
Perjalanan dari Jakarta ke Wonogiri sungguh sangat melelahkan. Aku dan Pak Wato duduk bergantian dibelakang kemudi. Ku kira setelah tiba dikota Wonogiri, tempat tujuan kami tidak akan lama lagi. Tapi ternyata masih membutuhkan kurang lebih satu jam untuk tiba di desa Pak Wato. Jalanan memang mulus tanpa cela, tapi kelokan-kelokannya sungguh membuat perutku sedikit mual. Mungkin juga karena efek perut kosong juga. Karena sejak sebelum keberangkatan, nafsu makanku benar-benar hilang mengingat sebentar lagi akan bertemu dengan Nailis.
Ya Tuhan ... apa yang harus ku katakan saat bertemu dengannya nanti?
Sekitar pukul lima sore kami tiba di rumah Pak Wato. Rumah berbentuk limasan dengan cat berwarna putih. Hanya saja rumah itu nampak sepi dan semua pintunya tertutup rapat. Diterasnya ada sebuah sepeda motor matic warna putih terparkir dengan termos besar berwarna hijau dibagian jok belakang.
"Mari-mari silahkan duduk." Pria berambut ikal itu mempersilahkan kami duduk dikursi bambu yang ada diteras rumah. Tapi kami lebih memilih melepas penat dengan berselonjor dilantai keramik putih itu. Adem sekali hawa di desa ... tapi sayang aku tak bisa menikmatinya ...
"Sebentar saya hubungi Nailis dulu." Pak Wato merogoh saku celananya dan mulai menghubungi putrinya.
"Nailis! Nailis!"Tepat ketika sebuah mobil Chevrolet usang lewat di jalan depan rumah. Pak Wato menurunkan ponsel jadul yang semula bertengger tepat dilubang telinganya. Tangannya melambai pada sopir mobil pick up itu dan berlari menghampiri mobil berwarna coklat usang yang mengangkut hasil panen padi yang menggunung dibak terbuka belakang.
Hanya sekilas pandang netra kami saling menatap namun jatungku sudah berdebar tak karuan. Gadis muda yang duduk dibelakang kemudi dengan masker hitam itu, benar Nailiskah?
"Mari masuk-masuk ... pasti capek, habis perjalanan jauh." Pak Wato kembali setengah berlari kecil membuka pintu rumahnya.
"Itu tadi Nailis, To?" tanya ayah. Mereka memang terbiasa memanggil nama. Maklum sahabat lama, jadi tidak ada batasan layaknya majikan dan sopirnya.
"Iya. Lagi nganterin panen dulu. Lumayan musim begini rame, buat tambah-tambah beli beras. Maklum nggak punya sawah." Pak Wato terkekeh sembari menyalakan lampu dan membantu kami memasukkan barang-barang juga oleh-oleh untuk keluarganya.
__ADS_1
"Bukannya kata kamu Nailis kerja di pabrik?" tanya ayah lagi.
"Yaaa apa aja dia mah, Us. Ya kerja di pabrik, jual es lilin, usaha jamur tiram. Kadang ngangkutin hasil panen padi kalau lagi musim, apa aja dilakuin maklum kebutuhan banyak." Kali ini ekspresi Pak Wato nampak berbeda. Bahkan sekilas ia melirik padaku ditengah kesibukannya membawa termos besar yang ia lepas dari jok motor putrinya. Perasaanku semakin tak karuan saja, firasatku mengatakan sesuatu akan terjadi beberapa saat lagi.
"Lha ada suaminya kan, To. Emang suaminya kerja apa? Bukannya katanya karirnya bagus di Jakarta?" Kali ini ibu yang bertanya. Sementara mulut ini tak memiliki nyali untuk sekedar bersuara atau berbasa-basi.
"Sudah lama mereka bercerai," jawab Pak Wato dengan mimik sedih. Berbeda sekali dengan ketika biasanya ia menceritakan tentang Nailis.
"Lho? Kapan? Kok kamu nggak pernah cerita sama kita?" Ayah nampak tak percaya. Begitupun ibuku, juga aku tentunya. Mengingat, sudah menjadi kebiasaan Pak Wato menceritakan apapun tentang putri kesayangannya itu.
