendengar pikiran orang". keluh Lionel.


Cashel mengangguk saja lalu mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada adiknya Tyara.


mobil mewah yang Cashel lihat tadi berhenti di belakang kampus tak jauh dari Cashel dan Lionel berada, Kursi Roda dikeluarkan dan seperti biasa pengawal menggendong seorang gadis dengan tatapan kosong dan diletakkan di kursi roda.


"hati-hati, tolonglah...!". pinta seorang gadis berumur 23 tahun bernama Irina dalam bahasa Inggris dengan cemas melihat Nona nya di perlakukan seperti benda tak berharga.


namun kata-kata pelayan itu tidak dihiraukan oleh pengawal itu, tak ada penghormatan para pengawal pun meninggalkan gadis di atas kursi roda itu bersama


"Nona?". bisik Irina dengan sedih bersimpuh di kaki gadis dengan raut wajah yang berhasil membuat Irina menangis.


"tidak apa". jawabnya tanpa mengeluarkan suara sambil tersenyum perih.


"Nona saya berharap akan ada seorang Pangeran tampan yang bisa membawa anda ke sebuah kebahagiaan yang di impikan banyak wanita di dunia ini". kata Irina dengan sendu menghapus sisa air matanya.


"siapa yang mau denganku Irina?". tanya Gadis itu dengan gerakan tangannya (bahasa Isyarat).


"Nona tidak boleh berputus asa, saya yakin akan ada Pria yang bisa membuat Nona bahagia". kata Irina dengan suara bergetar.


gadis dikursi roda dengan pandangan kosong itu hanya tersenyum saja menanggapinya, entah mengapa kata-kata


Irina membuatnya merasa sedikit bersemangat walau tidak mungkin tapi la merasa ada kekuatan tersendiri saat Irina berkata seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2