Wanita Yang Ku Nodai

Wanita Yang Ku Nodai
Rasa Bersalah


__ADS_3

"Mas Mandala nanti mau ikut ke kampung Bapak?"


Pertanyaan Pak Wato, sopir keluargaku, sekaligus sahabat masa kecil ayah itu membuatku berkeringat dingin. Kejadian dua tahun lalu kembali mengusik ingatan. Sebenarnya aku tidak terlalu mengingat dengan jelas. Hanya saja noda merah disprei kamarku sudah bisa membuatku menyimpulkan, kegilaan macam apa yang kulakukan saat aku mabuk malam itu.


Flasback on


Aku tengah menuruni tangga kala Pak Wato berpamitan hendak mengantarkan putri kesayangannya itu pulang. Namanya Nailis, Pak Wato seringkali menceritakan tentang putrinya tanpa bosan. Niatnya datang ke ibukota adalah untuk liburan, melepas rindu dengan Bapaknya yang paling hanya setahun sekali pulang ke desa. Sekaligus ingin berkenalan dengan keluargaku, terutama ayahku. Karena Pak Wato dan ayahku memang sangatlah dekat. Mereka bersahabat sejak masih kecil sampai ayahku lulus SMP. Sebelum kemudian Kakek membawa ayah hijrah ke kota dan menetap disini sampai saat ini.


Nahas, Nailis tak bisa menikmati liburannya yang hanya beberapa hari. Sehari tiba dikediaman keluargaku, gadis itu terkena cacar air. Itu yang ku dengar dari Mbak Isah, pembantu rumah kami. Karena aku memang tidak pulang ke rumah selama beberapa hari. Karena ada sedikit masalah dengan kekasihku waktu itu.


Pagi itu, ku lihat dia memakai baju lengan panjang, kaos kaki, masker, topi. Mungkin untuk menutupi bekas cacarnya yang ku lihat beberapa menghitam diwajahnya yang tak tertutupi masker.

__ADS_1


Gadis itu menunduk saat bersalaman denganku, berkenalan sekaligus berpamitan. Tangannya dingin dan sedikit bergetar. Tak jauh berbeda denganku yang dipenuhi perasaan bersalah. Namun bibir ini tak bisa mengucap apapun, atau sekedar mengucap permintaan maaf yang aku sendiri tak yakin bisa menyelesaikan semuanya. Aku terlalu pecundang untuk sekedar mengakui perbuatan bejatku. Tanganku mengepal dalam saku, menggenggam erat kalung berbandul nama Nailis yang tertinggal diatas kasurku. Betapa brengseknya aku ini.


Hari-hari berlalu. Aku tak memiliki keberanian mencari tahu ataupun sekedar menanyakan kabarnya pada Pak Wato yang kembali beberapa hari kemudian. Hanya terkadang aku mencoba melukis bayangnya dengan melihat wajah sopir keluargaku itu, Pak Wato, ayah kandungnya. Dan jika sudah melihat wajah pria tua pria itu. Aku semakin tak memiliki keberanian untuk mengakui perbuatan bejatku pada putrinya. Aku memang pecundang sejati.


Flasback off


Aku sudah memiliki kekasih kala itu. Amaya namanya. Wanita cantik yang kudapatkan dengan penuh kebanggaan. Wanita yang akhirnya memilihku dibandingkan pria sialan yang merundungku kala masih duduk dibangku Sekolah menengah Pertama. Randy Pratama.


Kembali ke Pak Wato. Sopirku ini memiliki kulit yang gelap, rambutnya keriting memanjang dan diatas bibirnya terdapat tahi lalat yang cukup besar. Kadang aku membayangkan Pak Wato versi wanita, bagaimana bentukannya? Apa Nailis mirip dengan Bapaknya? Meski kalau dari kulit sepertinya tidak. Karena ku lihat waktu itu kulit Nailis bisa dikatakan putih berbeda dengan Pak Wato yang berkulit gelap.


Pak Wato doyan sekali bercanda, lebih menjurus ke ghibah sebenarnya. Kalau sudah menceritakan tentang putrinya, rasanya seperti mendengarkan siaran radio rusak. Diulang-ulang terus sampai rasa-rasanya pengen kubanting handphone saking kesalnya.

__ADS_1


Tapi itu dulu. Dulu. Sebelum kejadian malam itu. Setelahnya, aku sangat antusias ketika mendengarkan cerita Pak Wato tentang Nailis. Tentu saja ini karena perasaan bersalah yang terus mengikutiku, bukan karena aku tertarik dengannya. Aku ingin tahu bagaimana kabarnya disana setelah malam itu.


Dari ceritanya aku bisa menarik nafas lega. Kudengar tak lama setelah ia pulang kampung ia menikah dengan kekasihnya. Ku dengar juga bahwa ia sudah melahirkan seorang putra yang sangat tampan dan sepertinya dari cerita Pak Wato, Nailis baik-baik saja dan hidup bahagia, tak ada yang perlu ku khawatirkan. Meski tetap saja ada yang mengganjal dihati ini. Membuat langkahku selalu merasa tak tenang menjalani hari-hari.


Dan mendengar pertanyaan dari Pak Wato barusan, juga ajakan dari kedua orang tuaku untuk menengok kampung halaman, semalam. Muncul dorongan kuat untuk melihat secara langsung bagaimana keadaan Nailis secara langsung. Setidaknya untuk mengurangi beban menyiksa dalam diri ini, jika memang kehidupan Nailis benar baik-baik saja. Aku bisa lega dan tenang. Sekaligus aku ingin mengucap maaf padanya, meski mungkin sudah terlambat.


"Aku ikut, Pak," jawabku yakin.


***


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2