"Panjang ceritanya, nanti kalian juga akan tahu."
Perasaanku benar-benar gelisah melihat gerak-gerik Pak Wato yang menurutku aneh, tidak seperti biasanya, yang ceria dan penuh tawa jika sudah berkumpul seperti ini.
***
Aku memutuskan untuk mandi pertama, hawa dingin memang mulai terasa. Namun lengket ditubuh tak bisa diabaikan. Lagipula aku perlu mempersiapkan hati untuk bertemu dengan Nailis. Mendengar pernikahannya yang kandas dan perjuangannya banting tulang memenuhi kebutuhan hidup semakin membuat diri dikuasai perasaan bersalah. Perasaanku mengatakan itu semua karena perbuatanku. Ku yakinkan diri bahwa aku harus bertanggung jawab, entah dengan cara apa. Satu yang pasti aku ingin mengakui perbuatan dosaku, meminta maaf padanya. Setelah itu aku siap menerima konsekuensinya, apapun itu. Aku tidak mungkin hidup dengan selalu dibayangi perasaan bersalah seperti ini. Aku harus menerima hukumannya, termasuk jika nantinya orang tuaku memintaku menikah dengan wanita yang bahkan tak aku tahu wajahnya dan tentunya tak aku cintai. Mengenai Amaya ... aku pikirkan nanti.
"Mandala, sapa dulu Nailis." Seruan Ayah membuat tubuhku yang baru kembali dari kamar mandi mendadak membeku. Namun mataku reflek mencari keberadaan gadis yang Ayah maksudkan.
__ADS_1
Jangan tanyakan kabar jantungku kali ini? Serasa aku baru lari maraton ketika langkah kakiku mendekat padanya padahal dengan langkah yang pelan sekali.
"Hai." Tenggorokan ini rasanya tercekat ketika wajah itu mendongak dan membiarkan netra kami bertatap tanpa jarak yang berarti. Ku telan saliva susah payah ketika menyadari satu hal. Nailis? Nailis yang dulu dalam bayanganku adalah Pak Wato dalam versi wanita. Bayangan itu musnah berganti dengan kekaguman yang tak dapat ku tutupi. Aku dibuat terpesona pada gadis yang hanya mengangguk lemah membalas sapaanku.
"Apa kabar?" Ku ulurkan tangan dengan netra ini tak lepas dari wajah ayunya. Dia menyambut uluran tanganku singkat. Benar-benar singkat. Sampai rasanya seperti bersentuhan dengan angin. Setelah itu ia seperti berusaha menghindariku. Entah kenapa hati ini terasa sakit. Padahal harusnya itu wajar, setelah apa yang kulakukan padanya.
"Ibu tahu Nailis cantik ... tapi nggak usah sampai ngiler juga kali," sindir ibuku tepat sasaran.
"Apaan sih,Bu." Kikuk. Tapi mau bagaimana lagi. Apa pantas bajingan ini mengaguminya? Tentulah Nailis sangat membenciku.
***
Aku sadar. Nailis sengaja menghindariku, bahkan ia tak membiarkan mata sayunya berkontak langsung dengan mata baj*ngan ini. Aku hanya bisa tersenyum miris, menertawakan jiwa pengecutku. Kenapa selama ini kamu diam saja Nailis? Kenapa tak melaporkanku pada polisi atau pada kedua orang tuaku? Menuntut ganti rugi atau pertanggungjawabanku? Kenapa selama ini dia diam saja?
"Anak kamu dimana Nai?" Pertanyaan ibu mewakili rasa penasaranku yang sedari tadi ku simpan. Begitu pengecutnya diriku, nyaliku semakin lenyap sejak kehadiran Nailis.
"Sebentar lagi paling mereka pulang," terang Pak Wato. Lagi lagi dengan senyumnya yang penuh misteri. Mereka yang dimaksudkan adalah istrinya dan cucunya.
Ku alihkan tatap pada Nailis. Gadis itu terlihat menunduk dalam gelisah ... tapi kenapa?
__ADS_1
***
Bersambung ...