Young Marriage [Secret Marriage]

Young Marriage [Secret Marriage]
Extra Part [last]


__ADS_3

Arsyad membuka matanya saat merasakan sebuah pelukan di pinggangnya, dia sebenarnya tidak akan terbangun karena tau siapa yang memeluknya tapi kali ini pelukan Dina terasa berbeda, pelukan Dina begitu erat


" sayang? " Arsyad mengangkat sedikit kepalanya melihat ke arah Dina yang menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Arsyad " kenapa Yang? "


Dina menggelengkan kepalanya tapi tangannya makin memeluk Arsyad erat.


" Yang mau sesuatu? " Dina menggeleng " sayang? "


" Aa' janji sama Adek, aa' gak boleh ninggalin adek. Gak boleh "


Sikap Dina sudah seperti itu sejak siang tadi, saat dia menonton gosip di mana seorang penyanyi yang suaminya meninggal tiba tiba.


Arsyad mengubah posisi menjadi menyamping, di kecupnya kening Dina. Dia kaget saat mendapati air mata Dina mengenang di pelupuk mata wanitanya, dia ingin bangun tapi tubuhnya tertahan pelukan Dina.


" Adek sayang sama Aa', Adek cinta sama Aa' jadi Aa' gak boleh ninggalin adek "


Arsyad balas memeluk Dina di ciumnya kening Dina, kedua mata pipi dan terakhir di bibir Dina.


" selama aku masih punya nafas, aku tidak akan meninggalkan adek, cukup satu kali saja kita pisah " Arsyad kembali mencium Dina, di usapnya punggung istrimya agar lebih tenang.


" A' "


" hm? "


" kalau misalnya adek meninggal duluan, Aa' bakal nikah lagi gak? " Dina mendongak


" tergantung " jawab Arsyad " kalau aku masih muda ya ngapain gak nikah, kan bisa nambah anak " ucap Arsyad membuat Dina mencubitnya.


" ohh... Gituu " gerutu Dina " sana gih nikah lagi " Dina dengan kesal memunggungi suaminya


Arsyad terkekeh pelan dia menarik Dina mendekat dan memeluknya dari belakang.


" habis pertanyaan adek aneh " Arsyad mengangkat sedikit kepalanya dan mencium pipi Dina. " besok kita mau kemana lagi? "


Dina menolehkan kepalanya, dia mencium pipi Arsyad


" pulang ya A', kasian anak anak kita tinggal... Sudah sebulan loh A' " Dina kembali menghadap Arsyad.


" tidak apa, mereka sudah besar " jawab Arsyad " semenjak menikah... Baru kali ini kita benar benar berdua "


" siapa suruh Aa' sibuk mulu "


Baru akan bersuara, suara ponsel di atas nakas berbunyi. Arsyad mengambilnya dia duduk menatap ponsenya


" siapa? "


" Ferran " jawab Arsyad sambil menggeser tombol hijau " Assalamu'alaikum nak? "


" PAPA!!! KAPAN PULANG? "


Dina terkekeh mendengar suara pekikan anak yang sudah di pastikan si bungsu, Raka.


" salamnya di jawab Nak, Mama sama Papa mau tinggal di sini " Dina yang menjawab, terdengar rengekan Raka


" wa'alaikum salam... " jawab mereka " PULANG " pekik Raka sedangkan suara kakak kakaknya tertawa di belakang


" Adek? " tegur Arsyad pada putra bungsunya karena mengeraskan suaranya ke arah Mamanya.


" kan... Di bilangin.. Mama sama papa tuh tinggal di sana. "


Dina menggelengkan kepalanya mendengar bagaimana jailnya si Adipta.

__ADS_1


" anak Aa' tuh " Dina berucap berbisik agar anak anaknya tidak dengar


" ini kalian kenapa belum tidur? " tanya Arsyad dan langsung saja terdengar grasak grusuk dari seberang sana. " Abang? Aa'? Adek? "


" adek nangis, kita bangun deh " suara Adipta, anak mereka yang paling bisa mengeles


" Abang? "


" iya pa? " suara si sulung Akhirnya terdengar


" kenapa begadang? " Tanya Arsyad dia paling tau, anak tertuanya itu sulit berbohong


" adipta mau nonton bola " jawab Ferran


" Abang!! " terdengar gerutuan dari sana " tapi Abang juga nonton kan? "


" kamu yang paksa "


Arsyad memperbaiki posisi duduknya dia bersandar di kepala ranjang, dia juga menarik tubuh Dina untuk di peluknya


" jangan di marahi, A'. Sesekali tidak apakan? Toh besok juga hari minggu " kata Dina


" ya sudah, jangan terlalu melarut nanti kalian tidak bisa bangun sholat subuh " ucap Arsyad


" iya Pa "


" Aa' Ai " panggil Dina


" iya Ma? " jawab Adipta


" awas ya, kalau Mama pulang banyak laporan tentang kamu " kata Dina


Dari seberang dia bisa mendengar kekehan Adipta, Arsyad dan Dina yakin kalau pulang nanti dia pasti akan mendengar banyak laporan dari Raka karena dialah bulan bulanan kejahilan kakaknya itu.


