Tuan Muda Untuk Wanita Yang Terbuang

Tuan Muda Untuk Wanita Yang Terbuang
menjauh


__ADS_3

diam cukup lama, perut Gadis di kursi roda itu pun mulai berbunyi.


"Nona?". isak tangis Irina.


"kenapa kamu cengeng sekali Irina? ini bukan pertama kalinya aku kelaparan kan?". tanya


Gadis itu dengan bahasa isyaratnya.


Irina semakin menangis saja, pikirannya sungguh meribut tanpa la ketahui Cashel dan


Lionel mulai terganggu dengan ocehan dalam otak kecil gadis berpakaian biasa itu.


"mau apa?". tanya Lionel menahan lengan


Cashel yang hendak berdiri.


"membantu orang tidak makan". jawab Cashel mengabaikan Lionel lalu melangkahkan kaki ke arah Gadis yang berisik itu.


Cashel tidak melihat paras gadis di kursi Roda itu hanya mendekati Irina dan memberikan 1 bungkus makanan yang diberikan Lionel untuknya.


"a.. apa ini Tuan?". tanya Irina dengan bahasa


Inggris.


"aku tau kalian bisa bahasa Indonesia". kata


Cashel dengan wajah datarnya.


Irina terkejut mendengar Cashel bisa berbahasa


Indonesia, gadis yang di kursi Roda itu hanya mendengar suara berat Cashel yang la tebak


Pria baik tapi la tidak berbicara karna la memang bisu hanya membuatnya merasa rendah saja.


"te.. terimakasih Tuan Muda". ucap Irina kikuk entah bagaimana caranya Cashel bisa tau bahwa mereka butuh makanan.


"aku bukan Tuan Muda hanya Pria miskin yang juga di asingkan". kata Cashel dengan tampang datarnya lalu melangkah pergi meninggalkan kedua gadis itu yang terhenyak.


"diasingkan?". gumam gadis di kursi roda itu tanpa suara menoleh ke arah Cashel dengan instingnya mendengar langkah kaki Cashel yang menjauh darinya.


"'sudah?". tanya Lionel


"hmm.. ayo pergi.! tempat ini tidak tenang lagi, sepertinya aku harus cari tempat baru". kata


Cashel.


"ya". jawab Lionel pun tak bisa berkata-kata sebab la juga suka ketenangan tanpa mendengar isi pikiran manusia.

__ADS_1


Lionel memang cerewet tapi mendengar pikiran orang lain juga tak membuatnya suka, terkadang kelebihannya itu juga membuatnya suka hal yang tenang walau bibirnya suka mengoceh.


"siapa tadi Irina?", tanya Gadis di kursi roda itu memutar arah ke Irina dengan bahasa Isyarat dan kebetulan Irina melihat ke arah Nona nya.


"saya tidak tau Nona Diana, saya pikir dia adalah orang yang baik entah bagaimana dia tau kita butuh makanan". kata Irina dengan semangat membuka kotak makanan yang diberikan oleh


Cashel.


Irina terdiam melihat isi kotak itu adalah makanan sehat, ia sudah lama sekali tidak memberi Nona nya makanan sehat sebab harganya sangat mahal dan tidak sesuai dengan uang yang la punya.


"'apa itu sayuran Irina?". tanya Diana tersenyum cukup lebar ketika hidungnya mencium aroma khas sayur tanpa suara sambil memegang ujung baju Irina.


"be.. benar Nona". jawab Irina dengan gugup melihat senyum Diana yang sudah lama tidak terlihat.


Sejak saat itu selama beberapa hari kedepan


Cashel tidak datang lagi ke taman itu, taman itu menjadi tempat Putri Diana menenangkan diri.


"apa ini tempat barumu Cash?". tanya Lionel terkekeh merasakan tempat yang jauh lebih tenang dari sebelumnya yaitu taman di lantai teratas Kampus itu.


"hmm.! lumayan". jawab Cashel.


"lihatlah aku beli pakaian baru dengan gaji pertamaku Cash". Lionel memamerkan set baju baru yang la beli lewat busana model ternama di


London.


Lionel menghela nafas panjang, la menyimpan baju nya karna Cashel sama sekali tidak tertarik dengan perkataannya.


"kadang aku bertanya-tanya siapakah wanita yang menyukaimu nanti Cash". kata Lionel menopang wajahnya menghadap Cashel.


Cashel menghentikan aktifitasnya, "apa itu saja yang kau fikirkan Kak?". tanya Cashel.