******


" Mama lama amat " Raka si bungsu menangis, bocah tujuh tahun itu memeluk erat Mamanya


" maaf ya sayang, papa tuh yang gak mau pulang " Dina mengusap kepala anak anaknya


Arsyad memasukkan koper ke dalam mobil tidak memperdulikan omongan Dina yang menjadikannya kambing hitam.


" ayo pulang " ajak Arsyad


" papa mah... Kita kan masih kangen sama Mama, jalan jalan dulu lah " Adipta yang sekarang berusia sembilan tahun itu makin banyak bicara


" Papa sama Mama masih capek gak usah bertingkah " Ferran berucap dia mendekati papanya menyalaminya karena tadi dia langsung menghambur ke Mamanya.


Arsyad mencium puncak kepala anak sulungnya itu


" yah Abang " gerutu Adipta dia mengikuti kakaknya menyalami Papanya di susul si kecil.


" Pa masa ya pa. Aa' selalu jailin adek " lapor Raka menatap tajam kakaknya sambil memeluk Arsyad


" orang gak "


" iya "


" gak "


" sudah sudah " lerai Arsyad " masuk ke mobil kita pulang. Jalan jalannya nanti malam saja "

__ADS_1


" aseeekkk " seru Adipta masuk ke mobil yang di dalamnya sudah ada Ferran duduk dengan buku di tangannya. Bocah satu itu terlihat lebih dewasa dari umurmya yang baru menginjak sebelas tahun.


Adipta duduk di bangku penumpang paling belakang di samping Ferran dan membiarkan Raka duduk di antara Papa Mama mereka di kursi penumpang tengah dan sopir menjomblo di depan, katanya Adipta begitu


" Ma, Ma, Ma "


" hm? " Dina menoleh " kenapa A'? " tanya Dina


" minggu kemaren kan om Ibra dan tante Amy datang "


" udah nelfon Mama kok Sayang  "


" bukam itu yang mau Aa' bilang " kata Adipta, Dina mengangkat sebelah alisnya " Kan anaknya datang... "


" hm? Terus...? " Sepertinya Dina tau


" adeknya bang Asan cantik Ma, aa' suka " kannn.. Sudah Dina duga.


Dina mencolek Arsyad begitu suaminya menoleh dia melirik Adipta seolah berkata ' belajar dari mana Aa' itu? '


" Abang juga suka " kata Adipta


" bener bang? " tanya Dina


" aku tidak sempat lihat " jawab Ferran membuat Adipta mencibir gemas sendiri dengan kakaknya yang memang sulit di ajak kerja sama.


" masih kecil, gak boleh suka sukaan dulu " kata Dina tangannya terulur mengusap sayang kepala Adipta " A' kalau besar nanti jangan suka mainin cewek ya "


" Abang akan awasin " ucap Ferran, Dina mengusap kepala anak sulungnya itu.


" tapi adek suka sama dedek Zeni " kata Adipta


" gak " elak Raka " kan masih kecil "


" kamu bilang ke Aa' "


" gak "


" iya... "


" gak! "


" Iya "


" Maaaa... " rengek Raka pada Madina.


" A' kamu ke sini " Arsyad memutar tubuhnya ke belakang, menarik Adipta agar duduk di sampingnya " kamu tidur " perintahnya begitu Adipta duduk di pangkuannya.


" sudah besar masih di pangku " ledek Raka


" iri ya... " Adipta mengacak rambut Raka, Arsyad menarik tangannya dan menahannya di depan tubuh Adipta agar tidak kembali mengganggu adiknya


" Ma, Pa " Ferran menumpukan tangannya di sandaran jok yang di duduki Arsyad dan Dina


" hm? "


" besok ada acara di sekolah, kalian datangkan? " tanya Ferran pelan, dia tau Papanya sibuk terlebih sudah satu bulan tidak ke kantor pasti banyak pekerjaan yang menumpuk.


Dina menatap putranya itu, putra yang paling jarang meminta sesuatu padanya juga ke Papanya. Dina mencium pipi Ferran


" of course, love.. Kalian yang paling penting " ucap Dina dia angguki Arsyad.

__ADS_1


********


Terimah kasih☺☺☺☺☺


__ADS_2