"iya, kau sudah tau kan bagaimana Keluargamu? mereka akan menjodohkanmu di umurmu yang tepat 26 tahun sementara kamu belum memiliki kekasih untuk menikah di umur 27 tahun". ujar


Lionel.


"jika aku tidak menemukannya aku tidak akan menikah, belum ada wanita yang menarik". kata


Cashel dengan serius lalu kembali melanjutkan aktifitasnya.


Lionel mengangguk saja, "semoga saja kamu tidak dipaksa menikah seperti di drama, Novel ocehan Tyara yaitu nikah Kontrak". ledek Lionel.


"apa kau fikir hidup kita dongeng kak? aku tidak akan membuang waktu menikah seperti itu'. jawab Cashel tanpa beban.


Lionel mendengus seolah Cashel punya perempuan idaman saja padahal siapapun tau


Cashel tidak punya tipe ldeal, setiap kali ditanya keluarganya selalu saja jawabannya adalah simpel yaitu gadis yang bisa membuatnya tertarik atau jatuh Cinta dipandangan pertama.

__ADS_1


"dari sekian juta perempuan di Indonesia tidak ada yang membuatmu tertarik". cibir Lionel.


Cashel diam saja, la menoleh ke ponselnya saat ponselnya bergetar memperlihatkan potret


Bunda nya yang artinya panggilan dari Crystal.


Lionel meledek Cashel anak Bunda tapi baru beberapa saat saja ledekannya buyar saat la juga di VC oleh sang lbunda (Jessica), Lionel berdiri dan menjauh dari Cashel.


Cashel berbicara cukup lama dengan Crystal dan Keluarganya, la sampai pusing mendengar celotehan Tyara dan Bubby mengenai sosok gadis yang bisa menggerakkan hati batu


Kakaknya itu.


Cashel menghela nafas panjang setelah mematikan ponselnya, "perempuan..!". gumam


Cashel pelan memikirkan perkataan keluarganya.


Cashel menyunggingkan senyum miringnya, "mana ada gadis yang bisa menggoyahkan mataku apalagi hatiku". gumam Cashel seolah merasa hatinya tidak akan goyah dengan cara gadis manapun saat memandangnya.


"hati-hati dengan perkataanmu Cash..! kamu baru saja berkata sombong nanti Tuhan menghukummu". sambar Lionel tiba-tiba sudah duduk disamping Cashel mendengar perkataan


Cashel.


"hmm..! ku harap perkataanmu bena". kata


Cashel dengan santai membuat Lionel geleng-geleng kepala saja.


"ayo ke Toko..!". ajak Lionel melihat jam tangannya.


Cashel pun melihat jam tangannya lalu menoleh ke Lionel dengan tanda tanya, lalu Lionel menjelaskan bahwa hari ini mereka kedatangan 2 karyawan baru dan itu mnembuat Cashel mengerti.


Di taman sunyi,


"kenapa Tuan baik itu tidak terlihat lagi ya Nona". kata Irina dengan raut wajah penasaran sambil membenahi rambut Diana.


Diana tersenyum kecut lalu berkata dengan bahasa lsyaratnya, "mungkin dia merasa kita mengganggunya, aku rasa kita memakai tempatnya".


"bagaimana Nona bisa tau?". tanya Irina heran.


"Nada bicaranya saat itu sangat dingin dan terkesan menjaga jarak dari kita, biasanya Pria seperti itu Introvert suka hal yang menenangkan dan benci diganggu". jelas Diana dengan gerakan tangan dan tatapan kosongnya yang memiliki sorot kesedihan mendalam.


"benarkah? Nona sangat hebat bisa mengenali kepribadian orang hanya dengan mendengar nada bicaranya". puji Irina dengan bangga.


Diana tersenyum saja, la memejamkan matanya merasakan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya, terkadang la lebih senang di Kamar saja karna tidak ada yang spesial baginya kuliah di kampus ternama ini malah la merasa diperlakukan seperti kuman dan hama yang harus dibasmi, walau matanya tidak bisa melihat tapi nada bicara dosennya sudah membuat Diana tau bahwa dirinya adalah beban bagi mereka.


"padahal Pria itu sangat tampan Nona". kata


Irina tersenyum lebar membayangkan jika Pria yang kemarin itu adalah pangeran berkuda putih untuk Nona nya tapi la tau kalau Pria itu bukan orang kaya.

__ADS_1


Irina memang suka berkhayal untuk Nona nya supaya bisa lepas dari belenggu menyesakkan di Rumah megah keluarganya sendiri.


__ADS_2